Sanubari Teduh-344-Empat Jenis Pengamatan Bagian 10
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari pada saat-saat ini, batin kita seharusnya sangat tenang. Apakah kalian semua dapat mencapai Kondisi yang demikian, apakah batin kalian dapat merasakannya? Contohnya, seperti saat kita sedang duduk. Meski kita juga mendengar kicauan burung, suara mesin, dan suara kendaraan di jalan, tetapi jika batin kita dapat tetap tenang, maka baik suara dari alammaupun suara peralatan, akan menjadi suara yang terdengar indah ketika sampai pada diri kita yang hening. Artinya, kondisi luar tak bisa mengacaukan batin kita. Kondisi batin kita tidak akan terganggu oleh kondisi luar. Batin kita tetap bisa hening dan jernih. Jika batin kita dapat senantiasa hening dan tidak tergoyahkan, maka tekad yang sudah kita bangkitkanakan sangat besar. Berhubung tidak terpengaruh olehsegala gangguan di dunia, maka tekad kita bisa luas dan luhurserta tak tergoyahkan. serta tak tergoyahkan. Batin bisa kita sangat lapang. Ini bertahan dalam waktu yang panjang. Inilah kondisi pelatihan diri. Dengan demikian, pikiran kita akan sangat detail. Segala sesuatu di dunia ini dapat diserap sebagai Dharma. Baik suara burung, suara kendaraan, maupun suara mesin, semuanya inijika kita perhatikan dengan hati yang jernih, pastilah mengandung Dharma.
Kita akan teringat bahwa ada berbagai kehidupan di alam ini. Mengapa hewan itu disebut burung? Hidup di alam bebas, bagaimana perasaan si burung? Mungkin kita dapat berpikir sedikit lebih dalammengenai hewan-hewan kecil. Apakah burung bicara bahasa burung? Apakah mereka bercakap-cakap lewat kicauan? Seharusnya begitu. Di antara sesama manusia saja, saat berbicara bisa tidak saling mengerti. Contohnya, kalian semua mengerti bahasa saya, tetapi makna pembicaraan saya, apakah semua memahaminya? Meski memiliki rumpun bahasa yang sama, tetapi mungkin masih terdapat perbedaan berdasarkan letak geografis dan perbedaan suku. Tentu, bahasa ada banyak ragam. Melihat begitu banyak ragam bahasa dan suku yang berbeda-beda, kita dapat memahami mengapa di antara umat manusiaada begitu banyak perbedaanyang membuat kita tidak saling memahami. Jika kita berpikir dari sisi ini, maka suara semua makhluktiada yang bukan Dharma. Mereka juga terus berkomunikasi. Semuanya adalahpintu Dharma yang tak terhingga. Bukan berarti semata-mata kalian duduk di sanadan saya berbicara di sini, baru disebut membabarkan Dharma.
Bukan hanya itu. Segala sesuatu di dunia, baik yang berwujud, bersuara, maupun yang tidak, asalkan batin kita memperhatikan dengan hening, semuanya adalah pembabaran Dharma. Semuanya terpapar di hadapan kitadan membabarkan Dharma bagi kita. Jika tidak, bagaimana mungkin para Pratyeka Buddhayang lahir pada zaman yang tidak ada Buddhabisa mencapai pencerahan hanya denganmengamati perubahan empat musim? Apa yang mereka sadari? Ketidakkekalan di dunia. Segala sesuatu selalu berubah. Inilah yang mereka sadari. Jadi, berwujud atau tidak, bersuara atau tidak, semuanya adalah Dharma. Jadi, pikiran kita harus tahubahwa segala hal yang kita temui setiap hariadalah Dharma, terlebih lagi dalam percakapan antarmanusia. Dalam hubungan antarmanusia, terdapat beragam lingkungan dan kondisi. Saat mendengar kisah atau cerita orang lain, coba pikirkan, bukankah ini adalah Dharma yang terpapar di hadapan kita? Baik orang berada maupun kurang mampu, masing-masing memiliki kisahyang menyentuh.
Demikian pula, saat membabarkan Dharma, Buddha menggunakan contoh dari berbagai kondisi yang adauntuk memberi ajaran. Lihatlah, suatu ketika, saat Buddha dan murid-Nya berjalan, mereka melihat kawanan lembu. Sepulangnya ke vihara, Buddha bertanya kepada para bhiksu, “Wahai para bhiksu, apakah kalian melihat kawanan lembu tadi? “Para bhiksu menjawab, “Ya, kami melihatnya. “Buddha bertanya, “Bagaimana perasaan kalian? “Semua orang saling menatap kebingungan. Buddha melanjutkan, “Aku merasa prihatin dan iba. “Mereka biasa digembalakan oleh tuannyauntuk makan rumput dan minum air, tetapi mereka tidak tahu bahwasetelah mereka banyak makandan tumbuh semakin gemuk, maka selain harus bekerja, kelak mereka akan disembelihuntuk dimakan oleh manusia. untuk dimakan oleh manusia. Lihatlah, ini juga menjadi bagian dari Sutra. Ini juga merupakan Dharma yang Buddha babarkan sesuai dengan kondisi saat itu. Terlebih lagi, dalam hubungan antarmanusia, lihatlah, berapa jenis orang yang kita temui? Berapa banyak cerita yang kita dengar? Bukankah semua ini adalah Dharma yang terpapardan membuat kita memiliki kebijaksanaan? Bukankah dengan ini kita bisa memahami segala kebenaran? Ini bergantung pada daya tangkap kita. Kini kita membahasSyair Pertobatan Air Samadhi. Kita sudah membahas hingga sejauh ini. Belakangan ini kita membahas empat jenis pengamatan. Pertama, pengamatan terhadap sebab dan kondisi. Kedua, pengamatan terhadap buah dan akibat.
Ketiga, pengamatan terhadap tubuh diri sendiri. Lihatlah, kebenaran tentang sebab dan kondisi begitu dalam. Tanpa sebab, tidak akan ada buah. Tanpa kondisi, tidak akan ada akibat. Inilah yang selalu kita bahasagar semua orang tahu bahwasegala sesuatu merupakan perpaduan. Contohnya, tubuh kita adalah perpaduan semu empat unsur. Tubuh ini terdiri atas unsur tanah, air, api, angin. Kita tidak boleh kekurangan kadar air. Setiap hari kita mengkhawatirkan krisis sumber air. Pemanasan globaljuga menyebabkan perubahan iklimyang membuat permukaan air laut meningkat. Persediaan air tanah semakin berkurang. Sumber air mungkin akan habis. Kita tidak dapat hidup tanpa air setiap hari.
Minum segelas air, makan semangkuk bubur, memasak sepiring sayur, manakah yang tidak perlu air? Kita tidak bisa tanpa air. Intinya, tubuh adalah perpaduan dari unsur tanah, air, api, dan angin. Kita semua sudah mengetahuinya. Tahu hanyalah sebatas tahu. Pernahkah merenungkan secara mendalamapa yang dapat kita lakukanjika kekeringan terjadi? Kita semua harus waspada. Kita harus tahu bahwasetiap orang memiliki tanggung jawab atas hal ini. Di dalam kehidupan, di tengah siklus alam, manusia terus memboroskan sumber daya. Dengan begitu, tentu siklus alami ini menjadi tidak selaras. Akibatnya, ada daerah yang kelebihan curah hujan, ada pula daerah yang amat kekeringan. Ini adalah ketidakselarasan unsur air. Ketidakselarasan unsur air ini membawa bencana. Lihatlah, manusia sungguh harus berintrospeksi. Semua orang mungkin berpikir bagaimana bisa manusia mencegah bencana alam.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa berhemat meski sedikit, seperti berhemat air saat mencuci pakaianatau saat mencuci sayurandan menggunakan kembali air yang masih bersih. Banyak sekali yang bisa kita lakukandi dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bisa memahami prinsip kebenaran bahwamanusia memiliki andil untuk menyelaraskan 4 unsur, maka manusia dapat meredam bencana kekeringan. Asalkan setiap orang turut berpartisipasidan menyumbangkan sedikit kekuatan, saya percaya empat unsur alam akan selarasdan siklus alam akan seimbang. Kuncinya terletak pada hati manusia. Kita merasa yang kita boroskan hanya sedikit dan tak akan berpengaruh apa-apa. Kita merasa ini tiada hubungannya dengan kita. Kita terus berbuat semaunya, yang penting diri sendiri senang. Jika begini, maka kita tidak tertolong lagi. Manusia menciptakan kebinasaannya sendiri.
Inilah kegelapan batin yang setiap hari kita bahas. Kegelapan batin membuat kita kehilangan kesadaran. Bukankah kita sudah pernah membahas ini? Setiap orang memiliki kesadaran hakiki, yaitu hakikat kesadaran yang murni dan cemerlang. Kita telah kehilangan ini. Jadi, kita telah kehilangankecemerlangan kesadaran hakiki ini. Kita jadi diliputi kegelapan batin. Dengan begitu, kita hanya mementingkan diri sendiri. Perbuatan sesuka hati seperti itumembuat kita mudah menciptakan karma buruk. Jadi, kita harus membangkitkanpikiran unggul pemicu yang bajik. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa sesuai sebab dan kondisi, demikianlah buah dan akibat yang muncul. Kita juga diajarkan untuk melatih Enam Paramita, Empat Pikiran Tanpa Batas, Sepuluh Paramita, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Semua ini disebut pikiran bajik yang unggulyang membantu kita untuk dapat memahamiprinsip kebenaran dengan benar. Pikiran ini dapat membantu kitamengatasi kegelapan dan noda batin. Semua ini dibabarkan kepada kita selangkah demi selangkah, tetapi berapa banyak yang dapat kita pahami? Pintu Dharma ini, sesungguhnya sudahkah kita masuki? Akibat adanya kegelapan batin, kita tidak dapat melangkah masukdan tak dapat menggunakan Dharma itu. Inilah kegelapan batin. Bagaimana cara mengatasi kegelapan batin? Kita harus melakukan pertobatan besar. Jika tidak senantiasa bertobat, kita tak akan bisa menghancurkan kegelapan batin. Jika tak dapat menghancurkan kegelapan batin, batin kita akan sering menghadapi rintangan kekeliruan. Jadi, saya berharap semua orang selalu ingat bahwabatin harus dijaga untuk tetap hening dan jernih.
Dengan begitu, kita baru dapat menemukan kembalihakikat kesadaran kita. Kebijaksanaan kita yang cemerlang barulah tidak akan tertutup. Jadi, kita harus selalu sungguh-sungguhmenerapkan Dharma dalam keseharian kita. Kita mungkin tidak luput dari kesalahan. Jika ada kesalahan, kita harus segera bertobat. Dengan begitu, barulah kita bisamemutus sebab penderitaan palsu kelahiran kembali. Kita sangat menderita di enam alam kehidupan. Kelahiran kembali ini bersifat palsu atau semu. Kehidupan manakah yang benar-benar nyata? Semuanya tetap tak luput dari usia tua, penyakit, dan kematian. Apakah kehidupan lampau bersifat nyata? Kalaupun ya, kehidupan lampau sudah berlalu. Apa yang tersisa dari kehidupan lampau? Segala jalinan jodohdan benih karma yang ditanam. Benih apa yang ditanam, jodoh apa yang dijalin, semua akan berbuah di kehidupan sekarang.
Jalinan jodoh yang dibuat pada kehidupan sekarang, baik terhadap keluarga maupun pasangan, baik terhadap keluarga maupun pasangan, juga membuat tali perasaan terjalin. Saat hukum alam yang meliputi lahir, tua, sakit, dan mati bekerja, adakalanya penyakit tidak menunggu usia tua. Saat ketidakkekalan datang, dengan adanya tali perasaan ini, manusia kerap menderita. Kita tidak dapat menahan ketidakkekalan. Saat orang yang dikasihi pergi, keluarga yang ditinggalkan merasa sedihdan menderita. Sebaliknya, jika yang terjalin adalah jodoh buruk, maka saat berkumpul justru amat menyiksa. Segala jenis perasaan ini sangat menyiksa. Rasa cinta, benci, sayang, dan dendammembawa kemelekatan yang menyiksa. Lihatlah, pada akhirnya apakah yang tersisa? Perasaan cinta, benci, sayang, dan dendam ini, manakah yang benar-benar nyata? Pada akhirnya semuanya tidak akan ada, yang tersisa hanyalah penderitaan. Karena itu, disebut kepalsuan kelahiran kembali. Yang tersisa hanyalah benih penderitaan, yang lainnya tidak ada. Bagaimana dengan kehidupan sekarang? Apakah kita pada kehidupan ini kita sudah paham? Untuk benar-benar paham tetaplah sulit.
Akibat benih dari masa lalu, penderitaan belum berakhir di masa depan. Di masa kini kita pun terus menanam benih. Meski benih dan jodoh dari kehidupan lampau habis, di masa kini kita tetap menanam benih baru. Dengan begitu, apakah di masa depan kita bisa terbebas? Belum bisa. Intinya, kelahiran kembali ini bersifat palsu atau semu. Pada akhirnya, yang tersisa tetaplah penderitaan. Kita tak bisa mengendalikan diri sendiri. Setelah lepas dari tubuh pada kehidupan sekarang, ke mana kita akan pergi? Kita sendiri juga tidak tahu. Jadi, kini kita terus menanam benih. tetapi kapankah benih iniakan berbuah di masa depan? Kita harus memanfaatkan waktu saat ini. Masa lalu sudah berlalu, tetapi benih yang kini kita tanam untuk masa depanharus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan berbagai penderitaan masa laluakibat perasaan cinta, benci, sayang dan dendammembuat kita kembali menanam benih buruk. Kita harus sangat memperhatikan hal ini. Jadi, kita harusmemancarkan kebijaksanaan cemerlang Tathagata. Ini adalah sebab langsung kesadaran hakiki. Ini adalah hakikat sejati setiap orang. Jadi, pada dasarnyakita semua memiliki hakikat sejati ini.
Hanya saja, karena adanya benih penderitaan palsu kelahiran kembali, kita terus terbelenggu oleh kegelapan batin. Sesungguhnya, kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Hanya jika sudah melenyapkan kegelapan batinlahkita baru bisa sepenuhnya pahamtentang hukum sebab akibat. tentang hukum sebab akibat. Sebelumnya kita juga terus membahas bahwasetelah paham, barulah kita bisa memutus sebab kelahiran kembalisehingga kebijaksanaan cemerlang Tathagata dapat terpancar. Kita harus terus bertobatatas kegelapan dan noda batinsehingga kebijaksanaan cemerlang ini memancardan kita dapat mencapai buah Nirvana. Sesungguhnya, semua ini sudah ada di dalam diri kita, hanya saja kita selalu tertutup kegelapan batin. Jadi, berbagai rintangan datang dari diri sendiri. Rintangan ini berasal dari benih penderitaan kelahiran kembali. Benih penderitaan kelahiran kembali berasal dari kegelapan batin kita. Ini adalah pikiran keliru. Akibat pikiran yang penuh kegelapan batindan kekeliruan ini, maka segala yang tidak nyata di duniakita anggap nyata. Akibatnya, kita terus bersikap perhitungan. Kegelapan batin pun menjadi semakin dalamdan membuat kita sangat risau. Karena itu, kita tidak bisa benar-benarmemahami kebenaran yang sejati. Inilah yang disebut keliru. Jika kekeliruan ini tidak dilenyapkan, maka selamanya kita tidak akan tercerahkan.
Apakah kita lupadengan kisah para relawan Tzu Chi di Afrika Selatan? Meski mereka hidup di tengah derita kemiskinan, tetapi kesadaran mereka begitu cemerlangberkat adanya Relawan Pan yang perlahan-lahanmembimbing mereka. Berhubung mereka telah merasakan kebenaran dari penderitaan, mereka memperoleh kesadaran yang mendalam. Suatu hari, di tengah pelatihan relawan, Relawan Panbertanya kepada mereka, “Kita semua bersumbangsih di Tzu Chidengan begitu penuh rasa sukacita, apakah semuanya akan terus melanjutkan? “”Apakah 10 tahun yang akan datang kalian akan tetap menjalankannya? “Semua orang mengangkat tangan tanda setuju. “Bagaimana dengan 50 tahun lagi? “Semua orang saling memandang dan kebingungankarena sebagian besar dari merekasudah berusia hampir setengah abad. Lima puluh tahun lagi berarti seratus tahun. Mereka berpikir apakah mereka masih mampu. Karena itu, mereka saling memandang. Di antara mereka, ada seseorang berusia 80 tahun yang mengangkat tangan.
Relawan Pan bertanya kepadanya, “Berapa usia Anda saat ini? “Dia menjawab, “Delapan puluh tahun. “”Berapa usia Anda 50 tahun mendatang? “”Seratus tiga puluh tahun. “”Apakah Anda bisa hidup hingga 130 tahun? “Dia menjawab, “Jika pada waktunya nantitubuh saya ini sudah rusak, saya tidak ingin lahir di alam surga, saya masih mau terus bertemu Tzu Chidan mengikuti Master menjalankan Tzu Chi. “Semua orang bertepuk tangan untuknya. Dia sangat bijaksana. Warga di sana sebagian besar adalah penganutKatolik atau Kristen Protestan. Mereka tentu berharap setelah meninggaldapat kembali ke rumah Bapa di surga. Namun, dirinya berbeda. Dia ingin setelah meninggal dapat segera kembalike alam manusia untuk menjalankan Tzu Chi. Jadi, dia kelak tidak ingin lahir di Afrika. Dia ingin memilih tempatyang memiliki banyak insan Tzu Chi. Ini adalah ikrar dan harapannya. Kemudian, Relawan Pan kembali bertanya, “Bagaimana dengan seratus tahun kemudian? “”Apakah kalian akan tetap menjalankan Tzu Chi? “Semua orang yang hadir pun tertawa.
Di mana kita seratus tahun yang akan datang? Di mana Tzu Chi pada saat itu? Salah satu relawankemudian berdiri dan berkata, kemudian berdiri dan berkata, “Bisa, meski 100 tahun kemudiankita tidak ada lagi di sini, tetapi Tzu Chi akan ada selamanya. “”Seratus atau seribu tahun kemudian tetap sama. “”Ia akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. “”Terlebih lagi, kita bertekad untuk kembali. “Lihatlah, bukankah ini berarti memancarkan kebijaksanaan cemerlang Tathagata? Bukankah ini berarti membangun buah Nirvana? Buah Nirvana adalah batin yang hening dan jernih, tekad yang luas dan luhur, teguh tak tergoyahkandalam masa tak terhingga. Inilah buah Nirvana. Lihatlah, mereka berada jauh dari saya, tetapi tekad mereka untuk terus mengikuti saya sangatlah tulus. Mereka tidak terpengaruh kondisi luar. Ini yang disebut telah memasuki pintu Dharma. Bolehkah kita tidak bersungguh hati? Harap semua orang selalu bersungguh hatiuntuk mengamati tubuh diri sendiri, mengamati sebab dan kondisi, serta mengamati hukum sebab akibat. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.