Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-355-Membina Batin Lewat Kondisi

Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya menyucikan tubuh, ucapan, dan pikiran. Keluhuran pada hakikatnya sudah kita miliki. Untuk apa kita mencari di luar? Bukankah pada dasarnya kita sudah memilikinya? Jika batin murni, maka keluhuran tubuh, ucapan, dan pikiran akan nampak. Setiap hari kita membahas tentang mencari, memohon, dan mempelajari Dharma. Ke mana kita harus belajar? Pada hakikatnya setiap orang memiliki Dharma ini, hanya saja akibat kegelapan batin, kita merintangi diri sendiri. Tiga pengetahuan , enam kekuatan batin, 37 faktor pencerahan, dan semua yang ingin kita pelajari, sesungguhnya ada di dalam keseharian kita. Kita juga sudah membahas tiga pengetahuan. Sesungguhnya, tiga pengetahuan juga merupakan bagian dari enam kekuatan batin. Mengapa kita belum mampu mencapainya? Karena kita merintangi diri sendiri. Ini merintangi tiga pengetahuan dan enam kekuatan batin, juga merintangi 37 faktor pencerahan. Ini akibat kita merintangi diri sendiri. Jika kita mampu mencapai semua itu, maka hal apa lagi yang tak dapat dicapai? Yang membuat kita tidak bisa mencapai adalah kegelapan batin. Kegelapan batin menutupi segalanya. Kini kita harus kembali belajar dari awal. Namun, kehidupan jasmani kita sangat singkat. Tabiat buruk kita juga sulit diubah. Kini kita berkata ingin melatih diri dan memulai dari awal, tetapi sejak masa tanpa awal, tetapi sejak masa tanpa awal, kita telah memupuk lapis demi lapis tabiat buruk. Noda batin telah kita bawa sejak lama. Dalam kehidupan ini, tabiat buruk dan noda batin kita sangat tebal. Kita ingin sungguh-sungguh berlatih, tetapi usia kita sangat singkat. Kita hanya memiliki waktu puluhan tahun.

Sulit untuk mencapai usia seratus tahun. Terlebih lagi, dalam waktu puluhan tahun ini, Terlebih lagi, dalam waktu puluhan tahun ini, apa saja yang pernah kita perbuat? Kita juga sama dengan orang pada umumnya yang menjalani hidup dengan sembrono. Setelah menemukan ajaran Buddha, kita seharusnya berjalan ke arah kesadaran. Namun, berapa sisa waktu yang kita punya? Kehidupan manusia memang amat singkat, belum lagi ditambah tebalnya tabiat buruk. Bahkan, Sariputra juga berkata bahwa semua makhluk berwatak keras dan sulit dibimbing. Bayangkan, kita termasuk makhluk hidup. Maksud Sariputra, tabiat buruk manusia sangatlah keras dan sulit ditaklukkan. Jadi, bagaimana kita dapat menaklukkan diri sendiri? Kita harus membina batin lewat kondisi yang dihadapi. Kita harus mengembangkan tindakan bermanfaat, ucapan benar, dan kebersamaan. Kita harus membimbing diri sendiri dan sesama. Ini harus dijalankan secara bersamaan. Untuk membimbing orang, dibutuhkan cara, yaitu ucapan baik, tindakan bermanfaat, dan kemurahan hati. Ini bermula dari pikiran kita. Intinya, yang harus kita latih adalah bagaimana melenyapkan tabiat buruk dan noda batin. Satu-satunya cara adalah tekun dan bersemangat. Kita harus menempa batin lewat kondisi yang dihadapi. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati. Dalam menghadapi kondisi sehari-hari, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Dengan begitu, barulah kita bisa membina batin. Berikutnya dikatakan kembali bahwa kita telah merintangi diri sendiri. Merintangi apa? Kata-kata ini sangat tidak asing di telinga kita. Dalam mempraktikkan Jalan Bodhisattva, tidak boleh melupakan Enam Paramita.

Dalam melatih diri, Enam Paramita adalah akar. Untuk melampaui berbagai noda batin makhluk awam, dibutuhkan enam metode. Jadi, untuk beranjak dari tataran makhluk awam menuju tataran orang suci, Enam Paramita tak boleh tidak ada. Kita semua sudah hafal mengenai Enam Paramita, yaitu dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kita sudah tahu tentang semua ini. Ada pula empat kesetaraan. Empat kesetaraan adalah empat pikiran tanpa batas. Empat pikiran tanpa batin juga sudah kita ketahui. Cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Empat ikrar agung Bodhisattva terdiri atas berikrar menyelamatkan semua makhluk yang tak terbatas, berikrar memutus noda batin yang tiada akhir, berikrar mempelajari pintu Dharma yang tak terhingga, berikrar mencapai kebuddhaan yang tertinggi. Semua ini harus kita pelajari. Jika tidak, kita akan tetap dipenuhi noda batin. Bukankah kita berikrar untuk memutus noda batin yang tiada akhir? Kita juga berikrar untuk menyelamatkan semua makhluk yang tak terbatas. Kita bertekad menyelamatkan semua makhluk dan memutus noda batin. Saudara sekalian, noda batin kita sungguh banyak.

Berikutnya adalah empat metode pendekatan. Tanpa empat metode pendekatan ini, kita tidak akan dapat benar-benar terjun ke tengah semua makhluk. Berhubung ingin mengembangkan Enam Paramita dan telah membangkitkan empat ikrar agung, maka kita harus menyelami empat pendekatan ini. Berdana adalah yang pertama dari Enam Paramita. Berdana berarti rela bersumbangsih. Mempraktikkan Jalan Bodhisattva berarti harus rela bersumbangsih. Jika tidak rela bersumbangsih, kita tidak dapat mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Meski kita telah bertekad untuk melatih diri, tetapi jika kita hanya bertekad kecil, tetapi jika kita hanya bertekad kecil, yaitu hanya demi menyelamatkan diri sendiri dan tidak memikirkan makhluk lain, maka ini bukanlah Dharma yang tertinggi. Jika hanya membawa manfaat bagi diri sendiri, maka dalam bahasa umum disebut egois. Di dalam masyarakat, sikap egois sungguh menyulitkan. Orang yang egois selalu bersikap perhitungan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka selalu menuntut orang lain untuk memberi lebih, tetapi diri sendiri tidak bersedia memberi. Mereka hanya menuntut manfaat dari orang lain. Inilah yang terjadi dalam masyarakat umum dan pada manusia awam. Sikap egois ini sungguh merisaukan. Ia membuat risau orang lain, juga membuat risau diri sendiri. Akibatnya, mereka menjalin jodoh buruk dengan orang lain sehingga orang lain merasa tidak suka. Orang yang egois sangat menyebalkan. Jadi, di tengah masyarakat, meski tidak mengerti ajaran Buddha, kita tetap tidak boleh egois karena sikap egois terlalu menyebalkan. Ini membuat hidup di dunia amat menderita. Kini kita sudah mengerti ajaran Buddha.

Setelah mengerti ajaran Buddha, kita harus melatih diri. Melatih diri berarti mencari jalan pencerahan. Pencerahan yang dimaksud meliputi Pencerahan yang dimaksud meliputi mencerahkan diri sendiri, mencerahkan orang lain, dan sempurna dalam kesadaran dan praktik. Inilah kebenaran yang ingin kita tuju. Proses ini disebut mempelajari ajaran Buddha. Mempelajari ajaran Buddha berarti belajar untuk mencerahkan diri sendiri, mencerahkan orang lain, dan sempurna dalam kesadaran dan praktik. Inilah tujuan kita. Mencerahkan diri sendiri berarti menyelamatkan diri sendiri. Kehidupan bagai lautan penderitaan yang luas. Sebuah ungkapan berbunyi, “Gelombang lautan penderitaan amat tinggi.” Lautan penderitaan begitu luas dan tidak terbatas. dan tidak terbatas. Lautan penderitaan yang luas ini tercipta oleh nafsu keinginan. Nafsu keinginan membawa banyak kegelapan batin. Karena itu, kegelapan batin diibaratkan sebagai lautan penderitaan. Kita harus mengarungi lautan penderitaan yang begitu luas dan tak terbatas. Terlebih lagi, ombak dan gelombang di lautan itu sangatlah tinggi. Karena itu, dikatakan, “Riak sungai keinginan menyebabkan ombak lautan penderitaan.” Bagaimana kita harus mengarungi lautan penderitaan yang tak terbatas ini? Kita memerlukan metode. Metodenya adalah yang setiap hari kita bahas, yaitu Dharma yang bagaikan air. Kita harus lebih dahulu menggunakan metode ini untuk membersihkan noda dan kegelapan batin. Mengenai metode ini, Buddha membimbing kita bahwa pertama-tama kita harus melepas. Melepas berarti meninggalkan segala noda batin.

Apa yang harus dilepas? Segala ketamakan duniawi. Bukan hanya belajar untuk tidak tamak, kita juga harus belajar untuk merelakan. Bukan hanya tidak tamak dan merasa cukup, dan merasa cukup, kita juga harus memberi saat berlebih. Seperti para kru Da Ai TV kita. Mereka mengikuti relawan ke Guizhou dan ke Gansu. Mereka melihat kehidupan warga Guizhou sangat menderita. Begitu pula di Gansu. Di Gansu, bahkan air pun sulit dicari. Lahan di sana adalah padang pasir. Rumah-rumah di sana juga terbuat dari tanah. Saat musim kering, sulit untuk menemukan tumbuhan di sana. Daerah itu sangat kering. Daerah itu sangat kering. Warga setempat hidup dalam kekurangan karena tanaman pangan tak dapat tumbuh. karena tanaman pangan tak dapat tumbuh. Mereka hidup di tengah kekeringan dan kemiskinan. Akibat kemiskinan, sulit bagi anak-anak untuk bisa bersekolah. Meski memiliki kesempatan untuk bersekolah, kalian juga pernah melihat tayangan dokumenter yang pernah diputar di Da Ai TV berulang kali yang pernah diputar di Da Ai TV berulang kali yang pernah diputar di Da Ai TV berulang kali bahwa kondisi pendidikan mereka juga minim. Di sana tidak ada sekolah. Kita membangun sekolah untuk mereka. Sarana belajar mereka amat kurang. Kita melihat bagaimana mereka menjepit pensil sepanjang 1 cm dengan kuku karena sayang untuk membuangnya. Mereka menulis dengan susah payah huruf demi huruf dengan pensil itu. Kondisinya amat sulit. Namun, kita melihat kondisi sebaliknya di Taiwan. Lihatlah anak-anak kita. Dalam kotak alat tulis mereka terdapat banyak pensil dari yang pendek hingga yang panjang. Lalu, apakah kotak alat tulis mereka hanya satu? Ada anak yang memiliki beberapa kotak alat tulis yang di dalamnya terdapat banyak pensil. Setiap batang pensil diraut hingga runcing. Mereka tidak perlu merautnya dengan pisau. Mereka hanya perlu memasukkannya ke dalam lubang rautan dan memutar-mutar pensil itu sebentar. Pensil itu pun akan menjadi runcing, sangat praktis.

Anak-anak di Taiwan sangat beruntung. Karena itu, para relawan Tzu Chi mulai terjun ke sekolah-sekolah untuk memutar tayangan tadi agar mereka dapat melihat kesulitan orang lain dan mengajak mereka untuk turut berbagi. Inilah pendidikan. Cinta kasih anak-anak sudah dipupuk sejak dini. Kita mendidik mereka untuk bisa merasa cukup dan rela berbagi saat memiliki lebih. Mulanya kita hanya ingin mengumpulkan tiga ribu kotak alat tulis, tetapi kita telah terkumpul lebih dari tiga kali lipatnya. Telah terkumpul belasan ribu kotak alat tulis. Mulanya kita hanya ingin mengirimkannya ke Guizhou dan Gansu, tetapi kini kita telah mengirimkannya ke berbagai negara. Lihatlah, jika setiap orang memberi sedikit, maka saat dikumpulkan, hasilnya juga sangat banyak dan mampu membantu orang yang membutuhkan. Lihatlah, kekuatan dari memberi begitu dahsyat. Karena itu, memberi atau berdana adalah yang pertama dalam Enam Paramita. Begitu pula dalam empat metode pendekatan, ia juga menjadi yang pertama. Jadi, kita harus memberi atau berdana. Kita juga harus berkata-kata baik dan penuh kasih. Kita juga harus melakukan tindakan bermanfaat. Kita juga harus mengembangkan kebersamaan. Mengenai kebersamaan, jika kita tidak terlebih dahulu memahami orang lain, kita tak akan memahami letak derita kehidupan. Di Negara Bagian Tennessee di Amerika Serikat, ada sebuah kota bernama Nashville. Di kota itu diadakan pemilihan wali kota dengan empat kandidat. Empat kandidat ini bertarung untuk kursi wali kota.

Berhubung wali kota dipilih langsung oleh rakyat, maka sekelompok tunawisma mengajukan tuntutan. Mereka meminta para kandidat wali kota itu untuk merasakan hidup sebagai tunawisma satu hari, barulah bersedia mengakui kualitas para kandidat. Banyak pihak di kota tersebut setuju dengan ide itu. Para kandidat harus hidup di jalan selama sehari untuk merasakan kehidupan para tunawisma. Empat orang kandidat ini juga setuju. Mereka pun mulai menjalani syarat tersebut. Mereka harus mencari sebuah tempat Mereka harus mencari sebuah tempat yang legal bagi tunawisma untuk tidur. Tempat yang legal bagi tunawisma untuk tidur adalah di taman. Mereka diminta untuk tidur di atas bangku taman selama beberapa puluh menit. Setibanya mereka di taman, bahkan mencari bangku untuk tidur pun sudah sulit. Salah satu dari mereka hanya menemukan sebuah balok semen yang dibuang. sebuah balok semen yang dibuang. Setelah menemukan tempat itu, ingin tidur 20 menit saja dia merasa sulit. Mereka juga harus menjalankan syarat lainnya. Selain mencari tempat untuk tidur yang legal di taman, mereka juga harus meminta uang untuk hidup dari orang yang tidak dikenal. Hal ini tentu sangat sulit bagi mereka. Meminta-minta kepada orang lain tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan orang. Bukan hanya itu, mereka juga harus mengemis makanan. Setelah satu hari berlalu, semua dari keempat kandidat itu tidak sanggup meminta sedekah uang.

Dua dari mereka berhasil meminta makanan dari toko roti. Apakah mereka dinyatakan lulus? Para tunawisma tadi mulai berkumpul. Ada yang bertanya pada keempat kandidat itu, “Selama 24 jam ini, bagaimana jika kalian ingin ke belakang?” Salah satu kandidat menjawab, “Seharian ini saya tidak ke belakang.” Yang lain menjawab, “Saat meminta makanan, saya meminjam kamar kecil di toko roti.” Yang lainnya lagi menjawab, “Saya buang air di rerumputan.” “Saya buang air di rerumputan.” Yang terakhir menjawab, “Saya mencari pepohonan yang agak lebat “Saya mencari pepohonan yang agak lebat dan buang air di sana.” Apakah mereka dinyatakan lulus? Para tunawisma inilah yang memberi nilai. Namun, paling tidak para kandidat telah merasakan bahwa kehidupan para tunawisma di jalan sangatlah menderita. Dengan begitu, setelah menjadi wali kota, mereka dapat mencari cara untuk membantu para tunawisma. Ini termasuk dalam kebijakan yang ditawarkan dalam kampanye. Sesungguhnya, tanpa terjun langsung ke tengah penderitaan, bagaimana mereka bisa memahami penderitaan? Salah seorang tunawisma bertanya, “Apa yang Anda lakukan saat ingin ke belakang?” Dari sini kita dapat mendengar masalah orang. Selain masalah makanan, sesungguhnya di dalam hidup ini, apakah kita ada memikirkan kesulitan hidup orang? Selain makan, buang air juga bisa menjadi masalah. Di mana mereka harus melakukannya? Lihatlah para kandidat itu, salah seorang menahannya selama seharian. Dia mungkin juga tidak minum dan tidak makan. Kehidupan seperti ini sungguh menderita.

Diperlukan orang yang memikirkan solusi. Para tunawisma sangat menderita. Jadi, sebagai wali kota yang mengasihi warga, Jadi, sebagai wali kota yang mengasihi warga, mereka harus merasakan kondisi kehidupan para tunawisma. Terlebih lagi, kita ingin menjadi Bodhisattva. Dapatkah kita tidak terjun untuk merasakan penderitaan semua makhluk? Setelah terjun ke dalam kondisi itu, kita dapat memahami langsung penderitaan. kita dapat memahami langsung penderitaan. Kita juga dapat menyadari berkah dan bertekad untuk kembali menciptakan berkah. Kita harus memiliki empat metode pendekatan. Empat metode ini meliputi praktik berdana dan tutur kata yang baik. Kita harus membimbing orang-orang agar batin mereka dapat tenang. Bukan hanya kehidupan jasmani yang stabil, batin juga harus stabil. Setiap pagi kita mendengar relawan Tzu Chi berbagi tentang kondisi batin pasien di rumah sakit. Saat menderita sakit, banyak pasien takut mati. Perpisahan akibat kematian membawa penderitaan. Bagaimana kita menenangkan batin mereka? Kita harus menggunakan kata-kata penuh kasih. Kita juga berusaha memberi manfaat bagi orang lain dan mengembangkan kebersamaan agar selain membimbing diri sendiri, kita juga dapat membimbing orang lain.

Kita membimbing diri sendiri dan orang lain, membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, serta menyadarkan diri sendiri dan orang lain. Semua ini harus kita pelajari. Jika kita memiliki noda batin, semua ini tak akan dapat kita pelajari. Akibatnya, kita akan selalu merintangi diri sendiri. Jadi, Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, pikiran harus terpusat. Kita harus selalu bersungguh hati. Jangan kita merintangi diri untuk mempelajari enam paramita dan empat kesetaraan. Begitu kita merintangi diri sendiri, maka kita akan dipenuhi noda batin. Kita harus melatih semangat Mahayana. Empat ikrar agung harus kita jalankan. Empat metode pendekatan harus selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment