Sanubari Teduh-329-Empat Landasan Kekuatan Batin
Saudara se-Dharma sekalian, setiap orang memiliki harapan. Jika manusia tak memiliki harapan, maka tak akan dapat hidup dengan penuh gairah. Jadi, setiap orang hendaknya memiliki harapan terhadap kehidupan. Buddha mengajarkan kepada kita agar hidup kita sesuai dengan kebenaran. Contohnya, kita membahas empat landasan perenungan dan empat usaha benar. Mengapa kita harus mulai dari memahami empat landasan perenungan? Kita harus mendalami ajaran Buddha. Ajaran Buddha memberi kita jalan yang lapang untuk ditapaki, membuat kita memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita harus kembali. Ini adalah jalan yang lurus dan lapang. Jadi, Buddha membuka jalan bagi kita. 37 Faktor Pencerahan dan Jalan Mulia Beruas Delapan telah kita pahami. Kita tahu bagaimana menjalani delapan filosofi dan arah yang benar. delapan filosofi dan arah yang benar. Empat landasan perenungan lebih halus, membimbing kita untuk mengamati bahwa tubuh tidak bersih, bahwa perasaan membawa derita, bahwa pikiran tidak kekal, dan bahwa segala fenomena bersifat tanpa inti. Kita semua telah mengetahuinya. Inilah harapan bagi kita. Kita harus memahaminya dengan menyeluruh. Setiap hari kita penuh perhitungan. Setiap hari kita merasa telah bekerja keras.
Pikiran kita selalu penuh perhitungan dan tubuh kita selalu bekerja keras, sesungguhnya untuk apa? Buddha ingin kita memahami bahwa tubuh ini hendaknya kita manfaatkan sebagai sarana pelatihan diri. Jika ingin melatih diri, kita harus memanfaatkan kehidupan ini dan menggunakan tubuh ini. Jika kita tidak melatih diri saat ini juga, maka kapan kita baru akan melatih diri? Jadi, Buddha memberi tahu kita bahwa tubuh ini begitu tidak bersih. Bukan hanya tubuh tidak bersih, perasaan juga membawa derita. Saat bergaul dengan orang lain, ketika mendengar ucapan orang lain, apakah benar atau tidak, kita mungkin akan merasa ragu. Adakalanya setelah mendengarnya, kita merasa marah di hati, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Inilah derita dari perasaan. Berikutnya, pikiran kita. Cobalah renungkan pikiran kita. Saat kita mendengar Dharma, kita tahu Dharma itu sangat masuk akal. Setelah mendengar Dharma, terhadap orang, hal, dan segala sesuatu, apakah pikiran kita mengadopsi Dharma yang sudah didengar? Apakah kita benar-benar menerapkan kelapangan hati dan kemurnian pikiran? Ada orang yang belum bisa. Pikiran sangat tidak kekal, senantiasa timbul, berlangsung, berubah, lenyap.
Selain itu, segala sesuatu juga tanpa inti. Buddha sejak awal sudah menasihati kita, “Untuk apa kamu bersikap perhitungan?” “Sesudah merasakan penderitaan seperti ini, mengapa tidak sungguh-sungguh menggunakan berbagai Dharma untuk membantu diri sendiri?” Baik Jalan Mulia Beruas Delapan, empat landasan perenungan, maupun empat usaha benar, semua ini bertujuan untuk membantu kita agar memiliki arah yang tepat dan pemikiran yang benar sehingga kita memahami dari mana kita berasal dan memahami kebenaran dalam berbagai hal. Kita dapat memahami bahwa ada begitu banyak kegelapan batin. Untuk apa kita bersikap perhitungan atas dasar kegelapan batin itu? Namun, apakah dengan tidak bersikap perhitungan berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa? Apakah begini benar? Tidak. Kita tetap harus memiliki harapan. Jika kita dapat mempertahankan tekad awal, maka kebuddhaan pasti tercapai. Sejak semua, kita telah memilih apa yang menjadi harapan kita. Jadi, setiap orang harus memiliki harapan. Harapan ini disebut keinginan, yaitu keinginan untuk mencari kebenaran. Harapan adalah keinginan. Keinginan adalah harapan. Jika harapan kita benar, maka keinginan kita juga akan benar. Jadi, keinginan kita adalah mencari kebenaran. Kita ingin mencari jalan yang benar. Jika tidak, untuk apa kita belajar ajaran Buddha?
Mempelajari ajaran Buddha bertujuan untuk mencari kebenaran. bertujuan untuk mencari kebenaran. Delapan Ruas Jalan Mulia, empat landasan perenungan, empat usaha benar, semuanya adalah jalan bagi kita. Kita harus memanfaatkan saat ini untuk berlatih. Kita sungguh harus menggenggam saat ini. Jika kita tidak sungguh menggenggam saat ini untuk sungguh-sungguh berlatih, kapan kita baru akan berlatih? Sulit untuk terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha. Di ladang pelatihan ini, ada banyak orang yang membantu kita, baik yang bersikap ramah terhadap kita maupun yang bertutur kata kurang enak didengar. Apakah pengendalian batin kita cukup baik untuk berlapang dada terhadap mereka? Apakah kita bisa bersikap penuh pengertian? Di lingkungan seperti ini, apakah kita dapat mengenal rasa puas? Untuk itu, kita harus menggenggam kesempatan dan lingkungan yang mendukung pelatihan diri. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menggenggam saat ini untuk berlatih. Berikutnya, jangan ada keraguan. Dalam segala hal, kita harus mempertahankan rasa sukacita. Kita harus berlapang dada dan berpikiran murni. Asalkan kita mampu berlapang dada, hal apa yang mampu membuat kita tidak sukacita?
Meski mendengar ucapan yang kurang baik, kita juga bisa berlapang dada dan memaafkan. Ini berarti pihak lain juga mendukung kita untuk menaklukkan kebencian dan perselisihan. Kita pernah membahas bahwa di dalam batin kita jangan sampai ada kebencian. Kita juga tidak perlu berselisih dengan orang lain. Apakah yang dikatakannya benar atau tidak, kita hendaknya berusaha membantunya untuk memperbaiki diri. Jika dia menerima, kita memberinya selamat. Jika dia tidak menerima, kita juga harus berterima kasih. Kita memberi selamat karena pandangannya sudah berubah ke arah yang benar. Jika dia tidak menerima, kita tetap harus berterima kasih karena sikapnya tersebut dapat menjadi pengingat bagi diri kita sendiri. dapat menjadi pengingat bagi diri kita sendiri. Dengan begitu, tiada yang menghalangi kebahagiaan kita. Jadi, kita harus senantiasa penuh sukacita dan jangan diliputi keraguan. Ini adalah sebuah jalan yang benar dan pendidikan yang terbaik. Apakah kita masih perlu ragu? Saudara sekalian, setiap hari kita harus membangkitkan harapan dan keinginan untuk mencari kebenaran. Kita harus menggenggam saat ini untuk berlatih tanpa menunda atau ragu. Harap semua menghargai kesempatan yang ada untuk mengembangkan kelapangan hati. Jadi, kini kita kembali membahas 37 Faktor Pencerahan. Berikutnya adalah empat landasan kekuatan batin. Kekuatan batin merujuk pada rasa sukacita.
Sukacita terhadap apa? Sukacita karena memasuki jalan ini dan berjalan di jalan benar tanpa rintangan. Inilah yang disebut kekuatan batin tanpa rintangan. Sesungguhnya, siapakah yang merintangi kita? Penghalang terbesar adalah diri kita sendiri. Jika batin kita bebas dari penghalang, maka kita akan dapat memahami segala hal. Karena itu, ada ungkapan berbunyi, “Jika dapat memahami satu kebenaran, maka seluruh kebenaran akan dipahami.” Jika pikiran kita bebas dari penghalang, maka kebenaran apa pun dapat kita pahami. Dengan demikian, segalanya akan dapat dicapai. Landasan berarti kaki untuk melangkah maju. Kita bersukacita di dalam Dharma. Kita tetap harus tekun dan bersemangat. Kita harus melangkah maju dengan dua kaki. Kaki ini adalah berkah dan kebijaksanaan. Berkah dan kebijaksanaan bagaikan sepasang kaki. Jadi, kita harus melangkah maju dengan semangat dan penuh sukacita. Dalam pelatihan diri ini, kita dipenuhi sukacita. Inilah empat landasan kekuatan batin. Yang pertama dari empat landasan kekuatan batin adalah landasan keinginan. “Segala Dharma yang dilatih berhasil sesuai harapan.” Apa yang membuat harapan kita tidak berhasil?
Musuh terutama adalah pola pikir kita sendiri. Jika kita dapat meluruskan pola pikir kita, maka tidak akan ada musuh di sekitar kita. Kita sudah tahu semua jalan dan Dharma yang ingin kita latih. Kita juga memahami bahwa Dharma bagaikan air. Sejak awal hingga kini, bukankah kita merasa segalanya mengandung Dharma? Setiap Dharma ini dapat membersihkan batin kita. Pikiran kita dipenuhi kotoran batin. Karena itu, Buddha harus memberikan banyak metode. Berkat jasa para sesepuh, berbagai ajaran ini dianalisis dengan sangat jelas. Kini pelatihan kita menjadi lebih ringan dan mudah. Noda batin seperti apa harus diatasi dengan metode apa, kini kita telah mengetahuinya. Berhubung kita memiliki banyak noda batin, maka kini kita mendengar begitu banyak istilah. Namun, semua ini sesungguhnya sederhana. Jadi, pelatihan diri kita tidaklah sulit. Jadi, pelatihan diri kita tidaklah sulit. Sesungguhnya, ia amat sederhana. Jadi, mengenai terpenuhinya harapan, sesungguhnya asalkan kita dapat memahami kebenaran, maka mungkinkah kita tidak merasa puas? Kita akan senantiasa merasa puas. Inilah landasan keinginan. Berikutnya adalah landasan semangat. “Pikiran terpusat sepenuh hati, segala harapan terpenuhi.” Dalam melatih diri, kita harus sepenuh hati dan tekad.
Kita harus menjaga tekad awal. Sejak awal kita telah membangkitkan rasa sukacita dan tekad yang teguh. Berhubung telah membangkitkan tekad ini, maka kita hendaknya terus berfokus dan sepenuh hati. Kita berlatih sepenuh hati dan tekad sehingga jalan ini dapat kita tapaki dengan lancar hingga saat ini. Bukankah ini berarti harapan kita terpenuhi? Mengenai ketekunan dan semangat, bagaimana kita dapat melangkah maju? Kita telah membahas bahwa insan Tzu Chi dapat melangkah maju dengan menggenggam waktu yang ada saat ini. Contohnya di Malaysia. Meski Malaysia adalah negara Islam, tetapi warga di sana menghormati agama lain. Jadi, Hari Waisak setiap tahunnya Jadi, Hari Waisak setiap tahunnya juga diperingati sebagai hari libur nasional. Meski umat Buddha di sana sangat sedikit, tetapi setiap tahun juga digelar parade dalam rangka Hari Waisak. Meski lintasan parade itu tidak panjang, tetapi saat orang banyak berkumpul, masalah yang sering kali muncul adalah sampah. Dahulu, insan Tzu Chi Malaysia sering mendengar saya berkata, “Sutra adalah jalan, dan jalan harus dipraktikkan.” Keyakinan kita menekankan praktik nyata. Terlebih lagi, saya sering berkata bahwa kita sudah tiada waktu lagi. Dalam melatih diri, kita harus memanfaatkan waktu saat ini. Karena itu, mereka terpikir, “Masalah lingkungan kini adalah masalah besar, kita harus segera menyosialisasikan pelestarian lingkungan.” Ini juga menjadi sarana pelatihan diri mereka.
Mereka merasa bahwa parade itu diadakan tak lain untuk mengungkapkan rasa hormat. Jadi, mereka juga berpartisipasi. Mereka mulai memikirkan cara agar partisipasi mereka lebih bermakna. Staf kita terpikirkan tema pelestarian lingkungan. Dalam acara parade yang besar di mana banyak orang membuang sampah sembarangan, alangkah baiknya jika kita menyosialisasikan pelestarian lingkungan. Jadi, sejak sehari sebelum acara parade, para relawan Tzu Chi dan para relawan daur ulang berkumpul bersama untuk menyosialisasikan pelestarian lingkungan di jalur yang akan dilalui saat parade. Panjangnya hanya 6,5 kilometer, tidak begitu panjang. Jadi, di lingkungan yang dilalui jalur parade, mereka melakukan sosialisasi tentang bagaimana membuang sampah pada tempatnya. Mereka membuka sepuluh titik sepanjang jalur. Pada hari diadakannya parade Waisak, sejak pukul 5 sore, di sepanjang jalur 6,5 kilometer itu, mereka membuka satu titik setiap 500 meter mereka membuka satu titik setiap 500 meter untuk menjalankan sosialisasi. Kemudian, mereka mulai berkumpul dan berdiri di setiap titik untuk membimbing warga memilah sampah-sampah yang akan dibuang.
Para relawan lainnya juga ikut berjalan bersama barisan parade. juga ikut berjalan bersama barisan parade. Saat parade bergerak, mereka berjalan di barisan paling belakang. Insan Tzu Chi berbaris di bagian paling belakang Insan Tzu Chi berbaris di bagian paling belakang dan berjalan dengan rasa hormat yang tulus terhadap Buddha. Mereka mengikuti barisan parade dengan rasa hormat yang tulus sambil mengamati ke segala arah apakah ada orang yang membuang sampah sembarangan di jalan. Jika ada, mereka segera membungkuk bagaikan tengah memberi hormat pada Buddha. Mereka membungkuk untuk memunguti sampah di sepanjang jalan ini. Meski kita memiliki titik di setiap 500 meter, meski kita sudah berusaha melakukan sosialisasi, bagaimana pun, masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan. di sepanjang jalur 6,5 kilometer itu, kaleng minuman, botol plastik, bungkus makanan, dan kantong plastik masih banyak dibuang orang. Insan Tzu Chi selalu membangkitkan rasa syukur dengan tulus.
Mereka menganggap bahwa membungkuk berarti memberi hormat pada Buddha. Jadi, mereka memunguti sampah dengan hati yang penuh syukur. Sebagian warga yang berdiri menonton parade dari tepi jalan melihat insan Tzu Chi bersumbangsih tanpa keluh kesah dan penuh senyuman. Mereka memunguti sampah dengan tulus. Namun, masih saja ada orang yang membuang sampah. Karena itu, ada orang yang merasa tidak tahan dan beranjak dari tepi jalan untuk mendekat pada relawan Tzu Chi dan turut memunguti sampah. Mereka melakukannya dengan tulus. Dengan begitu, berarti kita juga sudah membimbing orang. Jika kita tidak memulai, orang-orang hanya menonton saja. Orang akan berkata, “Lihatlah umat Buddha, hanya bisa menonton parade.” hanya bisa menonton parade.” Namun, kita melakukan praktik nyata sehingga dapat menggugah orang lain, bahkan penonton di tepi jalan pun juga ikut membantu. Inilah ketekunan dan semangat. Inilah yang disebut landasan semangat.
Semangat ini juga mengandung ketulusan. Hanya dengan menonton parade 6,5 kilometer, apakah ini menunjukkan bahwa Anda adalah umat Buddha yang taat? Sebaliknya, insan Tzu Chi juga berjalan 6,5 km, tetapi bersungguh hati untuk mengedukasi orang agar mereka memiliki kesadaran lingkungan. Jadi, kita sudah melakukan sosialisasi kepada orang lain. Namun, saat orang-orang tidak mengikuti, kita juga tidak marah, malah masih bersyukur. Kita juga bukan hanya berjalan mengikuti parade. Kita juga bagai memberi hormat karena harus membungkuk untuk memungut sampah. Jadi, ini membuat insan Tzu Chi merasa bersyukur. Singkat kata, inilah ketekunan dan semangat. Inilah landasan semangat. Kita maju selangkah demi selangkah dan bersumbangsih dengan sukacita. Insan Tzu Chi memungut sampah dengan gembira. Mereka merasa puas. Bukankah ini juga termasuk tercapainya harapan? Inilah semangat dan juga landasan keinginan.
Berikutnya, yang ketiga adalah landasan pikiran. Pikiran kita harus senantiasa mengingat Dharma. Bukan berarti saat mendengar Dharma kita merasa, “Benar, bagus sekali,” tetapi kita tidak mengingatnya di dalam hati. Alangkah baiknya jika kita dapat mengingat satu kalimat saja. Dharma tidak perlu banyak, asalkan kita dapat sungguh-sungguh mengingat satu kalimat, kita akan mendapat manfaat yang tak terkira. Saya sering mengatakan bahwa guru saya hanya memberi saya enam kata, “Demi ajaran Buddha, demi semua makhluk.” Seumur hidup ini, saya tak habis menggunakannya. Saya takut belum bisa menyelesaikannya. Ini sungguh tak akan selesai karena “demi ajaran Buddha” berarti saya harus berlatih dengan sungguh-sungguh. Bagaimana saya dapat melapangkan hati hingga seluas jagat raya dan merangkul seluruh dunia? Saya harus melapangkan hati saya. Saya harus melapangkan hati saya. Bagaimana agar tekad saya tidak kendur? Pikiran saya harus murni. Dengan hati lapang dan pikiran murni, barulah dapat merangkul semua makhluk, termasuk batin, wujud, tabiat, dan penderitaan mereka. Kita harus berusaha merangkul semua makhluk. Jadi, kita harus memiliki hati yang lapang. Hati harus lapang, pikiran juga harus murni. Jadi, segala Dharma yang kita terima harus kita ingat di dalam hati. Kita hendaknya mempertahankan pikiran atau sukacita saat pertama kali mendengar Dharma. Kita harus senantiasa mengingatnya. Jadi, landasan pikiran berarti kita harus senantiasa merasa puas. Kita juga harus mewujudkan tekad kita.
Tekad haruslah diwujudkan ke dalam praktik agar bisa tercapai. Dharma yang kita latih sejak awal hingga kini haruslah kita ingat dan tidak dilupakan. Sejak awal kita bertekad hingga kini, kita hendaknya tidak melupakannya. Yang keempat adalah landasan pemikiran. Kita harus berpikir dengan saksama, tidak boleh sembrono. Jika kita sembrono, maka hasil pertimbangan kita belum tentu benar. Jika kita berpikir di dalam ketenangan, maka buah pemikiran kita akan lebih jernih dan ucapan kita juga akan lebih masuk akal. Kadang pikiran kita bergejolak. Meski yang dibahas di awal sangat masuk akal dan benar saat direnungkan dengan tenang, tetapi saat terjadi sesuatu di hadapan kita, pikiran kita mulai menyimpang dan ucapan kita juga bisa salah. Jadi, kita ahrus selalu menjaga ketenangan hati serta menjaga pemikiran yang tidak menyimpang. “Dharma di dalam pikiran tiada yang hilang.” Jangan sampai Dharma ini hilang. Pikiran kita sudah begitu murni, Pikiran kita sudah begitu murni, ucapan kita juga sudah benar, tetapi apakah segala yang ingin kita lakukan orang lain dapat menerimanya? Belum tentu. Kita harus berkomunikasi dengan saksama. Pemikiran kita tetap harus benar dan tidak boleh menyimpang ataupun terpengaruh. Jika sebaliknya, pemikiran akan cepat menyimpang. Kadang segala yang mata kita lihat juga belum tentu keadaan yang sebenarnya. Pada zaman Konfusius, suatu masa beliau terjepit di antara Negara Chen dan Cai. Selama tujuh hari, mereka kekurangan pangan.
Sebutir beras pun tidak ada. Mereka tidak memiliki makanan. Di antara murid Konfusius, Zigong mencari cara untuk keluar dari kondisi itu. Dia menggunakan segala kepunyaannya karena dia adalah yang paling berada di antara para murid Konfusius. Dia mengeluarkan segala kepunyaannya yang berharga. Dia berusaha mencari jalan keluar Dia berusaha mencari jalan keluar dan menukar segala kepunyaannya dan menukar segala kepunyaannya dengan sebungkus beras dari petani. Setelah berhasil mendapat beras, Zilu mulai menyalakan api. Yan Hui segera mencuci beras dan memasak nasi. Zilu bersifat lebih ceroboh saat bekerja. Saat nasi matang, serbuk arang jatuh ke atasnya sehingga nasi itu terkotori oleh arang. Yan Hui merasa meski nasi itu sedikit kotor, Yan Hui merasa meski nasi itu sedikit kotor, tetapi sayang jika dibuang. Namun, jika tetap disajikan juga terkesan tidak menghormati. Jadi, dia mengambil bagian nasi yang kotor dan memakannya. Saat itu, kebetulan Zigong melihatnya dan merasa tidak senang. Dia mengadu kepada Konfusius bahwa Yan Hui telah terlebih dahulu makan saat yang lain belum makan.
Konfusius berkata, “Meski kau melihatnya dengan mata kepala sendiri, tetapi saya tidak percaya.” “Saya tidak percaya Yan Hui seperti itu.” “Biar saya bertanya padanya.” Dengan kebijaksanaannya, Konfusius memanggil Yan Hui dan berkata, “Kemarin saya bermimpi bertemu seorang dewa dan entah ingin menyampaikan apa kepadaku.” “Saya rasa berhubung nasi sudah matang, maka persembahkanlah kepada dewa.” Yan Hui lalu menjawab Konfusius, “Saat saya memasak nasi, ada kotoran jatuh ke atas nasi itu, tetapi sayang jika nasi itu dibuang.” “Karena itu, saya terlebih dahulu memakan bagian yang kotor.” “Jadi, nasi ini tidak bisa dijadikan persembahan karena dianggap tidak hormat.” Setelah Yan Hui menjawab, Konfusius melihat murid-muridnya dan berkata, “Sudah jelas?” “Jangan sampai ada salah paham.” “Meski kita melihatnya sendiri, belum tentu kenyataannya seperti yang kita pikirkan.” Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki kebijaksanaan seperti ini. Pemikiran kita harus benar, Jangan sampai kondisi luar memengaruhi pikiran kita. Jadi, pemikiran haruslah benar. Senantiasalah bersungguh hati.