Sanubari Teduh-425-Memahami dan Meyakini Hukum Sebab Akibat
Saudara se-Dharma sekalian, Kita harus selalu memiliki pikiran seperti ini. Kita harus memahami hukum sebab akibat. Inilah yang harus ada di dalam pikiran kita setiap hari dan setiap saat sebagai praktisi Buddhis. sebagai praktisi Buddhis. Jadi, setiap saat kita harus berintrospeksi Jadi, setiap saat kita harus berintrospeksi mengapa makhluk awam terombang-ambing dalam lautan penderitaan. Kita harus sukacita dalam mendengar Dharma. Kita harus sukacita dalam mendengar Dharma. Jika meninggalkan Dharma, kehidupan akan penuh noda batin. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan akan bangkit kembali. Hubungan antarmanusia akan membuat pikiran dipenuhi kerisauan. Kita harus berintrospeksi Kita harus berintrospeksi dengan sungguh-sungguh benarkah kita masih makhluk awam. Mendengarkan Dharma bertujuan untuk terbebas dari pikiran awam dan mendekat pada kesucian. Apakah kita tidak mencapai kemajuan? Saat menghadapi orang dan masalah, apakah noda batin kita mudah sekali untuk bangkit? Kita harus selalu mengingatkan diri. Gelombang nafsu keinginan tidaklah berbatas. Selama ketamakan, kebencian, dan kebodohan belum dilenyapkan dan tabiat buruk masih ada, kegelapan batin akan mudah menenggelamkan kita. Jadi, kita setiap hari harus tulus berdoa semoga perahu cinta kasih menyelamatkan kita dari lautan penderitaan. Melihat banyaknya orang yang menderita, saya sering mengumpamakan bahwa semua makhluk bagai berada di tengah lautan.
Namun, jika kita mengerti untuk menggunakan Dharma, maka setiap orang adalah Dharma bagi kita. Saat mendengar orang lain berbicara, jika kata-katanya baik dan penuh sukacita, kita turut bersukacita dan memuji. Jika kata-katanya tidak baik, kita segera mengingatkan diri sendiri. Dalam hubungan antarmanusia, kita harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa semua orang adalah orang yang membimbing kita. Selama pikiran kita tulus, kita berdoa semoga kita dapat memandang setiap orang bagai Buddha atau Bodhisattva yang sedang membimbing kita. Dengan demikian, setiap orang adalah perahu cinta kasih yang dapat menyelamatkan kita. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Kita harus memahami dan meyakini hukum karma. Dengan demikian, setelah ketulusan hati kita bangkit, siapakah yang tidak kita anggap sebagai Buddha? Kita menghormati semua orang bagaikan menghormati Buddha, Dharma, Sangha. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa jika pikiran kita dapat diluruskan, maka kehidupan akan kaya. “Selalu turun hujan tujuh permata, pakaian yang unggul.” Pakaian yang kasar dan makanan sederhana pun terasa istimewa. Semuanya membuat kita sukacita.
Dengan demikian, semua harapan tercapai. Jika tidak, kita akan merasa banyak hal tidak sesuai harapan. Asalkan kita dapat merasa puas, segala sesuatu akan kita anggap sebagai permata. Meski hanya sebutir beras atau setetes minyak, semua itu adalah permata bagi kita karena semuanya menyokong kehidupan kita. Jadi, orang yang hatinya merasa puas dapat selalu menghargai berkah. Orang yang memiliki berkah selalu menganggap semuanya sebagai permata. Penggalan berikutnya mengatakan, Penggalan ini kelihatannya sederhana. Semua orang lebih kurang memahami artinya. Sebelumnya dibahas tentang ketamakan, niat merampok, merampas, mencuri, dan sebagainya. Kini kita bertobat atas semuanya. Kini batin kita sudah merasa puas, bahkan niat mencuri pun tidak ada lagi. Jadi, “Tiada pikiran untuk mencuri atau merampas.” Niat itu sudah tidak ada lagi, terlebih lagi tindakan. Tindakan tidak akan terjadi. Tabiat buruk sudah diperbaiki. Tabiat buruk sudah dilenyapkan.
Kebiasaan baik sudah mulai dipupuk. Rasa syukur dan rasa puas sudah dikembangkan. Kita sudah berpuas diri dan mengendalikan keinginan; tidak lagi memanjakan diri atau mencemari diri. Kita tak lagi tercemar oleh tabiat buruk. Dahulu kita sering mengatakan bahwa sesama manusia saling memengaruhi. Kini kita harus selalu ingat bahwa di antara tiga orang pasti ada guru kita. Kita harus memilih teman yang dapat membimbing kita ke jalan yang benar.
Jika bertemu teman yang pemikirannya tidak benar dan tindakannya tidak lurus, kita juga bisa menganggapnya sebagai guru karena dia dapat kita jadikan pengingat diri yang mengingatkan diri bahwa dahulu kita juga sama sepertinya, yakni memiliki pemikiran menyimpang dan tindakan yang tidak lurus. Kita mungkin juga pernah melakukan kesalahan. Kini dengan tidak mudah kita sudah dapat terbebas dari tabiat buruk. dapat terbebas dari tabiat buruk. Teman yang tindakannya baik dan pikirannya lurus, dapat membimbing kita. Kita seharusnya lebih dekat dengannya dan belajar darinya. Kita harus berbuat baik bersamanya. Kita harus berbuat baik bersamanya. Berteman baik dengan orang seperti ini, kita tidak akan mudah tercemar. Banyak orang yang terlepas dari jerat narkoba. Mereka tahu bahwa narkoba itu tidak baik. Mereka mengeluarkan biaya mahal untuk berobat. Setelah terbebas dari narkoba dan tidak lagi memikirkan narkoba, dan tidak lagi memikirkan narkoba, tetapi saat keluar dari tempat rehabilitasi, dengan segera mereka bertemu dengan teman-teman lama yang merupakan pemakai dan pengedar narkoba. Teman-teman itu mulai menggoda dan memengaruhi mereka.
Mereka diberi tahu bahwa ada barang baru, setelah dicoba akan ada perasaan berbeda. Mereka mulai lupa bagaimana rasanya berjuang untuk lepas dari narkoba. Mereka lupa terhadap penderitaan mereka. Mereka lupa terhadap penderitaan yang mereka rasakan saat bertekad untuk melawan narkoba dan mengubah diri. Saat mereka bertemu teman-teman lama itu, dengan sedikit rayuan, mereka tak bisa lagi mengendalikan diri. Mereka kembali tercemar oleh narkoba. Begitulah makhluk awam.
Begitulah makhluk awam. Jika tidak bisa meneguhkan tekad, meski sudah menetapkan hati, makhluk awam masih bisa goyah dan mudah untuk kembali tenggelam. Buddha menyayangkan hal ini. Buddha menyayangkan kegelapan batin semua makhluk yang sulit ditaklukkan. Di zaman Buddha, Buddha juga adakalanya tidak berdaya, terlebih saat ini. Jika kita dapat mengendalikan keinginan, berpuas hati, dan tidak lagi tercemar dalam kemelekatan, maka saat berkumpul dengan orang baik, kita dapat bersama-sama berdana.
Kita dapat memberi dan membimbing. Kita harus bertindak menolong sesama. Di dalam ajaran Buddha tentang Jalan Bodhisattva, kita harus menyelamatkan semua makhluk; memberi dalam bentuk materi, Dharma, dan ketenteraman. Bagaimana kita meringankan penderitaan semua makhluk? Semua makhluk ada yang kekurangan materi, kelaparan, kedinginan; ada pula yang sakit sekaligus miskin. Jika kita dapat segera bersumbangsih dan membantu mereka, ini merupakan dana atau bantuan yang berwujud. Setelah kita membantu mereka, lalu memberi mereka Dharma agar mereka mendapat pertolongan batin, ini yang disebut memberi dan membimbing. Setelah membantu mereka, kita mengurai kerisauan batin mereka dan mengajak mereka untuk berjalan di jalan yang sama dengan kita. Insan Tzu Chi sering melakukan ini.
Saat melihat penggalan teks ini, semua orang mungkin merasakan hal yang sama. Jadi, kita harus Memberi dan membimbing. Membimbing berarti menyelamatkan, yakni mengarahkan ke Jalan Bodhisattva. Kita juga harus Memberi kepala, mata, sumsum tulang, dan otak sama dengan praktik dana yang agung. Di zaman Buddha pada lebih dari dua ribu tahun lalu, Beliau mengajarkan bahwa di Jalan Bodhisattva, Bodhisattva harus memberi dalam segi materi serta bimbingan yang penuh kebijaksanaan. Selain membimbing orang menuju jalan benar, jika dibutuhkan, Bodhisattva juga harus rela memberikan kepala, mata, sumsum tulang, dan otak. Di zaman itu, bagaimana cara memberikan kepala, mata, sumsum tulang, dan otak? Saya yakin dengan kebijaksanaan-Nya, Buddha Yang Mahasadar Di Alam Semesta saat itu tengah berbicara tentang masa depan. Masa depan berarti saat ini. Lihatlah, ilmu kedokteran begitu maju. Saat tubuh manusia mengalami kerusakan dan tidak tertolong lagi, dan tidak tertolong lagi, meski kerusakannya hanya sebagian, tetapi manusia itu bisa meninggal sesuai hukum alam. Saat manusia meninggal, sebanyak apa pun harta kekayaannya, sebesar apa pun namanya, tetaplah dalam beberapa hari manusia itu akan kembali ke tanah; mungkin dikebumikan atau dikremasi menjadi abu tulang. Siapa yang bisa menghindari fase ini? Ini adalah hukum alam. Ilmu kedokteran sangat maju, teknologi juga sangat maju. Jika ada bagian tubuh yang rusak, kita tetap tak bisa menghindar dari kematian. Namun, organ-organ tubuh kita juga masih ada yang belum rusak. Penyakit saat ini ada banyak jenis dan banyak yang membutuhkan donor organ. Kasus seperti ini sangat banyak. Entah itu jantung, hati, ginjal, dan sebagainya bisa didonorkan.
Jika kita dapat bertekad, mungkin organ tubuh kita dapat menolong tujuh sampai delapan orang, bahkan lebih dari sepuluh orang. Satu organ hati dapat menolong dua orang. Sepasang ginjal juga dapat menolong dua orang. Sepasang mata dapat menolong dua orang untuk dapat melihat kembali. Paru-paru sekarang juga bisa didonorkan. Teknologi semakin maju. Organ kita dapat membantu orang lain sehingga orang lain dapat memperpanjang hidup. Ini dapat dilakukan di masa kini. Tentu ini sulit dilakukan pada zaman Buddha. Meski ini adalah hal yang sulit, tetapi Buddha telah mengatakannya.
Saat ini, 2.500 tahun kemudian, kita telah membuktikan perkataan Buddha. kita telah membuktikan perkataan Buddha. Kepala, mata, sumsum tulang, otak, semua bisa didanakan. Contohnya, para Silent Mentor Tzu Chi. Saat organ tubuh mereka tak bisa didonorkan, mereka mendonorkan tubuh mereka agar para mahasiswa kedokteran atau para dokter dapat mempelajari misteri tubuh manusia dan mempelajari penanganan organ-organ yang bermasalah. organ-organ yang bermasalah. Ini harus dipelajari oleh para mahasiswa kedokteran. Jadi, di Tzu Chi kita terus mendorong orang-orang yang berada di Jalan Bodhisattva dapat mendonorkan tubuh dapat mendonorkan tubuh agar para mahasiswa dapat mempelajari dan memahami misteri kehidupan. Kelak, saat mereka menjadi dokter, mereka memahami jelas anatomi manusia. Jika mereka memilih untuk menjadi ahli bedah, mereka juga tahu cara membedah yang benar mereka juga tahu cara membedah yang benar dan menangani penyakit.
Pahala ini sungguh tak terhingga. Saat seseorang mendonorkan tubuhnya, dia bisa “mendidik” banyak dokter. Selain itu, dia juga bisa membantu para dokter dalam simulasi bedah. Saat duduk di tahun ketiga atau keempat, mahasiswa kedokteran harus memahami struktur tubuh manusia. Setelah lulus dari tujuh tahun perkuliahan, mereka menjadi dokter jaga dan mulai mengikuti dokter senior. Namun, mereka tidak dapat berlatih bedah pada tubuh pasien. Para dokter senior membimbing mereka menjalankan simulasi pada tubuh Silent Mentor yang dianggap sebagai pasien sungguhan. Dengan kondisi penyakit tertentu, dari mana pembedahan harus dimulai? dari mana pembedahan harus dimulai? Meski Silent Mentor sudah meninggal, tetapi anak-anak kita dan dokter kita memperlakukan mereka dengan tulus dan hormat. Mereka menganggapnya sebagai pasien hidup.
Para dokter membimbing anak-anak untuk memperlakukan Silent Mentor bagai pasien. Karena itu, mereka disebut “Guru Tanpa Suara”. mereka mendonorkan tubuh mereka mereka mendonorkan tubuh mereka tanpa ketamakan dan kemelekatan. Ini termasuk Dana Paramita. Ini adalah praktik dana yang agung. Saudara sekalian, begitulah dalam mempelajari ajaran Buddha. Pikiran kita harus selalu stabil. Berhubung ingin mempelajari ajaran Buddha, maka kita harus memiliki tekad yang teguh; meyakini hukum sebab akibat; merenungkan kegelapan batin makhluk awam serta nafsu keinginan yang tanpa batas. Kita hendaknya berdoa semoga perahu cinta kasih menyelamatkan. Bayangkan, orang-orang di sekitar kita, manakah yang bukan Bodhisattva hidup? Jadi, kita harus selalu bersyukur dan menghormati dengan tulus. Kita harus selalu bersungguh hati.