Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-377-Waspada dalam Ucapan dan Tindakan

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, hati kita harus lapang. Hati yang lapang bagai langit yang tak bertepi. Kita harus berlapang dada, bagai bumi yang menyokong segala sesuatu. Kita juga harus memegang teguh ketulusan, sehingga tiada yang tidak bisa kita rangkul. Ini yang dahulu sering kita bahas. Kita harus merangkul segala sesuatu di dunia dengan hati yang lapang. Dengan demikian, barulah kita benar-benar memiliki cinta kasih. Dengan membangkitkan cinta kasih, barulah kita bisa melindungi semua makhluk. Jadi, kita harus memupuk kelapangan hati. Dikatakan bahwa hati kita harus bisa merangkul seluruh alam semesta. Hati kita harus lapang hingga bagaikan alam semesta. Di mana ada pasir atau atom, hati kita dapat melingkupinya. Hati yang lapang tidak memiliki batas. Bukan hanya mengasihi semua makhluk, kita juga bersyukur atas segalanya. Seperti kita yang tumbuh di bumi ini, kita perlu bertahan hidup. Kita tak bisa hidup tanpa gunung, sungai , dan alam. Dari manakah air berasal? Dari manakah tanaman pangan tumbuh? Saat cuaca panas, kita membutuhkan pepohonan yang mengisap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang menyegarkan alam dan membuat semua orang dapat hidup sehat. Jadi, terhadap tanaman di alam saja, kita harus tahu bersyukur. Jadi, dari rasa syukur, berkembang menjadi kelapangan hati. Kita harus menyayangi segala sesuatu di dunia. Untuk itu, hati kita harus sangat lapang, seperti bumi yang dapat menopang segalanya. Inilah kelapangan hati. Yang terpenting, kita harus memegang teguh ketulusan dan kebenaran.

Setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Hakikat kebuddhaan ini sangat murni. Tiada sesuatu pun yang tidak diliputi oleh kecemerlangan dari kebijaksanaan murni ini. Kita harus merangkul segala sesuatu di dunia tanpa terkecuali. Hal yang terkecil sekalipun, bahkan debu ataupun atom. Jadi, jangan meremehkan hal-hal kecil. Jadi, jangan meremehkan hal-hal kecil. Di dalam ajaran Buddha diumpamakan bahwa sebutir debu melingkupi satu dunia. Jadi, kita tetap harus menganggapnya sebagai hal yang besar karena butiran debu dapat membentuk tanah. Jika dihimpun, dapat menjadi hamparan luas. Hamparan tanah dapat menumbuhkan segala sesuatu. Jadi, cinta kasih dan ketulusan kita harus menjangkau semuanya. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa semua makhluk bersikap gegabah dan mudah melanggar sila. Karena itu, Buddha membuka metode terampil. Baik delapan sila, enam hari Upavasatha, maupun tiga Upavasatha panjang, semuanya merupakan metode terampil agar kita paham bahwa dalam sebulan, paling tidak kita ada menjalankan sila selama enam hari karena dalam enam hari ini, para dewa turun dari surga untuk melihat kebajikan dan kejahatan semua makhluk. Karena itu, dalam enam hari ini kita diimbau untuk menjaga sila dan melakukan sedikit kebajikan. Paling tidak, kita tidak melakukan kejahatan. Jadi, jika kita tak bisa setiap hari menjalankannya, paling tidak dalam sebulan kita menjalankannya dalam enam hari. Jika kita tak bisa menjalankan Upavasatha terus-menerus, paling tidak dalam setahun kita menjalankannya selama tiga bulan. Ini disebut tiga periode Upavasatha panjang. Jika ini saja tak sanggup dilakukan, maka inilah ketidakkonsistenan.

Berhubung kita tidak konsisten, maka dibukalah metode tiga Upavasatha panjang. Berhubung kita kerap malas dan lengah, maka dibukalah metode enam hari Upavasatha. Jika enam hari dalam sebulan atau tiga periode dalam setahun tidak dapat kita jalankan, maka kita tak akan dapat menjalankan tiga ribu peraturan. Jadi kita harus melapangkan hati kita, bertekad, dan membangun ikrar. Untuk bisa mengasihi semua makhluk di dunia, kita harus menjaga sila setiap hari. Hati kita harus sangat halus hingga mampu meresap ke dalam segala sesuatu. Jangan meremehkan setiap hal. Jangan karena ada metode terampil, lalu kita menjadi sembrono. Jadi, meski sesuatu hal sangat halus, kita tetap harus memperhatikannya. Berikutnya dikatakan, “Melanggar 80 ribu peraturan, menciptakan karma halus; tidak menjaga sila tubuh, menciptakan karma merusak kebijaksanaan batin.” Sebelumnya kita sudah membahas tiga ribu peraturan. Jadi, berikutnya, bukan hanya dibahas tiga ribu peraturan, tetapi ada 80 ribu peraturan. Berbagai karma yang halus ini dapat kita langgar.

Saya terus berkata kepada semua orang bahwa kita harus selalu ingat untuk memiliki Buddha di dalam hati dan Dharma di dalam tindakan. Dengan begitu, barulah kita bisa menjaga sila dan tata krama yang berkaitan dengan karma tubuh. Jika tak dapat menjalankan ini, kita akan mudah melanggar sila. Baik empat pelanggaran berat, delapan pelanggaran berat, maupun lima sila, kita akan mudah melanggarnya. Jadi, di dalam hati harus ada Buddha dan di dalam perbuatan ada Dharma. Di dalam Dharma, kita berada dalam Samadhi. Dengan begitu, barulah kita tak akan melanggar sila yang berkaitan dengan tubuh. Dengan begitu, barulah kita tak akan kehilangan kebijaksanaan batin. Jiwa kebijaksanaan yang kita miliki dalam batin tidak akan rusak. Jadi, dalam melatih diri, kita harus ingat bahwa hari demi hari terus berlalu. Kita bagaikan ikan yang kekurangan air. Ikan hidup di air. Tanpa air, ikan akan mati. Tubuh fisik kita hidup di dalam ruang dan terus bermetabolisme siang dan malam, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun. Kita melewati hari demi hari, tahun demi tahun. Usia fisik kita bagai ikan kekurangan air. Usia kita semakin lama semakin pendek. Jadi, kita hendaknya memanfaatkan waktu yang ada. Meski usia semakin lama semakin pendek, tetapi kita berharap jiwa kebijaksanaan kita semakin lama semakin berkembang. Jadi, kita harus menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Kita harus mulai dari perbuatan kita. Tubuh kita harus dilatih. Jika tidak, jiwa kebijaksanaan tak akan tumbuh. Ini  bukan hanya akan menambah karma buruk, Ini  bukan hanya akan menambah karma buruk, tetapi juga menggerus jiwa kebijaksanaan kita seiring berkurangnya usia. Lalu bagaimana? Akibatnya, kira memupuk karma buruk semakin tebal. Jadi, jika kita dapat menjalankan sila, maka itulah yang terbaik.

Sebelumnya kita membahas empat dan delapan pelanggaran, lima sila, delapan sila, enam hari Upavasatha, serta tiga periode Upavasatha panjang. Semua ini adalah metode terampil bagi kita untuk berlatih. Jika kita dapat mempertahankannya lebih lama, maka itu lebih baik. Ini yang disebut sila lengkap. Jika dalam jangka panjang kita senantiasa menjaga sila kita senantiasa menjaga sila dan menjalankan Upavasatha serta dengan lengkap memegang lima atau delapan sila dalam keseharian, maka ini sangatlah baik. Sebelumnya kita sudah membahas delapan sila. Dalam keseharian kita harus hemat. Bisa hidup hemat adalah sikap terpuji. Kita tidak boleh bergaya hidup mewah atau boros. Di dalam kehidupan sehari-hari, berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring disebut empat tata krama. Dalam segi transportasi, yang terpenting kita dapat menjangkau tempat yang jauh. Kita tidak perlu memiliki mobil mewah. Saat suatu tempat bisa dijangkau dengan berjalan, maka kita cukup berjalan kaki. Ini sudah cukup. Kita juga belum tentu perlu mengendarai sepeda motor atau mengemudi mobil. Tidak perlu. Kita bisa menggunakan kendaraan umum. Semua ini bisa kita lakukan. Bahkan, dalam berjalan, kita juga harus memiliki tata krama. Saat berjalan, mata harus melihat ke depan, tidak jelalatan ke kanan dan kiri. Kita berjalan dengan penuh tata krama. Karena Bhiksu Asvajit berjalan dengan anggun, maka saat Sariputra melihatnya, timbul rasa sukacita di dalam hatinya dan segera memberi hormat, lalu bertanya kepada bhiksu ini siapakah gurunya dan metode apa yang dia latih. “Mengapa Anda begitu bertata krama?” “Bahkan, saat berjalan pun terlihat anggun.” Bhiksu Asvajit lalu memperkenalkan diri, “Guruku adalah seorang Sramana Agung.” “Yang Beliau ajarkan adalah Beberapa kalimat ini sangat sederhana.

Sariputra adalah orang yang bijaksana. Bergitu mendengarnya, dia langsung bisa menyerapnya ke dalam hati dan merasakan sukacita. Dia merasa ajaran ini sangat baik Orang yang mampu mengajarkan ini pastilah seorang yang luar biasa. pastilah seorang yang luar biasa. Sariputra pernah berjanji dengan Maudgalyayana bahwa siapa yang bisa mendapat ajaran terbaik harus memberi tahu yang lainnya agar mereka dapat berlatih bersama. Jadi, Sariputra segera menemui Maudgalyayana dan menceritakan keanggunan Asvajit serta kata-kata yang dia sampaikan yang dapat meresap ke dalam hati. Dia berbagi sukacitanya kepada Maudgalyayana. Maudgalyayana sangat gembira mendengarnya. Orang yang bisa mengambil hati Sariputra tentu luar biasa. Jadi, dia dan Sariputra bersama-sama membawa lima ratus orang murid untuk berlatih di tempat Buddha dan memohon ajaran kepada Buddha. dan memohon ajaran kepada Buddha. Sejak saat itu mereka menjadi murid Buddha. Dua di antara sepuluh murid utama Buddha adalah mereka yang tergugah melihat keanggunan Bhiksu Asvajit. Jadi, dalam tindak tanduk, bahkan dalam berjalan harus bersungguh hati. Saat berjalan sepenuh hati, kita harus berhati-hati, tidak boleh sembrono. Berjalan pun harus memiliki tata krama. Berdiam berkaitan dengan tempat tinggal. Berdiam berkaitan dengan tempat tinggal. Tinggal di mana pun, hendaknya tempat itu sederhana dan bersih. Begitu pula dalam hal duduk. Saat duduk kita juga harus bertata krama. Saat duduk dan berbaring, sikap harus tetap baik. Janganlah kita setengah duduk setengah berbaring, terlebih lagi mengangkat kaki. Ini bukanlah sikap yang benar. Saya sering mengingatkan para anggota Tzu Cheng dan komite Tzu Chi, saat belum bergabung, mereka harus mengikuti pelatihan.

Tata krama harus mereka pelajari. Anggota Tzu Cheng sangat bertata krama di luar, tetapi saat pulang ke rumah dengan tubuh lelah, mereka mungkin merebahkan badan di sofa dengan kaki terangkat ke meja. Anak mereka pun berkata, “Ayah, mata Kakek Guru ada di dinding.” Saat sang ayah mendengar itu, dia langsung duduk tegak dan menurunkan kaki seraya beranjali untuk berterima kasih kepada anaknya. Lihatlah, di dalam keluarga, mereka saling membimbing. Jika diri sendiri ada sedikit lengah, anggota keluarga bisa mengingatkan. Bahkan, seorang anak kecil juga memiliki hati yang murni dan bisa mengingatkan orang dewasa. Tata krama diterapkan saat berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring. Saat berbaring dan tidur juga demikian. Tidur juga ada sikap yang benar. Berjalan bagaikan angin, berdiri bagai pohon pinus, duduk bagaikan lonceng, berbaring bagai busur. Inilah tata krama. Dalam hal-hal yang sederhana pun harus ada tata krama. Orang-orang bisa melihat semua ini di dalam tindak tanduk kita sehari-hari. Jadi, di dalam tindakan harus ada Dharma. Sikap dalam berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring disebut empat tata krama. Apakah kita ingin melanggar atau menaati, Apakah kita ingin melanggar atau menaati, kuncinya ada pada diri kita. Saat berjalan kita bersungguh hati, saat berdiri kita bersungguh hati, saat duduk kita bersungguh hati, saat berbaring kita bersungguh hati, setiap saat kita bersungguh hati. Jika begini, kita tak akan membuat pelanggaran. Jika kita lengah dalam empat tata krama, maka kita dapat melanggar tiga ribu peraturan. Mengenai tiga ribu peraturan, di dalamnya terdapat lagi 80 ribu peraturan.

Tiga ribu peraturan berkenaan dengan hal-hal yang lebih kasar. Namun, jika dijabarkan, angka tiga ribu sangatlah besar. Kita meringkasnya menjadi empat tata krama. Ini bagaikan tali pengikat bacang. Tali ini mengikat tiga ribu peraturan yang jika dijabarkan lagi ada 80 ribu peraturan. Ini disebut 80 ribu peraturan atau disiplin. Jika kita melanggar hal-hal yang terlihat, maka berbagai pelanggaran halus juga pasti tercipta hingga menjadi sulit terkendali. Ini disebut karma halus. Jika kita tidak berhati-hati dan terus melakukan pelanggaran, maka meski hanya satu pelanggaran, tetapi sesungguhnya ini mencakup puluhan ribu lainnya. Pelanggaran terhadap 80 ribu peraturan ini menciptakan karma halus. Ini karena kita tidak menjaga sila tubuh. Ini tercakup dalam empat tata krama. Dari sini terlihat pelatihan seseorang. Dari sini terlihat pelatihan seseorang. Ketika itu dilanggar, maka berbagai kesalahan lain juga ikut tercipta. Jadi, kita dapat melihat bahwa tata krama dalam berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring hanyalah sebuah simpul tali utama. Begitu kita lengah pada salah satunya, maka 80 ribu peraturan ikut terlanggar. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menjaga sikap dan citra dengan baik. Karena itu, ada disebutkan mengenai karma halus. Jadi, kunci terciptanya berbagai karma halus terletak pada tubuh kita, tepatnya tujuh pintu pada tubuh dan mulut.

Ada tiga karma yang tercipta lewat tubuh dan empat karma lewat mulut. Ini disebut tujuh cabang karma. Tujuh hal ini dapat dilihat dan didengar. Begitu terlanggar, segala peraturan yang halus juga terlanggar. Dengan begitu, sila kita menjadi kacau. Jiwa kebijaksanaan kita tak dapat bertumbuh. Jadi, harap semua bersungguh hati. Meski kedengarannya sangat luas dan sila yang harus dipegang amat banyak, bahkan hingga 80 ribu peraturan, tetapi kita hendaknya bersungguh hati dalam sikap berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring. Kita harus berlapang dada dan memegang teguh kebenaran. Kita harus menjaga pikiran dalam keseharian. Dengan begitu, kita tidak akan mudah membuat pelanggaran dan dapat menjalankan sila dengan baik. Intinya, ini juga termasuk mudah asalkan kita semua bersungguh hati. 

Leave A Comment