Sanubari Teduh – 441 – Meyakini Hukum Karma
Saudara se-Dharma sekalian, ada empat karma buruk lewat ucapan. Kita telah membahasnya. Kata-kata kosong adalah kata-kata yang berlebihan. Sesungguhnya, kesan terhadap seseorang dalam batin tidak sebaik itu, tetapi mulut kita mengucapkan kata-kata manis tentang orang itu. Ini juga bisa mencelakai orang. Terlebih lagi, minuman keras dan seks. Kita juga sudah membahas ada orang yang membujuk atau mengelabui orang lain dengan kata-kata sehingga dia melakukan kesalahan demi keuntungan diri sendiri. Mereka membujuk orang memakai narkoba, minum minuman keras, berjudi, dan sebagainya.
Semua ini adalah kata-kata yang tidak benar yang bisa membuat orang melakukan kesalahan atau bahkan menyesatkan. Semua ini tidak benar. Ini disebut karma buruk lewat ucapan. Begitu pula dalam hal keyakinan. Ada yang membuat orang percaya takhayul. Saat seseorang sakit, ada yang segera mencari perantara atau mengadakan upacara tolak bala. Jika orang sakit bisa sembuh hanya dengan bertanya pada medium atau melakukan upacara mengubah nasib, untuk apa membangun rumah sakit? Untuk apa ada sekolah kedokteran yang mempelajari bagaimana penyakit muncul, virus atau kuman apa yang memicunya, dan obat apa yang tepat untuk itu?
Kadang saat ada orang yang sakit, ada yang membawa obat alternatif yang berharga mahal, lalu berkata bahwa obat itu mujarab dan sudah banyak yang sembuh dengan obat itu. Saya teringat kisah seseorang yang kondisi keluarganya sangat baik. Usahanya juga sangat maju di Taiwan. Dia menderita kanker dan sudah berobat ke berbagai Rumah Sakit besar. Ilmu pengobatan juga ada batasnya, tetapi pengobatan tidak boleh ditunda.
Namun, ada orang yang membawakannya sejenis air untuk diminum dan harganya sangat mahal. Setiap kali membelinya, diperlukan uang puluhan ribu dolar NT. Saat itu, orang itu berkata, “Kalau mengonsumsi produk ini, kamu tidak boleh menjalani pengobatan lain.” Karena itulah, pengobatannya tertunda hingga dokter pun angkat tangan. Saya juga tidak tega. Saya terus berkata kepadanya untuk mendengarkan kata dokter. Dia malah berkata, “Orang bilang produk ini sangat bagus.”
“Kalau saya meminumnya, akan ada khasiat yang bagus.”
Dia tetap bersikeras. Hingga saat penyakitnya tak tertolong dan dirinya tak mampu bertahan, dia baru kembali mencari dokter. Dokter hanya bisa mengontrol rasa sakitnya. Akhirnya, rasa sakitnya juga tak dapat lagi dikontrol. Bukan hanya itu, pikirannya juga semakin kacau. Otaknya juga sudah terjangkit virus sehingga tak bisa dikendalikan. Masa itu berlangsung lama. Kita sungguh tak sampai hati. Ini hanya karena sedikit pikiran menyimpang. Meski penyakitnya sudah ketahuan, tetapi dokter berkata bahwa penyembuhannya akan agak lambat. Namun, dokter akan berusaha. Dia sendiri merasa takut. Saat ada orang yang memengaruhinya, dia tak dapat lagi berpaling. Meski usianya tidak terbilang tua, tetapi begitulah kehidupannya. Dia mengalami penderitaan panjang dan telah menghabiskan banyak uang, tetapi tetap tidak tertolong. Jadi, kita sering mengatakan bahwa terhadap sesuatu yang diri sendiri tidak paham, jangan kita langsung mengikuti kata orang dan langsung bertindak tanpa ada
pertimbangan. Begitu tindakan dilakukan, meski niatnya baik, tetapi juga bisa membahayakan nyawa, terutama jika menunda pengobatan. Ini tidak boleh terjadi.
Meski niatnya tidak jahat, tetapi kewaspadaan harus ditingkatkan. Setelah mendengar ceritanya, kita harus membimbingnya agar menjalani pengobatan yang benar. Kita harus hati-hati dalam hal ini, terutama hal-hal takhayul. Jika medium, upacara mengubah nasib, dan tolak bala dapat menyelamatkan orang, bayangkan, apakah hukum karma masih berlaku?
Saya sering berkata kepada kalian seperti yang sebelumnya sudah kita bahas, kita harus meyakini hukum karma. Kita harus memiliki keyakinan benar terhadap hukum sebab akibat. Jadi, janganlah kita mengarahkan orang lain dalam hal yang
kita sendiri tidak pahami. Jangan pula berbohong demi mencari keuntungan atau nama. Jangan pula berkata-kata kosong untuk menggoda orang hingga jatuh ke dalam minuman keras atau seks.
Begitu jatuh ke dalamnya, manusia akan sulit berubah. Orang zaman dahulu juga pernah melewati masa Perang Candu. Demi merusak pikiran orang Tionghoa, orang Inggris menciptakan candu. orang Inggris menciptakan candu. Namun, akhirnya banyak orang kaya yang tidak ingin anak mereka berkeliaran di luar atau merantau ke daerah lain malah memberi mereka candu. Anak-anak ini jadi kecanduan. Mereka tidak berkeliaran di luar, tetapi seharian berbaring di rumah dan tidak pernah meninggalkan candu. Candu atau opium termasuk narkoba. Mereka tidak bisa meninggalkan narkoba ini. Mereka telah terbelenggu oleh narkoba dan sangat menderita. Fenomena ini berlaku di seluruh negeri. Akibatnya, pada suatu masa, Tiongkok menjadi tertinggal.
Demikianlah yang terjadi antarnegara demi keuntungan dagang dan pengaruh internasional. Didalam sejarah banyak masa seperti ini. Jadi, kita membutuhkan agama, yakni arah tujuan hidup manusia. yakni arah tujuan hidup manusia. Kita harus menerima bimbingan mengenai jalan yang benar. Kita harus berjalan di jalan yang benar. Buddha telah membuka pintu bagi kita. Jalan Mulia Beruas Delapan sangatlah lapang dan agung. Buddha telah membabarkan Jalan Mulia Beruas Delapan. Alangkah baiknya
jika kita semua dapat menapaki jalan ini.
Jadi, saya juga sering mengulas 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Ini adalah landasan dalam pelatihan diri kita. Jadi, kita harus sering mengulangnya. 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan adalah bimbingan Buddha bagi kita agar pikiran kita tidak menyimpang dan agar kita dapat hidup di jalan benar. Dari sini kita juga dapat mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan; mana yang boleh dikatakan dan mana yang tidak boleh dikatakan. Kata-kata yang keluar dari mulut dapat menciptakan bencana besar. Ini tertulis dalam 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Inilah ajaran bagi kita.
Jadi, jika tidak berhati-hati dan tidak menerima bimbingan, kita akan mudah melakukan kesalahan lewat kata-kata yang ringan. Sutra Makna Tanpa Batas juga terus mengingatkan kita. Jika kita memahami 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan dan Sutra Makna Tanpa Batas, maka dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa terjun ke masyarakat dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva dengan hati Buddha. Mengenai 10 karma buruk semua makhluk, asalkan kita membimbing semua makhluk dengan semangat “makna tanpa batas”, maka lihatlah, di dalam bab Sepuluh Pahala dikatakan, “Membangkitkan cinta kasih bagi yang tak memiliki cinta kasih; membangkitkan welas asih bagi yang tak memiliki welas asih; membangkitkan niat berdana bagi yang gemar mencuri,” dan seterusnya. Penggalan ini menunjukkan bahwa kita bisa mengubah keburukan menjadi kebaikan. Kebaikan adalah pahala. Jadi, Buddha membimbing kita untuk mengembangkan pahala dan melatih diri. Apa yang disebut pahala? Pelatihan ke dalam dan praktik ke luar. Ke dalam, kita harus rendah hati.
Ini juga berkaitan dengan dusta. Kita merasa diri kita sudah mencapai sesuatu padahal belum. Kita mengaku sudah mencapai pencerahan padahal belum, lalu menyesatkan semua makhluk. Semua tak lain bertujuan agar orang lain menghormati kita atau memberi persembahan. Inilah tujuannya. Jadi, ucapan sangatlah penting. Jika ucapan kita menyimpang, lalu menjerumuskan orang ke dalam minuman keras dan seks, orang itu akan sulit berpaling. Meski tahu dirinya salah, sulit baginya untuk berubah. Contoh yang sederhana, untuk berhenti mengunyah pinang saja sulit. Ada banyak orang yang merasa tidak apa-apa jika tidak makan, tetapi harus mengunyah pinang. Sulit meminta orang untuk berhenti merokok, meski sudah dinasihati dokter demi kesehatannya sendiri dan kesehatan keluarganya. Bahkan, para perokok pasif di keluarganya juga sudah menasihatinya, “Kalau kamu terus merokok, anak dan istrimu juga menjadi perokok pasif karena menghirup asap yang kau embuskan.” Beberapa saat lalu saya pernah mendengar fakta mengenai rokok. Dikatakan bahwa rokok buruk bagi kesehatan. Ada zat pemicu kanker di dalam tembakau. Ini faktanya, tetapi tetap sulit bagi perokok untuk berhenti. Jadi, para anggota Tzu Cheng kita sering saya sebut sebagai pemberani.
Yang makan pinang berhenti makan pinang; yang merokok berhenti merokok; yang minum alkohol berhenti minum alkohol; yang berjudi berhenti berjudi. Begitu mereka memasuki jalan benar ini, mereka membuang tabiat lama meski sulit. Asalkan ada kegigihan, mereka pasti berhasil. Lihatlah, kini banyak orang yang bahkan tidak bisa berhenti merokok atau mengunyah pinang, terlebih lagi mengonsumsi narkoba. Mengenai narkoba, saat mendengar mantan pecandu narkoba bersaksi tentang caranya lepas dari narkoba, dia pasti bercerita bahwa tanpa narkoba, dia sangat menderita. Tahukah kalian? Rasanya bagaikan ribuan serangga masuk ke dalam tubuh. Dia menderita sekali. Dia sungguh ingin menabrak tembok. Tentu sulit untuk lepas dari narkoba. Namun,
mengapa dia bisa sampai menggunakan narkoba?
Awalnya ada pengedar narkoba yang menjerumuskan dirinya. Dia terus terseret dan tak mampu berpaling. dan tak mampu berpaling. Untuk sembuh, dia harus bertaruh nyawa. Dia harus teguh dan gigih, bahkan sampai harus menggigit lidah untuk menahan rasa sakit. Ada yang begitu sulit terlepas dari narkoba, tetapi begitu teman lama mengajaknya kembali, dia langsung kembali terjerumus. Bayangkan, untuk berpaling, dia harus menderita. Begitu pula dengan alkohol dan seks. Di zaman dahulu juga ada raja yang mudah terpikat oleh perempuan sehingga negaranya hancur.
Lihatlah, begitu banyak pria di masa lalu yang hanya karena perempuan, menjerumuskan rakyat pada bencana.
Saudara sekalian, ucapan lewat mulut bisa sangat menggoda dan menjerumuskan. Inilah kata-kata kosong. Ada orang yang menulis tulisan yang menggoda dan membangkitkan gairah. Semua ini termasuk kata-kata kosong. Kata-kata in idituangkan ke dalam tulisan atau diucapkan lewat mulut. Ini membawa penderitaan.
Saudara sekalian, dusta, kata-kata kosong, dan gosip bisa dikatakan sungguh membawa banyak bencana bagi dunia. Banyak keluarga, masyarakat, bahkan negara mengalami bencana dan malapetaka hanya karena ucapan yang keluar dari mulut. Penyakit pun masuk melalui mulut.
Jadi, kita harus mengendalikan mulut kita. Jadi, kita harus tulus. Bertutur-kata harus jujur dan tulus. Jika tidak tulus dalam berbicara, kita akan menciptakan karma buruk ucapan yang merusak karakter diri sendiri serta mengacaukan masyarakat dan negara. Jadi, kita harus menjaga ucapan kita. Harap semua lebih bersungguh hati.