Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-376-Menerapkan Sila sebagai Kebiasaan

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus selalu bertutur kata yang baik. Dengan begitu, orang lain akan menghormati kita. Kita juga harus melakukan perbuatan baik agar terbebas dari segala rintangan. Jika kita dapat senantiasa berpikiran baik, maka kita akan bisa menghadapi segala sesuatu dan manusia dengan harmonis. Kita hendaknya dapat menggenggam saat ini untuk mengembangkan tiga kebaikan. Tiga kebaikan adalah bertutur kata baik, melakukan perbuatan baik, dan berpikiran baik. Inilah tiga kebaikan. Kita harus menggenggam waktu saat ini untuk segera bertutur kata yang baik. Adakalanya, saat orang berhadapan dengan kita, mendengar sepatah ucapan sederhana dari kita, dia mungkin sudah dapat merasakan suatu inspirasi di dalam hatinya dan bisa menerapkannya ke dalam tindakan. Ini berarti kita telah membimbing orang. Ini yang disebut menggenggam saat ini. Begitu pula dalam berbuat baik. Jika jalinan jodoh atau kesempatan terlewati, maka tidak mudah untuk berbuat baik. Kita harus selalu mengembangkan pikiran baik. Jika kita dapat selalu memupuk pikiran dan niat yang baik, maka kita akan dapat selalu bertutur kata baik dan melakukan perbuatan baik. Sesungguhnya, ini harus dipupuk setiap hari. Sebelumnya kita sudah membahas, dalam enam hari sebulan, umat menjalankan delapan sila Upavasatha. Enam hari ini disebut hari Upavasatha. Sila-sila itu tidak boleh dilanggar. Kita harus memegang teguh sila ini dan menjaga kemurnian tubuh serta pikiran. Dalam waktu satu hari, kemurnian harus dijaga, bahkan begitu pula dalam hal makan. Kita hanya boleh makan sehari sekali. Ini yang disebut Upavasatha.

Selain memegang teguh lima sila yang umum, Selain memegang teguh lima sila yang umum, di hari itu umat juga harus sangat sederhana. Bukan hanya pikiran harus murni, terutama bagi perempuan yang gemar bersolek dan mengenakan perhiasan, pada hari itu semuanya harus ditinggalkan. Pada hari itu umat juga tidak menari atau mendengar hiburan. Biasanya, umat menikmati hiburan di rumah, tetapi di hari itu, umat tak boleh menikmati hiburan. Ini yang berlaku di zaman Buddha. Orang berada pada masa itu gemar mengundang kelompok penari. Buddha berharap para umat dapat merasakan sejenak kemurnian tubuh dan batin pada hari itu agar mereka dapat memahami kedamaian. Inilah yang disebut Upavasatha. Pada hari-hari biasa, kita telah menjaga tutur kata sehingga dengan demikian, orang-orang menghormati kita. Tidak perlu ditentukan di hari apa kita menjalankan ini. Kita harus menjalankannya setiap hari dan setiap saat. Dengan begitu, bukankah ucapan kita selalu baik dan kita dapat selalu berbuat baik? Setiap hari kita tengah berbuat baik dan tidak meninggalkan aturan. Selain itu, tindakan kita juga selalu baik. Jika pikiran kita dapat selalu dijaga kemurniannya, maka tubuh dan batin akan murni. Bukankah ini berarti menjalankan sila Upavasatha? Ini harus dikembangkan setiap saat, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Buddha hanya membuka sebuah metode terampil. Barangkali ini merupakan metode terampil yang digunakan oleh para sesepuh zaman dulu untuk membimbing umat yang tidak bisa melatih diri setiap hari.

Paling tidak mereka memiliki waktu berlatih enam hari dalam sebulan. Inilah metode terampil. Sesungguhnya, yang lebih sederhana adalah setiap saat menjaga kemurnian tubuh, ucapan, dan pikiran. Ini adalah kewajiban kita dalam melatih diri. Sebelumnya kita membahas tentang pelanggaran sila. Setiap orang sepertinya berpotensi melanggar sila. Namun, asalkan kita dapat menjaga kemurnian pintu karma kita dan senantiasa menjaga tindak tanduk kita dalam keseharian, maka kita tidak perlu memikirkan sila. Kita menjalankan sila secara alami tanpa rasa waswas. Inilah sila yang sejati. Sama halnya, saat kita membahas tentang kesabaran, adakalanya kita hanya menahan emosi. Karena adanya rasa benci, maka perlu ditahan. Jika kita dapat berlatih hingga bebas dari kebencian, maka apa masih perlu kita menahan sabar? Manusia emang berpotensi melakukan pelanggaran. Jadi, kita harus melakukan pencegahan dengan sila. Kita harus berlatih hingga tidak melakukan pelanggaran. Untuk bisa mencapai kondisi tersebut, kita harus sungguh-sungguh memperbaiki tabiat buruk. Dalam berbicara, ucapan kita harus berisi kebaikan. Ini juga merupakan kebiasaan. Ini lebih baik daripada orang yang selalu menyebut “Amitabha”. Saat jatuh tersandung batu, dia juga berseru, “Amitabha.” Dengan demikian, “Amitabha” sudah menjadi ucapan kosong belaka. Dia selalu mengingat dan mengucapkannya. Ada pula orang yang memiliki kebiasaan lain.

Saat berbicara tidak sampai tiga kalimat, dia berkata, “Benar, ‘kan?” “Benar tidak?” Begitu mulai berucap, dia sudah bertanya, “Benar tidak?” Kata-kata ini sesungguhnya tidak ada hubungan dengan pembicaraannya. Orang-orang menasihatinya agar tidak berbicara sepotong-sepotong, lalu berkata, “Benar tidak?” “Benar, benar.” “Tidak, tidak.” “Benar” dan “tidak” ini adalah kebiasaan dalam ucapan. Kita harus berbicara dengan jelas, bahkan setiap kalimat harus bagai permata, bahkan setiap kalimat harus bagai permata, tiada kata-kata yang kosong atau sia-sia. Dengan begitu, barulah setiap ucapan kita dapat bermanfaat dan membahagiakan orang lain. Ini yang disebut perkataan yang baik. Perkataan baik ini harus selalu kita kembangkan. Jika kita dapat mengembangkan kebiasaan baik dalam bertutur kata serta dapat mengembangkan kebiasaan untuk membantu saat orang lain mengalami kesulitan, maka kebiasaan-kebiasaan seperti ini disebut kebaikan. Tidak perlu menunggu waktu-waktu tertentu untuk mengeluarkan uang guna membantu orang. Menyumbangkan uang adalah kebaikan. Namun, di antara rekan se-Dharma yang hidup dalam satu atap, saat orang lain membawa beban yang berat dan sulit untuk mengangkatnya dan kita hanya membawa beban yang ringan, maka kita dapat menggunakan sebelah tangan untuk membantunya meringankan beban dan berjalan bersama-sama. Ini juga merupakan kebaikan. Jadi, kita dapat memupuk kebiasaan ini. Kita tidak tega melihat orang lain kesusahan. Kita berusaha segera meringankan beban mereka. Ini adalah cara mengembangkan kesabaran.

Kita menjadi terbiasa bersabar tanpa merasa sedang bersabar. Kita kadang merasa tidak tega. “Aduh, mengapa kamu tega membiarkannya sendiri membawa beban yang berat?” “Lihat, dia sampai menyeret barang-barangnya.” “Bagaimana bisa kamu tega?” Ini karena cinta kasih tidak dibangkitkan. Saat melihat orang lain kesusahan, kita tetap bersantai-santai tanpa membantu. Tangan kita menjadi tidak berguna. Kita harus mengerahkan potensi kita untuk meringankan kesulitan mereka. Inilah yang disebut tidak sampai hati. Kita hendaknya dapat menjadikan kesabaran sebagai sebuah kebiasaan. Menjalankan sila tanpa merasa terpaksa juga merupakan kebiasaan. Dalam hal ini, kita bukan hanya mampu segera berbuat baik, melainkan saat melihat hal buruk, kita juga tidak merasa ingin melakukannya. Berbagai hal buruk terjadi akibat timbulnya ketamakan. Jika di dalam hati kita tiada lagi ketamakan, maka seberapa pun besarnya penggoda nafsu yang terpampang di hadapan kita, pikiran kita tetap tak akan bergejolak. Kita secara alami tak akan melanggar sila. Ini juga berarti kita telah melatih batin kita hingga tak terpengaruh kondisi luar. Dengan demikian, batin kita akan senantiasa damai dan tenang. Jadi, kita menjalankan sila secara alami. Jadi, dalam sebulan kita bukan hanya menjalankan delapan sila untuk enam hari. Kita hendaknya setiap menit, setiap detik, setiap jam, setiap hari, dan setiap bulan senantiasa menjalankan sila. Selain delapan sila Upavasatha, berikutnya adalah sila Bodhisattva.

Mengenai sila Bodhisattva, “Tidak dijaga kemurniannya, menciptakan karma melanggar ajaran Buddha; menyalahgunakan metode terampil, menciptakan karma pencemaran kehidupan suci.” Sila Upavasatha dan sila Bodhisattva berkaitan erat. Kita bukan hanya mengucapkannya saja atau menjalankannya dalam enam hari sebulan. Tidak hanya itu. Kita harus selalu menjaga kemurnian. Karena itu, di sini dikatakan, “Sila Bodhisattva tidak dijaga kemurniannya…” Sila Bodhisattva harus dijaga setiap saat, setiap hari, setiap bulan. Sila ini harus kita jaga setiap waktu. Jika kemurnian sila tidak dapat dijaga, berarti kita tidak menjalankan yang kita bahas tadi. Ada orang yang sangat pandai menjelaskan sila dan membabarkan Sutra. Dia sangat pandai berbicara tentang prinsip kebenaran, tetapi selain berbicara, dapatkah dia menjalankannya? Jika tidak dapat menjaga kemurnian sila dan berlatih sesuai ajaran, maka dia hanya tahu konsep metode terampil. maka dia hanya tahu konsep metode terampil. Suatu ketika, relawan dari Amerika Serikat berkata kepada saya, “Di Las Vegas ada sebuah kasino.” “Kasino tersebut berada di dalam sebuah hotel.” “Di dalam kasino tersebut, orang-orang dari seluruh dunia datang untuk mencari hiburan.

Suatu ketika, ada seorang warga AS yang mengetahui bahwa insan Tzu Chi harus menjaga tata krama dan selalu berbuat baik. Namun, bagaimana bisa berada di dalam hotel itu? Relawan ini adalah anggota komite dan mengenakan seragam Tzu Chi. Mereka berjalan-jalan di dalam hotel tersebut. Mereka berjumlah tiga sampai lima orang. Warga setempat yang melihat mereka sangat risau. Karena itu, sekembalinya ke California, dia mencari tahu, “Bukankah relawan Tzu Chi harus menjaga sila?” “Benar, kami memiliki sepuluh sila.” “Bukankah di dalam sepuluh sila Tzu Chi ada sila tentang tidak berjudi?” Relawan kita menjawab, “Benar, kami tidak berjudi, juga tidak boleh berspekulasi, bahkan tidak boleh bermain saham.” Dia bertanya, “Benarkah?” “Saya jelas-jelas melihat tiga sampai lima relawan Tzu Chi berkeliaran di kasino.” berkeliaran di kasino.” Saat sekelompok relawan Tzu Chi dari AS mengadakan rapat dengan saya di Taiwan, mengadakan rapat dengan saya di Taiwan, salah satu relawan menceritakan kisah ini. Lalu, relawan lain dalam kelompok itu berkata, “Orang yang kamu ceritakan adalah kami.” Saya lalu bertanya, “Mengapa kalian bisa sampai ke tempat itu?” Dia menjawab, “Kami sedang mendampingi relawan dari Phoenix mengunjungi sebuah kasus.” “Saat itu kami tidak menemukan tempat tinggal sehingga harus menginap di hotel.” sehingga harus menginap di hotel.” “Kami tidak berkeliaran di arena judi.” Saya berkata, “Insan Tzu Chi harus berhati-hati saat keluar.” “Jangan pergi ke tempat yang tidak seharusnya.” Lalu, ada orang lain berkata, “Kak, caramu tidak benar.” “Saya juga pernah menginap di hotel itu.” “Namun, jika menginap di sana, saya berpakaian seperti orang pada umumnya.” “Saya juga berpakaian dengan cantik dan mengenakan perhiasan.” “Orang-orang hanya akan melihat saya sebentar dan menganggukkan kepala.” “Saya pun menyapa mereka.” “Tiada yang mengadu saya pergi ke kasino.” Saya bertanya, “Kamu berpakaian secantik apa?” Orang di sebelah saya berkata, “Master, tidak tahukah Anda?” “Caranya berpakaian sehari-hari seperti yang Anda bilang, mirip pohon natal.”

Saudara sekalian, apa yang dimaksud “pohon natal”? Tahukah kalian, artinya adalah mengenakan banyak perhiasan. Ini disebut metode terampil. Namun, apakah metode ini baik? Tadi kita sudah membahas bahwa di hari Upavasatha tidak diizinkan memakai perhiasan. Lalu, apakah sila ini dipegang hanya enam hari sebulan? Dalam praktik Bodhisattva yang sesungguhnya, kita harus menjaga kemurnian tubuh dan batin. Meski tidak mengenakan pakaian seragam Tzu Chi, kita tetap harus tampil bersih, bukan berarti seenaknya menggerai rambut atau mengenakan banyak perhiasan untuk memamerkan status diri sendiri. Ini terlalu duniawi. Sikap seperti ini disebut menyalahgunakan metode terampil. Ini yang disebut tidak menjaga kemurnian dan melanggar ajaran. Kita tidak boleh melakukannya. Di dalam kehidupan sehari-hari, bukankah saya sering berkata bahwa kita hendaknya memiliki Buddha di dalam hati, memiliki Dharma di dalam perbuatan, dan selalu berada dalam Samadhi sesuai Dharma? Ini adalah tahapan bagi insan Tzu Chi. Ini adalah tahapan bagi insan Tzu Chi. Di dalam tahapan ini, saya ingin mengatakan bahwa hati kita hendaknya tidak meninggalkan Buddha, perbuatan kita tidak meninggalkan Dharma, dan tidak meninggalkan Samadhi dalam Dharma.” Ini bertujuan untuk meneguhkan pikiran kita. Jadi, kita harus selalu berlatih sesuai ajaran, jangan menciptakan karma melanggar ajaran atau menyalahgunakan metode terampil. Jangan berkata, “Ini adalah metode terampil,” lalu dengan alasan itu kita boleh sembrono. Kita yang berlatih di dalam ajaran Buddha setiap saat tidak boleh lengah. Jika lengah dengan alasan metode terampil, kita akan mencemari kehidupan suci. kita akan mencemari kehidupan suci. Kehidupan suci atau Brahmacarya adalah kemurnian.

Sikap lengah akan mencemari kemurnian kita. Kata-kata ini kelihatannya sederhana. Namun, sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari kita harus sangat waspada. Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus menjalankan Bodhisattva sila dan tidak melanggarnya. Kita harus bertekad sejak awal untuk setiap saat dan setiap hari dan setiap hari tidak membuat pelanggaran, bukan hanya di enam hari Upavasatha per bulannya. bukan hanya di enam hari Upavasatha per bulannya. Kita tidak boleh melanggar sila setiap saat. Jangan menjadikan metode terampil sebagai alasan. Jangan menjadikan metode terampil sebagai alasan. Kita harus memegang teguh sila. Jika kita melanggarnya, berarti perbuatan kita sudah tidak murni. Ini berarti kita telah merusak kehidupan suci. Berikutnya dikatakan, “Tidak menjalankan enam hari Upavasatha per bulan, menciptakan karma kemalasan; tidak menjalankan tiga Upavasatha panjang per tahun, menciptakan karma inkonsistensi;  tidak menjalankan tiga ribu peraturan, menciptakan karma melanggar Dharma. Enam hari Upavasatha juga dibahas di dalam Sutra Ksitigarbha. Ini ditujukan bagi orang yang tidak berniat berlatih dalam keseharian. Karena itu, dianjurkan untuk menjaga sila dalam enam hari per bulan. Ya, mungkin enam hari terasa lebih mudah. Bervegetaris sangat sulit, tetapi enam hari sebulan mungkin masih sanggup. Ini ditujukan bagi orang yang kurang bersemangat agar dapat membangkitkan tekad awal. Namun, selain pada enam hari Upavasatha, orang-orang ini malas dan lengah. Ini yang disebut karma kemalasan.

Tiga periode Upavasatha panjang per tahun juga ditujukan bagi orang yang tidak melatih diri. Kita dapat mengimbau mereka bahwa setelah mencoba enam hari dalam sebulan, mereka dapat kembali maju selangkah, yaitu menjadi tiga bulan dalam setahun, tepatnya pada bulan pertama, kelima, dan kesembilan. Dalam setahun, pada bulan-bulan ini, mereka diimbau untuk bervegetaris. Inilah yang disebut tiga Upavasatha panjang per tahun. Inilah yang disebut tiga Upavasatha panjang per tahun. Secara total, panjangnya adalah tiga bulan per tahun. Namun, ini belum termasuk konsisten. Kita harus menjalankan sila 365 hari per tahun atau dalam 12 bulan per tahun. Masa, kita hanya sanggup tiga bulan? Setelah menjalankannya, ada orang berpikir, “Saya sudah berpantang selama sebulan.” Setelah itu, apa yang dia lakukan? Kembali membayar kerinduan untuk makan daging sehingga membunuh makhluk lain. Dia malah terus makan daging. Apakah ini benar? Tidak. Jadi, apakah kita harus makan ikan dan daging? Jadi, apakah kita harus makan ikan dan daging? Ini adalah sikap yang lengah sehingga diri sendiri bergaya hidup mewah dan tidak menaati sila. Apakah kita harus seperti itu? Lihatlah, kita semua bervegetaris. Bukankah semua orang di sini tetap sehat dan merasa tenang? Kebijaksanaan pun semakin cemerlang. Bukankah ini sangat baik? Intinya, Enam hari atau tiga periode panjang Upavasatha ditujukan bagi orang-orang yang malas atau tidak berniat untuk terus melatih diri. Ini adalah metode terampil. Namun, ini tidak berkesinambungan. Karena itu, kita tetap harus setiap saat, setiap detik, setiap menit, tidak meninggalkan sila agar semakin dekat dengan jalan mulia. Ini paling menjamin pertumbuhan jiwa kebijaksanaan. Baik tubuh, ucapan, dan pikiran hendaknya senantiasa kita jaga kemurniannya. Untuk itu, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment