Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-428-Menjahui Nafsu Perbuatan Asusila

Saudara se-Dharma sekalian, semua makhluk menderita karena lima keinginan. Di antaranya, nafsu terhadap seks adalah yang terberat. Ini paling membawa penderitaan. Di antara lima nafsu, ada nafsu seks. Manusia sulit mengendalikan ini. Manusia yang memiliki nafsu seksual besar sangatlah menderita. Ini bisa memicu ketidakharmonisan keluarga ketidaktenangan masyarakat, serta membawa kerugian bagi diri sendiri. Inilah akibat nafsu seksual yang menyimpang. Semua ini membawa penderitaan, seperti yang tadi dibahas, berdampak kepada keluarga, masyarakat, diri sendiri, dll.

Bagaimana selanjutnya? Di dalam Sutra kita kembali diingatkan akan penderitaan di tiga alam rendah. Ini selalu diingatkan di berbagai kesempatan. Sejak dahulu sudah dikatakan bahwa berbagai kejahatan diawali dari nafsu seksual. Hubungan suami istri tidak baik atau keluarga tidak sesuai yang diharapkan, inilah kelak buah yang mungkin diterima. Berikutnya dikatakan, “Karena itu, di dalam Sutra dikatakan bahwa kesalahan dari perbuatan asusila dapat membuat semua makhluk menderita di alam neraka atau alam setan kelaparan.” Jika terus mengejar nafsu seksual, Jika terus mengejar nafsu seksual, terutama dengan cara-cara yang asusila, kesenangan yang ada hanyalah sementara. Mereka tidak memedulikan keluarga. Di surat kabar kita sering melihat ayah yang tak bertindak sebagai ayah putra yang tak bertindak sebagai putra, ibu yang tak bertindak sebagai ibu, putri yang tak bertindak sebagai putri. Tatanan keluarga menjadi kacau. Keluarga seperti ini dapat kita bayangkan bagaimana kondisinya. Di dalam masyarakat, ada pula istri orang atau suami orang yang bermain serong, berselingkuh, atau memiliki simpanan.

Semua istilah ini merujuk pada manusia yang tak mematuhi norma. Orang-orang memandang rendah mereka. Jadi, semua tindakan ini akan merusak nama baiknya. Orang lain tak lagi memandang dirinya, terlebih lagi keluarganya. Seorang suami, bagaimana bisa tahan melihat istrinya berselingkuh? Tentu dia tidak bisa menahan diri. Sejak dahulu kasus seperti ini membawa tragedi bagi keluarga. Banyak pembunuhan terjadi karena hal ini. Jadi, perempuan harus menunaikan kewajiban sebagai istri. Bagaimana dengan laki-laki? Jika laki-laki memiliki simpanan, bagaimana mungkin istrinya bisa tahan? Perempuan bisa menahan banyak hal, tetapi jika suaminya berselingkuh, ini paling sulit ditahan.

Bayangkan, dapatkah keluarga seperti ini bahagia? Untuk mewujudkan keluarga yang bahagia, suami istri harus saling setia. Ini adalah kewajiban yang harus dijaga. Semua orang harus mengendalikan diri dan tidak boleh tamak terhadap nafsu seksual yang asusila. Jika itu sampai terjadi, karma buruk akan tercipta. Karma buruk dari perbuatan asusila dapat menyebabkan kelahiran di neraka. Inilah hukum karma. Jika pada kehidupan sekarang kita menanam benih perbuatan asusila, maka di kehidupan mendatang mungkin terlahir di tiga alam rendah. Jika tak mengendalikan diri pada saat ini, apakah di kehidupan mendatang kita masih terlahir sebagai manusia? Belum tentu.

Buah karma ini terbagi atas kadar tinggi, menengah, dan rendah. Kadar tinggi adalah kelahiran di neraka. Bagaimanakah penderitaan di neraka? Dalam berbagai upacara keagamaan, sering ditempel gambar tentang 18 siksaan di neraka. Melihat gambarnya saja sudah menakutkan. Apakah benar seperti itu? Benar. Di dalam Sutra juga dijelaskan demikian. Lihatlah kisah Nanda yang meski telah menjadi bhiksu, tetapi tidak dapat menahan nafsunya. Dia selalu memikirkan istrinya. Dia selalu memikirkan istrinya. Istrinya sangat cantik. Nanda berada di dalam Sangha, tetapi pikirannya selalu tertuju pada istrinya. tetapi pikirannya selalu tertuju pada istrinya. Berhubung Nanda adalah saudara tiri Buddha, maka Buddha membimbingnya untuk masuk ke dalam Sangha. Namun, pikiran Nanda tidak kunjung tenang. Dia terus mencuri waktu untuk pulang dan bertemu dengan istrinya. Mengetahui hal ini, suatu hari Buddha berkata kepada Nanda, “Mari, duduklah dengan tenang.”

“Aku bawa engkau ke tempat yang belum pernah kau kunungi.” Nanda pun duduk di sisi Buddha. Buddha membawa Nanda pergi ke alam surga. Setibanya di Surga, dia melihat begitu banyak perempuan cantik, bahkan lebih cantik daripada istrinya. Terlebih lagi, ada sekelompok orang yang sedang membangun istana yang sangat megah. Buddha berkata, Kau boleh masuk melihat-lihat. Setelah masuk,  Nanda melihat istana yang lebih megah daripada istananya sendiri. Di dalamnya begitu banyak barang berharga. Dia lalu bertanya kepada pekerja di sana tentang pemilik istana itu. Pekerja di sana menjawab, “Ini milik murid Buddha di alam manusia yang bernama Nanda.” “Dia mengikuti Buddha melatih diri dan menciptakan berkah.” “Kelak dia akan terlahir di alam surga.” “Jadi, tempat ini dipersiapkan baginya.” “Bagaimana dengan para wanita cantik itu?” “Mereka adalah pendamping bagi Nanda.” Mendengarnya, Nanda sangat gembira. “Bukankah semua itu milikku?” “Jika sungguh-sungguh melatih diri, kelak aku akan bisa hidup dalam kenikmatan.” Buddha lalu memanggil Nanda. Buddha lalu memanggil Nanda.

“Mari Aku bawa ke tempat lain.” Mereka tiba di tempat yang menakutkan dengan pilar yang panas membara. Pilar tembaga itu merah membara. Orang pasti takut melihatnya. Makhluk-makhluk di sana tidak berpakaian dan harus memeluk pilar itu. Mereka semua menjerit dan meratap, lalu pingsan. Setelah pingsan, mereka diguyur air. Mereka harus terus mengulangi hal itu. Penderitaan mereka sungguh tak terkira. Nanda lalu melihat ada orang yang sedang menyalakan api. ada orang yang sedang menyalakan api. Di atas api itu ada sebuah wajan besar yang berisi minyak. Saat apinya menyala, minyak itu mulai panas. Nanda bertanya pada makhluk itu, “Apakah kesalahan makhluk-makhluk yang memeluk pilar panas tadi?” yang memeluk pilar panas tadi?” “Mereka adalah orang-orang yang tidak setia terhadap pasangan.” “Sebagai suami atau istri, mereka berselingkuh atau memiliki simpanan.” “Mereka melakukan perbuatan asusila.” “Orang-orang seperti itu akan jatuh ke neraka dan dihukum dengan memeluk pilar panas.” “Lalu untuk apa api ini?” “Wajan ini berisi minyak yang sangat banyak.” “Perlu waktu lama untuk memasaknya.” “Untuk apakah minyak ini?” Makhluk itu menjawab, Di antara murid Buddha, ada yang tidak sungguh-sungguh berlatih.” “Dia selalu berpikir untuk melanggar sila dan lepas jubah.” “Dia selalu ingin pulang ke rumah dan kembali pada istrinya.” “Siapakah dia?” “Sepertinya namanya adalah Nanda.” Nanda sangat terkejut. “Benarkah itu aku?” Benar.

Dia sendiri berpikir, “Meski telah mengenakan jubah Sangha, “Meski telah mengenakan jubah Sangha, tetapi pikiranku masih penuh noda.” tetapi pikiranku masih penuh noda.” “Aku terus mengingat istriku yang begitu cantik dan mengingat kesenangan bersama istri.” Nanda pun merasa malu. Buddha kembali memanggilnya. “Mari kita pergi.” Mereka lalu melihat sekawanan kera. Kera-kera itu sangat buruk rupa. Rupa mereka yang sangat buruk itu sungguh mengganggu pemandangan. Dalam hati Nanda pun timbul rasa tidak suka. Dia ingin segera pergi. Di antara kera-kera itu, seekor kera berkata, “Mari kemari.” “Kelak kau juga akan berada di antara kami.” “Aku akan berada di sini?” “Mengapa?” “Karena tidak sungguh-sungguh melatih diri.” “Jika nafsu seksualmu belum dikikis, kelak setelah hukuman di neraka berakhir, kau akan datang ke tempat ini, yaitu alam binatang.” “Para kera betina ini adalah pendampingmu.” “Kera-kera itu begitu buruk rupa, bagaimana aku bisa tahan?” Nanda sendiri merasa takut. Nanda berpikir, “Istriku saat ini, meski lebih cantik dari kera-kera ini, tetapi tidak lebih cantik dari bidadari surga.” “Aku kelak tak dapat terlahir di surga, malah harus menerima hukuman di neraka, lalu terlahir di antara kera-kera ini.” lalu terlahir di antara kera-kera ini.” “Aku harus bagaimana?” Jadi, Nanda sangat takut. Saat itu Buddha berkata kepada Nanda, “Engkau masih sempat memperbaikinya.” “Asalkan engkau bertobat, menjernihkan pikiran, meluruskan perbuatan, dan sungguh-sungguh melatih diri, engkau kelak akan terlahir di alam surga dan tak akan jatuh ke neraka atau alam binatang.” Nanda bertanya, “Bagaimana nasibku kelak?” “Kini kau telah mendengar Dharma dan melatih diri.”

“Kelak kau dapat mencapai kebuddhaan dengan tubuh dan batin yang murni.” dengan tubuh dan batin yang murni.” Nanda pun tersadar dan segera berterima kasih kepada Buddha yang telah membawanya ke alam surga, alam neraka, dan alam binatang. Buddha berkata, “Karma buruk yang diciptakan di alam manusia akan berbuah penderitaan dengan berbagai kadar.” “Jika berbuat kesalahan dalam kehidupan ini, yang terberat adalah terlahir di neraka, seperti yang engkau lihat tadi.” “Kadang menengah adalah kelahiran di alam binatang.” “Selain seperti kera-kera tadi, “Selain seperti kera-kera tadi, masih ada jenis hewan lainnya dengan beragam wujud.” dengan beragam wujud.” “Kadang rendah adalah kelahiran di alam manusia.” Namun, di alam manusia, bagaimanakah kondisinya? Berikutnya dikatakan, Jika jatuh ke alam binatang, maka akan lahir dalam wujud merpati, bebek mandarin, atau yang lainnya. Ini ditulis oleh Mahabhiksu Wu Da.

Buddha membawa Nanda ke alam binatang, tepatnya di antara kera. Namun, binatang ada berbagai jenis. Binatang yang ditulis Mahabhiksu Wu Da mencakup hewan berkaki dua, berkaki empat, yang terbang di udara, yang berjalan di darat, atau yang berenang di air. Di sini diberi contoh, antara lain merpati, bebek mandarin, dan sebagainya. Hewan unggas ini lahir dari karma perbuatan asusila. Di sini diberi contoh dua jenis, tetapi mencakup seluruh unggas. Ini tak lepas dari hukum sebab akibat. Jadi, Mahabhiksu Wu Da berkata bahwa dari berbagai kejahatan, perbuatan asusila adalah yang utama. Di dunia ini ada banyak jenis kejahatan yang timbul akibat nafsu seksual. Jadi, bayangkan, sejak dahulu, di dalam istana juga banyak tatanan yang rusak, pembunuhan terhadap ayah, penodaan terhadap selir ayah. Kaisar atau raja di zaman dahulu bukan hanya memiliki tiga atau empat istri. Dia memiliki banyak selir. Ada yang masih muda, ada yang cantik. Ada pangeran yang ingin segera menjadi raja. Berhubung raja memiliki banyak istri dan banyak putra, maka akan ada orang yang ingin merebut kekuasaan, ada pula yang menodai selir. Keluarga kerajaan adalah keluarga nomor satu. Begitu keluarga itu kacau, seluruh dunia akan kacau.

Banyak kejahatan diawali dari nafsu seksual. Dalam masyarakat masa kini, kapankah di surat kabar tidak ada berita  masalah hubungan pria dan perempuan? Dalam pemberitaan media massa, kapankah tidak ada berita masalah keluarga? Watak manusia sudah bagaikan hewan. Watak manusia sudah bagaikan hewan. Watak manusia sudah bagaikan hewan. Perbedaan antara manusia dan hewan adalah manusia memiliki norma dan tatanan moral. Inilah yang disebut manusia. Jadi, kesetiaan suami istri harus dijaga. Kelahiran di neraka adalah penderitaan dengan kadar berat. Kelahiran di alam binatang adalah penderitaan kadar menengah. Berikutnya adalah kelahiran di alam manusia. Setelah menderita di alam neraka atau hewan, seseorang mungkin terlahir di alam manusia.

Di alam manusia, apakah dia akan hidup bahagia? apakah dia akan hidup bahagia? Berhubung hanya menerima buah karma dan tidak menerima Dharma, dia tidak memahami kebenaran. dia tidak memahami kebenaran. Dia tidak berkesempatan untuk bertobat. Jadi, setelah menderita di alam rendah dan terlahir di alam manusia, dia tetap terombang-ambing dan tidak memahami jalan pembebasan. Jadi, bagaimana kondisinya setelah dia terlahir di alam manusia? Istrinya tidak setia. Istrinya tidak setia. Istrinya mungkin berselingkuh atau suaminya memiliki simpanan. Di antara suami istri di dalam rumah tangga, hubungannya tetap tidak harmonis. Di dalam keluarga kembali terjadi masalah. Ada pula yang mendapat anggota keluarga yang tidak menyenangkan. Jika tidak, mungkin anaknya bermasalah. Jika bukan istrinya yang bermasalah, maka anaknya yang memiliki masalah dalam hubungan. yang memiliki masalah dalam hubungan. Mengenai anggota keluarga, ada orang berkata, “Saya dibuat risau oleh anak saya.” “Meski sudah memiliki istri, dia tetap membuat masalah di luar.” “Anak dan istrinya tentu protes.” “Saya sangat risau.” “Saya sangat menderita.” Ada juga orang yang putrinya bercerai. Putrinya sudah memiliki anak. Lalu harus bagaimana? Ada pula yang putrinya sudah menikah, tetapi tidak setia.

 

Begitulah, banyak masalah anggota keluarga yang tidak menaati norma. Bukankah menderita? Akibat anggota keluarga atau diri sendiri yang tak dapat menaati norma, seseorang akan menderita. Penderitaan ini adalah akibat dari karma perbuatan asusila. Akibatnya, makhluk hidup terjebak di dalam lingkaran keburukan dan menciptakan lebih banyak karma buruk. Karma pembunuhan menyebabkan usia pendek. Ada pula perbuatan asusila dan sebagainya. Semua ini tak lepas dari hukum karma. Pembunuhan menyebabkan usia pendek. Pencurian penyebabkan kelahiran sebagai budak atau pelayan orang lain. Jenisnya banyak sekali. Jadi, Saudara sekalian, sebagai praktisi Buddhis yang sudah mendengar ajaran, kita harus membangkitkan keyakinan. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala. Kita harus meyakini hukum sebab akibat. Jadi, kita semua harus lebih bersungguh hati.                    

Leave A Comment