Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-426-Menjaga Kemurnian Jalinan Jodoh

Saudara se-Dharma sekalian, Kita dapat memahami prinsip ini. Jika kita dapat memahami hakikat jalinan cinta kasih, cinta kasih hendaknya diubah menjadi cinta kasih universal. Jika kita tak memahaminya dan hanya berkutat pada cinta individual yang penuh ego, maka ia akan menjadi belenggu yang tak berkesudahan. Kita akan tenggelam dalam kelahiran kembali dan tak dapat lepas dari hukum sebab akibat. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus memahami pentingnya benih karma. Kita sering mengulas tentang rasa syukur. Kita sungguh harus bersyukur setiap saat, dalam segala hal, dan terhadap setiap orang. Terhadap semuanya, kita harus memiliki rasa syukur yang setara. Namun, jika kita terbelenggu cinta individual, maka kita cenderung ingin mendapatkan. Jika tidak, kita akan membenci. Jika memiliki hati yang lapang, dapat bersyukur dalam segala hal dan terhadap setiap orang, inilah cinta kasih universal. Jika selalu ada niat untuk menguasai, maka budi bisa berubah menjadi dendam. Kebencian akan bertambah banyak. Budi dan dendam batasannya sangat tipis.

Keduanya hanya terletak pada pola pikir. Mengenai jalinan kasih antarkerabat, di dunia ini, bukankah semua orang adalah satu keluarga? Kita hidup berdampingan dengan alam. Kita sama-sama hidup di atas bumi ini dan menghirup udara yang sama. Bukankah demikian? Bukankah di dunia ini, semua makhluk hidup berdampingan dengan kita? Jadi, tiada yang lebih istimewa. Di dunia ini, semuanya adalah keluarga kita. Dengan pemikiran ini, bukankah dunia akan penuh kehangatan? Membahas jalinan kasih, dikatakan kita harus memperpanjang jalinan kasih dan memperluas cinta kasih. Sejak masa lalu, masa kini, hingga masa depan, bahkan sejak masa tanpa awal, cinta kasih berkesadaran selalu ada. Ini disebut kasih sayang Bodhisattva. Bodhisattva tidak tega terhadap semua makhluk. Mereka terus kembali demi menolong semua makhluk. Inilah cinta kasih berkesadaran.

Jadi, antara cinta kasih berkesadaran dengan cinta makhluk awam juga memiliki batasan. Sedikit saja menyimpang, cinta akan penuh noda batin. Jika kita berjalan di arah yang benar dan baik, itulah cinta kasih berkesadaran. Cinta kasih ini bersifat universal. Inilah cinta kasih Bodhisattva. Semua ini memiliki benih sebab. Semua tak lepas dari hukum sebab akibat. Jika kita dapat melihat jelas rangkaian sebab akibat, kita akan melihat semua orang bagai Bodhisattva. Setiap orang patut kita syukuri. Setelah melihat semua ini dengan jelas, selama ada kebaikan dan cinta kasih di dalam hati kita, maka cinta kasih kita adalah cinta kasih berkesadaran. Ini adalah benih murni. Kita harus memahami ini dengan jelas untuk menjaga benih murni yang tanpa noda.

Dengan begitu, kita tak akan membangkitkan kebencian dan perpecahan. Di dunia ini, kita bertemu karena jalinan jodoh. Ini adalah hukum alam. Kita harus memahaminya dengan jelas. Berapa lama jalinan jodoh kita di dunia ini, kita harus menghargainya. Saat jalinan jodoh dengan seseorang berakhir, kita harus sungguh-sungguh mendoakannya. Jalinan jodoh ada yang baik dan yang buruk. Jalinan jodoh buruk membawa kebencian. Jalinan jodoh buruk membawa kebencian. Jalinan jodoh baik membawa pada rasa syukur. Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai menjalin jodoh buruk.

Saat jodoh buruk terjalin, ia dapat  terbawa hingga ke kehidupan mendatang. Ini membawa penderitaan tak terkira. Semua ini bergantung pada jalinan jodoh apa yang kita jalin dengan orang lain. Kita lebih baik menjalin jalinan jodoh murni dengan orang agar kelak dapat berjalan di jalan dan tekad yang sama. Kita bisa berada di dalam keluarga besar Bodhisattva. Dengan demikian, ini adalah jalinan jodoh baik. Dengan jalinan jodoh ini, selamanya kita saling mendampingi untuk bersumbangsih bagi semua makhluk. Bayangkan, bukankah ini adalah jalinan jodoh terbaik? kita harus menghargainya. Kita harus menjaga benih yang murni ini. Jadi, benih dan kondisi atau jalinan jodoh telah kita bahas setiap hari. Selama ini, kita terus membahas hubungan antarmanusia, entah itu hubungan baik atau hubungan tidak baik.

Kita terus membahas pertobatan. Kita terus membahas pertobatan. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini kedengarannya sangat jelas. Sebelumnya kita terus menyatakan pertobatan. Kini kita masih harus kembali bertobat. Kini kita kembali bertobat atas ketamakan dan keinginan. Ketamakan dan keinginan ini tanpa batas. Begitu sebersit ketamakan timbul, berbagai pintu rintangan pun terbuka. Dari sini kita tahu bahwa ketamakan dan keinginan dapat menciptakan betapa banyak karma buruk. Tentu kita bertobat sedikit demi sedikit, selapis demi selapis. selapis demi selapis. Kita harus terus bertobat. Entah apakah dahulu kita pernah benar-benar melakukan kesalahan itu, kita tetap bertobat atas semuanya. Jadi, di dalam teks dikatakan, “Akibat nafsu keinginan,” Hanya akibat ketamakan dan keinginan, kita selamanya terkurung dalam penjara kebodohan. Akibat ketamakan, muncul kebencian.

Tentu, semua diawali oleh kegelapan batin atau kebodohan. Kebodohan bagai penjara. Para pelanggar hukum di zaman sekarang dapat dijebloskan ke penjara dan kehilangan kebebasan. Sebagai makhluk awam, sebersi kegelapan batin menimbulkan Tiga Aspek Halus. Kontak dengan kondisi luar menumbuhkan Enam Aspek Kasar. Kebodohan di dalam batin kita terus muncul dan memengaruhi cara pandang kita terhadap dunia. Kita melihat dunia dan berinteraksi dengan sesama dengan didasari kegelapan batin tanpa batas. dengan didasari kegelapan batin tanpa batas.

Bayangkan,  dunia, ruang, dan hubungan antarmanusia begitu luas. Apa saja yang dapat tercipta dari kegelapan batin? Dari kehidupan ke kehidupan, kita menghadapi berbagai rintangan Noda batin kita terus tumbuh. Kita tak tahu dari mana kita berasal dan pergi ke mana. Kita tak dapat mengendalikan semua ini. Setelah kehidupan sekarang, di mana kita memilih untuk terlahir kelak? Kita tak dapat menentukannya. Ini yang disebut penjara kebodohan. Kita kehilangan kebebasan dan tak dapat memilih. Datang ke dunia ini, kita “tenggelam dalam sungai kelahiran kembali”. Kita terus tenggelam di dalam “sungai kelahiran dan kematian.” “Riak sungai keinginan membawa gelombang lautan penderitaan.” Kita tak dapat terbebas dari lingkaran ini. Kita terus tenggelam dalam lautan kelahiran kembali. Kita terus tenggelam semakin dalam di tengah lautan ini. Ini disebabkan oleh nafsu keinginan tanpa batas. Nafsu keinginan ini menciptakan lautan kelahiran dan kematian. Begitu kita memiliki ketamakan, begitu kita memiliki nafsu keinginan, Ketamakan dan nafsu keinginan dimulai dari kebodohan dan kegelapan batin.

Oleh karena itu, kita tidak tahu kapan dapat terbebas. Begitu jatuh ke dalam penjara kebodohan, kita tidak tahu kapan dapat terbebas dari lautan kelahiran kembali. Demikianlah nafsu keinginan. Kini, kita membahas perbuatan asusila. Perbuatan asusila saja sudah dapat merusak tatanan masyarakat. Pergaulan bebas dapat mengacaukan masyarakat. Lewat perbuatan asusila, semua makhluk menciptakan karma buruk yang berat sehingga terkurung dalam penjara kebodohan. Lihatlah kekacauan masyarakat masa kini. Di surat kabar setiap harinya, kita bisa melihat berita perselingkuhan.

Mengapa keluarga yang baik harus dirusak? Orang tua berbudi luhur karena telah membesarkan kita dan mendidik kita. Namun, hanya demi perasaan, ada orang melawan orang tua dan tidak berbakti. Kebaikan dibalas dengan kebencian. Banyak orang berkata bahwa setelah menikah, laki-laki akan banyak dipengaruhi istrinya. Tentu, hubungan antara suami dan istri tetap harus dijaga. Namun, selain itu, mereka juga harus merawat orang tua. Menantu berbakti pada mertua adalah sudah seharusnya. Namun, menantu yang harus tinggal bersama keluarga baru kadang merasa, bersama keluarga baru kadang merasa, “Orang tua saya di rumah lebih ramah.” Jadi, kini banyak orang berkata, “Menikahkan anak perempuan berarti bertambah satu putra; menikahi seorang menantu perempuan, berarti berkurang satu putra.” Orang-orang zaman sekarang cenderung tidak bisa saling berterima kasih. tidak bisa saling berterima kasih.

Berkat adanya orang tua pihak perempuan, barulah orang tua pihak pria bisa mendapat menantu yang baik. Si menantu perempuan juga harus bersyukur. Berkat adanya orang tua pihak suami, barulah dia bisa menikah dengan suami yang baik. Menantu perempuan berterima kasih kepada orang tua suami; menantu laki-laki berterima kasih kepada orang tua istri. Masuk ke keluarga suami, tentu harus mengikuti aturan di sana. Dengan demikian, tatanan dan pendidikan keluarga dapat dijalankan dengan baik. Ada juga istri yang saat baru menikah, memiliki hubungan baik dengan suami. “Meski lautan mengering dan batuan lapuk, aku akan tetap mencintaimu.” Lama-kelamaan, perasaannya berubah.  Hubungan keluarga menjadi lebih rumit. Keluarga kecil ini mulai berubah. Keributan mulai terjadi, bahkan bisa memicu terjadinya pembunuhan. Ada pula tindakan bunuh diri yang terjadi akibat perselingkuhan. Kasus seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Semua hanya karena nafsu antara laki-laki dan perempuan. Kita sering membahas sepuluh atau lima sila. Praktisi Buddhis harus menjalankan lima sila.

Di dalam organisasi Tzu Chi, selain lima sila, masih ada sila-sila lainnya yang disesuaikan  dengan kondisi masyarakat masa kini, yaitu tidak memakai narkoba, merokok, atau mengunyah pinang. Semua ditujukan untuk menjaga diri. Begitu pula dengan mematuhi peraturan lalu lintas. Dalam berinteraksi dengan orang lain, haruslah penuh kelembutan. Di dalam sebuah organisasi besar, norma keluarga harus lebih jelas. Jangan sampai di dalam kelompok besar ini terjadi pelanggaran sila akibat tidak hati-hati. Jadi, di Tzu Chi kita sangat menjunjung lima dan sepuluh sila. Di dalam lima atau sepuluh sila ini terdapat sila mengenai perbuatan asusila. Selain hubungan suami istri yang sah, antara laki-laki dan perempuan harus ada batasan yang jelas. Antara saudara se-Dharma harus saling bersyukur. Baik relawan laki-laki maupun relawan perempuan haruslah menjaga kemurnian hati. Kita bersama-sama menapaki Jalan Bodhisattva. Hati setiap orang harus tetap murni. Jalinan jodoh Bodhisattva ini bukanlah jalinan perasaan makhluk awam. Ada orang yang bergabung hanya karena semangat sesaat. Jika di dalam hatinya masih ada kesesatan, maka di dalam organisasi ini dia juga dapat melanggar aturan.

Jadi, saya berharap setiap orang menyayangi jiwa kebijaksanaan sendiri. Benih murni dan jalinan jodoh Bodhisattva ini harus kita jaga kemurniannya. Jadi, janganlah ada ketamakan dan nafsu yang membawa pada hubungan yang tidak seharusnya. Ini akan menjerumuskan kita pada penjara kebodohan. Inilah yang dikatakan di dalam kitab suci. Berikutnya dikatakan, Semua makhluk diliputi kesesatan karena lima nafsu keinginan. Nafsu keinginan ini sudah ada sejak masa tanpa awal hingga saat ini. Kita terus berputar-putar dalam lingkaran kelahiran kembali. Bukan hanya sebagai manusia, melainkan juga sebagai makhluk lain. melainkan juga sebagai makhluk lain. Kita dapat melihat makhluk hidup ada beraneka ragam. Semua makhluk hidup memiliki hakikat kebuddhaan. Sebersit niat yang keliru dapat membuat kita kehilangan wujud manusia. Jadi, kita mungkin telah mengalami kehidupan sebagai beragam makhluk selama berkalpa-kalpa tanpa henti. Kalpa adalah waktu yang sangat Panjang.

Kita terus terlahir dalam berbagai wujud. Jika terlahir sebagai manusia, kita beruntung. Bagaimanapun menderitanya manusia, kita memiliki kesempatan untuk mendengarkan ajaran benar dan melatih diri. Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Sulit terlahir sebagai manusia; sulit pula bertemu ajaran Buddha.” Sulit bagi kita untuk terlahir sebagai manusia. Sulit pula untuk bertemu dengar Dharma. Namun, kita masih punya kesempatan. Jika kita kita terlahir sebagai binatang, maka tiada lagi kesempatan. Jadi, kita harus memahami bahwa jalinan jodoh akibat lima nafsu sangat kuat. Jika jalinan jodoh tercemar, kita akan mendapat masalah. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menjaga pikiran kita. Budi dan hubungan baik ada sebabnya. Kita harus menjaga kemurnian benih sebab ini. Kebencian dan perpecahan juga berawal dari jalinan jodoh. Jodoh ini juga harus dijaga kemurniannya.Dengan sebab dan kondisi yang murni, kita berlatih di Jalan Bodhisattva. Dengan demikian, barulah masyarakat dapat harmonis dan bencana di dunia dapat berkurang. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.                      

 

Leave A Comment