Sanubari Teduh-328-Empat Usaha Benar
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita membahas tentangpelatihan diri dan batin. Orang zaman dahulu berkata, “Kembangkan hati dan perilaku yang baik.” Benar, kita harus memiliki hati dan perilaku yang baik. Ini adalah tujuan yang sangat penting dalam pelatihan diri. Saat akan melakukan sesuatu, kita harus penuh perhatian. Hal yang buruk tidak boleh dilakukan. Bahkan, di dalam batin kita tidak boleh timbul niat buruk. Jika di dalam batin tidak ada niat buruk, maka tindakan buruk tidak akan terjadi. Dengan begitu, penderitaan tak akan timbul. Kita tidak perlu menerima buah penderitaan. Banyak orang berkata, “Sudah dinasihati agar tidak melakukannya, kamu malah melakukannya.” “Kini kamu menerima akibatnya.” “Kamu terima sendiri akibatnya.” Ungkapan seperti ini sering kita dengar. Bagaimana agar kita selalu tenang dan bahagia? Jangan ada dendam terhadap orang lain di hati kita. Bagaimana agar hati kita tak punya dendam? Jangan sampai ada kebencian. Janganlah kita cepat marah. Jangan pula selalu perhitungan dengan orang lain. Sikap perhitungan akan membawa perselisihan.
Jadi, janganlah kita bersikap emosional. Janganlah kita berselisihdan perhitungan dengan olrang. Dengan begitu, hati kita akan selalu damai. Setiap hari kita akan tenang dan bahagia. Jika batin selalu berada dalam kedamaian, maka inilah hal yang paling membahagiakan di dalam hidup ini. Kita tengah membahas 37 Faktor Pencerahan. Di awal kita sudah membahas empat landasan perenungan. Kini kita akan memperdalam pemahaman kita. Kita memang telah meningkatkan kewaspadaan, tetapi kita juga harus lebih tekun dan bersemangat. Bersemangat berarti giat berusaha. Usaha ini pun harus benar. Karena itu, berikutnya disebut empat usaha benar. Dalam usaha kita yang penuh semangat, arah kita juga harus benar. Saya sering berkata bahwa sedikit saja menyimpang, kita akan jauh tersesat. Tujuan harus kita tentukan dengan pasti. Keyakinan kita juga harus benar. Dengan begitu, pelatihan kita tak akan menyimpang. Jadi, bagi praktisi pembina diri, empat usaha benar sangatlah penting.
Dari empat usaha benar, yang pertama adalahmenghentikan keburukan yang sudah timbul. Tadi saya berkata bahwa kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, ia akan mudah menyimpang. Jika di dalam hati mulai timbul niat buruk, maka perbuatan buruk juga akan tercipta. Jadi, kita harus tahu, dalam hubungan antarmanusia, dalam hubungan antarmanusia, jika kita terlibat masalah dengan orang lain, jika kita bertemu kondisi yang tidak diinginkan, kita harus mengendalikan pikiran kita. Di dalam batin kita jangan sampai timbul kebencian. Janganlah berselisih dengan orang lain. Artinya, meski hanya sedikit kebencian atau rasa dengki, atau rasa dengki, tidak boleh timbul sama sekali. Jika timbul, itu termasuk niat buruk. Jadi, jika sudah timbul niat buruk Jadi, jika sudah timbul niat buruk yang membawa ketidakbahagiaan atau pikiran yang tidak baik terhadap orang lain, kita harus segera melenyapkannya. Keburukan yang sudah timbulharus segera dilenyaokan. Saat bertemu kondisi luar dan melihat sesuatu yang menggiurkan, jangan sampai batin kita terbuai.
Jika terbuai, kita akan melakukan tindakan. Sebelum kita terbuai lebih jauh, saat sedikit ketamakan timbul, kita harus segera menghentikannya. Jika kita terlanjur melakukan tindakan, maka harus bagaimana? Misalnya, kita tidak suka saat melihat seseorang, lalu timbul kebencian sehingga kita memakinya. Jika sudah terlanjur seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Kita harus berintrospeksi, bertobat,dan memperbaiki diri. Pertobatan adalah pemurnian. Setelah bertobat, kita harus segera bertekad untuk benar-benar menghentikan keburukan dan tidak mengulanginya kembali. Dalam hubungan antarsesama, kita harus saling bersyukur, menghormati, dan membangkitkan cinta kasih. Jika kita dapat mengembangkan semua sifat ini, maka dalam hubungan antarmanusia, kita tidak akan menjalin dendam atau berniat buruk terhadap siapa pun. Jadi, jika terjadi pertikaian, kita harus segera bertobat.
Setelah bertobat, jangan mengulangi kesalahan. Jadi, niat buruk yang sudah timbulharus segera dilenyapkan. Tentu, yang terbaik adalah mencegahnya. Saat timbul sebersit niat buruk, kita harus segera menghentikannya. Jika terlanjur berbuat atas dasar niat buruk tadi, Jika terlanjur berbuat atas dasar niat buruk tadi, kita harus segera berintrospeksi, bertobat, dan segera memperbaiki diri. Jangan sampai niat itu timbul kembali. Inilah yang disebut melenyapkan keburukan. Yang kedua, mencegah keburukayang belum timbul. Biasanya, kita memangberhubungan baik dengan semua orang. Jika kita tidak memiliki perasaan yang tidak baik terhadap semua orang, maka hubungan akan terjaga dengan baik. Kita harus selalu menjaga kondisi ini. Pandangan kita terhadap kondisi luar harus benar. Kita tahu bahwa di luar terdapat banyak jebakan. Jangan sampai kita terjebak ke dalamnya. Kita sendiri harus selalu menjaga pikiran kita. Jika tidak memiliki ketamakan,kita tak akan terjerumus. Jadi, kita harus senantiasa mencegah ketamakan, kebencian, dan kebodohan timbul dalam batin kita.
Sedikit pun jangan sampai muncul. Jika benar-benar tidak muncul, maka baik sekali. Jika kita tidak tamak terhadap hal-hal di luar dan tidak ada perseteruan dengan orang lain, maka kondisi ini adalah yang terbaik. Orang sering berkata, “Orang itu sangat berpengendalian diri, perangainya sangat baik.” “Dia bersikap baik terhadap semua orang, juga berpandangan terbuka terhadap segala hal.” Orang seperti ini haruslah kita puji. Bukan hanya itu, kita harus meneladaninya. Jika kita dapat memujinya, berarti dia patut dihormati. Mengapa dia dapat dihormati? Karena pelatihan dirinya sangat baik. Pelatihan diri seperti itu layak untuk kita puji. Orang lain juga akan memujinya. Jika kita berlatih seperti dirinya, orang lain juga akan memuji kita. Ini juga membuktikan bahwapelatihan diri kita cukup baik. Jadi, kita harus mencegah keburukanyang belum timbul. Batin yang sangat tenang dan terkendali harus senantiasa kita jaga. Terhadap kondisi luar ataupun orang, kita harus menjaga pikiran yang tenang.
Jangan sampai timbul niat buruk. Inilah yang disebut mencegah. Jika di dalam batin kita tidak ada niat buruk, maka kita harus senantiasa menjaganya. Kita juga harus membangkitkan kebajikan yang belum timbul. Niat baik harus dikembangkan. Kita tidak menyimpan rasa benci atau dendam terhadap orang lain, atau dendam terhadap orang lain, ini tentu sangat baik. Namun, kita harus maju selangkahdengan berbuat baik. Bukan hanya mengendalikan diri, kita juga harus aktif dalam kebajikan. Inilah yang disebut usaha benar. Kita harus aktif dan segera berbuat baik. Praktisi Kendaraan Kecil Praktisi Kendaraan Kecil hanya berfokus pada dua usaha di awal, yaitu melenyapkan keburukan yang sudah timbul dan mencegah keburukan yang belum timbul. Inilah yang dilatih praktisi Kendaraan Kecil.
Bagi mereka, menjaga diri sendiri sudah cukup, tidak perlu terlalu banyak mengurusi orang lain. Mereka tidak berhitungan dengan orang lain. Hanya begitu saja. Ini memang baik, tetapi alangkah baiknya jika bisa maju selangkah. Kita sudah memiliki pandangan benar, memiliki pemahaman yang jelas,dan tidak perhitungan. Setelah itu, kita harus maju selangkah dengan menjalankan praktik Bodhisattva. Dalam praktik ini, kita harus aktif. Kebajikan yang belum bangkit harus dibangkitkan. kita harus segera membangkitkan niat baik di dalam batin kita dan mengembangkannya. Kebajikan yang sudah timbul harus dikembangkan. Niat baik kita harus dikembangkan. Kita harus bersemangat dalam hal ini. Jadi, dalam membantu orang, kita tidak hanya membantu keluarga kita, kerabat yang ada hubungan dengan kita, atau tetangga sekitar kita. Tidak hanya itu. Kita juga tidak hanya membantu masyarakat kita. Kita harus berbuat lebih dari itu. Kita harus melampaui batas Negara.
Kita harus mengamati kondisi dunia. Sama halnya, kita mengasihi keluarga kita, kita mengasihi masyarakat kita, tetapi lebih jauh lagi, kita harus peduli terhadap seluruh dunia. Di atas bumi dan di kolong langit, tempat manakah yang tak patut kita pedulikan? Manusia manakah yang tak patut kita kasihi? Jadi, berhubung memiliki cinta kasih, kita harus mengasihi semua makhluk. Kita harus mengembangkan kebajikan yang ada. Dalam berbuat kebajikan, kita tidak hanya berbuat bagi orang di sekitar kita, melainkan memperluas cakupannya hingga menjadi lebih luas. Saya sering berkata bahwa jangan kita takut pada tanggung jawab yang berat. Kita hanya berharap kekuatan bertambah. Pada bulan Agustus 2005, New Orleans diterjang Badai Katrina. Dalam semalam, New Orleans porak poranda. Para korban bencana mengungsi tak tentu arah. Ada yang mengungsi hingga ribuat km jauhnya. Para relawan Tzu Chi pun bergerak ke berbagai daerah.
Di mana ada korban bencana, ke sanalah insan tzu Chi bergerak untuk memberi perhatian. untuk memberi perhatian. Apakah kita hanya bersumbangsih dengan memberikan bantuan di saat bencana terjadi saja? Kita harus terus memberi pendampingan. Kita harus terus memberi pendampingan. Kita harus terus memberi pendampingan. Para korban bencana perlahan-lahan juga mulai kembali ke New Orleans. Ada yang tak memiliki apa-apa saat kembali dan tidak memiliki tempat tinggal. Di mana mereka harus tinggal? Mereka tidak punya tempat menetap. Insan Tzu Chi tetap memberi perhatian. Namun, para anggota TIMA di Amerika Serikat Namun, para anggota TIMA di Amerika Serikat Namun, para anggota TIMA di Amerika Serikat menemukan bahwa di New Orleans, banyak warga yang meninggalkan rumah. Orang-orang yang berada di sana pun merasa bahwa kota tersebut sudah bagaikan kota mati. Jika ingin menunggu kota itu pulih, mungkin diperlukan waktu lebih dari 10 tahun. Jadi, orang dari berbagai bidang di sana, terutama bidang medis, juga pindah ke luar. Akibatnya, di New Orleans, warga yang memiliki uang pun tak bisa berobat, terlebih lagi mereka yang tak punya apa-apa.
Saat kembali ke New Orleans,mereka tak punya apa-apa. Rumah mereka juga rusak. Harta mereka habis, mereka sendiri juga didera penyakit. Dalam kondisi itu, sulit bagi mereka untuk berobat. Jadi, para relawan Tzu Chi memberi pendampingan bagi para warga ini meski New Orleans berjarak ribuan kilometer bahkan lebih dari tempat tinggal para insan Tzu Chi. Relawan Tzu Chi yang terjauh datang dari Seattle. Untuk tiba di New Orleans dari Seattle, perlu lebih dari 5 jam perjalanan dengan pesawat. Begitulah jauhnya. Para anggota TIMA di sana beserta para relawan dari 10 daerah lainnya tetap mengembangkan kebajikan yang sudah timbul. Mereka tidak hanya mengasihiwarga di sekitar mereka, tetapi juga warga di tempat-tempat yang jauh.
Lihatlah, mereka memiliki semangat yang sama. Merasa diri mereka adalah dokter, perawat, atau relawan Tzu Chi, mereka menggenggam kesempatan untuk segera bersumbangsih tanpa takut terhadap jauhnya jarak. Mereka merasa itu adalah kewajiban dan misi mereka. Misi dari Bodhisattva adalah memperhatikan penderitaan semua makhluk. Contohnya, di Chicago ada seorang dokter. Istrinya mengidap penyakit Parkinson. Dokter Su ini mulanya selalu mendampingi istrinya. Istrinya sangat membutuhkan pendampingannya. Dokter Su tidak berani pergi jauh. Pada tahun 2003, dia mengenal Tzu Chi dan mulai bergabung. Dia merasa bahwa Tzu Chi adalah jalan yang selama ini mereka cari untuk dapat aktif melayani sesama dan berbuat kebajikan. Jadi, suami istri ini sejak tahun 2003 mulai bergabung dengan Tzu Chi, tepatnya di TIMA, karena dr. Su adalah seorang dokter. Jadi, di mana digelar baksos kesehatan, dia pasti berpartisipasi. Dia juga membawa istrinya. Istrinya selalu mendampinginyadalam setiap kegiatan.
Mereka akhirnya mengikuti pelatihan dan dilantik pada tahun 2006. Suaminya dilantik sebagai anggota Tzu Cheng dan bertanggung jawabsebagai jendela TIMA setempat. Istrinya dilantik sebagai anggota komite. Semangat misi mereka sangat teguh. Pada tahun 2005, mereka belum dilantik. Saat itu terjadi bencana Badai Katrina. Sang istri mendorong suaminya untuk turut membantu memberi pelayanan kesehatan. Kebetulan, saat itu ada kerabat mereka dari Taiwan yang bisa menjaga sang istri, maka si istri meminta suaminya agar tenang saja. Namun, New Orleans sangat jauh. Namun, New Orleans sangat jauh. Jika ikut, dia harus berada di luar selama 6-7 hari. Sang suami merasa tidak tenang. Dia berkata, “Lebih baik jangan, saya tidak mau pergi sejauh itu.” “Saya tetap bisa melayani warga sekitar.” Sang istri sangat bijaksana. Dia berkata, “Inilah saat yang tepat untukmu mengubah cinta kasih yang kecilmenjadi cinta kasih yang besar.” “Ini adalah kesempatan untuk berlatih mengubah cinta kasih yang kecilmenjadi cinta kasih yang besar.” Suaminya merasa tidak tega. “Bagaimana jika saat saya pergi, tiba-tiba terjadi sesuatu padamu?” Namun, istrinya tetap teguh dan terus mendorongnya untuk pergi.
Bisa dikatakan bahwa istrinya memaksanya untuk pergi. “Kamu harus mengubah cinta kasih yang kecil menjadi besar.” “Jangan hanya bersumbangsih bagi warga sekitar dalam skala kecil.” “Kamu harus menjangkau tempat yang lebih jauh.” “Kamu tenang saja.” Kebetulan, putri mereka bekerja sebagai asisten profesordi Universitas Northwestern. Mengetahui ayahnya ingin pergi jauh untuk mengikuti baksos kesehatan, dia pulang untuk menemani ibunya agar ayahnya dapat merasa tenang. Kondisinya sangat sesuai. Di dunia ini, asalkan kita ingin berbuat baik, pasti ada jalannya. Asalkan kita mampu melepas cinta individual, kita pasti memiliki kekuatan untuk mewujudkancinta kasih universal. Jadi, untuk mengubah cinta kasihyang kecil menjadi besar tidaklah sulit. Jadi, kebajikan yang sudah timbulharus dikembangkan. Bukan berarti sedikit kebajikan kecil sudah cukup. Bukan berarti tidak berbuat jahat saja sudah cukup. Tidak berbuat jahat tentu saja baik. Menjadi orang baik tentu baik, Menjadi orang baik tentu baik, tetapi kita harus maju selangkahdengan menjadi Bodhisattva. Hati Bodhisattva saja tidak cukup, kita harus membangun tekad Mahayana, tekad Bodhisattva Agung. Jadi, selain mengasihi diri sendiri, keluarga, orang-orang di sekitar kita, dan orang-orang di masyarakat kita, kita juga harus mengasihi orang di seluruh dunia. Cinta kasih seperti ini tidak boleh tidak ada. Jadi, pikiran kita harus selalu berpegangpada kebenaran. Sedikit saja penyimpangan dapat membuat kita jauh tersesat.
Saya pernah melihat sebuah berita. Berita ini mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan berpegang pada kebenaran. Dalam segala hal, kita harus sepenuh hati. Di Alaska, Amerika Serikat, ada sepasang suami istri muda yang saling mencintai. Istrinya ini mengandung dan sangat bahagia. Mereka menantikan kehadiran bayi yang lucu. Namun, dalam hidup inibanyak hal yang tidak sesuai keinginan. Melihat istinya sudah akan melahirkan, Melihat istinya sudah akan melahirkan, sang suami sangat dipenuhi harapan. Namun, tanpa diduga,istrinya mengalami kesulitan dalam persalinan. Anaknya dapat diselamatkan, tetapi istrinya meninggal dunia. Sang suami ini masih sangat muda. Anaknya juga sudah lahir. Dia berharap dapatmembesarkan anaknya dengan baik karena sangat mencintai istrinya. Dia juga tidak berencana untuk menikah kembali. Dia hanya ingin sepenuh hatimembesarkan anaknya. Namun, lambat laun dia juga merasakantekanan ekonomi. Dia merasa harus keluar mencari nafkah. Apa yang harus dia lakukan? Dia lalu melatih seekor anjing untuk menjaga anaknya. Anjing ini sangat pintar. Begitu susu sudah dibuat, ia akan menggigit botol susu dan memberikannya pada si bayi.
Ia sungguh luar biasa. Pada saat itu, pria ini dapat merasa tenang. Anjing ini dapat menjadi penjaga anaknya. Dia pun merasa tenang. Suatu hari, dia harus bekerja lembur sehingga tidak bisa pulang pada malam harinya. Namun, dia tetap percaya kepada anjing itu. Keesokan harinya, saat membuka pintu, dia melihat mulut anjingnya berlumuran darah, bahkan paha anjing tersebut kelihatannya juga terluka. Melihat tuannya kembali, anjing ini kelihatan sangat gembira dan segera menjemput tuannya. Namun, tuannya ini merasa aneh. Dia bertanya-tanya di mana anaknya. Dia bertanya-tanya di mana anaknya. Dia tidak bisa menemukan anaknya. Di dalam batinnya langsung terpikir Di dalam batinnya langsung terpikir apakah anjingnya telah menggigit anaknyahingga mati. Saat itu, dia berpikiran seperti itu karena mulut anjing itu berlumuran darah. “Apakah ia telah menggigit anakku?” Tanpa pertimbangan panjang, dia mengambil kesimpulan bahwaanjing itu telah membunuh anaknya. Niat buruknya pun bangkit. Dia segera mengambil sebilah pisaudan membunuh anjing itu.
Setelah anjing itu mati, pria ini mendengar suara tangisan bayinya. Di manakah anaknya? Anaknya sedang menangis. Setelah mengikuti suaranya,pria ini menemukan anaknya di bawah tempat tidur. Setelah mengangkat anaknya, Setelah mengangkat anaknya, barulah di sisi pintu dia melihat seekor serigala. Saat itu dia baru paham bahwa ternyata serigala itulah yang ingin menggigit anaknya. Anjing itu berkelahi dengan si serigala. Serigala itu juga terluka. Lehernya digigit hingga terluka parah dan hampir mati. Sebaliknya, pada paha anjing tersebut juga seperti ada daging yang sobek. Potongan daging itu ada di mulut serigala tadi. Melihat itu, pria ini baru menyadari kesalahannya. Jadi, tindakan gegabah karena pikiran sesaat membuat semuanya sudah terlambat. Meski ingin menghentikan niat buruknya, dia sudah terlambat. Anjing itu sudah mati dibunuhnya. Lihatlah, pikiran begitu penting. Jika pikiran kita dapat tenang dan damai, Jika pikiran kita dapat tenang dan damai, maka secara alami niat buruk tak akan timbul.
Kalaupun ada tindakan,jangan sampai ada tindakan buruk. Jika tidak ada pikiran buruk,penderitaan tak akan muncul. Dengan begitu, kita tak akan menyesal. Di dalam batin hendaknya tidak ada rasa dendam, kebencian, ataupun perseteruan. Jika batin damai, kita akan bahagia. Intinya, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita agar senantiasa tenang dan melihat segala hal dengan pandangan benar. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.