Sanubari Teduh-427-Kelahiran Bermula dari Keinginan
Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan penuh penderitaan dan sementara. Kejayaan bagai embun di rumput, dalam kehidupan tiada yang abadi. Semua hanyalah ilusi dan bersifat sementara. Jadi, kita harus menggenggam saat ini dan menghargai jalinan kasih yang telah ada dari kehidupan ke kehidupan. Artinya, kita juga diingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan tidaklah panjang. Lihatlah, sehari di alam Empat Maharaja Langit sama dengan 50 tahun di alam manusia. Sehari di Surga Trayastrimsa sama dengan seratus tahun di alam manusia. Jika dibandingkan dengan usia di alam dewa, bisa dibayangkan pendeknya usia manusia. Jika dibandingkan dengan Surga Trayastrimsa, satu hari di sana satu hari di sana sama dengan seratus tahun di alam manusia.
Bayangkan, berapa banyak orang yang bisa hidup sampai 100 tahun? Jadi, hidup sangat singkat dan sementara bagaikan embun di atas rumput. Lihatlah, di luar, terdapat tetesan embun di atas rumput. Namun, setelah matahari semakin terik, ketika kita lihat kembali, embun itu sudah tidak ada. Saat ada butir-butir embun, begitu angin bertiup dan pohon bergerak, embun di puncak pohon juga akan buyar dan berjatuhan. Jadi, kehidupan manusia bagai embun. Jadi, kehidupan manusia bagai embun. Jadi, jika dikatakan kehidupan ini panjang, sesungguhnya juga tidak. Jika dibandingkan dengan usia di alam dewa, usia manusia sungguh singkat. Namun, ada pula makhluk hidup lain yang usianya lebih pendek daripada manusia. Ada juga bakteri di dalam tubuh kita yang terus berganti. Mereka hanya hidup sesaat. Kadang saya bertanya kepada dokter berapa lama bakteri dapat bertahan hidup di udara. Tidak ada beberapa menit. Mereka sangat cepat terurai dan hilang. Bakteri mati dalam hitungan menit atau detik. Kehidupan sungguh singkat dan sulit diprediksi.
Selain itu, dari sisi alam manusia dan ajaran Buddha, alam Empat Maharaja Langit memiliki usia panjang. Begitu pula Surga Trayastrimsa, sedangkan di Surga Tusita, satu hari sama dengan ribuan tahun manusia. Manusia sudah berganti beberapa kali atau beberapa puluh kali kehidupan, di Surga Tusita belum berlalu satu hari. Singkat kata, jika diukur dengan usia manusia, kehidupan sangatlah singkat. Kehidupan manusia bagai ilusi. Inilah yang dikatakan Buddha. Ia bagai embun dan kilat, hendaknya demikianlah direnungkan. Inilah cara berpikir yang diajarkan. Kehidupan tidaklah kekal, bagaikan embun, bagaikan listrik. Listrik yang dimaksud adalah kilat, seperti percikan api dari batu yang digesek. seperti percikan api dari batu yang digesek.
Jadi, kehidupan bagai embun dan kilat. Kita diharapkan dapat menggenggam waktu yang ada. Waktu sungguh cepat berlalu. Kehidupan tidak kekal dan hanya sementara. Kehidupan begitu singkat, apa lagi yang mau kita perhitungkan? Kita harus tahu bahwa setiap orang yang hidup di dunia, begitu dilahirkan memiliki banyak jalinan jodoh di sekitarnya. Setiap orang memiliki orang tua, juga kerabat atau anggota keluarga. Dari kehidupan ke kehidupan, berapa banyak orang yang pernah berjodoh menjadi kerabat kita? Sebelumnya kita juga telah membahas tentang Sutra Bakti Seorang Anak. Di sana dikisahkan saat melihat seonggok tulang berwarna putih, Buddha memberi hormat. Melihat Buddha melakukan itu, Ananda bertanya. Dibabarkanlah Sutra Bakti Seorang Anak. Berhubung di India orang yang meninggal, selain dikremasi, jenazahnya juga bisa disempurnakan dengan cara yang disebut pemakaman langit.
Artinya, jenazah dibiarkan terurai secara alami. Sebelum orang itu benar-benar meninggal, dia harus terlebih dahulu meninggalkan keluarganya dan pergi ke suatu tempat dan pergi ke suatu tempat hingga mengembuskan napas terakhir. Tubuhnya akan dibiarkan di sana, terkena angin dan hujan sehingga terurai secara alami. Burung-burung akan memakan jenazahnya. Burung-burung akan memakan jenazahnya. Inilah yang berlaku di India. Setelah dagingnya habis dimakan burung dan organnya tidak ada lagi, yang tersisa hanyalah tulangnya. Jadi, ada kisah tentang seonggok tulang itu.
Berhubung orang-orang yang akan meninggal dibawa ke tempat itu, maka dikatakan tulang-tulang itu menumpuk bagai gunung. Buddha melihat tumpukan tulang itu. Jadi, di dalam Sutra Bakti Seorang Anak, dijabarkan kasih sayang orang tua terhadap anak. Saat masih kecil, anak-anak menyusu dari ibunya. Kini kita lihat penggalan berikutnya. Di sini dikatakan, Teks ini menjabarkan yang tadi kita bahas. Mahabhiksu Wu Da menggunakan Gunung Vipula di Rajagrha sebagai perumpamaan. Mungkin pada masa itu, saat Buddha melihat tumpukan tulang, tempatnya adalah di sana. Tulang-tulang ini, Tulang-tulang kita dari setiap kehidupan, mungkin jika dikumpulkan dari kehidupan ke kehidupan, akan terkumpul hingga setinggi Gunung Vipula di Rajagrha. Kita tak tahu berapa tinggi Gunung Vipula. Intinya, tulang-tulang itu setinggi gunung.
Dari sini dapat kita bayangkan dari kehidupan ke kehidupan, berapa kehidupan yang telah kita lalui? berapa kehidupan yang telah kita lalui? Inilah perumpamaan yang digunakan. Dalam berbagai kehidupan ini, berapa banyak susu ibu yang telah kita minum. Ini kita lakukan dalam setiap kehidupan. Di zaman dahulu, sebelum ada susu sapi, bayi selalu meminum susu ibu. Ada yang menyusu sampai usia dua tahun. Ada pula yang lebih. Ada anak yang bahkan masih minum air susu ibu meski sudah bisa berjalan. Ini saat anak-anak masih kecil. Ada yang menyusu selama setahun, dua tahun, bahkan sampai tiga tahun. bahkan sampai tiga tahun. Jadi, orang zaman dahulu mengatakan bahwa anak menyusu sampai tiga tahun. Jika tidak menyusu sampai tiga tahun, orang-orang takut pencernaannya tidak baik. Makanan padat dikhawatirkan akan mengganggu pencernaan. Saat memberi makan makanan padat, ibu atau nenek akan mengunyahnya sedikit agar lebih lembut.
Inilah cinta kasih dan kesungguhan orang tua dalam membesarkan anak. Di sini dikatakan, Meminum susu ibu sebanyak empat samudra. Ini karena dari kehidupan ke kehidupan, entah berapa banyak orang tua kita. Tulang-tulang kita pun setinggi gunung, terlebih lagi tulang-tulang orang tua kita karena dalam satu kehidupan ada sepasang orang tua, sedangkan tubuh kita sendiri hanya satu. Dalam satu kehidupan kita memiliki sepasang orang tua. Intinya, dalam setiap kehidupan, kita meminum air susu ibu, maka dikatakan banyaknya bagai empat samudra. Ini adalah perumpamaan. Berikutnya, “Darah yang dikeluarkan tubuh…” Sesungguhnya, susu berasal dari darah ibu. Jadi, sering dikatakan bahwa bayi meminum darah ibu. Saat kita kecil, kita sering mendengar orang berkata begitu. Anak-anak zaman sekarang lebih jarang minum air susu ibu, maka kita lebih jarang mendengar kata-kata seperti ini. Intinya, air susu ibu bagaikan darah dari tubuh ibu. Saat kita meminumnya, kita sama dengan meminum darah ibu. Dikatakan banyaknya bagai air empat samudra, bahkan lebih dari itu.
Sesungguhnya, tidak hanya sebanyak empat samudra. Banyak sekali, masih lebih banyak dari air empat samudra. Jadi, kita harus tahu bahwa kehidupan begitu singkat. dari kehidupan ke kehidupan, tubuh kita diberikan oleh orang tua. Tidak ada orang yang sejak lahir tidak perlu dibesarkan oleh orang tua atau tidak perlu minum air susu, lalu langsung tumbuh besar. Intinya, dari kehidupan ke kehidupan, ada banyak orang tua. Tubuh kita pun, jika dikumpulkan, tulangnya banyak sekali. Di setiap kehidupan, ada sepasang orang tua. Di setiap kehidupan, ada sepasang orang tua. Selain itu, masih ada kerabat lain seperti kakak dan adik. Ini lebih banyak lagi. Semuanya adalah keluarga kita. Berikutnya dikatakan, Kerabat kita dari kehidupan ke kehidupan tentu sangat banyak. Dari kehidupan ke kehidupan pula, berapa banyak dari mereka yang membuat kita menangis karena perpisahan? Di sini diumpamakan lagi bahwa air mata kita banyaknya juga bagai air empat samudra. Dari kehidupan ke kehidupan, air mata yang kita keluarkan baik demi cinta maupun karena benci, baik demi cinta maupun karena benci, banyaknya juga bagaikan air empat samudra.
Mahabhiksu Wu Da menggambarkan rasa dengan perumpamaan yang kaya Air mata yang dikeluarkan manusia sama banyaknya dengan air empat samudra. Kemudian dikatakan, “Karena itu, dikatakan keinginan menyebabkan kemunculan.” Keinginan menyebabkan kemunculan. Berhentinya keinginan menyebabkan kepadaman. Jadi, kita harus tahu bahwa orang tua bersatu karena adanya keinginan atau cinta. Kemudian, lahirlah diri kita. Namun, tanpa cinta, tidak akan ada diri kita. Jadi, dari kehidupan ke kehidupan, kelahiran bergantung pada perpaduan keinginan orang tua, tetapi akibat keinginan ini, orang-orang dapat berkumpul. Akibat cinta juga, dapat timbul rasa benci antara pria dan perempuan. Semakin dalam rasa cinta, kebencian juga bisa semakin dalam dan semakin kuat. Karena mencintai seseorang, manusia tidak mampu melihat orang yang dicintainya menaruh sedikit perasaan kepada orang lain. Lihat, seorang ibu sangat mencintai anaknya. Suatu saat anaknya harus menikah. Saat istrinya masuk ke keluarga mereka, mertua juga bisa cemburu kepada menantu. Dia bisa membenci menantunya sampai ke tulang.
Mulanya, menantu ini juga adalah pilihannya. Namun, melihat putranya sangat baik kepada istrinya, dia merasa benci. Dia benci kepada menantunya. Tentu, suami dan istri bersatu juga karena keinginan dan belenggu cinta. Mulanya mereka saling mencintai dengan segenap jiwa raga. Namun, jika ada orang ketiga di antara mereka, bukankah rasa benci akan muncul? Jadi, cinta, benci, sayang, dan dendam sungguh menguras air mata. Kita dapat melihat banyak kasus seperti ini di masyarakat. Ini sering terjadi di masyarakat masa kini. Ini sering terjadi di masyarakat masa kini. Ini adalah penggambaran sederhana mengenai cinta, benci, sayang, dan dendam yang menguras air mata. Banyaknya air mata bagaikan empat samudra, bahkan lebih banyak. Demi rasa cinta atau rasa benci, manusia bisa menangis dan meneteskan air mata yang banyaknya bagai air empat Samudra.
Lihatlah, kini banyak orang yang telah tersiksa karena cinta ataupun karena dendam sehingga mengalami depresi. Saat duduk saja, mereka ingin menangis. Saat melihat orang, mereka ingin menangis. Kasus seperti ini juga sangat banyak. Ini adalah penyakit mental yang membawa penderitaan. Air mata yang dikeluarkan bagai empat samudra. Ini menggambarkan bahwa dari kehidupan ke kehidupan, kehidupan kita dipenuhi keinginan dan nafsu yang memicu kita terus mengalami kelahiran serta kematian di tengah cinta dan benci. Setelah meninggal, kita lahir kembali dengan membawa benih cinta dan benci ini. Belenggu ini terus berlangsung dari kehidupan ke kehidupan dan tak kunjung berakhir. Jadi, makhluk di enam alam kelahiran kembali sangat menderita. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati. Orang-orang yang kita temui saat ini, bukankah dahulu pernah kita kasihi atau pernah mengasihi kita? Jadi, kita harus sungguh-sungguh menghargai semuanya. Kita harus menghargai jalinan jodoh yang terjalin sejak masa lampau. Jadi, terhadap setiap orang, kita harus mengasihi. Saudara sekalian, kita harus tahu bahwa semua orang pernah menjadi bagian dari masa lalu kita. Jadi, dalam kehidupan ini, mereka juga bagaikan keluarga kita sendiri. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.