Sanubari Teduh-307-Ketulusan Hati Terdengar Oleh Para Buddha dan Dewa
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita melewati pola hidup yang sama. Meski melewati pola hidup yang sama, tetapi setiap detik yang berlalu adalah berbeda. Ini karena waktu terus berlalu. Momen ini berbeda dengan momen sebelumnya. Karena itu, kita harus memanfaatkansetiap detik dengan baik. Setiap detik, hati kita harus membangkitkan ketulusan yang paling dalam. Inilah yang saya katakan setiap hari. Meski sudah mengatakannya setiap hari, tetapi apakah setiap orang sudah membangkitkan ketulusan pada setiap saat? Kita hendaknya senantiasamembangkitkan ketulusan di dalam hati. Dalam melatih diri, kita harus berlatih untuk memiliki tekad teguh yang tak tergoyahkanhingga masa tak terhingga. Kita harus sepenuh hati melatih diri. Ketulusan dan rasa hormatmembuat kita dekat dengan surga
Hati kita harus bersatu dengan langit dan bumi. Hati kita dan hati Buddha harus menyatu. Saya sering berkata bahwa setiap orang terlahir dengan membawa sifat hakiki yang setara dengan Buddha. Jadi, potensi dan hati nurani bergantung pada apakah seseorang memiliki ketulusan atau tidak. Karena itu dikatakan, “Tiada yang tak berhasil dicapai dengan ketulusan.” Dalam berinteraksi dengan orangatau menangani suatu masalah, kita harus membuat orang-orang percaya bahwa kita memiliki kekuatan yang besar. Banyaknya orang yang meyakini Buddha menandakan bahwa kualitas Beliau sebagai manusia telah sempurna. Karena itu, kekuatan Beliau sangat besar. Mengapa kekuatan Buddha sangat besar? Karena kualitas Beliau sebagai manusia sudah sempurna. Orang-orang meyakini ajaran Buddha karena kualitas-Nya sebagai Buddha sudah tercapai. Tujuan kita mendalami ajaran Buddha Tujuan kita mendalami ajaran Buddha adalah demi mendekatkan diri dengan kualitas Buddha. Untuk mendekatkan diri dengan kualitas Buddha, kita harus memperlakukan orang-orang dengan tulus. Bukankah saya sering berkata bahwa setelah kualitas sebagai manusia tercapai,barulah kualitas sebagai Buddha bisa tercapai. Jadi, untuk membangun kualitas sebagai manusia, kita harus memperlakukan orang dengan tulus. Ini cara untuk membangun kualitas kita sebagai manusia
Jika kita bersikap munafik, maka kualitas kita sebagai manusia akan menurun. Jadi, kita harus senantiasa bersikap tulus. Dengan hati yang tulus, maka tiada hal yang tak dapat kita capai. Kita harus percaya pada ungkapan, “Tiga inci di atas kepala ada dewa.” Tiga inci di atas kepala kita ada dewa. Orang-orang mungkin bertanya, “Apa benar ada?” “Kami tidak melihatnya.” Sesungguhnya, bukan hanya tiga inci di atas kepala. Setiap orang memiliki hati nurani. Setiap orang memiliki hati nurani. Seperti yang saya katakan tadi, hati nurani bagaikan langit. Jadi, hati nurani kita adalah dewa yang sakti. Karena itu, kita harus selalu ingat bahwa tiga inci di atas kepala ada dewa. Dalam ceramah sebelumnya, saya pernah berkata bahwa baik makhluk pelindung Dharma maupun setan, semuanya ada di sekitar kita. Saat membabarkan Sutra Ksitigarbha, saya juga pernah mengatakannya. Jadi, kita harus senantiasa memercayai bahwa tiga inci di atas kepala kita ada dewa. Jika tidak percaya dewa di luar, setidaknya kita harus percaya hati nurani kita
Sungguh, hati yang tulus dapat menjangkau para Buddha. Saat berbicara ataupun melakukan sesuatu, setiap suara kita bukan hanya dapat didengar orang lain, tetapi juga dapat didengar oleh Buddha. Selain Buddha, Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma dan makhluk-makhluk lainnya pun dapat mendengarnya. Di dalam Sutra tercatat bahwa setiap kali Buddha membabarkan Dharma, selalu ada puluhan ribu hingga jutaan makhluk yang hadir. Baik Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma, setan, maupun makhluk surgawi,semuanya datang mendengar Dharma. Karena itu, saya sangat berharap setiap ucapan kita harus pantas didengar oleh manusia, pantas didengar oleh setan, dan Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma. Karena itu, kita harus jujur mengucapkan suara hati kita. Kita harus bertanggung jawab terhadap setiap ucapan kita. Saya sering berkata bahwa kita harus membangkitkan ketulusan dan hati penuh hormat. Kita harus mawas diri dan berhati tulus. Ini bertujuan untuk menyadarkan setiap orang tentang pentingnya bertutur kata baik dan berpikiran baik. Kita hendaknya berdoa dengan tulus demi mengurangi bencana di dunia dan membawa ketenteraman bagi manusia. Dahulu kita pernah membahas, “Membangkitkan rasa hormat di dalam diri dan mempertahankannya dalam setiap pikiran, dengan tulus berdoa.” Sebelumnya kita sudah mengulas bahwa kita harus membangkitkan rasa hormat di dalam hati. Hati kita harus senantiasa dipenuhi rasa hormat
Rasa hormat ini harus selalu ada di dalam hati kita. Di mana pun kita berada, pikiran kita juga harus menyertai. Jika kita dapat senantiasa memiliki hati penuh hormat, maka akan timbul dua jenis pikiran. Apakah dua jenis pikiran itu? Kehidupan manusia sungguh tidak kekal. Ajaran di dalam Sutra juga senantiasa mengingatkan kita untuk menyadari ketidakkekalan. Di sini dibahas mengenai “kehidupan jasmani”. Jasmani adalah tubuh. Jasmani adalah tubuh. Semua makhluk memiliki rupa yang berbeda-beda. Meski kita semua adalah manusia yang memiliki kepala, kaki, tangan, dan tubuh, tetapi kita semua terlihat berbeda. Selain manusia, makhluk hidup lain juga memiliki kehidupan. Semuanya disebut makhluk hidup. Kehidupan semua makhluk tidaklah kekal. Kita harus senantiasa ingat bahwa Kita harus senantiasa ingat bahwa kehidupan jasmani sulit untuk dipertahankan selamanya. Ini mengingatkan kita bahwa sebagai manusia, kita pernah melewati masa kanak-kanak. Namun, kita tidak dapat selamanya mempertahankan wujud dan rupa saat kanak-kanak. Saat melihat anak-anak, kita merasa mereka sangat menggemaskan. Rupa yang menggemaskan itu juga tak dapat dipertahankan selamanya karena dari rupa kanak-kanak, mereka bertumbuh menjadi remaja. Apakah rupa saat remaja tetap menggemaskan seperti masa kanak-kanak? Saat melihat anak kecil, kita selalu ingin mengulurkan tangan untuk merangkul mereka. Di saat mereka sudah bertumbuh menjadi remaja, jika kita memanggil mereka, mereka belum tentu mau mendekat. Terlebih lagi, ada anak yang membangkang di masa remaja. Mereka tak selamanya menggemaskan. Saat memasuki masa remaja, mereka berpikir, “Saya sudah bertumbuh dewasa.” “Saya masih muda dan cantik.” Apakah masa muda dan kecantikandapat bertahan selamanya? Apakah rupa itu dapat bertahan selamanya? Tidak mungkin. Sulit untuk dipertahankan. Setelah melewati remaja, kita memasuki masa dewasa
Saat memasuki masa dewasa, kita merasa seperti dapat melakukan semuanya. “Saya sudah menamatkan pendidikan, memiliki karier yang bagus, dan memiliki fisik yang sehat.” Apakah semua pencapaian di masa dewasa itudapat bertahan selamanya? Tidak dapat bertahan selamanya. Setelah itu, kita memasuki masa paruh baya. Apakah masa paruh baya dapat bertahan selamanya? Di masa paruh baya, kita memiliki karier yang stabil, kita dapat mencari banyak uang, dan memiliki pemikiran yang matang. Apakah semua itu dapat bertahan selamanya? Tidak mungkin. Setelah itu, kita memasuki masa tua. Entah sejak kapan kita menjadi tua. Di masa tua sering muncul berbagai penyakit. Daya pandang melemah, gerakan kaki dan tangan menjadi tidak cekatan. Saat berlutut untuk bersujud kepada Buddha, kita pun merasa sedikit sulit. Bukan hanya sedikit, melainkan sangat sulit. Lihatlah gerakan orang tua saat berjalan sudah tidak cekatan dan gesit seperti kaum muda. Kita tak mungkin selamanya cekatan. Lambat laun, rupa dan kondisi jasmani kita berubah. Berapa lama kondisi ini berlangsung? Berapa lama masa tua akan berlangsung? Berapa lama masa tua akan berlangsung? Ia akan berlangsung hingga fungsi tubuh rusak. Setelah lima indra dan lima kesadaran tidak berfungsi, saat itulah fungsi tubuh kita rusak. “Entah kapan tubuh ini bisa didapat kembali.” Entah kapan kita baru dapat kembali terlahir sebagai manusia. Kita sering berkata, “Mari kita mendoakannya semoga cepat terlahir kembali.” “Semoga mereka dapat segera terlahir kembali menjadi Bodhisattva cilik.” Inilah harapan kita saat ada yang meninggal. Kita sering berkata bahwa sulit untuk terlahirsebagai manusia. Dalam enam alam kehidupan ini,untuk dapat terlahir sebagai manusia sangatlah sulit
Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Setelah terlahir sebagai manusia, apakah kita dapat mendengar ajaran Buddha dan mendalami ajaran kebenaran? Apakah kita dapat mendekatkan diridengan ajaran Buddha? Apakah kita dapat mempraktikkan ajaran Buddha? Apakah kita masih berkesempatan untuk menapaki Jalan Bodhisattva? Ini bergantung pada apakah dalam keseharian kita sudah sungguh-sungguh berhati tulus dan mawas diri. Apakah kita sudah bersungguh hati pada setiap niat yang timbul? Di mana pun berada, hati kita harus senantiasa dipenuhi ketulusan. hati kita harus senantiasa dipenuhi ketulusan. Kita harus menghormati Buddhalayaknya Buddha ada di hadapan kita. Dalam menghadapi setiap orang, kita harus bersikap hormat layaknya terhadap Buddha. Dalam menangani masalah,kita harus senantiasa dipenuhi rasa syukur. Saat berinteraksi dengan sesama, kita harussenantiasa memiliki cinta kasih yang tulus. Ini yang disebut hati Buddha dan hati Bodhisattva. Jadi, kita harus bersungguh hati pada setiap saat. Jadi, kita harus bersungguh hati pada setiap saat
Baik di saat masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa paruh baya, maupun masa tua, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita. Meski suatu hari kita meninggal dunia, lalu mengalami kelahiran kembali, kita tetap harus memiliki hati seperti ini. Jadi, kita harus sadar dalam setiap niat dan setiap tindakan. Dengan demikian, hati Buddha dan hati Bodhisattva tetap akan mengikuti kita hingga kehidupan mendatang. Kalimat ini mengingatkan kepada kita bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia. Kita harus selalu merenung tentang ketidakkekalan. Karena waktu berlalu dengan sangat cepat, Karena waktu berlalu dengan sangat cepat, maka kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Kita harus ingat bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia. Karena itu, kita harus memanfaatkan tubuh ini dengan baik untuk sungguh-sungguh menapaki Jalan Bodhisattva. Kita harus selalu mengingat bahwatubuh sulit dipertahankan. Kita harus senantiasa menyadari dan mengingat hal ini. Pikiran kita saja bersifat tidak kekal. Kita harus senantiasa melatih diri dan mengingat bahwa sangat sulit untuk terlahir sebagai manusia. Kehidupan manusia tidaklah abadi, terlebih lagi tubuh jasmani ini. Tubuh fisik sangatlah penting
Dimulai dari masa kanak-kanak hingga sekarang, kita memiliki wujud fisik yang berbeda-beda. Rupa kita pada hari ini, apakah sama dengan rupa kita di hari esok? Tubuh kita tak henti-hentinya mengalami metabolisme. Tubuh kita hari ini berbeda dengan yang kemarin. Rupa dan kondisi kita pada hari ini, kehidupan kita di hari esok, terus mengalami perubahan. Jadi, kita harus selalu mengingatbahwa begitu tubuh rusak dan empat unsur terurai, entah kapan tubuh ini bisa didapat kembali. Empat unsur mencakup unsur tanah, air, api, dan angin. Tubuh kita sama seperti kondisi bumi ini yang tak boleh kekurangan unsur air dan unsur angin. Jika kekurangan unsur angin,maka kita tak dapat bernapas. Kita juga tidak bisa kekurangan unsur api. Jika kekurangan unsur api, maka panas tubuh kita akan hilang. Kita juga tak boleh kekurangan unsur tanah. Jika kekurangan unsur tanah, maka otot kita tidak akan berisi dan menjadi ringan. Bagi orang yang ingin mendonorkan tubuh, jika berat badannya kurang dari 40 kg, tubuhnya pun tidak dapat didonorkan. Jadi, kita harus menjagakeselarasan empat unsur dengan baik
Sebagian orang selalu berpikiruntuk menurunkan berat badan. Jika terlalu berlebihan dalam menurunkan berat badan, maka unsur tanah akan menjadi tak selaras dan tubuh menjadi terlalu kurus. Saat empat unsur tidak selaras, maka fungsi tubuh kita dapat mengalami kerusakan. Jikapun kita terlahir kembali sebagai manusia, Jikapun kita terlahir kembali sebagai manusia, belum tentu kita bertemu Buddha dan para suci. Meski terlahir sebagai manusia, tetapi jika tidak bertemu ajaran Buddha, ditambah bergaul dengan orang jahat, maka kita tetap akan menjalin jodoh burukdengan banyak orang. Teman yang buruk akan memengaruhi kita dan menuntun kita menuju kesesatan. Jika jalinan jodoh baik sangat tipis dan jalinan jodoh buruk sangat tebal, maka kita akan sangat mudah terpengaruh. Kita sering mendengar kisah pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi dan hendak mengubah kebiasaannya. Insan Tzu Chi juga berusaha membimbing mereka agar bergabung dengan Tzu Chi
Kita sering mendengar mereka berkata, Kita sering mendengar mereka berkata, “Saya sempat berubah.” “Saya tahu kegiatan Tzu Chi sangat baik.” “Namun, entah mengapa tekad saya tidak teguh.” “Begitu diajak oleh teman lama, saya langsung tak dapat mengendalikan diri.” “Saya lalu pergi bersama mereka.” Jadi, begitu diajak oleh teman untuk minum minuman keras, berjudi, memakai narkoba, dll., mereka langsung ikut. Teman yang jahat paling mengkhawatirkan. Teman seperti itu membuat orang-orang sulit untuk mempertahankan tekad. Jadi, inilah yang paling membuat kita khawatir. Jika terjerat dalam kondisi seperti ini, kita akan terus menciptakan karma buruk sehingga harus terlahir di alam neraka atau alam rendah lainnya. Sekali kehilangan tubuh manusia,sulit untuk mendapatkannya kembali. Saudara sekalian, sulit untuk terlahir sebagai manusia dan melatih diri. Berhubung sudah terlahir sebagai manusiadan dapat melatih diri, jika kita tidak sungguh-sungguh sadar akan ketidakkekalan dan tidak sungguh-sungguh menjaga tubuh ini dengan baik, maka kapan lagi kita baru akan memanfaatkan waktu untuk bersumbangsih bagi sesama? Kehidupan ini tidak kekal. Tubuh kita mengalami perubahansesuai dengan hukum alam. Kehidupan jasmani sulit untuk dipertahankan selamanya
Di tengah berlangsungnya hukum alam ini, yang terpenting adalah kita harus memiliki berkah dan jalinan jodoh baik. Untuk itu, kita harus menggenggam waktu dan senantiasa bersungguh hati. Bersungguh hati dalam apa? Dalam membangkitkan ketulusan dan rasa hormat. Dalam menghadapi setiap orang dan masalah,kita harus penuh rasa hormat dan tulus. Dalam menghadapi manusia ataupun masalah, kita harus ingat pada langit atau surga dan Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma. Kita harus tahu bahwa mereka semua ada di sekitar kita. Jadi, kita harus percaya bahwa di samping hati nurani kita, mereka semua ada di sekitar kita. “Tiga inci di atas kepala ada dewa.” Apa yang dimaksud dewa? Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma dan makhluk yang tak terlihat lainnya. Kita harus tahu bahwa apa pun yang kita lakukan, langit sedang melihatnya. Begitu pula pada saat berbicara, kita harus senantiasa menjaga niat baik, membangkitkan rasa hormat dan ketulusan. Jadi, kita harus senantiasa bersungguh hati.