Sanubari Teduh-354-Batin Cemerlang Memancarkan Kebijaksanaan Murni
Saudara se-Dharma sekalian, apakah kita sudah menjaga pikiran dengan baik? “Batin cemerlang kembali pada keluhuran, sehingga cahaya kebijaksanaan bersinar jernih.” Dengan senantiasa menjaga kemurnian pikiran, maka sifat bajik kita akan selalu ada. Dalam keseharian, jika pikiran kita dapat senantiasa cemerlang dan bajik, maka secara alami cahaya kebijaksaaan kita akan sangat jernih. Saat pikiran kita tidak tertutupi oleh noda dan kegelapan batin, maka pikiran kita akan sangat cemerlang. Hakikat Dharma sangatlah murni, hanya saja ia sudah tertutupi dalam jangka panjang. Setiap orang memiliki hakikat murni, hanya saja sejak masa tanpa awal, hakikat Dharma kita yang murni ini telah tertutupi. Tersembunyi dalam waktu lama berarti Tersembunyi dalam waktu lama berarti hakikat Dharma ini telah tertutupi. Setelah mengetahui dan mempraktikkannya, maka kita akan bebas dari rintangan. Setelah mengetahui Dharma, kita harus segera menggunakannya agar dapat bebas dari rintangan di seluruh alam semesta. Kita harus mengetahui hal ini. Setiap hari saya memberi tahu kalian bahwa Setiap hari saya memberi tahu kalian bahwa kita semua memiliki sifat hakiki dan kebijaksanaan yang setara dengan Buddha. Kita juga memiliki sifat hakiki yang murni dan tanpa noda. Hanya saja, ia telah tertutup sejak waktu yang sangat lama. Setelah mengetahuinya, kita harus menggunakannya. Dengan demikian, kita dapat memahami segala sesuatu di alam semesta. Karena itu, kita jangan merintangi cahaya kebijaksanaan sendiri yang cemerlang ini.
Jika merintangi diri sendiri, maka mesti Dharma ada di hadapan, kita tetap akan merasa gelap karena tidak adanya cahaya. Contohnya kita membaca Sutra tanpa menyalakan pelita di malam hari. tanpa menyalakan pelita di malam hari. Meski tangan kita memegang sebuah Sutra, tetapi tanpa adanya pelita, kita tetap tidak dapat melihat huruf di dalam Sutra. Ini adalah prinsip yang sama. Di manakah pelita berada? Ia berada di dalam hati kita. Dengan menyalakan pelita kebijaksanaan, secara alami kita dapat memahami prinsip kebenaran di seluruh alam semesta. prinsip kebenaran di seluruh alam semesta. Jadi, sesungguhnya kitalah yang merintangi diri sendiri. Berikutnya dikatakan, “Membangkitkan noda batin yang merintangi “Membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan sepuluh pemahaman dan tiga samadhi; membangkitkan noda batin yang merintangi tiga pengetahuan, enam kekuatan batin, dan empat kemampuan tanpa rintangan.” Semua noda batin ini dapat merintangi kita sendiri. Selain memiliki sepuluh pemahaman, kita semua juga mempelajari tentang tiga samadhi. Namun, karena telah merintangi diri sendiri, maka kita masih penuh noda batin. Apa yang disebut sepuluh pemahaman? Yang pertama adalah pemahaman tentang Empat Kebenaran Mulia. Empat Kebenaran Mulia meliputi penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Namun, kita selalu merintangi diri sendiri.
Semua itu bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain dapat merasakannya, kita juga dapat menggunakannya. Akan tetapi, sering kali kita mengabaikannya. Saudara sekalian, istilah di dalam Dharma sangat banyak. Sesungguhnya, semuanya tak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Apa yang disebut tiga samadhi? Tiga samadhi meliputi samadhi kekosongan, tanpa ciri, dan tanpa dorongan. Ketiga jenis samadhi ini adalah perhatian benar. Kita sudah mengulas tentang pandangan kekosongan, kesalingtergantungan, dan Jalan Tengah. Semua itu bertujuan agar kita bisa mengamati kebenaran tentang kekosongan, tetapi jangan melekat pada kekosongan. Jika melekat pada kekosongan, maka kita akan mengabaikan hukum sebab akibat. Jika melekat pada pandangan keberadaan, maka kita akan mudah percaya pada takhayul. Jadi, kita harus memilih Jalan Tengah agar dapat memiliki perhatian benar. Tiga jenis samadhi ini dapat membuat kita mencapai pembebasan. Jika hati bisa bebas dari belenggu dan rintangan, maka kita tidak akan melekat pada noda batin. Jadi, tiga samadhi juga disebut perhatian benar, konsentrasi benar, pikiran benar. Berikutnya dikatakan, “Merintangi pelatihan 3 pengetahuan, 6 kekuatan batin, 4 kemampuan tanpa rintangan.” Mengenai semua ini, sering kali kita terintangi.
Saat ingin memulai pelatihan menuju tiga pengetahuan, enam kekuatan batin, dan empat kemampuan tanpa rintangan, kita malah merintangi diri sendiri sehingga membangkitkan banyak noda batin. Apa yang dimaksud tiga pengetahuan? Tiga pengetahuan adalah pengetahuan kehidupan lampau, mata dewa, dan pengakhiran kebocoran. Mengenai pengetahuan kehidupan lampau, kita hendaknya tahu dari mana kita berasal dan apa yang akan kita lakukan di kehidupan ini. Akan tetapi, sering kali manusia awam tidak tahu dari mana mereka berasal tidak tahu dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pergi. Mereka tidak tahu ke mana tujuan mereka. Kita sudah tidak mengetahui kehidupan lampau. Kita tidak memahami kehidupan lampau. Ke mana tujuan kita kelak, kita juga tidak tahu. Jadi, kita harus banyak belajar. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang empat jenis pengamatan yang tak terlepas dari hukum sebab akibat. Mengenai hukum sebab akibat, jika dapat rmemahaminya dengan bersungguh hati, kita akan menyadari bahwa sebab dan kondisi terjadi dalam dimensi waktu, ruang, dan hubungan antarsesama. Berapa lama kita menjalin jodoh buruk dengan orang lain? Semakin lama kita menjalin jodoh tidak baik dengan orang lain, maka semakin lama jalinan jodoh buruk ini akan semakin dalam dan tebal. Mengapa penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini seakan tidak ada habisnya? Mengapa bencana terjadi silih berganti? Setiap hari kita mendengar kisah yang dibagikan para relawan tentang segala yang mereka lihat dan rasakan. Ada banyak kisah yang mereka bagikan. Ada orang yang sejak lahir sudah hidup menderita. Setelah bersusah payah, baru mereka dapat hidup mandiri.
Setelah itu, mereka pun berkeluarga. Setelah itu, mereka pun berkeluarga. Mulanya pasangan hidup mereka sangat baik, tetapi mengapa setelah menikah, mereka malah saling melukai? Ini adalah jalinan jodoh yang buruk. Kisah seperti ini sering kita dengar. Mengapa pernikahan mereka tidak berjalan lancar? Setelah melahirkan anak, mereka bercerai. Setelah bercerai, mereka ingin menikah lagi. Pernikahan mereka yang kedua berjalan baik, tetapi mengapa pasangan hidup mereka malah mengalami insiden dan menderita luka parah? Meski hubungan mereka sangat baik, tetapi dia hidup menderita karena harus menjaga pasangan hidupnya. Penderitaan akibat penyakit lebih menderita dari penderitaan saat berpisah dengan orang yang dikasihi. Musibah yang berulang kali menimpanya membuatnya harus menghadapi berbagai kondisi yang sulit. Inilah hukum sebab akibat. Semakin banyak dan dalam jalinan jodoh buruk yang terjadi, maka kehidupan kita pun semakin menderita. Jadi, kita harus memahami kehidupan lampau. Jadi, kita tidak perlu berkeluh kesah. Kita tetap harus menghargainya. Meski itu adalah jalinan jodoh buruk, kita tetap harus menghargainya karena itu merupakan hasil perbuatan kita di masa lalu. Kita harus membayar apa yang harus dibayar dan memperbaiki apa yang harus diperbaiki. Jika orang lain enggan memperbaiki diri, maka biarlah kita yang memperbaiki diri. Dengan begitu, baru kita dapat mengubah nasib. Kita dapat mengendalikan nasib asalkan kita memiliki pemahaman dan pengetahuan.
Untuk itu, kita harus kembali pada batin yang cemerlang dan luhur. Tadi kita sudah mengulas tentang kembali pada keluhuran hakiki. Jika hati kita dapat cemerlang, maka apa pun kondisi yang dihadapi, kita tidak akan berkeluh kesah dan merasa sangat menderita. Selanjutnya adalah “mata dewa”. Kita harus melihat segala sesuatu dengan jelas. Jika tidak, maka indra mata kita dapat memperdaya mata batin kita. Karena itulah, kita tak dapat memperluas pemikiran dan pandangan kita. Kita sering menilai orang dengan pandangan kita. “Orang ini tidak bisa diajak diskusi.” “Orang ini sangat keras kepala sehingga sulit diajak diskusi.” Meski kita sudah memaparkan alasan yang baik, tetapi mereka tetap sulit menerimanya karena pemikiran dan pandangan mereka. Kita pun sering melukiskan seseorang berdasarkan pemikiran dan pandangan kita. berdasarkan pemikiran dan pandangan kita. Sesungguhnya, bukankah kita juga sama? Apakah pandangan dan pemikiran kita Apakah pandangan dan pemikiran kita sudah sangat benar dan penuh pemahaman? Apa yang harus kita pahami? Prinsip kebenaran. Dengan memahami satu kebenaran, maka kita dapat menembus prinsip-prinsip lainnya. Kita dapat memahami semuanya. Sayangnya, indra mata kita selalu terpengaruh oleh kondisi luar sehingga membangkitkan rintangan di dalam batin yang menutupi kebijaksanaan kita yang murni dan cemerlang. Jadi, bisakah kita memiliki “mata dewa”? Jadi, bisakah kita memiliki “mata dewa”? Bisa. Asalkan memahami satu kebenaran, maka kita dapat menembus prinsip-prinsip lainnya.
Setelah memahami semua kebenaran, maka kita dapat melihat segalanya dengan jelas. Berikutnya adalah pengetahuan pengakhiran kebocoran. Kebocoran adalah noda batin. Saya sering berkata bahwa kita harus melenyapkan semua noda batin tanpa ada sisa. Kita jangan menyisakan sedikit pun noda batin. Setelah melenyapkan semua noda batin, Setelah melenyapkan semua noda batin, maka kita akan kembali pada keluhuran hakiki yang cemerlang. Kita akan kembali pada hakikat murni yang setara dengan Buddha. Inilah pengetahuan tentang pengakhiran kebocoran. Apa yang disebut enam kekuatan batin? Tiga pengetahuan ditambah tiga lainnya disebut enam kekuatan batin. Enam kekuatan batin meliputi mata dewa, telinga dewa, kemampuan membaca pikiran, kemampuan mengetahui kehidupan lampau, keleluasaan fisik, pengakhiran kebocoran. Kedengarannya kita sudah tahu. Mata dewa, pengetahuan kehidupan lampau, dan pengakhiran kebocoran adalah tiga pengetahuan. Selain itu, kita juga harus mendengar dengan jelas. Selain itu, kita juga harus mendengar dengan jelas. Kita harus memiliki rasa empati atau yang disebut kemampuan untuk mengetahui pikiran orang lain. Kita jangan hanya memikirkan diri sendiri. Dengan rasa empati, kita akan selalu berpikir dari posisi orang lain. Meski dari sisi kita semua terasa baik, tetapi apakah orang lain juga berpendapat sama? Mungkn kita menganggap itu tidak apa-apa, tetapi mungkin bagi orang lain, itu adalah hal yang serius. Jadi, dalam segala hal, tidak selalu yang kita anggap benar pasti benar. Karena itu, kita harus memiliki kemampuan untuk mengetahui pikiran orang lain atau yang disebut dengan rasa empati.
Kita harus lebih banyak memahami dan berpikir dari posisi mereka. Selanjutnya adalah keleluasaan fisik. Selanjutnya adalah keleluasaan fisik. Saya sering memberi tahu kalian bahwa kita dapat pergi ke mana pun kita ingin. Tentu, kita tidak bisa seperti para Buddha dan Bodhisattva yang bisa muncul dari dalam bumi saat mendengar suara hati makhluk hidup. Apakah kita memiliki kemampuan itu? Tentu saja, ini tak bisa dilakukan di tataran makhluk awam. Akan tetapi, manusia awam memiliki cara tersendiri untuk melakukannya. Contohnya, pascabanjir di Texas, sekelompok Bodhisattva dunia di Texas berangkat untuk membagikan bantuan. Pada saat pembagian bantuan, mereka bertemu banyak warga lokal yang berbeda ras dengan kita. Saat melihat orang dilanda bencana, selain pergi untuk menyurvei dan menghibur, kita juga mencari tahu apa yang mereka butuhkan. Kita merangkul dan menenangkan mereka. Kita merangkul dan menenangkan mereka. Karena itu, semua orang sangat bersyukur dan berterima kasih kepada kita. Saya dapat menceritakannya kepada kalian, tetapi sesungguhnya saya juga tidak pergi ke sana. Berkat perkembangan teknologi masa kini, dengan bantuan telepon ataupun komputer, kita dapat pergi ke mana pun tanpa ada rintangan. Dengan cepat, kita dapat mendengar beritanya. Inilah kemampuan telinga dewa. Dengan cepat, kita juga dapat melihat video, foto, dan lain-lain. Bukankah ini adalah kemampuan mata dewa? Saat saya menceritakannya kepada kalian, apakah kalian mengikuti hati saya untuk merasakan kondisi itu? Hati saya sudah terhubung dengan para relawan itu.
Saya dapat merasakan cinta kasih para Bodhisattva dunia dan sukacita yang mereka rasakan setelah bersumbangsih. Saya dapat turut merasakannya. Saat bencana melanda, para korban bencana sangat panik dan ketakutan. Namun, mereka melihat sekelompok orang tak dikenal datang untuk mencurahkan perhatian. Kita dapat merasakannya. Selain menerima penghiburan dari sekelompok orang tak dikenal, mereka juga menerima bantuan yang sangat dibutuhkan. Saya dapat merasakan dan memahami rasa syukur mereka. Saudara sekalian, apakah kalian juga merasakan hal yang sama dengan saya? Kita merasakan rasa syukur mereka dan sukacita dalam Dharma yang diperoleh karena dapat bersumbangsih. Ini disebut kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Kita adalah manusia awam. Dengan keterbatasan sekarang, kita dapat menerima informasi seperti ini sehingga kita dapat segera memahaminya. Baik kemampuan untuk membaca pikiran orang maupun keleluasaan fisik, kita dapat memiliki keduanya. Inilah yang dapat dicapai di tataran makhluk awam. Inilah yang dapat dicapai di tataran makhluk awam. Para Buddha dan Bodhisattva dapat bermunculan dari dalam bumi, turun dari langit, ataupun pergi ke Tanah Suci untuk mendengar ajaran benar. Untuk melakukan semua itu dengan kekuatan batin, bukanlah hal yang sulit. Terlebih lagi, teknologi zaman sekarang sangat maju. Kini juga bisa diadakan rapat via konferensi video yang dapat diikuti oleh beberapa negara sekaligus. Pada saat saya duduk di sini untuk rapat, mereka semua dapat melihat saya. Saya juga dapat melihat mereka. Saya juga dapat melihat mereka.
Saya dapat melihat berapa banyak orang yang hadir di setiap tempat. Apakah ini adalah keleluasaan fisik ataukah kemampuan mata dewa? Kita memiliki semuanya. Perkembangan teknologi masa kini dapat membuktikan begitu banyak kekuatan batin. Pada masa Buddha hidup, Beliau sudah memberi tahu kita tentang enam kekuatan batin. Kini, kita memanfaatkan perkembangan teknologi untuk membuktikan kekuatan batin. Kita semua pada hakikatnya memiliki tiga pengetahuan dan enam kekuatan batin. Asalkan kita tidak merintangi diri Asalkan kita tidak merintangi diri dengan noda dan kegelapan batin, maka secara alami kita dapat memiliki semua kekuatan batin itu. Jadi, untuk memiliki kekuatan batin, kita harus melenyapkan kegelapan dan noda batin. Setelah kegelapan dan noda batin terlenyapkan, selain 3 pengetahuan dan 6 kekuatan batin bangkit, masih ada empat kemampuan tanpa rintangan. Apa yang disebut//empat kemampuan tanpa rintangan? Ia terdiri atas kata-kata tanpa rintangan, makna tanpa rintangan, Dharma tanpa rintangan, pembabaran piawai tanpa rintangan. Mengenai kata-kata tanpa rintangan, adalah bagaimana cara kita memilah kata-kata adalah bagaimana cara kita memilah kata-kata agar dapat berbicara dengan elegan, menulis artikel yang menarik, atau membabarkan kebenaran. “Makna” adalah prinsip kebenaran yang bebas dari rintangan.
Kita bahkan dapat membabarkan Dharma tanpa rintangan. Selain membabarkan Dharma tanpa rintangan, kita juga memahami prinsip kebenaran dan berbicara dengan jelas. Kita juga senang berbagi dengan orang lain. Kita tak menyimpannya untuk cukup diketahui oleh diri sendiri. Tidak. Saat mengetahui satu ajaran, kita harus segera berbagi dengan orang-orang. Inilah pembabaran piawai tanpa rintangan. Inilah empat kemampuan tanpa rintangan. Semua ini harus kita kuasai. Namun, jika masih memiliki noda batin, maka kita akan merintangi diri sendiri sehingga tidak dapat memahaminya. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus kembali pada kecemerlangan batin dan keluhuran sehingga cahaya kebijaksanaan bersinar jernih. Hakikat Dharma sangatlah murni, hanya saja ia sudah lama tersembunyi. Kita sudah menyembunyikan dan menutupinya dalam waktu lama. Kini, setelah mengetahuinya, kita harus menggunakannya agar dapat bebas dari rintangan di seluruh alam semesta. Untuk itu, kita harus lebih bersungguh hati.