Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 442 – Menjaga Ucapan dan Menapaki Jalan Benar

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus bersyukur. Kita harus selalu memiliki rasa syukur. Kita dapat menghormat pada Buddha di sini dan dapat bermeditasi untuk menyelaraskan batin kita. Ini sungguh merupakan waktu yang berharga. Rasa syukur terus timbul dari lubuk hati saya. Saya bersyukur kepada para Buddha, Bodhisattva, para dewa, dan para pelindung Dharma. Saya juga bersyukur atas cinta kasih yang tulus dari banyak orang. Saya sungguh dipenuhi rasa syukur. Segalanya bermula dari niat baik. Jadi, semoga benih niat baik dapat terus kita sebarkan ke luar. Semoga hati kita penuh kebajikan, penuh cinta kasih, dan bebas dari ego. Dalam kehidupan ini, ketulusan adalah yang utama. Jangan ada kata-kata kosong atau berlebihan. Kata-kata kosong dan berlebihan merusak kualitas diri sendiri. Manusia harus menjaga kualitas karakter dan moralitasnya serta berjalan di Jalan Agung yang lapang. Buddha telah membuka jalan yang beruas delapan bagi kita. Jika kita bisa berjalan di jalan ini, maka seiring perjalanan ini, dari tataran makhluk awam, kita akan sampai ke tataran makhluk suci. Jalan ini tentu sangat panjang, tetapi kita
tidak boleh keluar jalur.

Jika dalam berbicara kita suka berlebihan, bertutur kasar, mencela sesuatu yang baik, atau berbohong sehingga merusak kebajikan, maka karma buruknya sangat berat. Bukankah kita sudah sering membahas tentang dusta, kata-kata kosong, dan gosip yang merupakan karma buruk?

Karma buruk ini sangat merugikan dan membuat manusia kehilangan kebebasan. Karma ini juga bisa mencelakai orang. Saya pernah melihat sebuah berita di Inggris. Pada 70 tahun lalu, ada seorang perempuan yang saat itu baru berusia 15 tahun. Behubung keluarganya kurang mampu, dia pergi ke sebuah ke klinik kecil untuk menjadi perawat kecil. Pada saat itu dia juga sangat rajin bekerja. Pada saat itu dia juga sangat rajin bekerja. Segala pekerjaan bersedia dia kerjakan. Suatu hari, saat ada pemeriksaan obat, di klinik sepertinya ada obat yang hilang. Obat itu sesungguhnya tidak mahal, tetapi orang lain menuduh dia mencurinya. Dia pun berkata tidak, tetapi orang yang menuduh terus mendesak. tetapi orang yang menuduh terus mendesak. Dia akhirnya diserahkan ke penegak hukum, tetapi polisi juga merasa anak itu tidak mungkin mencuri. Terlebih lagi, obat itu tidak seberapa, bagaimana menjatuhkan tuntutan?

Anak ini akhirnya dikirim ke rumah sakit jiwa hingga tujuh puluh tahun lamanya. Betapa lamanya waktu 70 tahun. Anak yang begitu polos, bekerja demi keluarganya, juga tidak mencuri, tentu hatinya terluka dan menderita. Dia dikurung di rumah sakit jiwa. Dia tidak berbicara sampai ada orang yang memeriksa dan menemukan kasus ini. Si pemeriksa menemukan ternyata di sana ada kasus berumur 70 tahun. Kasus ini mulai didalami.

Akhirnya, keluarga perempuan itu ditemukan. Anggota keluarganya menceritakan kisah 70 tahun lalu. Orang tua perempuan itu juga sudah tiada. Kerabat-kerabat tuanya juga sudah meninggal. Yang ada hanya tinggal dua orang adik. Adiknya ini waktu kecil pernah mendengar cerita bahwa kakaknya bekerja di sebuah klinik dan dituduh oleh orang lain dan dikurung di rumah sakit jiwa. Keluarganya tidak mampu dan tidak berdaya. Tujuh puluh tahun berlalu. Adiknya ini kemudian mendengar kakaknya masih hidup. Jadi, dia meminta izin untuk berkunjung. Mereka benar-benar bertemu. Dahulu, sang kakak baru berusia 15 atau 16 tahun, sedangkan si adik masih sangat kecil. Tujuh puluh tahun kemudian, si kakak sudah berusia 80-an tahun. Wajah dan penampilan mereka sudah berubah. Siapa yang bisa mengenal siapa? Kedua adiknya ini menceritakan kisah itu. Perlahan-lahan, si kakak yang sudah berusia 80-an tahun si kakak yang sudah berusia 80-an tahun percaya bahwa mereka adalah keluarganya. percaya bahwa mereka adalah keluarganya. Kesedihan bangkit di hatinya. Dia mulai menangis. Dia berkata, “Selama 70 tahun ini, apa lagi yang dapat saya katakan?” “Saya sudah tak mengenal dunia luar.” “Saya sudah terpisah dari dunia lama sekali.” Dahulu, dia bekerja juga untuk menghidupi keluarga dan membesarkan adik-adiknya. Kini adik-adiknya juga sudah lanjut usia. 

Bayangkan, bukankah sangat menyedihkan? Pada saat itu, surat kabar dan majalah di Inggris juga memuat berita ini besar-besaran dan menggambarkan betapa tragis kisahnya. Benar, tragis sekali. Lihatlah, dia tersiksa selama 70 tahun. Jadi, dalam berbicara, kadang sepatah perkataan yang tidak benar yang kita sendiri tidak mengetahui dan tidak melihat kebenarannya, bisa menjadi fitnah bagi orang lain dan membuat orang lain menyimpan kebencian seumur hidup. 

Inilah karma ucapan. Jadi, di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi dikatakan, “Meski orang lain adalah pejabat setia, anak berbakti, patriot, atau budiman, kami membuat tulisan yang menggambarkannya dengan buruk sehingga generasi berikutnya menyebarkan dan menganggapnya sebagai kebenaran; membuat orang itu mati dalam kebencian dan kebenarannya tak pernah terkuak.” Ada orang yang baik, merupakan pejabat setia, juga anak berbakti. Pejabat setia bekerja demi negara dan berkontribusi dengan bersih. Orang yang bersih seperti ini malah dibenci oleh orang lain. Bahkan, anak berbakti atau patriot yang luhur juga difitnah oleh orang. Orang-orang menggunjingkan mereka atau membuat kabar bohong tentang mereka, bahkan membuat tulisan dan sebagainya untuk menyebarkan keburukan mereka. untuk menyebarkan keburukan mereka. Ini bukan hanya berpengaruh pada masa kini, di mana hati mereka merasa diperlakukan tidak adil. Mungkin seumur hidup mereka, Mungkin seumur hidup mereka, mereka terus menyimpan rasa benci. Ini berawal dari kata-kata kasar, dusta, dan kata-kata kosong. Kata-kata kosong tidak sesuai kenyataan. Demi nama dan keuntungan, manusia menghalalkan segala cara dan tidak memedulikan integritas ucapan. Mereka terus bermulut manis agar orang lain senang sehingga terjerumus. 

Mereka hanya ingin diri sendiri yang menonjol dan orang lain jatuh. Inilah kata-kata kosong. “Demikianlah karma buruk yang timbul dari kata-kata kosong tak terhingga dan tanpa batas. Hari ini dengan tulus kami bertobat atas semuanya.” Bukan hanya hari ini, kita harus berintrospeksi setiap saat adakah kita melakukan kesalahan ini.

Jika ada, kita harus mengingatkan diri sendiri dan segera bertobat dengan sungguh-sungguh. Bagaimana para Buddha dan Bodhisattva bersumbangsih bagi semua makhluk? Saya sering mengatakan bahwa di dalam hati setiap orang ada Buddha dan di dalam tindakan ada Bodhisattva. Kita harus meneladani jejak langkah para Buddha dan Bodhisattva. Bagaimana Mereka berjalan, kita meneladani langkah Mereka. Inilah pikiran praktisi Buddhis. Di masa lalu, kita tidak tahu berapa banyak kata-kata kasar, dusta, atau kata-kata kosong yang telah kita ucapkan. Namun, kita harus segera bertobat. Kita harus segera kembali ke jalan benar. Buddha telah membuka jalan yang lapang bagi kita. Jalan ini adalah jalan benar. Kita harus segera berjalan di jalan ini dan mengubah perilaku yang tidak patut. Sebelumnya kita membahas kata-kata kosong. Kini kita akan membahas gosip. Gosip juga merupakan karma buruk. Gosip membawa masalah dan menjauhkan sesama manusia, membuat keluarga berantakan, membuat perasaan baik menjadi buruk. Ini adalah akibat dari karma ucapan. Jadi, selain bertobat atas kata-kata kosong, kita juga harus bertobat atas gosip.

Jadi, berikutnya dikatakan, “Selain itu, sejak masa tanpa awal hingga kini, kami membuat berbagai kesalahan melalui karma bergunjing.” Begunjing atau begosip sungguh menciptakan karma buruk yang berat. Tadi kita membahas bahwa gosip membawa masalah. Saat kita mendengar suatu kabar, benar atau tidak kita tak peduli, lalu terus menyebarkannya. lalu terus menyebarkannya. Inilah yang kerap dikatakan, yaitu saat satu orang mengatakan kebohongan, ribuan orang mengira benar dan meneruskan. Mungkin saja kita hanya mendengar setengah dan tidak mendengar dari awal, dan tidak mendengar dari awal, sedangkan orang lain mendengar bagian awal, tetapi tidak mendengar akhirnya, lalu mereka menyebarkannya. Ada orang yang bahkan mendengar pun tidak, tetapi menyebarkan kabar burung. Sama dengan kata-kata kosong dan dusta tadi, manusia menyebar gosip. Hal yang tidak ada disebarkan sebagai ada. Ada pula orang yang mendengar setengah, lalu mulai menyebarkan yang didengarnya. Begitulah saat seseorang menyebarkan gosip, yang lain mengira benar dan ikut menyebarkan.

Gosip ini terus menyebar. Inilah yang disebut berulang-ulang. Ucapan ini terus diulang. Lidah yang panjangnya hanya tiga inci dapat menyebarkan suatu ucapan hingga tak dapat dikendalikan. Jadi, hal ini memiliki dua sisi. Jika suatu ucapan itu baik, tentunya baik jika terus disebarkan. Namun, jika yang disebarkan itu buruk, maka akibatnya juga buruk. Ini berawal dari lidah. Contonya, saat ini saya berbicara kepada kalian. Saya juga memerlukan lidah untuk berbicara. Kita ingin berbicara baik atau buruk? Tentu kita harus berbicara baik. Bukan hanya saya yang duduk berbicara di sini, kalian pun duduk di sana untuk mendengar. Setelah mendengarnya, kita juga harus sering menyebarkan kata-kata yang kita dengar ini. Saat para relawan Tzu Chi kembali, mereka akan berbincang dengan para bhiksuni. Jalinan jodoh pun matang. Kalian para bhiksuni bisa menyampaikan yang kalian dengar dari saya. Kalian bisa mengumpulkan para relawan Kalian bisa mengumpulkan para relawan untuk berbincang dan berbagi. untuk berbincang dan berbagi. Ini juga menggunakan lidah. Manusia dapat menyebarkan Dharma, bukan sebaliknya. Kini saya menggunakan lidah saya untuk berbicara kepada kalian. Kalian juga dapat menggunakan lidah kalian untuk berbagi dengan orang lain. Saat berbagi, dengarlah dengan jelas agar Dharma yang masuk ke telinga dapat kita pahami.

Sesungguhnya, Dharma yang saya sampaikan hanyalah sebagian, sama seperti Buddha yang meminta Ananda untuk mengambil pasir dengan kukunya. Ananda menuruti perkataan Buddha dan mengambil pasir dengan kukunya. Buddha lalu bertanya, “Mana lebih banyak, pasir di kukumu ataukah pasir di bumi ini?” Ananda menatap Buddha dan  Ananda menatap Buddha dan  menjawab dengan hormat, “Yang Dijunjung, tentu pasir di bumi lebih banyak.” “Bagaimana bisa pasir di kukuku dibandingkan dengan pasir di bumi?” Buddha lalu berkata, “Benar, begitu pula dengan kebenaran.” “Meski engkau telah terus mengikuti-Ku dan mendengar semua ajaran-Ku ,tetapi ajaran itu hanyalah bagai pasir di kukumu.” “Sesungguhnya, Dharma bagai pasir di bumi ini.” “Masih banyak yang belum Kusampaikan.” “Kebenaran yang telah Kubabarkan dan yang telah kalian ketahui belum banyak.” 

Namun, di manakah Dharma ini? Dharma ini bagai pasir di bumi. Di manakah kebenaran ini? Di dalam batin semua orang. Saat memahami satu kebenaran, kita akan memahami berbagai kebenaran. Asalkan batin kita jernih, asalkan batin kita tanpa noda, kita akan dapat kembali pada hakikat kebijaksanaan sejati yang sama dengan Buddha. Jadi, banyak Dharma yang belum dibabarkan. Namun, semua sudah ada di dalam batin kita, di dalam hakikat sejati kita yang sama dengan Buddha. Jadi, kita harus mendengar dengan sepenuh hati. Kita mendengar kata-kata baik dan membangun pikiran baik. Kita dapat sering berbagi dengan orang lain. Ini juga berawal dari lidah. Lidah ini memiliki dua sisi. Jika berucap benar, itulah Dharma. Jika berucap buruk, itulah masalah. Makhluk awam banyak yang berucap buruk. Saat mendengar suatu ucapan buruk, mereka terus menyebarkannya. Mereka tak peduli benar tidaknya. Mereka terus menyebarkan kata-kata yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Inilah karma bergunjing.

Mereka tak bisa membedakan baik buruk, hanya terus menyebarkan. Karma yang tercipta sangat besar. Jadi, berbicara tentu sangat mudah, Jadi, berbicara tentu sangat mudah, tetapi karma yang bisa tercipta juga besar dan sulit dikendalikan. Jadi, kapan pun itu, kita harus mengingatkan diri sendiri. Terlahir di dunia, kita tentu memiliki kemampuan. Kembangkanlah kemampuan ini, termasuk lidah, untuk hal yang positif. Jadi, semua harus lebih bersungguh hati.