Relawan Tzu Chi Ajak Siswa-siswi Carnegie School Belajar tentang Pelestarian Lingkungan
“Mengubah sampah menjadi emas, emas menjadi cinta kasih yang mengaliri dunia”.
– Kata perenungan Master Cheng Yen –
Pada hari Selasa, 18 Maret 2025, relawan Tzu Chi Medan berkunjung ke Carnegie School untuk mensosialisasikan sejarah Tzu Chi serta misi pelestarian lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Wisdom Hall, Jalan Emas Yang Lim Building, Carnegie School, dan diikuti oleh 180 peserta yang terdiri dari siswa-siswi tingkat SMP dan SMA beserta guru, serta 20 relawan. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk mengedukasi para siswa, guru, dan keluarga mereka tentang bagaimana berperan aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan mendukung program daur ulang di lingkungan sekitar. Harapannya, siswa-siswi semakin peduli terhadap lingkungan dan ikut serta menjaga bumi agar tetap lestari. “Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat dan dampak positif,” jelas Kim Hong, koordinator kegiatan.
Relawan juga menjelaskan konsep 5R (Rethink, Reduce, Repair, Reuse, Recycle). Sebelum membeli barang, kita diajak untuk berpikir ulang apakah yang akan dibeli merupakan kebutuhan atau hanya keinginan. “Adik-adik, hewan apa yang usianya paling panjang?” tanya Hui Nie. “Kura-kura,” jawab siswa serempak.
“Kalau begitu, barang apa yang paling lama terurai di bumi?” sapa Hui Nie kembali. Seperti yang diketahui bersama, bahan-bahan nonorganik yang sulit terurai bisa merusak lingkungan dan mengganggu ekosistem hewan. Mengurangi penggunaan plastik, styrofoam, kertas, dan botol kaca dapat membantu mencegah bencana seperti banjir dan pemanasan global. Menghemat listrik dan air, serta membawa kotak makanan dan botol minum sendiri, juga merupakan bagian dari pelestarian lingkungan. Sampah yang dihasilkan manusia akan berakhir di tempat pembuangan, sehingga kita harus membeli sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Master Cheng Yen mengajak kita semua untuk menghargai berkah, menjaga lingkungan, dan mengubah sampah menjadi emas—emas menjadi cinta kasih.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Hui Nie, para siswa juga diajak melihat isyarat tangan Dunia yang Bersih yang dibawakan oleh para relawan. Ini adalah bagian dari budaya humanis, salah satu misi utama Tzu Chi.
Hansen, siswa kelas SMP 3, merasa mendapat banyak manfaat dan bertekad untuk terus menjaga lingkungan dan mendaur ulang botol plastik atau barang-barang tidak terpakai untuk didonasikan ke Tzu Chi. “Di rumah saya sudah praktikkan. Kalau melihat sampah, saya langsung buang ke tempat sampah. Koran bekas saya simpan rapi di lemari atau di tempat khusus barang bekas. Yang paling mengejutkan bagi saya adalah informasi tentang 2.000 ton sampah yang dihasilkan kota Medan setiap hari karena ulah manusia. Saya harap kegiatan ini bisa diperluas ke sekolah lain agar lebih banyak siswa yang tahu apa yang dilakukan Tzu Chi dan ikut menjaga lingkungan,” ungkap Hansen penuh harap.
Moni Chandra, Kepala Sekolah sekaligus Quality Control SMA Carnegie School, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Ia merasa bahagia karena sosialisasi ini telah menambah wawasan para siswa dan guru dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Tujuan sosialisasi ini adalah untuk mengedukasi masyarakat agar berperan aktif dalam kegiatan sosial demi kesejahteraan bersama. Juga untuk meningkatkan kesadaran sosial serta membuka wawasan mengenai pentingnya peran masyarakat dalam mengatasi masalah sosial, membantu sesama, dan mendukung program daur ulang,” tuturnya.
Menanamkan jiwa cinta lingkungan pada generasi penerus sangatlah penting. Semoga apa yang mereka pelajari hari ini bisa dipraktikkan di rumah dan di lingkungan sekitar, sehingga kita dapat mewariskan bumi yang sehat dan berkelanjutan kepada generasi berikutnya.
Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Liani, Mellisa Sim (Tzu Chi Medan),
Editor : Hadi Pranoto.