Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 454 – Membangkitkan Kebijaksanaan dan Menyelami Welas Asih

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita tak luput dari mendengar suara dan melihat benda. Indra mata dan telinga kita sangat tajam. Saat terbangun setiap hari, kita membuka mata. Yang pertama kali bersentuhan dengan kondisi adalah indra mata, berikutnya adalah telinga. Telinga mendengar berbagai suara di dunia yang dapat membangkitkan kebijaksanaan untuk menganalisis berbagai penderitaan di dunia. Dengan demikian, kita bisa membangkitkan welas asih. Jika kita memandang dunia dengan pikiran untuk melatih diri, maka saat mendengar berbagai suara, semuanya tak lain bermanfaat untuk membangkitkan kebijaksanaan kita. Untuk memahami Dharma, juga dimulai dari telinga yang mendengar. Kita harus mendengar, merenungkan, dan mempraktikkan Dharma, barulah bisa memasuki Samadhi. Artinya, indra telinga dapat mendengar segala Dharma. Setelah mendengar, kita harus merenungkannya.

Dapatkah indra-indra kita menyerap Dharma yang dibabarkan? Dharma ada pada segala sesuatu didunia. Dapatkah semua itu meresap ke batin kita? Setelah meresap ke dalam batin kita, dapatkah kita menggunakannya? Kita sering berkata bahwa dunia ini penuh penderitaan. Di manakah penderitaan itu? Makhluk awam melewati kehidupan sehari-hari dengan biasa-biasa saja, bahkan penuh kenikmatan. Ada makanan, ada pakaian, segala keinginan juga bisa terpenuhi. Apanya yang menderita? Sesunggunya, jika kita mendengar  dan melihat dengan kebijaksanaan, apakah kebahagiaan sejati di dunia? Sejak lahir hingga berusia puluhan tahun, kita mungkin hidup dengan lancar, tetapi bukankah pada akhirnya mati juga? Siapa yang tidak pernah menderita di dunia? Jadi, kita harus menganalisis, terutama saat mendengar banyak penderitaan di dunia dan melihat orang-orang yang menderita. Lewat pendengaran dan penglihatan, kita menyadari penderitaan dalam kehidupan. Jadi, setelah mendengar Dharma, barulah kita dapat menganalisis penderitaan di dunia. Dengan menganalisis penderitaan di dunia, barulah kita dapat menyelami welas asih. Jadi, untuk membangkitkan kebijaksanaan, Jadi, untuk membangkitkan kebijaksanaan, kita harus mendengarkan Dharma yang benar untuk membuka pintu kebijaksanaan kita. Kita harus menganalisis bahwa di dunia ini tiadak aada satu pun kebahagiaan abadi. Tidak ada. Meski ada cinta, ia tetap memiliki penderitaan. Berpisah dengan dicintai dan bertemu dengan dibenci membawa penderitaan.

Lihatlah, meski di dunia ada orang yang saling mencintai, meski di dunia ada orang yang saling mencintai, tetapi suatu hari, mereka pasti terpisah oleh kematian. Untuk memandang semua orang secara setara sangatlah sulit. Jadi, pasti ada penderitaan saat berkumpul dengan yang dibenci. Jadi, jika dipikirkan dan dianalisis dengan sungguh-sungguh, dunia ini memang penuh penderitaan. Dari sepuluh hal, ada delapan atau sembilan yang tak sesuai harapan. Oleh karena itu, bagaimana kita bisa mengembangkan empati? Melihat orang lain risau, bagaimana kita mengurai kerisauan mereka? Melihat mereka hidup menderita, bagaimana kita membantu mereka? Inilah yang disebut menyelami welas asih. Jadi, di dalam Sutra sering disebutkan tentang Bodhisattva Avalokitesvara. Bodhisattva Avalokitesvara adalah Buddha yang sudah tercerahkan sejak lama yang bernama Tathagata Samyak-dharma-vidya. Lamanya tidak dapat diukur. Namun, sebelum mencapai kebuddhaan, di masa yang lebih lama lagi, saat Beliau masih melatih diri, saat Beliau masih melatih diri, dikatakan berkalpa-kalpa yang lampau, dikatakan berkalpa-kalpa yang lampau, pada masa itu juga ada seorang Buddha. Bodhisattva Avalokitesvara berlatih pada masa Buddha tersebut dan menerima ajaran-Nya. Jadi, saat melatih diri, Beliau membangkitkan Bodhicitta. Beliau bertekad untuk menyatu dengan hati Buddha dan berwelas asih terhadap semua makhluk. Artinya, Beliau membangkitkan ikrar untuk menjadi sama dengan para Buddha. Buddha mana pun tak boleh kurang welas asih dan kebijaksanaan. Jadi, tujuan kita melatih diri ialah mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan.

Jadi, sejak dahulu, sejak berkalpa-kalpa yang lampau, para Buddha selalu memiliki welas asih dan kebijaksanaan. Jadi, Beliau berikrar untuk menyatu dengan hati Buddha dan berwelas asih terhadap semua makhluk. Inilah welas asih atas dasar kesalingterkaitan. Semua berawal dari telinga yang mendengar Dharma, barulah kebijaksanaan terbangkitkan. Saat kebijaksanaan bangkit, kita baru dapat memahami penderitaan semua makhluk. Jadi, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan telinga kita untuk mendengar penderitaan dunia. Dengan begitu, barulah kita bisa membangkitkan welas asih. Saudara sekalian, saat melatih diri dalam keseharian, mendengar orang lain berkata apa pun, kita harus bersyukur dan bersikap pengertian. Semua itu adalah Dharma. Saat mendengar burung berkicau atau serangga mengerik, banyak pujangga yang bisa membuat puisi. Namun, kita bayangkan, burung juga termasuk binatang. Serangga lebih kecil lagi. Usianya juga sangat pendek. Bukan membuatnya sebagai inspirasi puisi, kita seharusnya berbelas kasih padanya. Ini bergantung pada sikap yang kita gunakan dalam mendengar berbagai hal di dunia. Jadi, demikianlah yang dikatakan penggalan ini. Kita sudah terus-menerus bertobat atas perbuatan enam indra di masa lalu. Enam indra bersentuhan dengan enam objek sehingga menciptakan banyak karma buruk. Sebelumnya juga kita telah bertobat atas indra mata. Jika kita dapat memurnikan indra mata, maka segala yang dilihat adalah Dharma murni. Kita juga berharap dapat melihat tubuh Dharma murni dari para Buddha. Kita sudah membahas ini sebelumnya. Sesungguhnya, tubuh Dharma yang murni bebas dari dualitas. Kondisi batin itu bebas dari noda. Setiap orang pada dasarnya memiliki tubuh Dharma yang sama dengan Buddha. Inilah hakikat kebuddhaan yang murni tanpa noda. Inilah mengapa kita berharap dapat melampaui tataran awam. Dengan melampaui pemahaman awam, kita dapat berangsung-angsur mendekat pada pemahaman Buddha, Batin kita dapat terus disucikan Batin kita dapat terus disucikan sehingga benar-benar bebas dari noda. Dengan demikian, tidak sulit bagi kita untuk melihat tubuh Dharma.

Demikian pula, kini, dengan pahala dari pertobatan, kita membersihkan noda batin. Kita sudah pernah membahas bahwa pahala berarti rendah hati ke dalam dan bertata krama ke luar. Di dalam hati harus ada pelatihan. Kita harus terus memperkuat keterampilan di dalam batin. Ini terasa sangat abstrak. Namun, saya sering menggunakan bahasa sederhana, yaitu berlapang dada, berpikiran murni, bersikap pengertian, dan bertoleransi. Sikap pengertian sangatlah penting. Jadi, jika kita dapat berpedoman pada beberapa sikap ini, yaitu melapangkan hati kita hingga dapat merangkul segala sesuatu di dunia dan menganggap semua sebagai satu keluarga, maka penderitaan siapa yang tak kita pedulikan? Kita peduli semuanya. Inilah yang disebut membersihkan kepicikan makhluk awam. Jika kita dapat memandang secara lebih luas, hati kita juga akan lebih lapang. Demikian pula pendengaran dengan telinga, kita dapat memahami sepuluh saat mendengar satu serta menyadari ribuan prinsip kebenaran. Semua ini dimulai dari telinga yang mendengar. Saat mendengar sebuah suara, kita dapat memahami sepuluh hal. Sepuluh hal ini bisa mengandung seribu prinsip. Ada ungkapan berbunyi, Satu prinsip dipahami, ribuan prinsip ditembus. Jadi, asalkan kita dapat memahami satu Dharma, kita akan dapat memahami berbagai kebenaran. Satu prinsip dipahami, ribuan prinsip ditembus. Kita dapat memahami semuanya. Singkat kata, rintangan datang dari batin yang tercemar. Kita harus terus membersihkan noda ini. Jika batin dapat dibersihkan sedikit, berarti keterampilan kita meningkat sedikit. Keterampilan ini mewujudkan kebijaksanaan. Inilah yang disebut pahala.

Benar, kita berharap indra telinga kita dapat mendengar para Buddha dan suciwan di sepuluh penjuru. Di manakah para Buddha dan para suciwan? Jika di hati kita ada Buddha, maka setiap orang bagaikan Buddha. Jika batin kita terbebas dari pemahaman awam, setiap orang akan bagaikan suciwan. Kita dapat dekat dengan setiap orang dan memahami isi hati mereka.

Dari berbagai perilaku mereka, kita dapat memetik hikmahnya. Mereka semua tengah membabarkan Dharma. Contohnya, saat memberi bantuan, insan Tzu Chi membungkuk dengan penuh rasa hormat dan syukur. Kita melihat setiap orang dengan hati Buddha sehingga setiap orang adalah Buddha. Meski orang lain adalah penerima bantuan, mereka juga membimbing kita. Mereka tengah membabarkan Dharma untuk membimbing kita. Jadi, jika kita dapat memandang semua orang dengan sikap batin ini, maka ucapan baik ataupun buruk, semua kita anggap sebagai didikan bagi kita. Kita dapat segera berintrospeksi, memperoleh kesadaran, meningkatkan rasa mawas diri dan ketulusan. Bayangkan, bukankah ini bagai mendengar para Buddha dan suciwan di sepuluh penjuru? Jadi, kita harus menggunakan sikap batin ini untuk menghadapi suara dalam keseharian. Dengan demikian, semua yang orang katakan adalah Dharma. Dharma yang dikatakan ini, baik benar maupun salah, semua berguna untuk membuka kebijaksanaan kita. Kita dapat memilahnya. Kita berharap dapat memilah segala hal dengan kebijaksanaan hakiki yang murni. Kita bisa mentransformasi yang didengar menjadi Dharma. Ini yang disebut memutar roda Dharma.

Bagaimanapun, ucapan seperti apa pun dapat kita maklumi. Ini disebut memutar roda Dharma. Inilah Dharma yang benar. Jadi, kita harus menjalankan ajaran. Menjalankan ajaran berarti ajaran yang Buddha berikan harus sungguh-sungguh kita terapkan. Kita sungguh harus memahami Dharma. Dharma yang dibabarkan Buddha lebih dari 2.000 tahun yang lalu, jika dapat kita pahami, segalanya merupakan kebenaran yang menakjubkan. Jadi, kita harus menjalankan ajaran. Kita harus memiliki sikap batin seperti ini. Kata-kata para Buddha dan Bodhisattva, semuanya adalah Dharma. Jika pelatihan diri kita lebih baik, Jika pelatihan diri kita lebih baik, maka apa pun yang orang lain katakan, kita tetap berterima kasih. “Terima kasih Anda telah mengingatkan.” “Terima kasih atas bimbingan Anda.” Sesungguhnya, ucapan seburuk atau sekasar apa pun, kita tetap menganggapnya sebagai ucapan Bodhisattva yang mendidik kita. Jadi, setiap orang kita anggap sebagai Buddha dan Bodhisattva. Dengan begitu, mendengar kata-kata apa pun, contohnya seperti kata-kata saya sekarang yang mengandung kebaikan untuk membimbing kalian, jika dapat kalian terapkan, ia adalah Dharma. Demikian pula, saat saya merasa tidak senang, saat kalian berbicara menyinggung sedikit saja, saya mungkin akan berteriak dan melontarkan kata-kata kasar.

Saat itu, kalian juga harus berterima kasih atas ajaran saya itu. Jika kalian memiliki rasa hormat, bagaimanapun saya memaki kalian, sekasar apa pun kata-kata saya, kalian tetap akan berterima kasih. Demikian pula, selama kita memiliki rasa hormat, kata-kata kasar pun kita pandang sebagai Dharma. Jadi, kita menggunakan indra telinga kita. Setelah mendengar, kita merenungkannya. Lalu, kita mempraktikkannya. Setelah mendengar, kita merenung. Setelah itu, kita segera mempraktikkannya. Kita melatih diri dalam keseharian. Mendengar berarti melatih kebijaksanaan; Dharma adalah kondisi luar. Segala kondisi luar adalah Dharma yang dibabarkan bagi kita. Baik suara angin, air, burung, serangga, maupun manusia, semua tengah membabarkan Dharma bagi kita. Dari kondisi ini, kita mengembangkan kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan, kita merefleksikan kondisi luar. Tadi sudah kita bahas tentang membangkitkan kebijaksanaan dan menyelami welas asih. Jadi, kita menghadapi kondisi dengan kebijaksanaan. Jika kita dapat merefleksikan kondisi luar dengan kebijaksanaan, mana mungkin enam indra kita menciptakan karma buruk? Tidak mungkin. Pada tahapan ini, segala kondisi mengembangkan kebijaksanaan kita. Kebijaksanaan kita menyatu dengan kondisi. Kondisi ini membangkitkan kebijaksanaan kita. Inilah Dharma yang benar. Jadi, kita sungguh harus melatih diri. Kadang, saat membaca majalah, saya menemukan artikel menarik tentang berkah di alam manusia. Ada sebuah artikel yang bercerita bahwa saat menerima budi baik, manusia harus tahu membalas budi.

Kadang, suatu barang yang kecil atau sedikit dan tidak kita anggap berharga, tetapi bagi si penerima sangat berharga sehingga dia bersyukur seumur hidup. Ada kisah seperti itu. Ada seorang pujangga dari Korea. Dia pergi bertamasya ke India. Dia lalu bertemu seorang tua. Orang tua itu membimbingnya bahwa saat menerima kebaikan kecil dari orang lain, kita harus tahu untuk membalas budi dan berterima kasih seumur hidup. Pujangga dari Korea ini bernama Ryu Shiva. Beliau berkata demikian. Beliau bercerita bahwa saat pergi ke India, di Jalan dia bertemu penjual seruling. Orang tua itu menjual seruling di pinggir jalan. Saat melihat Ryu Shiva, orang itu menawarkan serulingnya. Orang tua itu langsung menceritakan penderitaannya. Dia memberi tahu si pujangga, “Saya sangat kasihan.” “Istri saya sudah meninggal tahun lalu.” “Lima anak saya masih kecil.” “Saya harus membesarkan mereka sendiri.” Sebelum dia selesai bercerita, pujangga itu merasa orang tua itu sedang berbohong. Dia merasa curiga. Jadi, sebelum orang tua itu selesai bicara, dia segera menimpali, “Apakah kamu juga tak bisa bayar sewa rumah sehingga diusir pemilik rumah?” “Benar?” Mendengarnya, orang tua itu menjawab, “Ya Tuhan, bagaimana Anda bisa tahu?” “Saya sungguh menderita.” “Saya bergelandang dengan membawa 5 anak.” “Saya mohon padamu untuk membeli sebatang seruling ini.” Meski orang tua itu berkata begitu, tetapi si pujangga tetap merasa curiga.

Namun, si orang tua sangat tulus. Begitu selesai bicara, dia langsung mengambil sebatang seruling dan memainkannya. Mendengar suara seruling yang merdu, pujangga itu merasa tersentuh. Dia lalu berpikir, “Baiklah, saya bantu kamu.” Dia ingin berdana. Dia lalu ingin mengeluarkan uang sepuluh rupee. Namun, uang yang keluar adalah selembar seratus rupee. Saat itu dia agak ragu. Dia merasa sepuluh rupee saja cukup. Namun, uang yang dia keluarkan adalah 100 rupee. Dia ragu sejenak, lalu tetap memberikannya. Sesungguhnya, hatinya ingin memberi 10 rupee. Namun, melihat orang tua itu sangat kasihan, dia mengeluarkan uang 100 rupee. Orang tua itu menerima uang 100 rupee itu. Orang tua itu menerima uang 100 rupee itu. Dia segera beranjali dan berlutut. Dia terus bersujud dan berterima kasih. “Kebaikanmu akan saya ingat seumur hidup.” Keesokan paginya, si pujangga mendengar suara seruling merdu di luar kamarnya. Dia terbangun diiringi suara seruling itu. Saat dia melihat ke luar, ternyata ada orang tua itu yang memainkannya. Orang tua itu meniup seruling di luar penginapan. Melihat si pujangga sudah bangun, orang tua itu berkata, “Selama Anda masih tinggal di sini, setiap hari saya akan memainkan seruling agar Anda bangun diiringi irama yang merdu.” Pujangga itu merasa, “Saya sangat beruntung.” “Saya hanya memberi sedikit uang.” “Ini bagai kebaikan setetes air dibalas dengan mata air.” “Perdana menteri pun belum tentu bisa menikmati alunan merdu seperti saya saat bangun tidur setiap hari.” Jadi, dia sangat bersyukur.

Saudara sekalian, bagaimana kita mendengar suara? Sebagai makhluk awam kadang kita memiliki kecurigaan. Namun, ada banyak hal di dunia yang dapat mengajari kita. Ini bergantung pada kesungguhan hati kita dan cara yang kita gunakan untuk menghadapi kondisi luar. Lihatlah orang tua miskin tadi. Di pinggir jalan pun dia dapat memengaruhi si pujangga. Seumur hidup, si pujangga tak akan melupakan ajaran yang diberikan si orang tua itu. Lihat, dalam keseharian kita seharusnya senantiasa belajar untuk membangkitkan kebijaksanaan dari apa yang kita dengar. Kita harus dapat menganalisis penderitaan dan menyelami welas asih. Di tengah kondisi dunia seperti ini, kita melatih welas asih dan kebijaksanaan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.