Sanubari Teduh-369-Memberkahi Diri dan Memberi Manfaat bagi Orang Lain
Saudara se-Dharma sekalian, waktu sungguh kita lalui dengan cepat. Bulan demi bulan berlalu. Musim terus berganti. Di musim panas, suhu panas amat mencekik. Di dunia ini, bukankah kondisi batin juga sering demikian? Sebagaimana kondisi cuaca dan iklim, Sebagaimana kondisi cuaca dan iklim, pikiran manusia juga memiliki siklus. Lihatlah kondisi batin manusia saat ini, sering kali tidak seimbang. Api kemarahan sering kali timbul. Bukankah ini bagaikan cuaca yang panas dan terik matahari yang dapat menggoreng pasir? Ini adalah suatu ungkapan. Pasir bagaikan digoreng dan matahari bagaikan direbus. Kondisinya amat mencekik dan amat panas. Bagaimana cara mendinginkan pikiran kita? Batin kita harus memiliki sandaran. Sandaran batin ini dapat meredakan tekanan fisik dan batin. Bagaimana meredakannya? Dengan tiga perlindungan dan lima sila. Kita tidak melakukan sepuluh kejahatan. Kita juga harus memegang teguh tekad untuk bertobat. Kita hendaknya mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk; memupuk berkah bagi diri sendiri dan memberi manfaat bagi orang lain. Beberapa kalimat ini terdengar sederhana. Banyak umat Buddha yang bisa mengulangnya. Kita mengaku tahu tentang tiga perlindungan, yaitu berlindung kepada Buddha, Dharma, Sangha. Benar. Secara teori, itu tidak salah. Mengenai berlindung, kita harus tahu makna dibalik aksara Tionghoa “berlindung”. Artinya adalah kembali dari hitam menuju putih. Hitam melambangkan kegelapan batin. Putih melambangkan kebajikan.
Kegelapan batin masa lalu, mulai saat ini, kita berusaha untuk melenyapkannya. Kita sepenuh hati berlindung pada Buddha. Ajaran Buddha adalah kebajikan. Jadi, kita bersandar pada kebajikan. Berlindung kepada Buddha berarti Buddha ada di dalam hati. Berlindung kepada Dharma berarti perbuatan sesuai dengan Dharma. Berlindung kepada Sangha berarti kita harus menghormati Tiga Permata. Inilah yang disebut tiga perlindungan. Apakah menyatakan berlindung sekali saja cukup? Tidak. Setiap hari dan setiap saat, pikiran tak boleh meninggalkan Buddha, perbuatan juga tak boleh meninggalkan Dharma. Kita juga senantiasa hormat terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha. Ini adalah pedoman yang harus dipegang oleh setiap umat Buddha. Ini juga merupakan cara untuk menyelaraskan pikiran. Lima sila adalah tidak membunuh, tidak mencuri, tidak bertutur kata tidak benar, tidak mengonsumsi alkohol, tidak berbuat asusila. Seluruhnya ada lima. Benar. Sebagai manusia, jika dapat memegang teguh lima sila ini, berarti kita sudah menjalankan pedoman menjadi manusia sebagaimana mestinya. Jika kita dapat memegang teguh lima sila ini, dijamin kita tak akan jatuh ke tiga alam rendah.
Buddha mengatakan hal ini. Kita pasti dapat mempertahankan kelahiran sebagai manusia. Bukankah kita semua bertekad untuk kembali ke alam manusia dan menjadi Bodhisattva? Jika di dalam hati kita ada tekad untuk kembali sebagai Bodhisattva di dunia, maka kita harus memegang teguh lima sila. Tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak bertutur kata tidak benar, tidak mengonsumsi zat memabukkan, inilah lima sila, sedangkan sepuluh kebajikan digolongkan ke dalam tiga pintu karma. Jika dapat menjaga tiga pintu karma ini, kita pasti dapat menjalankan sepuluh kebajikan. Apa yang disebut tiga pintu karma? Tiga lewat tubuh, empat lewat ucapan, tiga lewat pikiran. Ucapan dapat menciptakan empat jenis karma, yaitu berdusta, bertutur kata kosong, bergunjing, dan berkata kasar. Kita berusaha meneladani Buddha. Buddha bukanlah pendusta. Kita harus meneladani Buddha yang tak berdusta. Bukan hanya itu, kita juga tidak berkata-kata kosong. Kita tidak menjilat orang dengan kata-kata indah. Tidak. Kita harus berkata-kata dengan jujur. Kita bertutur kata dengan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Kata-kata kita harus tulus dan dapat dipercaya. Tentu, kita juga tidak bergunjing. Kita tidak boleh bergosip. Orang yang paling jahat di masyarakat adalah orang yang gemar bergosip. Sesama manusia harus harmonis dan rukun.
Begitu pula Sangha, harus menjunjung enam keharmonisan. Namun, di dalam Sangha, meski banyak orang mengaku sedang berlatih, tetapi tabiat buruk mereka belum berubah. Mereka gemar bergosip. Dengan begitu, Sangha menjadi tidak harmonis. Ini karena anggota Sangha juga makhluk awam. Saat mendengar orang lain membicarakan kita atau memfitnah kita, hati kita akan merasa tidak tenang. Kita pun mulai terlibat adu mulut. Terlebih lagi, di masyarakat, yang paling menakutkan adalah penggosip, orang yang menjilat, atau orang yang berdusta. Meski hanya sekedar kata-kata, tetapi karma ucapan juga sangat berat. Inilah empat jenis karma lewat ucapan. Keempatnya harus kita hindari. Bukan hanya tidak berdusta, kita juga harus berkata jujur. Bukan hanya tidak bertutur kata kosong, kita juga harus berbicara dengan tulus. Tutur kata kita juga harus penuh kedamaian dan membimbing ke arah kebajikan. Sebuah ungkapan berbunyi, “Manusialah yang menyebarkan kebenaran, bukan sebaliknya.” Untuk dapat menyebarkan kebajikan, di dalam hati dan ucapan kita harus ada Dharma. Saat di antara sesama tidak rukun, kita harus berusaha mendamaikan dengan ucapan yang lembut. Mendamaikan orang merupakan pahala. Jadi, kita tidak bertutur kata kosong, tidak bergunjing, tidak berbohong, tidak berkata-kata kasar. Kita harus bisa mendamaikan orang dan bertutur kata baik. Inilah empat karma lewat ucapan.
Lewat tubuh, ada tiga karma buruk, yaitu membunuh, mencuri, dan berbuat asusila. Banyak hal dilakukan oleh tubuh ini. Kita melihat banyak orang yang jahat di masa lalu, tetapi kini juga dapat berubah. Kita sering mendengar sebagian anggota Tzu Cheng yang berkata bahwa dahulu mereka suka minum alkohol, merokok, dll. Keahlian mereka adalah melakukan segala hal yang tidak benar. Namun, kini mereka telah berubah. Mereka mampu memegang teguh lima sila. Bukan hanya lima sila, mereka juga menjalankan sepuluh kebajikan. Berikutnya, karma lewat pikiran juga ada tiga jenis. Kita harus melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Bukan hanya melenyapkan ketiga racun ini, bukan hanya tidak tamak, kita juga harus berdana. Bukan hanya tidak membenci, kita juga harus berkata dan berperilaku ramah. Bukan hanya tidak bodoh, kita juga harus mengembangkan kebijaksanaan. Inilah sepuluh kebajikan. Kita harus memperbaiki karma lewat tubuh, ucapan, dan pikiran serta tidak lagi menciptakan karma buruk dari tiga pintu itu. Ini yang disebut sepuluh kebajikan. Kita harus memegang teguh tekad. Kita harus memegang teguh tekad. Jika di masa lalu kita punya kesalahan, kita harus segera bertobat. Bukankah kita terus membahas pertobatan? Jika kita tidak bertobat dan hanya berkata ingin berubah, maka kita tak akan dapat benar-benar berubah. Kita harus benar-benar bertobat.
Setelah bertobat dan melenyapkan niat buruk, maka cinta kasih kita akan terus meningkat. Saat keburukan lenyp, cinta kasih akan timbul. Dengan cinta dan welas asih, kita memberkahi diri sendiri dan memberi manfaat bagi semua makhluk. Ini tentu membawa berkah bagi diri sendiri. Jika kita memegang teguh sila dan senantiasa berbuat baik, maka diri sendiri pasti memperoleh jaminan. Pertama, dijamin tidak akan kehilangan kelahiran sebagai manusia. Kita meningkatkan kualitas diri sendiri. Bagi orang lain, kita juga bermanfaat. Ini yang disebut memberkahi diri sendiri dan memberi manfaat bagi makhluk lain. Sampai di sini, saya ingin berbagi dengan kalian sebuah kisah yang diambil dari Sutra. Suatu ketika, saat Buddha memberi tiga perlindungan kepada para bhiksu, Beliau menjelaskan pahala dari lima sila yang mampu menjamin dan melindungi diri sendiri. Buddha menceritakan sebuah kisah. Pada masa lampau, ada sekelompok pedagang mengarungi lautan untuk berdagang dan mencari harta karun. Para pedagang ini harus menyewa buruh untuk memindahkan barang dari dan menuju kapal. Mereka menyewa seorang kuli untuk melakukan pekerjaan kasar. Suatu ketika, saat kapal para pedagang ini mengarungi lautan, tiba-tiba terjadi angin ribut dan ombak besar. Kapal itu pun oleng. Banyak pedagang di atas kapal itu yang merasa takut. Di sana ada seorang kuli yang tetap tenang.
Saat orang-orang berteriak ketakutan, dia tetap beranjali dan melafalkan nama Buddha. Dia terus melantunkan syair tiga perlindungan. Setelah melafalkan nama Buddha dengan tulus, dia terus membaca syair perlindungan di laut dengan harapan semua makhluk di alam semesta, baik manusia maupun bukan, dapat segera berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Jadi, dia terus melantunkan syair tiga perlindungan dengan tulus. Dia juga mengulang pembacaan lima sila. Luar biasanya, angin ribut dan ombak langsung reda. Kapal pun bisa kembali stabil. Meskipun kapal kembali stabil dan angin ribut sudah reda, tetapi kapal itu tak dapat digerakkan. Kapal itu tetap diam di tempat semula. Ia tidak bisa digerakkan sama sekali. Akhirnya, malam hari pun tiba. Salah seorang pemimpin dari para pedagang itu mendapat sebuah mimpi. Di dalam mimpinya ada seorang tua yang berpakaian putih dan juga berkumis putih. Orang tua itu memberi tahu pedagang ini mengapa kapal mereka tak dapat digerakkan. Ini karena di atas kapal itu ada seorang kuli tadi. Dialah yang membuat kapal tak bisa bergerak. Setelah pedagang itu terbangun, dia berpikir, “Jika kuli itu terus ada di kapal, maka kapal tak akan dapat bergerak dan tak akan bisa memasuki pelabuhan.” “Kita pun tidak bisa berdagang.” Kepala pedagang ini memanggil beberapa orang untuk berdikusi. Dia menceritakan isi mimpinya. Dia menceritakan isi mimpinya. Dia berkata bahwa kapal tak dapat bergerak karena adanya kuli itu di atas kapal.
Sebagian orang berpikir bahwa kapal tak mungkin dibiarkan terus diam. Karena itu, mereka merasa harus memikirkan cara agar kuli itu bisa meninggalkan kapal. Orang yang lain berkata, “Kita tak bisa melemparkannya ke laut karena orang itu sangat baik.” “Dia juga sudah banyak membantu kita.” “Dia juga sudah banyak membantu kita.” “Kita juga membutuhkan dirinya.” Lalu bagaimana? Pada saat itu, kebetulan kuli tersebut mendengarnya. Dia berpikir, “Berhubung kehadiran saya di sini membuat semua orang tak berdaya karena mereka tak bisa melemparkan saya ke laut, tetapi juga merasa tidak tenang karena kapal tidak dapat bergerak.” karena kapal tidak dapat bergerak.” “Orang-orang menjadi risau.” “Saya harus bagaimana?” Dia sendiri lalu terpikir sebuah cara. Dia berkata kepada para pedagang, “Kalian tidak perlu mengkhawatirkan saya.” “Saya hanya meminta kalian memberi saya beberapa bilah bambu untuk dijadikan rakit agar saya bisa pergi dari kapal ini.” Seseorang bertanya, “Apakah itu cara yang baik?” Namun, buruh ini berkata, “Jika saya tidak pergi, kalian tidak akan tenang karena kapal tidak dapat bergerak.” “Saya hanya butuh beberapa bilah bambu.” “Kalian juga tak perlu melemparkan saya ke laut.” “Saya juga masih tetap aman, kalian juga bisa merasa tenang.” Orang-orang merasa cara itu boleh juga, yang penting buruh itu bisa pergi. Jadi, mereka mengikat beberapa bilah bambu untuk dijadikan rakit oleh buruh itu. Rakit itu mengikuti arah angin hingga tepi laut.
Saat rakit itu menjauh dari kapal, angin ribut dan ombak besar kembali terjadi. Ikan-ikan besar juga bermunculan. Ada ikan berwarna putih, hitam, dan masih banyak lagi. Saat itu, semuanya berkumpul. Selain angin bertiup sangat kencang, ikan-ikan besar membalikkan kapal itu. Akibatnya, banyak orang tenggelam di lautan dan dimakan oleh ikan-ikan itu. Sebaliknya, buruh yang berlayar dengan rakit telah menjauh mengikuti arah angin hingga akhirnya tiba di tepian. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha memberi tahu semua orang bahwa orang-orang di atas kapal itu memiliki karma kolektif dari kehidupan lampau mereka. Mereka tidak berkesempatan mendengar tentang tiga perlindungan dan lima sila. Meski buruh tadi sangat tulus mengulang nama Buddha dan syair perlindungan serta membacakan lima sila, tetapi orang-orang itu tidak mendengarnya. Meski makhluk lain di angkasa mendengarnya sehingga angin ribut reda seketika, tetapi orang-orang tadi terhalang oleh karma kolektif mereka. Mereka harus menerima buah karma. Jadi, mengenai tiga perlindungan dan lima sila, intinya kita harus memiliki cinta kasih. Meski tak dapat menolong orang lain, paling tidak kita bisa menjaga diri sendiri. Cerita ini sungguh menjadi pengingat bagi saya. Jadi, saya sering berkata bahwa kita sering melihat banyak orang yang tidak dapat menenangkan hati sehingga tak dapat mendengar sesuatu yang baik. Karma kolektif semua makhluk juga mengkhawatirkan. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus menjadi Bodhisattva dunia. Manusia dapat menyebarkan kebenaran dan menyampaikan kata-kata yang baik.
Saat satu dari sepuluh orang dapat menerima kebaikan itu, berarti kita telah membimbing satu orang. Karena itu, kita pernah membahas bahwa kita hendaknya dekat dengan teman-teman yang baik. Jika kita dekat dengan teman-teman yang baik dan bersama-sama mempraktikkan pertobatan, barulah kita bisa mengikis karma buruk. Jika setiap orang memupuk karma buruk kolektif, maka bencana akan semakin banyak di dunia ini. Jadi, kita harus dekat dengan teman-teman yang baik dan bersama menghimpun kekuatan pertobatan. Berikutnya dikatakan, “Bertemu dengan mitra bajik yang telah berada di dalam Sang Jalan, merupakan keuntungan bagi semua.” “Karena itu, kini kami dengan tulus menyatakan berlindung kepada Buddha.” Artinya, saat bertemu teman-teman yang baik yang telah berada pada jalan kebenaran, baik tutur katanya, kita juga akan mendapatkan manfaat. Mereka membawa manfaat bagi diri sendiri, juga membawa manfaat bagi diri kita. Karena itu, kita harus menerima kata-kata yang baik itu. Tiga pintu karma kita harus dijaga dengan baik. Kita juga harus memperbaiki diri. Jika kita dapat berpegang pada lima sila dan sepuluh kebajikan, terlebih setiap hari dan setiap saat dengan tulus berlindung kepada Buddha, maka kita akan dapat mengikis karma buruk, memupuk berkah bagi diri sendiri dan membawa manfaat bagi orang lain. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati.