Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-349-Keluhuran Buddha Memenuhi Semesta

Saudara se-Dharma sekalian, batin kita setiap hari dan setiap saat selalu bergejolak mengikuti kondisi luar. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Jika di dalam pikiran timbul niat buruk, ia akan melenyapkan segala kebajikan. Jika sebersit niat baik timbul, ia juga dapat menghancurkan segala kejahatan. Jadi, mengembangkan pikiran baik akan dapat menghancurkan keburukan. Selanjutnya, kita akan mendengar pembabaran Sutra. Saya rasa, di dalam waktu setengah jam ini, pikiran kita akan mengarah pada kebaikan. Namun, selepas dari setengah jam ini dan kembali pada aktivitas rutin, saat kita menghadapi orang dan masalah, mungkin saja kita bertemu dengan orang yang berjodoh baik ataupun buruk dengan kita. Jika bertemu orang yang berjodoh buruk, maka tak perlu dia menunjukkan ekspresi apa pun, saat kita bertemu dengannya, kita sudah merasa tidak suka. Ini juga merupakan kerja pikiran kita yang bergejolak mengikuti kondisi luar. Meski kita tidak mengambil tindakan, tetapi di dalam pikiran kita sudah ada gejolak. Ini yang disebut gejolak pikiran. Barangkali dalam satu hari kita melakukan suatu aktivitas atau terpikirkan suatu hal yang telah berlalu. Mungkin juga pikiran kita memikirkan masa depan. Kita mungkin tidak puas dengan kondisi saat ini. Dengan demikian, timbul rasa tidak senang dalam pikiran kita. Kebencian mulai bangkit. Dharma yang kita dengar hari ini dan niat baik yang ingin tumbuh menjadi putus.

Kita sendirilah yang memutus akar kebajikan dan jalinan jodoh baik kita sendiri. Jadi, pikiran kita ini harus sungguh-sungguh dijaga. Bangkitnya niat buruk melenyapkan kebajikan. Niat baik yang bangkit dapat menghancurkan banyak niat buruk. Jadi, bangkitnya niat baik dapat menghancurkan kejahatan. Setiap hari saya memberi nasihat yang sama, yaitu agar semua orang menjaga pikiran dan mengembangkan niat baik. Dengan demikian, kita akan bisa menghancurkan ratusan kejahatan. Sebelumnya kita juga telah membahas bahwa banyak rintangan berasal dari air kegelapan batin dan lumpur nafsu. Ini membuat batin kita semakin tercemar sehingga mata kebijaksanaan kita terhalang. Jadi, berbagai rintangan pun mulai muncul, bahkan juga merintangi kita untuk memahami perbuatan baik dan buruk di masa lalu, masa kini, dan masa depan. “Yang ini baik, saya ingin lakukan.” “Yang ini baik, saya ingin lakukan.” “Yang ini buruk, harus saya hentikan.” Pikiran membedakan yang baik dan buruk ini terhalang oleh diri sendiri. Dengan demikian, Dengan demikian, sulit untuk terbebas dari enam elemen dan segala noda batin. Jadi, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Berikutnya dibahas tentang rintangan. Rintangan ini muncul dari pikiran sendiri. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita telah merintangi mata kebijaksanaan kita untuk membedakan kebaikan dan keburukan Kini berikutnya dikatakan, “Membangkitkan rintangan untuk lahir di alam manusia atau dewa yang mulia.”

Kita juga kembali merintangi diri sendiri untuk lahir di dalam ketenangan samadhi di alam rupa atau tanpa rupa. Kita mempelajari ajaran Buddha atau kebaikan dengan tujuan untuk bebas dari penderitaan. Ada orang yang berbuat baik demi terlahir di alam dewa. Alam dewa tentu penuh kelimpahan, kemewahan, dan umur panjang. Inilah berkah alam dewa. Untuk lahir di sana, harus mengembangkan berkah. Tanpa adanya berkah, tak bisa terlahir di sana. Ingin mendapat berkah kekayaan dan kemuliaan juga cukup sulit. Tanpa menciptakan berkah, bagaimana bisa terlahir di keluarga berada? Tanpa mengembangkan berkah, kita sulit untuk terlahir di keluarga berada, apalagi terlahir di alam dewa dan dihormati, tentu lebih sulit. Jadi, jangan kita merintangi batin kita sendiri. Di alam manusia kita bisa melihat banyak penderitaan dan memiliki banyak kesempatan untuk menciptakan berkah. Di alam manusia, kita dapat menyadari bencana alam dan ulah manusia sehingga berkesempatan untuk meningkatkan kesadaran dan sungguh-sungguh melatih batin. Di alam manusia ini kita dapat bertemu banyak hal yang mampu membangkitkan niat baik kita dan membangkitkan tekad kita untuk berlatih di jalan kebaikan. Namun, jika kita merintangi diri sendiri, maka kita tak akan berkesempatan untuk terlahir di alam dewa, terlebih lagi menikmati ketenangan samadhi di alam rupa atau alam tanpa rupa.

Bagaimana mungkin? Dengan tertutupnya kesempatan ini, maka kita tetap berada di tataran awam dan menderita di lima alam kelahiran kembali. Ini yang disebut noda batin. Noda batin terus tumbuh karena kita merintangi diri sendiri. Berikutnya dikatakan, “Membangkitkan rintangan sehingga tidak memiliki kekuatan batin untuk bepergian dengan bebas ke Tanah Suci Buddha di sepuluh penjuru dan mendengarkan Dharma.” Ada rintangan berarti ada noda batin, karena noda batinlah yang merintangi. Kita sudah membahas tentang noda batin yang merintangi kita untuk terlahir dalam kemuliaan di alam dewa, bahkan juga rintangan untuk terlahir di dalam ketenangan samadhi di alam rupa atau tanpa rupa. Kini selanjutnya dikatakan, “Tidak memiliki kekuatan batin untuk bertindak leluasa.” Kita merintangi diri sendiri. Pada hakikatnya kita sama dengan Buddha. Pada zaman Buddha hidup, murid-Nya, Maudgalyayana memiliki kekuatan batin sehingga mampu mengitari Gunung Sumeru. sehingga mampu mengitari Gunung Sumeru. Dia mampu menyeberangi jurang besar pada Gunung Sumeru dengan satu langkah. Inilah kekuatan batin keleluasaan fisik. Suatu waktu, dia ingin mengukur keluhuran Buddha. Dia ingin mengukur besarnya tubuh Dharma dari Buddha. Jadi, dia menggunakan kekuatan batinnya untuk menembus alam Empat Maharaja, Surga Trayastrimsa, Surga Tusita, bahkan hingga ke alam surga yang paling tinggi. Dia ingin mengukur keluhuran tubuh Dharma dari Buddha.

Dia menembus alam surga, tetapi tetap tak dapat mengukurnya. Berapa besar sesungguhnya tubuh Dharma Buddha? Dikatakan bahwa keluhuran Buddha seluas semesta. Di sini ditunjukkan bahwa meski Maudgalyayana memiliki kekuatan batin yang hebat, tetapi belum bisa menyamai Buddha. Seberapa pun besarnya kekuatan batin kita, keluhuran tubuh Dharma Buddha tetap lebih besar. Jadi, kita berlatih bukan untuk mencapai kekuatan batin tertentu. Namun, potensi kekuatan batin ini sesungguhnya dimiliki oleh semua orang dan merupakan salah satu dari keluhuran hakiki kita. Di dalam diri setiap orang terkandung potensi kekuatan batin keleluasaan fisik. Sesungguhnya, kini kita juga memiliki kekuatan batin. Kunci kekuatan batin terletak pada pikiran. Misalnya, saat saya bercerita tentang kisah di Suzhou, kalian mungkin langsung terpikirkan keadaan di sana. Pikiran kalian sudah berkelana ke sana dan memikirkan kondisi di sana. Kalian juga memikirkan kondisi orang-orang di sana. Tubuh kalian masih berada di sini, tetapi pikiran kalian sudah berkelana ke sana. Kalian masih berada di sini, Kalian masih berada di sini, tetapi pikiran kalian sudah ada di sana. Meskipun pikiran kalian bisa berkelana ke sana, tetapi ia tetap memiliki rintangan.

Jika kita bisa seperti Maudgalyayana yang bisa bepergian dengan leluasa dari satu sisi Gunung Sumeru ke sisi lainnya hanya dengan satu langkah, maka ini disebut kekuatan batin yang nyata. Namun, apakah lebih dari 2.500 tahun yang lalu, kondisinya benar-benar demikian? Kita juga tidak tahu. Namun, begitulah yang tertulis di dalam Sutra. Jika kita membahas kekuatan batin pada zaman sekarang, maka seperti yang saya gambarkan tadi. Tak peduli Anda pernah berada di mana, saat sekarang Anda memikirkannya kembali, mungkin pikiran Anda akan berkelana kembali ke tempat yang dahulu pernah Anda kunjungi itu. Mungkin juga saat ini pikiran kalian sudah berkelana membayangkan persamuhan para Buddha. Yang dibahas di sini adalah jika kita tidak terintangi, maka pikiran kita akan sangat terpusat. Kita pun akan bebas dari pikiran pengganggu. Kita tak akan terganggu oleh pikiran-pikiran tentang masa lalu ataupun masa depan. Tidak. Kita akan dapat leluasa pergi ke sepuluh penjuru, termasuk ke persamuhan para Buddha di Tanah Suci Barat Sukhavati, Tanah Suci Timur Lazuardi Murni, dan sebagainya. Semua ini adalah Tanah Suci para Buddha. Semuanya juga merupakan tempat berkumpulnya para Buddha dan para Bodhisattva.

Jika kita memiliki kekuatan batin, maka kita bisa menjadi sama dengan para Buddha, paling tidak dengan hakikat sejati yang murni, kita dapat berkelana ke persamuhan para Buddha di 10 penjuru untuk mendengarkan Dharma. Inilah kondisi yang ingin kita capai saat melatih diri. Namun, semua itu tidaklah mudah. Kita masih merupakan makhluk awam. Artinya, kita masih terjebak di dalam kondisi awam. Bahkan, di dalam kondisi awam ini, kita masih belajar untuk melampaui kondisi batin awam. Bagaimana mungkin kita bisa memancarkan keluhuran hakiki dan kekuatan batin? Kini, kita masih dipenuhi pikiran pengganggu dan delusi sehingga tidak dapat memusatkan pikiran. Kita belum dapat melampaui pikiran-pikiran ini dan kembali pada keluhuran dan kekuatan batin hakiki. Jadi, kita belum dapat bepergian ke persamuhan para Buddha di sepuluh penjuru untuk mendengarkan Dharma. Kini kita masih dirintangi oleh berbagai noda batin. Kita tidak tahu bagaimana harus berlatih agar mencapai buah kesucian. Kesalahan-kesalahan di masa lalu Kesalahan-kesalahan di masa lalu atau noda batin masa lampau haruslah kita benahi pada saat ini. Akibat kesalahan dan noda batin masa lampau, kini kita menghadapi berbagai rintangan. Pikiran kita tak dapat terpusat.

 

Saya sering berkata kepada insan Tzu Chi bahwa untuk menolong di dunia, terlebih dahulu harus menolong hati. Semua orang harus menyucikan hati sendiri, baru bisa menyucikan hati orang lain. Jika hati kita dan orang lain telah tersucikan, maka Tanah Suci akan terwujud di dunia ini. Batin kita akan murni tanpa pikiran pengganggu dan tidak ada lagi noda batin. Jika bisa mencapai kondisi ini, barulah kita dapat menghimpun kekuatan pikiran ini. Dengan adanya kekuatan ini, tidaklah sulit untuk mengatasi pemanasan global. Jadi, yang terpenting adalah saat ini. Di dunia saat ini, banyak hal yang membuat kita tidak berdaya. Menghadapi segala ketidakberdayaan ini, bagaimana kita bisa menghimpun kekuatan pikiran? Kita harus memulainya dari sekitar kita, dari hakikat sejati diri kita sendiri. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha bukanlah belajar untuk meninggalkan saat ini dan mengejar sesuatu yang jauh. dan mengejar sesuatu yang jauh. Kita justru harus memulai dari diri kita sendiri. Di dalam Sutra Agama ada sebuah kisah. Pada zaman Buddha hidup, ada seseorang yang sangat miskin. Orang-orang yang melihatnya merasa kasihan. Namun, dia mempelajari ajaran Buddha dan memahami mengapa dirinya bisa hidup miskin. dan memahami mengapa dirinya bisa hidup miskin. Dia memahami hukum sebab akibat. Karena itu, dia tidak mengeluh. Dia terus melatih praktik kehidupan suci. Dia juga sangat giat mendengar pembabaran Sutra. Dia beruntung dapat hidup sezaman dengan Buddha.

Setiap kali Buddha mengajar, dia datang mendengar. Karena itu, dia dapat menjalankan kehidupan suci sehingga batinnya bebas dari gangguan dan keluh kesah. Setiap hari dia melatih pikirannya agar bebas noda batin. Dia juga mampu memegang teguh sila yang murni. Meski sangat miskin, dia dapat memegang teguh sila yang murni. Dia juga dapat mendengar ajaran Buddha, bahkan juga berusaha untuk berdana meski sedikit. Saya sering berkata kita membantu yang kekurangan dan membimbingnya menciptakan berkah. Kita harus membantunya keluar dari kesulitan, tetapi juga membimbingnya untuk memiliki batin yang kaya akan cinta kasih. Asalkan kaya akan cinta kasih, meski hidup penuh kesulitan, dia juga dapat bersumbangsih. Jadi, di dalam kisah itu, orang miskin ini menjalankan sila yang murni. Dia juga berusaha untuk berdana meski sedikit. Dia selalu berusaha untuk memahami sebab akibat dan berlatih di dalam kehidupan sehari-hari. Dia membina batin demi mengatasi kesulitannya. Dia juga dapat bersumbangsih. Setelah meninggal, dia terlahir di Surga Trayastrimsa. Setelah meninggal, dia langsung terlahir di Surga Trayastrimsa. Surga Trayastrimsa adalah tempat yang sangat baik. Dia terlahir di tempat yang begitu baik. Alam dewa juga memiliki tingkatan. Di tingkat yang lebih tinggi ada tiga keunggulan. Yang pertama adalah keunggulan rupa.

Rupanya sangat agung. Yang kedua adalah keunggulan nama. Para dewa di sana sangat terkejut dan bertanya-tanya mengapa ada manusia yang berparas agung lahir di sana. Yang ketiga adalah keunggulan panjangnya usia. Para dewa yang melihatnya sangat gembira dan melapor kepada Dewa Sakra bahwa tiba-tiba di dunia ini ada seorang manusia yang lahir ke Surga Trayastrimsa dan memiliki tiga keunggulan. Dewa Sakra berkata, “Ketahuilah asal usul orang ini.” “Orang ini, meski di alam manusia hidupnya sangat sulit, tetapi tekad pelatihannya sangat teguh.” “Apa yang dikatakan Buddha, akan dia terima dan jalankan.” “Dia tidak ragu sedikit pun terhadap Buddha.” “Keyakinannya sangat tulus.” “Dia sangat menghormati Tiga Permata.” “Dia membina praktik yang murni, bahkan membangkitkan niat untuk berdana tak peduli berapa pun materi yang dimilikinya.” Jadi, dia senantiasa merasa memiliki lebih. Batinnya selalu merasa bahwa dirinya kaya. Batinnya selalu merasa bahwa dirinya kaya. “Aku memiliki lebih untuk membantu orang lain.” Inilah penjelasan Dewa Sakra kepada para dewa tentang dewa yang baru datang itu. Intinya, jika kita dapat memiliki keyakinan murni terhadap Tiga Permata dan memegang teguh sila tanpa melanggarnya, maka ketahuilah bahwa orang seperti ini tidak miskin.

Orang seperti ini tidak disebut miskin, melainkan disebut orang bijaksana. Dia ada orang yang bijaksana, bukan orang yang miskin. Jiwa kebijaksanaannya sangat panjang. Ini karena dia menghormati Tiga Permata. Karena dapat menghormati Tiga Permata, dia terlahir di alam dewa dengan berbagai keunggulan. dia terlahir di alam dewa dengan berbagai keunggulan. Dia memiliki tiga keunggulan dan merasakan kebahagiaan. “Karena itu, kita harus meneladani dirinya.” Kita semua harus belajar untuk seperti dirinya. Kita semua harus belajar untuk seperti dirinya. Jadi, dalam melatih diri, berdana, dan sebagainya, kita tidak menunggu hingga saat kita banyak memiliki. Jika saat ingin membantu orang, kita harus menunggu saat kita mampu, maka selamanya tidak akan ada kesempatan untuk berlatih. Jadi, melatih diri harus dimulai dari diri sendiri. Setiap orang memiliki keluhuran yang hakiki. Setiap orang memiliki potensi kekuatan batin. Hanya saja, pikiran pengganggu dan delusi mengaburkan kekuatan batin kita. Jadi, Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Harap setiap orang selalu bersungguh hati.

Leave A Comment