Sanubari Teduh-348-Sulit Bertemu Dharma Akibat Putusnya Kebajikan
Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus berlalu. Dalam melewati setiap menit dan detik, pikiran kita yang keliru terus bergejolak. Tujuan kita melatih diri adalah untuk menaklukkan pikiran yang keliru ini. Kemarin saya berkata bahwa sejak masa tanpa awal, kita sudah membina noda batin. Sejak dahulu kala, kita sudah membangkitkan kegelapan batin. Sejak dahulu kala, kita sudah terus membina kegelapan dan noda batin. Seiring berlalunya waktu, kegelapan batin kita terus menebal. Karena itu, kita sungguh harus mengamati noda batin kita dengan cermat. Kita harus bersungguh-sungguh melatih diri dan mengamati batin kita dengan cermat. dan mengamati batin kita dengan cermat. Tabiat buruk dan noda batin yang halus ini timbul tanpa kita sadari. Air kegelapan batin diumpamakan sebagai lumpur yang penuh kemelekatan. Kita terus menciptakan lubang lumpur hingga terjebak dan sulit menarik diri. Semakin lama, kita terjebak semakin lama. Karena itulah, kita menciptakan karma buruk dan merintangi diri dari ajaran baik. Dengan susah payah, Buddha membabarkan Dharma untuk kita, mengajarkan kita cara membuka pintu kebajikan, dan membangun ajaran bajik. Namun, kita malah terus menciptakan noda batin dan menjalin jalinan jodoh buruk. Akibatnya, kita terintangi dari ajaran baik. Jadi, bagaimana boleh kita tidak merenungkan noda batin dan tabiat buruk sendiri?
Bagaimana boleh kita tidak memandang penting? Karena itu, saya ingin memberi tahu kalian bahwa kita harus senantiasa lebih bersungguh hati karena kegelapan dan noda batin dapat timbul setiap saat. Syair Pertobatan berbunyi, “Memutus berbagai kebajikan sehingga tak dapat berlanjut, membangkitkan rintangan sehingga tak dapat melihat Buddha, tak dapat mendengar Dharma, dan tak dapat bertemu dengan para suci.” Noda batin ini sudah terpupuk sejak kehidupan lampau. Kita menggunakan cinta yang penuh kemelekatan untuk membasahi lumpur nafsu. Seiring berlalunya waktu, noda batin kita juga terus terpupuk sehingga membuat kita semakin tenggelam. Mata kebijaksanaan kita juga telah tertutupi noda batin sehingga kita tidak bisa membedakan yang benar dan salah. Karena itulah, kita tidak dapat melihat ajaran kebenaran. Karena setiap hari kita bergelut dengan noda batin, maka ia dapat memutus kebajikan kita. Kita telah memutuskan ajaran kebajikan. Meski niat baik dibangkitkan, tetapi ia tidak bertahan di dalam hati kita selamanya.
Mudah untuk membangkitkan tekad, tetapi sulit untuk mempertahankannya. Jadi, meski terlihat sercercah cahaya, tetapi dengan cepat ia tertutup awan gelap. tetapi dengan cepat ia tertutup awan gelap. Sama halnya dengan saat membangkitkan niat baik, mulanya kita akan tekun dan bersemangat. Namun, dengan cepat kita memutus akar kebajikan kita. Ajaran kebajikan dan niat baik tidak dapat diteruskan. Saat ajaran kebajikan dan niat baik tidak dapat diteruskan, maka apa yang timbul? Timbullah rintangan bagi diri sendiri. Rintangan itu membuat kita tidak dapat melihat Buddha, tidak dapat mendengar ajaran kebenaran, dan tidak dapat bertemu suciwan. Ini semua terjadi akibat noda batin sendiri. Karena itu, saya berkata bahwa kita harus berhati-hati dan merenung dengan sungguh-sungguh. Janganlah membiarkan noda batin yang halus terbangkitkan. Saat noda batin bangkit, maka akar kebajikan kita akan terputus. Saat timbul niat buruk, maka akar kebajikan kita akan terputus. Apa yang dapat memutus akar kebajikan? Saat niat buruk terbangkitkan, secara alami akar kebajikan kita akan terputus sehingga membuat kebajikan tidak dapat diteruskan. Kita sering melihat ada orang yang sangat giat pada suatu waktu. Mereka sangat bersemangat dan penuh tekad. Namun, entah mengapa tiba-tiba niat baik mereka lenyap. Tiba-tiba kita menjadi jarang melihat mereka melakukan hal-hal baik. Mereka bagai tenggelam. Mungkin kita sering melihat contoh seperti ini.
Kita juga hendaknya menilik ke dalam diri. Kita juga hendaknya menilik ke dalam diri. Pikirkan saat kita membangun tekad awal. Dari saat itu hingga kini, apakah kita senantiasa memegang tekad awal? Apakah di tengah-tengah masa ini, pernah timbul noda batin yang membuat tekad pelatihan kita mundur? Kita harus bertanya kepada diri sendiri. Saat melihat hal ini terjadi pada orang lain, kita merasa itu sangat disayangkan. Kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah kita juga membangkitkan noda batin apakah kita juga membangkitkan noda batin yang merintangi diri sendiri. Sebelumnya kita sudah mengulas bahwa kita harus mengamati tubuh Buddha. Saat merenungkan tubuh sendiri, kita menyadari bahwa tubuh kita tidaklah bersih bahwa tubuh kita tidaklah bersih dan segala fenomena adalah tanpa inti. Kita juga tahu bahwa pikiran tidak kekal dan segala sesuatu terus berubah. Namun, apakah ketekunan dan semangat kita dapat dipertahankan dalam jangka panjang? Selain mengamati tubuh sendiri, kita juga harus menghormati tubuh Dharma Buddha yang murni dan agung.
Lewat pendalaman ajaran Buddha, kita berharap dapat memiliki tubuh Dharma yang murni yang tak timbul dan tak lenyap seperti Buddha. Saat noda batin bangkit sedikit saja, maka kita tidak dapat melihat hakikat murni di dalam diri dan mulai bersikap malas-malasan. Jika tidak dapat melihat hakikat murni di dalam diri sendiri, bagaimana kita dapat melihat tubuh Dharma dalam segala sesuatu? Itu karena kebijaksanaan kita telah tertutupi. Jika tidak, bahkan suara serangga dan burung juga bagaikan suara pembabar Dharma. Jika kita memiliki kebijaksanaan, maka segala sesuatu di alam semesta akan bagaikan suara Dharma. Segala yang terlihat di alam semesta merupakan wujud pembabaran Dharma. Hanya saja, dalam melihat segala sesuatu di dunia, timbul ketamakan di dalam diri manusia awam. Air keruh di dalam batin bercampur dengan lumpur nafsu keinginan di luar. Akibatnya, hari demi hari, kita terjebak semakin dalam oleh nafsu keinginan. Ini menciptakan rintangan bagi diri sendiri, yaitu merintangi mata kebijaksanaan kita. Akibatnya, kita tak bisa melihat Buddha. Meski Buddha berada di hadapan kita, kita juga tidak melihat-Nya. Jadi, kita tak dapat mendengar Dharma. Setiap hari kita mendengar Dharma, tetapi kita tidak ingin mendengarnya. Di masa kini, mendengar Dharma sangat mudah. Meski berada jauh, begitu menyalakan televisi, kita sudah bisa mendengar Dharma.
Meski kita mudah bertemu Dharma Meski kita mudah bertemu Dharma dengan hanya menyalakan televisi di waktu yang telah ditentukan, tetapi noda batin tetap menutupi pikiran kita sehingga bahkan bergerak pun kita tidak mau. Kita begitu malas. Meski ada Dharma, kita enggan mendengarnya. Bahkan, jika ada orang suci sekalipun, kita belum tentu mau mendekat. Kita menjauhi Tiga Permata sehingga tak dapat melihat, mendengar, atau mengenal Dharma. Ini berarti kita merintangi diri sendiri. Begitu sebersit saja kegelapan batin bangkit, ia akan memutus akar kebajikan. Jadi, kita harus senantiasa waspada. Jangan biarkan akar kebajikan yang telah kita kembangkan dengan tidak mudah rusak akibat sebersit kegelapan batin. Begitu akar kebajikan putus, dengan sendirinya kita tidak akan bisa menerima bimbingan dari Tiga Permata. Bukan hanya kita tidak dapat menerima Buddha, Dharma, dan Sangha, kita sendiri pun membangkitkan rintangan. “Membangkitkan rintangan sehingga tak dapat melihat segala karma baik dan buruk masa lalu dan masa depan serta terbebas dari noda batin.” Bukan hanya tidak bisa melihat Tiga Permata, kita juga terus membangkitkan pikiran yang merintangi diri sendiri. Kita juga tidak bisa melihat masa lalu. Mungkin saja pada kehidupan lampau kita juga banyak merintangi diri sendiri. Jadi, pada kehidupan lampau, kita sudah tidak melihat Tiga Permata.
Bukan hanya pada kehidupan lampau, bahkan begitu pula di masa yang akan datang. Di masa lalu kita sudah mengalami hal itu. Di masa kini, kita dengan tidak mudah dapat bertemu Tiga Permata, tetapi kita kembali merintangi diri sendiri. Tentu saja ini berdampak pada masa depan. Jika kita tidak sungguh-sungguh menggenggam kehidupan ini dan malah kembali menjauhi Tiga Permata, maka di masa depan, bagaimana mungkin kita bisa bertemu Dharma? Ini juga berarti merintangi diri sendiri. Jadi, kita belum dapat memahami noda batin yang berkaitan dengan karma baik dan buruk. Pada masa lalu, masa kini, dan masa depan, segala karma baik dan buruk ini membuat kita terus menjadi makhluk awam dan kita tidak menyadari ataupun memahaminya. Kita menjadi makhluk awam. Sejak masa lalu, masa kini, hingga masa depan kita selalu berada pada tataran awam. Dengan begitu, tentu kita tak dapat membedakan antara makhluk awam dan makhluk suci.
Kita tidak mengetahui semua ini karena kita sendiri masih makhluk awam. Kita tidak tahu bahwa di luar makhluk awam, masih ada makhluk suci. Artinya, kita tidak sadar bahwa kita berada di enam alam kelahiran atau tiga alam rendah. Tiga alam rendah sangat menderita. Kita mungkin berpikir bahwa kini kita tidak melihat tiga alam rendah meski kita tahu ada alam surga, alam manusia, dan alam asura. Kenikmatan surga adalah dambaan banyak orang. Dalam berbagai keyakinan di masyarakat, keyakinan mana yang tidak mendambakan kenikmatan surga? Namun, Buddha mengajarkan kepada kita untuk melampaui alam surga karena menurut ajaran Buddha, meski makhluk surga penuh kenikmatan, memiliki usia yang panjang, dan hidup dalam kelimpahan, seperti ada pakaian saat ingin pakaian, ada makanan saat ingin makan, semuanya ada, panjang umur, memiliki tubuh yang sehat, dan menjadi dambaan banyak orang, tetapi dengan kebijaksanaan-Nya, Buddha menjelaskan bahwa jika berkah makhluk surga habis, mereka tetap akan jatuh ke alam lain. Di alam manusia ini sendiri, kita juga bisa melihat surga. Ada orang yang hidupnya berlimpah harta, termasyuhur, berkuasa, memiliki penampilan berwibawa, dan bertubuh sehat.
Mereka bagaikan hidup di surga. Dari sini kita tahu bahwa jika ingin penuh berkah, lahir dengan penampilan yang baik, tubuh yang sehat, berada di keluarga yang berada, berada di keluarga yang berada, dan memiliki reputasi baik, maka kita harus sungguh-sungguh menanam berkah dan kebajikan. Jika tidak pada kehidupan ini, paling tidak ada harapan di kehidupan mendatang. Prinsip ini sudah kita pahami. Banyak orang mengejar kenikmatan seperti ini, tetapi Buddha berkata kenikmatan yang bagai surga ini tetap tak luput dari ketidakkekalan. Jika berkah habis, tetap harus jatuh ke alam rendah. Hanya saja, usia makhluk surga lebih panjang. Meski panjang hingga ratusan atau ribuan tahun, tetapi kita tahu bahwa suatu saat usia itu juga akan berakhir. Zaman Buddha sudah berlalu lebih dari 2.500 tahun. Bagaimana kondisi 2.500 kemudian seperti saat ini? Sama saja. Sepanjang apa pun usia, pasti memiliki akhir. Meski usia di alam dewa lebih panjang, juga ada saatnya untuk berakhir. Karena itu,
Buddha sering kali mengatakan bahwa saat dewa menjelang ajal, dia memiliki lima tanda pelapukan dan tetap akan terlahir ke alam lain. Di berbagai Sutra dibahas tentang hal ini. Jadi, tujuan praktisi Buddhis adalah mencapai kebuddhaan. Hanya di alam manusia kita bisa mencapai kebuddhaan. Alam dewa terlalu penuh kenikmatan. Sulit untuk melatih diri di sana. Sebuah ungkapan berbunyi, “Sulit bagi orang berada untuk melatih diri.” Jadi, di alam dewa tak bisa mencapai kebuddhaan dan tak bisa melatih diri karena di sana penuh dengan kegembiraan. Apa yang disebut melatih diri? Dengan melihat penderitaan, barulah kita bisa menyadari berkah dan mengerti untuk melatih diri. Tanpa menapaki Jalan Bodhisattva, kita tidak akan pernah mencapai kebuddhaan. Bodhisattva muncul karena adanya penderitaan. Di alam manusia, suka duka silih berganti, kebijaksanaan dan kebodohan juga bercampur. Ada orang yang bijaksana, ada pula orang yang bodoh. Ini adalah ruang bagi kita untuk melatih diri sehingga dapat mengagumi tubuh Tathagata yang murni, agung, tidak lahir, dan tidak lenyap. Untuk itu, kita harus melenyapkan kebodohan. Noda batin yang memenuhi diri kita harus satu persatu kita cuci. Diri kita penuh noda batin dan kekeruhan. Pelatihan ini harus dijalankan di alam manusia.
Apakah di kehidupan lampau kita pernah bertemu Buddha, Dharma, dan Sangha? Mungkin saja pernah, sehingga pada kehidupan ini kita bisa bertemu ajaran Buddha. Namun, noda batin kita belum habis seluruhnya. Benih-benih noda batin dan benih-benih karma ini kembali muncul saat bertemu kondisi yang tepat, sama seperti tanah yang disirami air, saat air kegelapan batin menyirami tanah ini, maka ia akan menjadi lumpur. Kaki kita akan terus tenggelam jika menginjaknya. Ini lebih berbahaya daripada jatuh ke air. Jika jatuh ke air, kita masih bisa berenang. Orang lain pun masih bisa melihat dan menolong. Jika jatuh ke kubangan lumpur, kita akan terus tenggelam. Bagaimana pun kita berusaha menyelamatkan diri, Bagaimana pun kita berusaha menyelamatkan diri, kita hanya akan semakin tenggelam. Meski orang lain melihat dengan jelas, Meski orang lain melihat dengan jelas, mereka juga tak kuasa menolong, karena jika mereka menarik kita, mereka malah akan ikut tenggelam. mereka malah akan ikut tenggelam. Orang yang ingin menarik kita keluar juga akan ikut tenggelam.
Saat air kegelapan batin dan lumpur nafsu berpadu, semakin hari kita akan tenggelam semakin dalam. Ini sangatlah berbahaya. Ini adalah rintangan. Jika orang lain yang merintangi kita, maka kita masih berkesempatan menolong diri sendiri. Yang paling berbahaya adalah merintangi diri sendiri. Kita merintangi diri sendiri sehingga tidak bisa melihat masa lalu dan masa depan. Baik masa lalu, masa kini, maupun masa depan, semuanya tak lepas dari karma baik dan buruk. Ini karena kita belum bebas dari tataran awam. Jadi, kita masih belum dapat memahami tataran orang suci di luar tataran awam. Kita juga juga tidak mampu memahami bahwa di luar tataran awam, masih ada tataran makhluk suci. masih ada tataran makhluk suci. Kita tidak mengetahuinya. Karena itu, kita tak bisa melampaui tataran awam. Bagaimana kita bisa melampaui tataran awam dan memasuki tataran kesucian? Kita sendiri saja tidak tahu bahwa diri kita berada pada tataran awam dan terus tenggelam.
Kita tak berpikir untuk melampaui tataran awam. Seberapa luaskah tataran awam? Ia mencakup enam alam kehidupan. Alam dewa juga termasuk tataran awam. Jadi, alam dewa, alam manusia, alam neraka, alam setan kelaparan, alam binatang, dan tentu saja alam asura, semuanya belum melampaui tataran awam. Karena itu, dikatakan, “Noda batin perintang pembebasan dari tiga masa.” Ini semua timbul dari sebersit kegelapan batin kita sendiri. Kita membuat air kegelapan batin ini terus memancar dan mengalir membasahi lumpur nafsu terhadap kondisi luar. Air kegelapan batin ini terus memancar sehingga kita terjebak dan terus tenggelam dalam lumpur. Saudara sekalian, kita sungguh harus senantiasa waspada terhadap noda batin dan tabiat kecil. Saya sering mengatakan bahwa tiada cara lain untuk melatih diri. Melatih diri berarti memperbaiki tabiat kita agar kita tak terkena air kegelapan batin dan terjerumus ke dalam lumpur nafsu sehingga tak mampu membebaskan diri dan memasuki tataran kesucian. Saudara sekalian, tubuh awam dan tubuh Buddha hanyalah kondisi pikiran. Harap semua senantiasa bersungguh hati.