Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-327-Empat Landasan Perenungan

Saudara se-Dharma sekalian,  saat melakukan meditasi setiap hari,  adakah kita mengamati batin kita sendiri  dan mengingatkan diri untuk bersemangat,  tekun, tidak malas,  selalu mengingat Dharma,  dan melepaskan ketamakan duniawi?  Saudara sekalian,  tiada yang patut dilekati di dunia ini.  Saat kita duduk menenangkan diri,  apakah kita kita ingat  Dharma yang kemarin baru saja kita bahas?  Di dalam kehidupan sehari-hari,  dalam hubungan antarmanusia,  juga ada kata-kata yang kerap  dapat mengingatkan kita meski sederhana.  Kata-kata itu dapat mengingatkan kita  akan jalan yang benar dalam hidup.  Ini ada di dalam kehidupan sehari-hari.  Kita dapat merasakannya setiap saat  dan menyadarinya.  Setelah menyadarinya, kita hendaknyamenyimpannya di dalam hati  dan menerapkannya dalam kehidupan.  Terlebih lagi, setelah mendengar Dharma  pagi-pagi sekali setiap harinya,  kita jadi memiliki waktu lebih banyak  daripada orang pada umumnya.  Di saat orang lain masih terlelap,  Di saat orang lain masih terlelap,  sebelum mereka bangun tidur,  kita telah bangun satu jam lebih awal  dan sudah memasuki ruang kebaktian  untuk menenangkan tubuh dan batin kita.

Di dalam kehidupan sehari-hari,  kita terlihat sangat tekun dan bersemangat,  tetapi adakah kita mengamati batin sendiri?  tetapi adakah kita mengamati batin sendiri?  Adakah kita mengamati tubuh  dan batin kita?  Bayangkan,  apakah pikiran kita menyatu dengan tubuh kita?  Apakah pikiran kita  sudah mengembara di luar  dan terjebak dalam kekeliruan  serta berbagai pikiran pengganggu?  Jadi, kita harus penuh perhatian.  Kita tidak boleh melupakan Dharmayang kita terima dan latih.  Dengan demikian,  barulah kita dapat melepaskan ketamakan duniawi.  Di dunia ini banyak hal yang mengganggu batin.  Kita juga harus mengamati kondisi dunia,tekun dan tidak malas,  mengingat Dharma, serta melepas ketamakan.  Demikian pula,  Di dalam kehidupan sehari-hari,  kita mengamati kondisi dunia luar.  Setiap hari, dalam hubungan antarmanusia  dan dalam menghadapi kondisi luar,  adakah kita mengingatkan diri sendiri?  Saat ini kita sering mendengartentang pemanasan global,  perubahan iklim ekstrem,  Bumi yang terus mengalami perusakan,  dan negara mana yang tertimpa bencana.  Semua ini membuat kita merasa khawatir.  Kondisi luar bukan hanya yang ada di sekitar kita  atau di sekitar tempat tinggal kita.  Kita harus mengamati seluruh dunia.  Kita harus lebih banyak memahami kondisi di luar  karena kita merupakan  salah satu bagian dari dunia ini.

Kita juga harus tahu apa yang terjadi di dunia.  Semakin banyak  dan semakin luas yang kita tahu,  kita akan semakin dapat membuktikanpemanasan global  dan perubahan iklim ekstrem.  Dengan begitu, kita akan teringat bahwabumi ini bersifat rentan  dan kehidupan amatlah tidak kekal.  Kita harus tekun  dan bersungguh hati.  Kita harus memahami banyak hal.  Kita harus memahami banyak hal.  Kita juga tidak boleh malas.  Kita harus semakin bersemangat.  Inilah pengamatan terhadap dunia.  Kita adalah orang yang hidup di Bumi saat ini,  maka kita tak boleh tidak paham kondisi dunia,  bahkan harus senantiasa ingat akan Dharma.  Buddha telah mengajar dengan susah payah  dengan berbagai metode terampil  agar kita memahami ketidakkekalan  dan rentannya bumi.  Kita harus sungguh-sungguhtekun dan bersemangat.  Kita harus waspada dan tidak lengah.  Jika kita bisa memahami lebih banyak,  maka kita akan mampumelepaskan ketamakan duniawi.  Segala bencana,  baik bencana alam  maupun bencana akibat ulah manusia,  semua bermula dari kegelapan batin, ketamakan,kebencian, dan kebodohan manusia.  Yang utama dari tiga racun ini adalah ketamakan.  Saat ketamakan bangkit,  kebencian, dan kebodohan akan mengikuti.

  Jika kita mampu memahami semua ini,  kita akan dapat melepas ketamakan duniawi.  Jika kita mampu melenyapkan ketamakan,  maka dunia ini akan terasa lapang  dan kita akan bebas dari kerisauan.  Dengan begitu, dunia akan bebas dari bencana.  Bencana akibat ulah manusia pun tak akan ada.  Semua ini bergantung pada pikiran manusia.  Jadi, kita harus mendengar, menerima Dharma,  dan bertindak sesuai Dharma.  Sebelumnya,  Buddha sudah memberi tahu kita bahwa  kita harus memutus kegelapan batin.  Sumber kegelapan batin harus kita patahkan  agar kita dapat memasuki kondisi batinyang hening dan jernih  yang sama dengan Nirvana.  Dengan begitu, kita akan senantiasa damai.  Namun,  sebelum itu,  kita harus melatih diri.  Sebelumnya kita juga sudah membahas  Jalan Mulia Beruas Delapan.  Namun, itu saja belum cukup.  Masih ada faktor pendukung lainnya, yaitu  37 Faktor Pencerahan

  37 Faktor Pencerahan ini  juga disebut sebagai  37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan.  Semua ini adalah pendukung kita  agar lebih mudah memahami  dan membantu kita untuk mengamati dunia  serta mengamati tubuh dan batin.  Ini membuat kita melihat lebih jelas.  Sebutan lain untuk faktor-faktor ini adalah  37 Faktor Bodhi.  Bodhi berarti kesadaran.  Faktor-faktor ini adalah 37 faktor  yang membantu kita di jalan menuju kesadaran.  37 Faktor Pencerahan ini  sering kita bahas,  bahkan kita pernah  memadukannya dengan musik.  Ini bertujuan agar selain dapat melantunkannya,  kita juga semakin memahami isinya.  Jadi, ajaran Buddha tidak lepas dari keseharian.  Kita kini sering mengadakan pelatihan bersama.  Di tempat pelatihan insan Tzu Chi,  mereka sering mendalami 37 Faktor Pencerahan.  Mereka menyanyikannya dalam bentuk lagu,  juga memeragakannya dalam isyarat tangan.  Bukan hanya menyanyikannya, mereka juga  memperagakannya dengan bahasa isyarat tangan.  Lagu dan gerakan dapat menarik minat kita  Lagu dan gerakan dapat menarik minat kita  sehingga mampu menghafalnya di dalam hati.  Ini bertujuan agar kita  dapat senantiasa meningkatkan kewaspadaan.  Apa yang disebut 37 Faktor Pencerahan? Semuanya jika dijumlahkan berjumlah 37.

Kini yang kita lakukan adalah sama.  Berhubung semua ini membantu kitauntuk mencapai kesadaran,  maka kita harus terus menghafalnya,  merenungkannya, dan memahaminya.  Jadi, kita tidak boleh bosan mempelajari Dharma.  Sekarang, kita akan kembali mulai  membahas dari empat landasan perenungan  untuk mengingatkan kita semua.  Meski kita sering melantunkannya dalam lagu,  meski kita sudah memperagakannya  dengan isyarat tangan bagai membentuk mudra,  meski kita sudah menghafalnya dengan jelas,  tetapi saat berkumpul bersama,  kita semua tetap harus  saling mengingatkan dan saling mendukung. Tubuh kita sungguh tidak bersih.  Saat cuaca panas, kita mudah berkeringat.  Saat tidak mandi seharian,  kita akan merasa tidak nyaman.  Jika kita tidak mandi selama berhari-hari,  maka saat kita ada bersama orang lain,  orang lain pun merasa tidak nyaman. Tubuh kita mungkin  mengeluarkan aroma yang tidak biasa.  mengeluarkan aroma yang tidak biasa. Orang hidup pasti memiliki aroma tubuh  yang adakalanya tidak sedap. Diri sendiri kadang tidak merasakannya. Ada orang yang agak malas  sehingga tidak membersihkan diri. Saat dia berada dekat dengan orang lain,  maka aroma tubuhnya akan tercium.  Orang akan bertanya, “Sudah berapa hariorang ini tidak mandi?”  “Ada penyakit apa pada tubuh orang ini,  mengapa tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap?”  Bukan hanya diri sendiri yang tidak nyaman,  sesungguhnya saat dia bersama orang lain,  orang lain juga merasa tidak senang  dan merasa tidak enak hati.

Meski berada dalam kondisi sehat,  baik di tengah masyarakatmaupun dalam kesendirian,  tubuh kita tetap tidak bersih.  Dahulu kita juga pernah membahas bahwa  sembilan lubang pada tubuhselalu mengeluarkan zat yang tidak bersih.  Coba kita hitung sendiri,  bukankah pada tubuh kita ada sembilan lubang?  Yang bisa kita lihat langsung  adalah tujuh lubang pada wajah.  Selain itu, masih ada dua lubang lagi  yang akan membawa masalah jika tidak lancar,  yaitu saluran pembuangan air besar dan kecil.  Inilah sembilan lubang.  Sembilan lubang selalu mengeluarkanzat yang tidak bersih.  Bayangkan,  di wajah kita saja  kita bisa melihat zat yang tidak bersih.  Saat air mata mengalir, kita segera menghapusnya.  Lendir hidung juga tidak sedap dipandangjika tidak segera dibersihkan.  Ini juga tidak bersih.  Ada pula dahak.  Lihatlah,  begitu pula yang ada pada telinga.  Jika tidak dibersihkan selama beberapa waktu,  telinga juga bisa dipenuhi kotoran.

 Tujuh lubang ini tidaklah bersih,  terlebih lagi jika tidak dibersihkan.  Saat kita berada dalam kondisi sehat sekalipun,  aroma tubuh kadang sudah tidak sedap.  Intinya, kita harus mengamati bahwatubuh tidaklah bersih.  Terlebih lagi, saat kita jatuh sakit.  Saat sakit, tubuh manusia cenderunglebih tidak terawat.  Selain tidak mandi,  kadang ada kulit yang terkelupas,  darah yang mengalir keluar,  atau nanah.  Jika tidak ada yang membantu membersihkan,  tubuh orang sakit ini akan bagaikan membusuk.  Meski belum meninggal,tubuhnya bagai sudah membusuk.  Aromanya juga sangat tidak sedap.  Terlebih lagi,  saat napas kita berhenti,  saat napas kita berhenti,  tubuh kita pasti akan mengeluarkan bau tak sedap  dalam waktu hanya hitungan jam.  Ini karena organ dalam kita mulai rusak.  Aromanya pun keluar  dan sangat tidak sedap.  Jadi, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan  masa-masa saat tubuh kita masih sehat.  Kita juga harus sungguh-sungguh  menjaga dan membersihkan tubuh kita  agar tetap bersih.  Kita harus memanfaatkan waktu selagi sehat  untuk terjun ke masyarakat  guna menjalankan hal-hal yang bermanfaat  dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva.  Tubuh ini adalah sarana pelatihan diri

 Saat tubuh ini sehat,  kita akan terbantu dalam melatih diri  dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva.  Jadi, saat tubuh dan batin sehat,  kita harus sungguh-sungguh melatihempat landasan perenungan.  Merenungkan bahwa tubuh tidak bersihadalah salah satunya.  Berhubung tubuh ini tidak bersih,  maka kita harus berlatih dengan sungguh-sungguh. Saat memuja Buddha, bukankah kita  harus membersihkan tubuh dan batin? Ini menunjukkan ketulusan kita. Demikian pula, kita harus menghormati orang lain.  Pakaian kita harus rapi.  Penampilan kita juga harus rapi.  Ini adalah wujud rasa hormat terhadap orang lain.  Sesungguhnya, semuanya akan kembali   kepada diri sendiri, yaitusikap mengasihi dan menghormati diri sendiri.  Singkat kata,  dalam melatih diri,  baik terhadap diri sendiri, masyarakat,  maupun terhadap para Buddha dan Bodhisattva,  kita harus memiliki rasa syukur  dan juga menjaga kebersihan tubuh.  Manfaatkan tubuh ini untukmempraktikkan Jalan Bodhisattva.  Dengan mengamati bahwa tubuh tidak bersih,  barulah kita dapat mengingatkan diri sendiri untuk selalu menjaga diri  untuk selalu menjaga diri  dan memanfaatkan tubuh ini untuk berlatih  dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Sepanjang hari kita pasti memiliki perasaan. Seperti saat ini,  saat saya berbicara,  entah bagaimana perasaan kalian. Apakah kalian terus memperhatikan waktu  dan bertanya kapan ceramah ini selesai? “Kaki saya sudah pegal,  apakah waktunya masih belum habis?”  Kata-kata ini sepertinya pernah saya dengar. Adakah di antara kalian yang berpikir begitu? Ini juga termasuk perasaan.  Saat ini kalian merasakan perasaan itu.  Barangkali sambil mendengar Dharma,  pikiran kalian juga merisaukan  masalah di rumah,  masalah dengan orang lain,  ataupun pekerjaan.

  Mungkin ada masalah dengan orang  yang merisaukan dan belum terselesaikan.  Ini juga termasuk perasaan.  Baik perasaan pada masa lalu, masa depan,  maupun masa kini;  baik yang baik maupun yang buruk,  semuanya mengandung penderitaan.  Saat memikirkan hal yang sudah berlalu,  adakalanya kita juga risau dan menderita.  Saat terus memikirkan hal yang belum terjadi,  Saat terus memikirkan hal yang belum terjadi,  seperti memikirkan masa depan anak  meski anak itu baru dilahirkan,  itu juga bisa dibilang sangat berlebihan. Anak itu baru dilahirkan, maka seharusnya orang tua membesarkannya dengan sepenuh hati.  Untuk apa memikirkan masa depan begitu banyak?  Jadi, jika kita berpikir terlalu banyak seperti itu,  kita juga akan menderita.  Jadi, perasaan ini,  entah itu baik ataupun buruk,  semuanya berkaitan dengan batin kita  dan bisa membawa penderitaan.  Karena itu, kita harus mengamati perasaan ini dan menjaga pikiran untuk berada di saat ini. Kita harus memperhatikan saat sekarang.  Dengan pikiran bagaimana kita bersumbangsih?  Kita harus memiliki perasaan sukarela.  Meski harus bersusah payah,  kita tetap rela.  Perasaan ini membuat kita bahagia.  Jika dapat melakukan dengan sukarela  dan menerima dengan sukacita,  maka penderitaan dapat diubahmenjadi kebahagiaan.  Jadi, kita harus mengembangkan kerelaan.

  Berhubung sedang melatih diri,  maka kita harus menjalankannya dengan sukarela.  Berhubung telah membangkitkantekad Bodhisattva,  maka saat bersumbangsih demi semua makhluk,  kita juga harus rela.  Dengan demikian, penderitaan akan dapat diubahmenjadi kebahagiaan.  Jadi, kita juga harus  senantiasa memahami perasaan ini.  Kita harus mengamati bahwa perasaanmembawa derita.  Jika kita bersikap perhitungan  dan melekat pada pikiran semu dan pengganggu, maka kita akan sangat menderita. Kita juga harus mengamati bahwapikiran tidaklah kekal.  Pikiran dan kesadaran kita sering kali tidak teguh.  Pikiran dan kesadaran kita sering kali tidak teguh.  Pikiran kita sulit tenang dan teguh.  Mengapa pikiran bisa sulit teguh?  Karena pikiran memiliki fase timbul, berlangsung,berubah, dan lenyap.  Pikiran kita  mulanya mungkin sangat gembira.  Hari ini kita mendengar Dharma yang berguna  sehingga merasa sangat gembira.  sehingga merasa sangat gembira.  Kita merasa Dharma ini dapat  diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari.  Karena itu, kita merasa gembira.  Karena itu, kita merasa gembira.  Namun, setelah beranjak dari tempat ini,  Namun, setelah beranjak dari tempat ini,  mungkin saat berada di luar,  sepatu kita tertukar dengan milik orang lain.

Kita pun mulai risau kembali.  “Orang ini mengapa tidak bersungguh hati?”  “Saya sedang terburu-buru,  tetapi dia malah memakai sepatu saya.”  Batin kita mungkin bergejolak.  Dharma yang baru didengar entah pergi ke mana.  Inilah fase berubahnya pikiran.  Saat kondisi berubah,  pikiran kita juga ikut berubah.  pikiran kita juga ikut berubah.  Jadi, mulanya kita merasa gembira  dan bahagia,  tetapi setelah beberapa waktu,  saat kondisi luar berubah,  pikiran kita juga ikut berubah.  Rasa gembira tadi pun lenyap.  Pikiran sangat tidak kekal.  Jadi, amatilah bahwa pikiran tidak kekal.  Ini karena pikiran memiliki empat fase.  Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. Mengamati bahwa tubuh tidak bersih,  mengamati bahwa perasaan membawa derita,  mengamati bahwa pikiran tidak kekal,  mengamati bahwa fenomena bersifat tanpa inti.  Semua orang bisa menghafal semua ini,  hanya saja kita belum  menerapkannya di dalam keseharian.  Sungguh, di dunia ini,  benda apakah yang memiliki intidan berdiri sendiri?  Segalanya adalah perpaduan berbagai unsur.  Ambil contoh diri kita saja.  Mengapa kita bisa terlahir di sini?  Bagaimana bisa kita bertemu orang tua kita?  Mengapa kita bertemu lingkungan seperti ini?  Apa yang menyebabkan semua itu?  Ini disebabkan oleh 12 mata rantai sebab akibat.  Di awal mata rantai sebab akibat ini,  adakah perbedaan “kamu” dan “saya”?  Ambil manusia sebagai contoh.  Sesuai 12 mata rantai sebab akibat,  kegelapan batin menimbulkan dorongan karma.

Karma atau perbuatan terus terpupuk.  Saat benih dari ayah dan ibu berpadu,terbentuklah janin.  Janin akan tumbuh besar. Hidup di dunia, manusia memiliki keinginan.  Dimulai dari kontak dan perasaan,keinginan timbul  dan mempertebal kegelapan batin.  Tentu, kelak mata rantai ini akan berlanjut.  Kehidupan kita kali ini tidaklah kekal. Tidak.  Empat unsur pembentuk akan terurai.  Jadi, kehidupan manusia penuh penderitaandan tidak kekal.  Sesungguhnya, segala sesatu merupakanperpaduan dari banyak hal,  dari bersatunya berbagai sebab dan kondisi.  Jadi, di manakah inti atau “aku”?  Singkat kata,  amatilah bahwa segala sesuatu adalah tanpa inti.  Saudara sekalian,  semua ajaran ini sering kita bahas.  Harap semua selalu menghafalempat landasan perenungan ini  dan menerapkannya dalam keseharian.  Banyak-banyaklah memikirkan, merenungkan, merasakan, dan memahaminya. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment