Sanubari Teduh-368-Mendatangkan Kemakmuran dan kebahagiaan bagi Umat Manusia
Saudara se-Dharma sekalian, saya sering berbagi dan mengingatkan kalian untuk berbuat kebajikan. Janganlah kita melakukan kejahatan. Dengan melakukan kebaikan, maka kita akan memperoleh berkah yang abadi. Ini adalah prinsip kebenaran yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Terlebih lagi, Buddha juga secara langsung mengajarkan ini kepada kita. Ini adalah prinsip kebenaran yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Karena itu, kita harus memercayainya tanpa menaruh rasa ragu. Keharmonisan di dunia mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia. Kita semua hidup di atas bumi yang sama. Karena itu, setiap orang hendaknya membawa kemakmuran dan kebahagiaan bagi sesama. Dengan demikian, maka setiap orang dapat hidup aman dan tenteram. Saat kondisi iklim bersahabat, maka kehidupan masyarakat akan aman dan tenteram. Masyarakat yang aman dan tenteram merupakan berkah bagi dunia. Untuk menciptakan dunia yang bebas bencana serta masyarakat yang aman dan tenteram, setiap orang harus membangkitkan niat baik untuk menciptakan berkah. Ini adalah prinsip kebenaran yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Setiap orang harus membangkitkan niat baik untuk menciptakan berkah agar dapat menciptakan keharmonisan bagi dunia, serta mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia. Ini bukan hal yang tidak dapat dilakukan asalkan setiap orang bersedia membangun tekad.
Aksara Mandarin “dao” (membimbing) adalah gabungan aksara “dao” (jalan) dan “cun” (inci) Aksara Mandarin sangat indah dan bermakna. Aksara Mandarin “dao” (jalan) dengan “cun” (inci) di bawahnya membentuk aksara “dao” (membimbing). Kita jangan hanya menapaki jalan sendiri, tetapi juga harus membimbing sesama tetapi juga harus membimbing sesama untuk menapaki jalan kebajikan. Orang yang menapaki jalan kebajikan akan memahami kebenaran. Kita jangan terlepas dari prinsip kebenaran. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Saya sering berkata bahwa media masa kini hanya melaporkan berita tanpa membimbing ke arah yang benar. Selain memberi laporan berita, kita juga harus membimbing masyarakat ke arah yang benar. Masyarakat masa kini seperti kembali pada masyarakat yang tidak berpikiran terbuka dan penuh kekacauan. Mereka tidak dapat memahami prinsip kebenaran. Karena tidak dapat membedakan yang benar dan salah, maka kondisi masyarakat menjadi kacau. Orang masa sekarang sangat mudah terpengaruh oleh laporan media. Ini sangat berbahaya. Karena itu, kita harus membuka sebuah aliran jernih untuk melaporkan kondisi masyarakat dan pengetahuan di dunia. Janganlah kita membiarkan masyarakat tidak mengetahui perkembangan pengetahuan dan peradaban masyarakat. Kita harus melaporkan kebenaran sekaligus membimbing ke arah yang benar.
Meski begini kondisi masyarakat sekarang, tetapi perilaku kita harus sesuai dengan prinsip kebenaran, bukan mengikuti laporan berita secara membabi buta. Jika hanya memberikan laporan tanpa membimbing ke arah yang benar, maka pikiran masyarakat akan semakin kacau serta tidak dapat membedakan yang benar dan salah. Jika demikian, maka sangat berbahaya. Kondisi batin kita haruslah tetap hening dan jernih agar dapat membedakan yang benar dan salah sehingga dapat membimbing setiap orang ke jalan yang benar. Jadi, kita harus ingat bahwa gabungan aksara Mandarin “dao” (jalan) dan “cun” (inci) membentuk aksara “dao” (membimbing). Karena itu, kita harus sangat bersungguh hati. Saya akan menceritakan sebuah kisah. Di Tiongkok, ada sebuah kuil kecil di wilayah pegunungan. ada sebuah kuil kecil di wilayah pegunungan. Di sana tinggal seorang bhiksu tua dan sramanera muda. Suatu hari, bhiksu tua itu membawa sramanera muda ke kota untuk menerima persembahan. Orang-orang di kota sangat menghormati bhiksu tua. Mereka memberinya banyak makanan dan uang. Dalam perjalanan pulang, mereka melihat seorang nenek yang terlihat sangat kelaparan hingga tidak dapat berdiri. Nenek itu terbaring di tanah. Bhiksu tua lalu berkata kepada sramanera muda, Bhiksu tua lalu berkata kepada sramanera muda, “Berikan makanan untuk nenek ini.” “Berikan makanan untuk nenek ini.” “Berikan juga sedikit uang agar nenek ini dapat kembali bertenaga dan pulang dengan selamat.”
Sramanera muda ini tidak berani membantah perkataan gurunya, tidak berani membantah perkataan gurunya, tetapi hatinya sangat tidak rela. Dengan hati tidak rela, sramanera itu mengikuti perkataan gurunya. Dia hanya memberinya sedikit makanan dan uang. Sramanera muda itu berpikir, “Kita sangat bersusah payah menggalang dana demi merenovasi kuil demi merenovasi kuil agar menjadi sangat megah.” Hatinya berpikir demikian. Bhiksu tua melanjutkan perjalanan bersama sramanera. Sang guru menoleh dan melihat sramenera yang tidak gembira. Beliau lalu bertanya, “Mengapa kamu tidak gembira?” “Setelah berbuat baik, bukankah seharusnya merasa gembira?” Sramanera muda menjawab, “Berbuat kebaikan memang sangat bagus.” “Saya juga ingin melakukan kebaikan.” “Kelak saya juga akan melakukannya.” “Namun, saya ingin menunggu hingga kuil kita selesai direnovasi.” “Jika ada sisa, maka saya akan berbuat baik.” “Untuk saat ini, saya akan sangat bersungguh hati membangu guru merenovasi kuil.” Setelah mendengarnya, bhiksu tua itu menghela napas dan terus melangkah maju.” Beberapa tahun kemudian, sebelum kuil selesai direnovasi, bhiksu tua itu sudah meninggal dunia. Tanggung jawab untuk merenovasi kuil pun jatuh pada sramanera yang sudah beranjak dewasa ini. Dia mulai menggalang dana hingga proyek renovasi pun akhirnya dimulai. hingga proyek renovasi pun dimulai. Setelah pembangunan aula utama rampung, karena merasa wilayah itu masih sangat luas, dia pun membangun fasilitas lain, seperti tempat tinggal untuk para bhiksu. seperti tempat tinggal untuk para bhiksu.
Setelah itu, karena merasa wilayah itu masih sangat luas, dia pun berpikir untuk membangun fasilitas yang lain. Setelah itu, dia kembali berpikir, bagaimana agar kelak para bhiksu dapat bercocok tanam sendiri. Karena itu, dia pun membeli tanah di sekeliling kuil. Demikianlah caranya melewati hidupnya. Demikianlah caranya melewati hidupnya. Bhiksu muda ini menghabiskan seluruh hidupnya untuk menerima persembahan dan membangun kuil. Akhirnya, kuil itu berdiri dengan megah Akhirnya, kuil itu berdiri dengan megah sesuai dengan harapannya. Dia juga memiliki ribuan hektare lahan. Lahannya sangat luas. Lahannya sangat luas. Saat itu, dia sudah berusia lanjut. Dia teringat bahwa sebelum meninggal, Dia teringat bahwa sebelum meninggal, gurunya memberikan sebuah Sutra padanya. Saat memberikan Sutra itu, Gurunya menunjuk Sutra sambil mengatakan sesuatu, sambil mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tidak terdengar. tetapi suaranya tidak terdengar. Beliau menggerakkan bibir, tetapi suaranya tidak terdengar. Setelah itu, gurunya meninggal dunia. Sekarang, bhiksu itu juga sudah menua. Sekarang, bhiksu itu juga sudah menua. Tubuhnya juga sudah melemah. Meski kuil itu sangat megah, tetapi umat yang datang sangat sedikit.
Saat teringat pada Sutra yang diberikan gurunya, dia pun segera mengeluarkannya. Di halaman pertama Sutra itu Di halaman pertama Sutra itu gurunya menulis, “Menolong orang sekali lebih baik dari melafalkan Sutra 10 tahun.” Menolong orang sekali lebih baik dari melafalkan Sutra 10 tahun. Saat ini, bhiksu ini sudah berusia lanjut. Saat dia masih muda, dia tidak mempraktikkan perkataan gurunya. dia tidak mempraktikkan perkataan gurunya. Kini dia sudah berusia lanjut. Kuil dibangun hingga demikian besar, tetapi umat yang datang sangat sedikit. Dia sangat menyesal dan bertobat. Jika saat itu dia dapat segera mendengar perkataan guru, entah sudah berapa banyak kebaikan yang dia lakukan. Dia menghabiskan puluhan tahun untuk melafalkan Sutra dan menerima persembahan. Meski sudah meninggalkan keduniawian Meski sudah meninggalkan keduniawian dan belajar banyak kebenaran dari Sutra, tetapi dia tidak mempraktikkannya. Dia hanya tahu membangun kuil dan membeli tanah. Ini adalah salah. Melakukan satu kebaikan hampir sama pahalanya dengan melafalkan Sutra 10 tahun. Karena itu, saya sering berkata bahwa dalam berbuat kebaikan, kita harus memanfaatkan waktu dan menggenggam setiap kesempatan yang ada. Terlebih lagi, kita harus membimbing orang ke arah yang bajik dan sesuai kebenaran. Kita harus membimbing sesama untuk berjalan ke arah yang benar.
Tujuan kita melatih diri adalah untuk membimbing sesama menapaki jalan yang benar dan bajik. Mempraktikkan jalan kebenaran lebih penting dari sekadar melafalkan Sutra. Sebelumnya kita sudah mengulas, mengapa kita sering melihat orang yang sangat baik menjalani hidup di tengah kondisi yang kurang baik? menjalani hidup di tengah kondisi yang kurang baik? Sebelumnya kita sudah mengulas tentang ini. Ini karena buah karma buruknya belum habis dituai. Buah karma buruknya pada kehidupan lalu belum habis dituai. Meski pada kehidupan ini mereka sangat gemar berbuat baik, tetapi kondisi hidupnya kurang baik dan banyak hal tak berjalan dengan lancar. dan banyak hal tak berjalan dengan lancar. Meski pada kehidupan ini sudah melakukan banyak kebaikan, tetapi buah karma buruknya pada kehidupan lalu tetap harus habis dituai. Setelah itu, baru kita dapat menikmati buah karma baik. Ini sudah kita bahas sebelumnya. Ini sudah kita bahas sebelumnya. Mengapa ada banyal hal buruk Mengapa ada banyal hal buruk yang terjadi pada diri orang baik? Mengapa demikian? Penggalan Sutra berikutnya memberi penjelasan kepada kita. memberi penjelasan kepada kita. Kini kita melihat orang yang baik di dunia ini dipuji oleh orang-orang. Karena itu, diketahui bahwa mereka pasti mendapat buah kebahagiaan kelak. Meski banyak hal berjalan tak lancar pada diri orang baik, tetapi orang-orang di sekitar akan merasa tidak tega. “Orang ini sangat baik, mengapa ini bisa terjadi padanya?” Karena itu, orang-orang di sekitar akan menjadi sang penyelamat bagi orang baik ini.
Mereka akan berempati dan memujinya di belakang. Apa yang disebut dengan berkah? Orang yang dapat dipercayai, diyakini, dan diakui sesama adalah orang yang baik dan orang yang memiliki berkah. Jika segala perbuatan kita tidak mendapat pengakuan dan keyakinan dari orang-orang, maka meski memiliki status sosial yang tinggi, ketenaran, dan kekayaan, semua itu tidaklah berguna. Jadi, memiliki uang yang banyak belum tentu memiliki kebahagiaan. Belum tentu. Ada banyak orang yang gemar berbuat baik, tetapi kondisi hidupnya kurang baik dan banyak hal tak berjalan dengan lancar. Akan tetapi, mereka memperoleh keyakinan Akan tetapi, mereka memperoleh keyakinan dan pujian dari banyak orang. Banyak orang yang mendoakan mereka. Kini mereka sangat baik hati dan tidak berbuat kejahatan, tetapi banyak hal yang tak berjalan lancar. Akan tetapi, jika sanggup bertahan, maka karma buruk mereka akan terkikis. Selain itu, mereka juga menerima doa dari banyak orang karena mereka terus bersumbangsih. Berkah seperti ini sangat besar dan perlahan-lahan terpupuk. Karena itu, kita tahu bahwa orang ini pasti memperoleh buah kebahagiaan kelak. Kelak mereka pasti memiliki kehidupan yang baik. Meski kita tak dapat melihatnya pada kehidupan ini karena mungkin pada kehidupan ini mereka juga tidak dapat menikmati buah karma baiknya, tetapi kita sangat yakin kelak dia pasti memperoleh buah karma baik.
Pada kehidupan ini, dia memperoleh keyakinan Pada kehidupan ini, dia memperoleh keyakinan dan pujian dari banyak orang. Orang-orang juga sangat menghormatinya. Kehidupan seperti ini sangat bermakna. Jadi, kita sungguh harus berbuat baik. Sebaliknya, jika kita berbuat kejahatan, orang lain akan bertanya, “Mengapa orang ini begitu menikmati hidup?” “Mengapa orang ini hidup penuh berkah?” “Orang ini melakukan banyak kejahatan dan lain-lain.” Orang yang berbuat kejahatan akan dibenci dan dijauhi banyak orang. Orang lain tidak percaya dan yakin kepadanya. Bahkan ada orang yang berkata di belakangnya, “Jika orang itu memintamu melakukan sesuatu, kamu jangan ikut serta.” “Jika ikut serta, maka kamu akan celaka.” Orang seperti ini tidak dipercaya, bahkan dikutuk oleh orang. Dari ini terlihat betapa berbisanya mulut manusia. Saat seseorang tidak memperoleh keyakinan dan pengakuan, maka mereka akan dibenci dan dijauhi. Jika demikian, kita sudah tahu bahwa mereka pasti memperoleh buah keburukan kelak. Jadi, kita harus menjadi orang yang terpuji, bukan orang yang dikutuk dan dimarahi. bukan orang yang dikutuk dan dimarahi.
Ada penggalan Sutra berbunyi, Buddha tahu bahwa semua orang pernah menciptakan karma buruk di masa lalu. Karena itu, dengan bersusah payah, Buddha berulang kali datang ke dunia untuk membimbing semua makhluk. Buddha ingin membimbing semua makhluk agar terbebas dari lingkaran kelahiran dan kematian dan lautan nafsu keinginan yang dapat membuat kita terombang-ambing. yang dapat membuat kita terombang-ambing. Karena itu, Buddha sangat bersusah payah. Beliau selalu bolak-balik datang ke dunia demi menyelamatkan manusia dari kemelekatan noda batin yang bagaikan ombak tinggi. Buddha tahu bahwa semua orang pernah menciptakan karma buruk. Karena itu, Beliau terus datang ke dunia untuk membimbing semua makhluk. Penggalan Sutra itu berbunyi, “Berhubung di masa lalu kita menanam karma buruk ini.” Berhubung di masa lalu kita menanam karma buruk, Berhubung di masa lalu kita menanam karma buruk, maka kini para Buddha dan Bodhisattva terus datang ke dunia untuk membimbing kita secara perlahan-lahan, Dengan penuh cinta kasih dan kesabaran, Buddha perlahan-lahan membimbing kita untuk dekat dengan teman-teman yang baik. Buddha mengajarkan semua makhluk untuk mendekatkan diri dengan orang baik, jangan berteman dengan orang jahat. Sang penyelamat dalam hidup kita adalah orang-orang baik yang dapat membimbing kita untuk melakukan kebaikan. Inilah cinta kasih dan welas asih para Buddha dan Bodhisattva.
Mereka berharap kita dapat memilih orang baik. Mereka juga berharap setiap orang dapat bertobat atas masa lalu. Kita semua telah terlahir ke Dunia Saha. Benih karma membawa kita terlahir ke Dunia Saha. Buah karma kolektif membawa kita terlahir di zaman yang sama dan hidup di atas bumi yang sama. Setiap orang memiliki buah karma pendukung. Karena itulah, kita terlahir di zaman yang sama dan bersama-sama merasakan kemakmuran dan kemiskinan di zaman ini. Bersama-sama merasakan kondisi iklim yang bersahabat ataupun ekstrem di masa sekarang. Buah karma pendukunglah yang membawa kita terlahir di zaman sekarang. Karena itu, kita harus bertobat bersama-sama. Meski kehidupan di dunia ini penuh dengan penderitaan, tetapi juga terdapat banyak kebahagiaan. Kita hendaknya menyadari berkah sendiri. Memandang ke seluruh dunia ini, ada banyak orang yang hidup kekurangan dan menghadapi kelaparan. Karena itu, kita harus segera mengimbau orang-orang untuk mendekatkan diri dengan mitra yang baik, menjadi guru yang tak diundang bagi orang lain, dan menjadi teman yang memberi manfaat. Setiap orang hendaknya saling membimbing untuk mendalami prinsip kebenaran dan menapaki jalan kebajikan. Untuk itu, kita harus tekun dan bersemangat.
Saat buah karma buruk terpampang di hadapan, kita harus segera bertobat dan menerimanya dengan sukacita. Kita harus membangkitkan hati yang bertobat. Dahulu kita tidak bertemu karena tidak memiliki jalinan jodoh. Jalinan jodoh terdiri atas jodoh baik dan buruk. Saat bertemu dengan jalinan jodoh buruk, kita harus menerimanya dengan sukacita. Kita juga harus bertobat dengan hati yang tulus. Jika dapat demikian, maka kejahatan akan terkikis dan kebaikan akan bertumbuh. Jadi, kita harus sangat bersungguh hati. Dengan melakukan kebaikan, maka kita akan memperoleh berkah yang abadi. Ini adalah prinsip kebenaran yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Keharmonisan di dunia mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia. Kita harus tahu untuk membimbing sesama untuk berjalan ke arah yang bajik. Ini adalah misi kita. Kita harus mengetahuinya. Harap semua orang senantiasa bersungguh hati.