Kegiatan di Sumatera Utara

Huntap Yayasan Tzu Chi Jadi Awal Kehidupan Baru Warga Pinangsori, Tapanuli Tengah

Acara yang dilaksanakan di Kantor Dinas Pendidikan Pandan pada tanggal 26 April 2026 menjadi tonggak sejarah dimulainya kehidupan baru bagi ratusan keluarga yang kehilangan harta benda akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Kegiatan verifikasi dan pengambilan nomor undian rumah ini dihadiri oleh Mujianto, Pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia wilayah Sumatera Utara, beserta relawan, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, SH., MH., Wakil Bupati Mahmud Effendi Lubis, Sekda, para asisten, pimpinan OPD, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tapanuli Tengah, Kepala BPS, serta para kepala desa.
Tetty Sumarni Hutabarat beserta suaminya sedang mengikuti verifikasi data dan pengundian nomor rumah huntap. Tetty dengan senyum Bahagia mengucapkan berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan pemerintah daerah tapanuli Tengah yang telah membantu membangun Kembali hunian tetap untuk keluarga yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumut Mujianto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dalam memfasilitasi lahan pembangunan huntap di Pinangsori Tapanuli Tengah.
Dalam sambutannya, Mujianto mengapresiasi kerja sama yang solid dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah yang telah memfasilitasi pembangunan Hunian Tetap (Huntap) dengan menyediakan lahan dan infrastruktur pendukung seperti listrik dan air.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, baik Bupati, Wakil Bupati, maupun Sekda, dalam memfasilitasi pembangunan Huntap bagi masyarakat terdampak banjir. Hunian ini diharapkan menjadi berkah bagi anak cucu. Rumah ini adalah amanah, tidak boleh diperjualbelikan atau dipindahtangankan dalam kurun waktu 10 tahun,” tegas Mujianto.
Mujianto juga menjelaskan bahwa sistem undian nomor rumah digunakan untuk memastikan keadilan dan transparansi bagi seluruh penerima manfaat dalam penempatan posisi rumah.
Ketua Tzu Chi Sumut Mujianto turut melakukan wawancara kepada warga calon penerima Huntap dengan memverifikasi data-data calon penerima huntap di Pinangsori Tapanuli Tengah.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, SH., MH., yang hadir bersama Wakil Bupati Mahmud Effendi Lubis dan jajaran OPD, menekankan bahwa kehadiran Huntap ini merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
“Kami meminta maaf atas keterlambatan administrasi, namun seluruh korban yang rumahnya rusak akan tetap diurus secara bertahap,” ujar Masinton.
“Kami memastikan tidak ada politisasi dalam pembagian bantuan rumah ini. Prioritas utama adalah warga yang rumahnya rusak berat,” tegasnya. Selain rumah gratis yang telah dilengkapi perabotan seperti sofa, meja makan, dan kasur, pemerintah juga menyiapkan program pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan usaha dan peminjaman lahan pertanian. “Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang terus membantu dalam proses pembangunan Huntap bagi warga kami yang terdampak banjir,” tambah Masinton.
Ketua Tzu Chi Sumut Mujianto bersama Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengikuti proses pengundian nomor rumah untuk warga yang telah melakukan verifikasi untuk menempati Hunian Tetap di Pinangsori.
Di balik deretan rumah baru yang kokoh, tersimpan kisah perjuangan hidup para calon penghuninya.
Salah satunya Tetty Sumarni Hutabarat (43), warga Perumahan Pandan Permai. Ia menceritakan saat bencana tanah longsor dan banjir bandang melanda wilayah tersebut. Longsor besar dari perbukitan di luar perumahan menghantam rumah-rumah warga.
Akibat peristiwa itu, sekitar 10 rumah roboh, termasuk rumah Tetty. “Air tiba-tiba naik setinggi pinggang. Suami saya sedang dinas di Sibolga,” kenang Tetty.
Dalam kondisi listrik padam dan jaringan komunikasi terputus, suaminya yang berada di Sibolga harus berjalan kaki puluhan kilometer menerjang banjir setinggi dada demi mencari istri dan anak-anaknya.
“Kami sempat hilang kontak karena listrik dan jaringan internet mati,” ujar Tetty. Tetangga sempat menyarankan Tetty dan anaknya untuk meninggalkan rumah dan menuju pengungsian.
Setelah dua hari tanpa kabar, suami Tetty akhirnya berhasil menemukan keluarganya. “Puji syukur kami sekeluarga selamat. Ini adalah rumah cinta kasih bagi kami. Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas bantuan rumah baru ini. Semoga rumah ini membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi keluarga kami,” tutur Tetty.
Bagi Tetty, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari sejarah hidup yang akan ia ceritakan kepada anak cucunya.
Siti Rahmawati dengan wajah gembira berfoto bersama dengan nomor unit rumah hasil dari undian. Siti menempati rumah di Blok F dengan nomor rumah 15.
Kisah lain datang dari Siti Rahmawati Br. Lubis, seorang ibu tunggal. “Saat kejadian saya sedang berkebun. Ketika pulang, rumah sudah tidak ada. Saya berjalan sambil menangis karena tidak ada harta benda yang bisa diselamatkan. Semua hanyut, hanya tersisa baju di badan,” tutur Siti.
Ia dan anak-anaknya sempat mengungsi di tenda darurat sebelum dipindahkan ke Huntara Asrama Haji. “Saya sangat bersyukur dan senang, seperti mimpi bisa memiliki rumah lagi. Rumahnya bagus, bersih, dan sudah dilengkapi perabotan. Terima kasih kepada Tzu Chi dan pemerintah yang telah peduli kepada kami. Kini, dengan rumah yang berada di lokasi lebih aman, kami memiliki kekuatan untuk memulai hidup baru bersama anak-anak,” ucap Siti.
Timmy Jawira bersama sama relawan Medan mendata kembali nomor undian rumah yang diambil sendiri oleh warga agar tidak terjadi rasa iri dalam menentukan posisi rumah.
Hunian Tetap yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi ini bukan sekadar bangunan dari semen dan batu bata, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat Tapanuli Tengah yang terdampak bencana.
Dengan dukungan penuh dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, diharapkan para penyintas tidak hanya mendapatkan tempat tinggal yang layak, tetapi juga mampu kembali menemukan martabat serta kemandirian ekonomi dalam kehidupan baru mereka.

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Liani (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.

rp888

rp888