Sanubari Teduh-375-Delapan Sila Upavasatha
Saudara se-Dharma sekalian, mengalami kelahiran kembali di lima alam bagaikan jatuh ke dalam lumpur. Belenggu keinginan dan ketidaktahuan membawa kesesatan. Dalam kehidupan ini, kita sibuk di tengah lautan kelahiran kembali. Saya sering mengatakan kepada semua orang bahwa begitu terjerumus ke lima alam ini, kita akan sulit untuk membebaskan diri karena lautan ini membuat kita terombang-ambing tanpa akhir. Mengapa kita bisa terjatuh ke lima alam? Karena tidak memegang teguh sila. Sebelumnya kita terus membahas tentang sila, khususnya tentang pelanggaran berat. Jika kita tidak mendisiplinkan diri dengan sila, maka kita akan mudah terjerumus dan tersesat. Jadi, begitu terjerumus dalam kelahiran kembali di lima alam, maka butuh waktu lama untuk terbebas darinya. Ini bagai terperosok ke dalam lumpur. Sebelumnya kita juga sudah membahas tentang ini. Lumpur sangat lunak. Begitu kita menginjaknya, kita akan terus terperosok. Ini tidak sama dengan saat kita terjatuh ke dalam air yang bisa selamat dengan berenang ke tepian atau ditolong oleh orang yang melihat. atau ditolong oleh orang yang melihat. Lumpur berbeda. Jika kita terjatuh ke dalamnya, kita akan terus tenggelam dan tidak ada gunanya kita bergerak. Mengapa manusia bisa terus tenggelam? Mengapa manusia bisa terus tenggelam? Karena tidak mendengar Dharma. Jika lebih banyak mendengar Dharma, kita tahu banyak hal tak boleh dilanggar karena semua itu berisi jebakan. Kita harus mengingatkan diri sendiri. Jadi, kita harus mendengar Dharma.
Kita harus lebih banyak mendengar dan memahami Dharma agar dapat terbebas dari kebodohan, kesesatan, dan berbagai noda batin. Jadi, saat kita tidak memahami Dharma dan segala tindakan tidak sesuai prinsip kebenaran, maka kita bagaikan orang yang terperosok ke dalam lumpur. Orang lain juga tidak bisa menolong. Contohnya, keinginan duniawi membelenggu kita. Bayangkan, di dunia ini betapa banyak orang yang memiliki ketamakan. Begitu ketamakan bangkit, ia bagai seutas tali yang mengikat kita. Kita tidak berdaya membebaskan diri. Contohnya, ada orang yang terkenal dan memiliki kekayaan serta kedudukan. Namun, akibat tidak bisa menahan hawa nafsu, dia tidak bertanggung jawab pada anak istri dan malah memiliki simpanan. Ini adalah akibat ketamakan pada kecantikan. Ketamakan ini bagai tali yang mengikat seseorang. Keinginan telah membelenggu orang itu sehingga tak mampu melepaskan diri. Nafsu keinginan dan ketamakan ini bagai kepompong yang dibuat sendiri. Sampai kapan seekor serangga dapat keluar dari kepompong itu? Sungguh sulit. Ketidaktahuan membawa kesesatan. Inilah kondisi tiadanya kebijaksanaan. Orang seperti ini memiliki kebodohan yang tebal. Saudara sekalian, kita sudah mendengar tentang kebenaran, tetapi masih tetap terbelenggu. Ini karena kita tidak memiliki kebijaksanaan. Meski kita pandai, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, kebodohan akan lebih berat. Meski banyak orang menasihati, orang itu tidak kunjung sadar. Dia tidak menjaga sila dan tidak mendengar Dharma. Belenggu ketamakan terus mengikat dirinya.
Kebodohan terus menyiksa diri sendiri. Dengan begini, tak bisa bebas dari kelahiran kembali atau lumpur, belenggu, dan kebodohan. Ini karena dalam keseharian kita tidak menjaga sila. Penggalan ini sesungguhnya ditujukan bagi perumah tangga, tetapi lima atau kelompok sila ditujukan bagi para kaum monastik. Kini kita membahas sila bagi perumah tangga, yaitu delapan sila. Umat perumah tangga, ada yang menjalankan delapan sila. ada yang menjalankan delapan sila. Apa yang dimaksud delapan sila? Pertama, tidak membunuh. Kedua, tidak mengambil yang tidak diberikan. Ketiga, tidak melakukan hubungan seksual. Keempat, tidak berucap yang tidak benar. Kelima, tidak mengonsumsi zat memabukkan. Keenam, tidak memakai kosmetik, wewangian, dan tidak menikmati musik atau tarian. Ketujuh, tidak tidur di tempat yang mewah. Kedelapan, tidak makan di luar waktu yang ditentukan. Semuanya ini tidak dilanggar. Inilah yang disebut delapan sila. Delapan sila ini mencakup lima sila, yaitu tidak membunuh, tidak mencuri. Mengambil yang tidak diberikan berarti mencuri. Tidak melakukan hubungan seksual berarti tidak melakukan perbuatan asusila. Tidak bertutur kata tidak benar berarti tidak berdusta. Kelima adalah tidak minum zat memabukkan, termasuk segala jenis minuman keras atau alkohol yang dibuat dari bahan apa pun, termasuk dari buah-buahan, beras, dan lainnya.
Segala jenis minuman beralkohol dilarang. Inilah yang disebut lima sila. Sila keenam adalah tidak memakai kosmetik dan wewangian. Artinya adalah tidak bersolek. Umat perumah tangga diminta untuk tidak bersolek, terutama pada hari-hari menjalankan delapan sila. Di hari tersebut, umat juga harus bervegetaris dengan ketat. Dalam sebulan, ada enam hari Upavasatha. Di hari itu, umat tidak boleh bersolek, memakai wewangian, perhiasan, dan sebagainya. Pada enam hari Upavasatha setiap bulannya, umat tidak diperkenankan bersolek. Ini sesungguhnya ditujukan bagi batin kita. Batin kita harus memiliki ketulusan. Di masa lampau, ada seorang pedagang yang berlayar untuk mencari barang berharga, lalu mempersembahkan kayu gaharu kepada raja. Kayu gaharu sangat berharga dan harum. Raja ingin memberikan benda tersebut kepada Ratu Malika. Raja lalu memanggilnya. Mendapatkan benda itu merupakan suatu kebanggaan baginya. Ini berarti dia disayang oleh sang raja. Namun, kebetulan hari itu adalah hari Upavasatha. Dia adalah seorang umat Buddha yang taat dan sangat memegang teguh sila. Di hari itu, dia tidak bersolek, juga tidak memakai perhiasan. Dia tampil sederhana. Dia berkata, “Hari ini aku tidak bersolek, maka tidak dapat menemui Raja karena akan kurang sopan.” Namun, raja tetap ingin bertemu dengannya. Dirinya tetap memegang teguh sila. Raja sangat marah. Kemudian, raja pergi ke kediaman Ratu Malika. Melihatnya berpenampilan sederhana, raja bertanya, “Mengapa hari ini kamu tidak keluar saat aku panggil?” “Terlebih lagi, saat aku bertemu denganmu sekarang, penampilanmu begitu sederhana.” “Apakah dirimu kurang sehat?” “Bukan,” jawabnya. “Hari ini aku menjalankan sila Upavasatha.” “Untuk apa,” raja bertanya.
Ratu Malika berbagi ajaran Buddha kepada raja. “Meski ajaran itu masuk akal, tetapi bukankah kamu akan kehilangan kebebasan?” Raja tidak berharap dia menjalankan sila itu. Raja tidak berharap dia menjalankan sila itu. Ratu Malika dengan bijak berbagi Dharma kepada raja. Bagaimana pun raja menekan agar tetap menerima pemberian kayu gaharu, Ratu Malika tetap teguh. Dia bahkan bersedia untuk dihukum oleh raja. Dia tidak rela melanggar sila Upavasatha. Jadi, raja berkata, “Kalau begitu, aku akan menghukummu.” Saat itu Ratu Malika menghadap ke arah Buddha yang sedang berada di Taman Anathapindada. Ratu Malika menghadap arah taman itu dan merangkapkan kedua tangan untuk memohon kekuatan dari Buddha. Dia telah membuat raja marah. Raja telah tersinggung atas sikapnya. Namun, itu juga bukan kesalahan raja. Dia merasa itu adalah kesalahan dirinya. “Karena aku bersikeras memegang teguh sila, maka raja menciptakan karma buruk lewat mulut dan membangkitkan kemarahan dalam pikiran.” Ratu Malika memohon kemurahan hati Buddha. Raja telah melihat keteguhan Ratu Malika yang tidak bisa dirusak oleh apa pun. yang tidak bisa dirusak oleh apa pun. Keteguhannya dalam memegang sila membuat raja yang berada di sampingnya melihat dirinya berpenampilan sederhana dan lebih cantik daripada saat bersolek sehingga membangkitkan rasa hormat dari dalam hatinya. Rasa hormat dan sayang pun bangkit. Intinya, apakah perempuan harus bersolek? Tidak harus. Apakah mereka harus mengenakan perhiasan yang berkilauan? Apakah perlu? Seharusnya juga tidak perlu.
Kecantikan sesungguhnya adalah sikap anggun. Diri sendiri harus sangat anggun. Bersikap sebagai mana mestinya adalah keindahan sesungguhnya. Dengan begitu, baru bisa dihormati orang lain. Jadi, di dalam hari Upavasatha yang berjumlah enam hari dalam setahun, ada sila mengenai tidak bersolek dan memakai wewangian. Wewangian dikenakan pada tubuh, sedangkan bersolek berarti berdandan atau memakai riasan wajah. Inilah yang disebut bersolek. Ada pula memakai perhiasan. Ada pula memakai perhiasan. Di India, banyak bunga yang dijadikan perhiasan dan dikenakan pada tubuh. Pada enam hari Upavasatha setiap bulannya, Ratu Malika tidak mengenakan ini semua. Ratu Malika tidak mengenakan ini semua. Dia juga tidak bersolek ataupun menyaksikan hiburan, entah itu nyanyian ataupun tarian di dalam enam hari itu. Ini karena tempat hiburan dianggap dapat mencemari pikiran kita. Jadi, pada hari itu Ratu Malika tidak pergi ke tempat pertunjukan hiburan. Yang ketujuh adalah tidak tidur di tempat mewah. Tempat tidur juga tidak perlu mewah, besar, tinggi, luas, atau dihiasi banyak ornamen. Seperti orang zaman sekarang, ada orang yang bisa tidur hanya beralaskan papan. Lihatlah para warga kurang mampu, mereka hanya membentangkan alas di tanah menggunakan alas bambu atau alas kayu. Mungkin alas itu pun sudah rusak. Satu tempat tidur mungkin digunakan oleh satu keluarga. Banyak orang yang mengalami hal ini. Namun, ada pula orang yang harus tidur di tempat tidur besar sendirian. Selain itu, bahan bakunya juga harus pilihan.
Ada tempat tidur yang bernilai ribuan dolar. Ada yang berharga puluhan ribu dolar. Ada pula yang berharga jutaan dolar. Apakah perlu? Tidak perlu. Bayangkan, begitu banyak orang yang menderita. Banyak orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Orang yang kehilangan tempat tinggal juga banyak. Mengapa kita harus begitu mempermasalahkan tempat tidur hingga harus memilih yang berharga puluhan, ratusan, hingga jutaan dolar? Bukankah uang itu bisa digunakan untuk membantu banyak orang? Jadi, kita harus mengembangkan welas asih kita. Kita juga harus membangkitkan kebijaksanaan agar tidak tenggelam ke dalam kehidupan sesat yang hanya mengejar kenikmatan dan kesenangan atau hanya memikirkan diri sendiri sehingga menghamburkan banyak uang. Tiga sila ini ditambah lima sila harus dipegang teguh pada enam hari Upavasatha setiap bulannya. Tidak makan di luar waktu yang ditentukan, itulah yang disebut “zhai”. Biasanya orang-orang tidak makan setelah tengah hari. Di zaman Buddha, para bhiksu tidak makan setelah tengah hari karena mereka harus mengumpulkan persembahan makanan. Kadang, desa berjarak jauh dari vihara. Kadang, desa berjarak jauh dari vihara. Setiap hari, sekali mengumpulkan makanan, dibutuhkan banyak waktu. Terutama di India, cuaca sangat panas. Jadi, demi kehidupan yang sederhana, Buddha menetapkan para anggota Sangha untuk hanya makan sekali dalam sehari. Meski berangkat di pagi hari, setibanya di desa sudah menjelang siang. Sudah hampir tiba waktunya untuk makan siang. Sudah hampir tiba waktunya untuk makan siang.
Sepulangnya dari makan siang di desa sekitar, di desa sekitar, tiba di vihara mungkin sudah lewat tengah hari. tiba di vihara mungkin sudah lewat tengah hari. Ini bergantung pada seberapa jauh jarak vihara dari desa. Jika agak dekat, mereka akan membawa makanan pulang dan makan di vihara. Bagaimana pun, mereka hanya makan sekali dalam sehari. Meski ini adalah aturan untuk anggota Sangha, tetapi perumah tangga juga diharapkan melatih hal ini enam hari dalam sebulan. melatih hal ini enam hari dalam sebulan. Dengan pelatihan ini, diharapkan kita semua dalam enam hari sebulan ini dapat merasakan bahwa dalam mempelajari ajaran Buddha, umat perumah tangga bukan semata-mata cukup menjalankan lima sila. cukup menjalankan lima sila. Kadang kita juga harus merasakan pemurnian fisik dan batin seperti anggota Sangha. Umat perumah tangga ada yang keluarganya sangat berada. Mereka bisa menikmati hidup setiap hari, tetapi dalam enam hari itu, tepatnya pada tanggal 8, 14, dan 15 pada setengah bulan pertama serta tanggal 23, 29, dan 30 pada setengah bulan kedua, pada setengah bulan kedua, pada setengah bulan kedua, mereka dapat berlatih menjalankan delapan sila. Meski memiliki tempat tidur yang mewah, di hari-hari itu mereka harus hidup sederhana di hari-hari itu mereka harus hidup sederhana dan tidak mencari kenikmatan. Mereka harus berlatih untuk tetap tidur dengan aman dan tenang. Dalam enam hari tersebut, mereka harus berlatih untuk tidak menyaksikan hiburan.
Di masa lalu, umat perumah tangga yang sedikit berada gemar melihat pertunjukan dan mengundang pemain musik. Di dalam enam hari ini mereka tak melakukan itu. Mereka tidak menikmati nyanyian dan tarian. Begitulah umat perumah tangga. Begitu pula bagi perempuan. Perempuan gemar berpenampilan cantik. Ini juga termasuk sejenis ketamakan. Mereka bersolek, memakai pemerah bibir, dan mengenakan perhiasan. dan mengenakan perhiasan. Inilah ketamakan perempuan. Jadi, Buddha berharap para umat perumah tangga juga dapat merasakan hidup murni dan sederhana layaknya anggota Sangha minimal enam hari dalam sebulan. Inilah yang disebut dengan Upavasatha. Dengan demikian, kita perlahan semakin dekat dengan jalan benar dan jalan mulia. Saudara sekalian, praktisi Buddhis terbagi menjadi perumah tangga dan anggota Sangha. Mengenai lima atau tujuh kelompok sila, ini merupakan sila bagi anggota Sangha. Kita bisa membacanya di dalam kitab Vinaya. Praktisi Buddhis tidak boleh meninggalkan sila demi mengembangkan batin kita. Dengan memiliki tubuh dan batin yang murni, barulah kita bisa benar-benar terbebas dari kelahiran kembali di lima alam dan tidak akan terjerumus ke dalam lumpur atau terjerat oleh belenggu. Dengan begitu, kebodohan batin kita tidak akan terus terpupuk dari hari ke hari hingga semakin lama semakin tebal. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.