Menapaki Kesadaran Melalui Pradaksina: Latihan Jing Xing dalam Kehidupan Sehari-hari
Pradaksina dalam tradisi Tzu Chi merupakan salah satu bentuk praktik Jing Xing yang dijalankan dengan penuh kesadaran. Praktik ini mengajak setiap insan untuk menenangkan hati di tengah kesibukan hidup. Melalui langkah perlahan, teratur, dan selaras, para relawan dan peserta melatih diri untuk menghadirkan ketenangan batin serta menumbuhkan kebijaksanaan dalam setiap gerak.
Lebih dari sekadar meditasi berjalan, Pradaksina adalah wujud nyata penerapan Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Setiap langkahnya didasari niat tulus untuk menebarkan cinta kasih dan kebajikan.
Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, kegiatan Pradaksina diikuti para relawan dan peserta dengan penuh kekhusyukan. Sejak pukul 06.00 WIB, peserta telah berkumpul dan membentuk barisan rapi, menciptakan suasana tenang sarat makna spiritual. Kegiatan berlangsung tertib, dipandu oleh tiga Bhikkhu Sangha yang menambah kekhidmatan dan membimbing setiap peserta menapaki langkah-langkah kesadaran yang sederhana namun mendalam.
Lebih dari sekadar meditasi berjalan, Pradaksina adalah wujud nyata penerapan Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Setiap langkahnya didasari niat tulus untuk menebarkan cinta kasih dan kebajikan.
Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, kegiatan Pradaksina diikuti para relawan dan peserta dengan penuh kekhusyukan. Sejak pukul 06.00 WIB, peserta telah berkumpul dan membentuk barisan rapi, menciptakan suasana tenang sarat makna spiritual. Kegiatan berlangsung tertib, dipandu oleh tiga Bhikkhu Sangha yang menambah kekhidmatan dan membimbing setiap peserta menapaki langkah-langkah kesadaran yang sederhana namun mendalam.
Setelah Pradaksina, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi Dharma sebagai ruang refleksi. Dalam suasana khusyuk, para Bhikkhu menyampaikan pemahaman mendalam tentang makna praktik Jing Xing yang telah dijalani bersama.
Dalam salah satu sesi, Bhante Hendrison mengajak peserta merenungkan makna Jing Xing yang tampak sederhana namun penuh pelajaran penting. Ia menekankan bahwa kesadaran diri kerap terabaikan dalam keseharian. “Kita lakukan ini, kalian mengerti tidak, Jing Xing itu sebenarnya kita lakukan apa? Gampang tidak Jing Xing itu? Gampang, hanya berjalan. Tapi sebenarnya, apa yang kalian rasakan tadi pagi? Kita sering kali tidak pernah berintrospeksi diri,” ungkapnya.
Lewat contoh sederhana saat berjalan bersama, ia menunjukkan bahwa walau sudah diarahkan, banyak langkah belum selaras. Hal ini mencerminkan kurangnya kesadaran terhadap hal-hal kecil yang sering terlewatkan dalam hidup sehari-hari.
Dalam salah satu sesi, Bhante Hendrison mengajak peserta merenungkan makna Jing Xing yang tampak sederhana namun penuh pelajaran penting. Ia menekankan bahwa kesadaran diri kerap terabaikan dalam keseharian. “Kita lakukan ini, kalian mengerti tidak, Jing Xing itu sebenarnya kita lakukan apa? Gampang tidak Jing Xing itu? Gampang, hanya berjalan. Tapi sebenarnya, apa yang kalian rasakan tadi pagi? Kita sering kali tidak pernah berintrospeksi diri,” ungkapnya.
Lewat contoh sederhana saat berjalan bersama, ia menunjukkan bahwa walau sudah diarahkan, banyak langkah belum selaras. Hal ini mencerminkan kurangnya kesadaran terhadap hal-hal kecil yang sering terlewatkan dalam hidup sehari-hari.
Bhante Hendrison juga menambahkan bahwa sejak bangun pagi, pikiran manusia kerap penuh dengan berbagai hal, bahkan kecenderungan negatif, sebelum aktivitas dimulai. “Jing Xing mengajarkan kita mengangkat, maju, dan melepaskan. Kadang kita hanya mengangkat masalah tanpa pernah menyelesaikannya dan melepaskannya,” ujarnya.
Pemaknaan ini mengajak peserta untuk terus melangkah maju, bukan sekadar mengejar pencapaian duniawi, melainkan menumbuhkan kekayaan batin yang membawa ketenangan dan kebijaksanaan.
Sesi berbagi Dharma lainnya, Bhante Fu Yuan Shi mengajak peserta merenungkan hakikat penderitaan yang sering dipahami keliru. Ia menegaskan bahwa penderitaan tidak semata-mata berasal dari luar, melainkan bersumber dari dalam hati.
“Bahkan tadi ceramah Master Cheng Yen membahas tentang di dunia ini ada penderitaan? Lalu, apakah kalian menderita atau tidak? Di depan orang lain mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi saat pulang, apakah ada penderitaan atau tidak? Saya yakin ada,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, manusia cenderung lebih mudah melihat penderitaan di luar diri, tanpa menyadari bahwa sumber utamanya justru dari dalam batin. “Sebenarnya kita semua hanya melihat penderitaan di luar, tetapi tidak melihat penderitaan di dalam hati. Penderitaan itu berasal dari dalam hati, bukan dari luar,” ujarnya.
Dengan perumpamaan sederhana, ia menggambarkan bagaimana sikap batin memengaruhi cara seseorang merasakan suatu kondisi. “Kita berada di bawah terik matahari, berkeringat deras. Apakah itu derita? Derita. Tetapi saat kita sauna dan juga berkeringat deras, apakah itu derita? Tidak, justru terasa nyaman. Mengapa sama-sama berkeringat, yang satu terasa nyaman, yang satu terasa menderita? Karena sikap batin berbeda,” ungkapnya.
Pemaknaan ini mengajak peserta untuk terus melangkah maju, bukan sekadar mengejar pencapaian duniawi, melainkan menumbuhkan kekayaan batin yang membawa ketenangan dan kebijaksanaan.
Sesi berbagi Dharma lainnya, Bhante Fu Yuan Shi mengajak peserta merenungkan hakikat penderitaan yang sering dipahami keliru. Ia menegaskan bahwa penderitaan tidak semata-mata berasal dari luar, melainkan bersumber dari dalam hati.
“Bahkan tadi ceramah Master Cheng Yen membahas tentang di dunia ini ada penderitaan? Lalu, apakah kalian menderita atau tidak? Di depan orang lain mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi saat pulang, apakah ada penderitaan atau tidak? Saya yakin ada,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, manusia cenderung lebih mudah melihat penderitaan di luar diri, tanpa menyadari bahwa sumber utamanya justru dari dalam batin. “Sebenarnya kita semua hanya melihat penderitaan di luar, tetapi tidak melihat penderitaan di dalam hati. Penderitaan itu berasal dari dalam hati, bukan dari luar,” ujarnya.
Dengan perumpamaan sederhana, ia menggambarkan bagaimana sikap batin memengaruhi cara seseorang merasakan suatu kondisi. “Kita berada di bawah terik matahari, berkeringat deras. Apakah itu derita? Derita. Tetapi saat kita sauna dan juga berkeringat deras, apakah itu derita? Tidak, justru terasa nyaman. Mengapa sama-sama berkeringat, yang satu terasa nyaman, yang satu terasa menderita? Karena sikap batin berbeda,” ungkapnya.
Bhante Fu Yuan Shi juga mengingatkan bahwa pembelajaran Buddhisme tidak seharusnya berhenti pada teori atau ritual, melainkan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kita semua cenderung mencari ke luar, bahkan membantu menyelesaikan penderitaan orang lain. Namun, penderitaan batin kita sendiri, apakah sudah kita selesaikan?” ucap Bhante Fu Yuan Shi.
Ia menekankan pentingnya menyelamatkan diri sendiri sebelum menolong orang lain. “Untuk menolong orang yang tenggelam, kita harus bisa berenang dulu. Kalau tidak, kita sendiri yang akan tenggelam,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Bhante Fu Yuan Shi mengajak peserta mempraktikkan ajaran dalam kehidupan nyata, dimulai dari hal-hal terdekat. “Belajar Buddhisme itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat pulang ke rumah, apakah orang tua sudah dirawat dengan baik? Apakah anak-anak sudah diperhatikan? Yang paling penting, apakah hati kita sendiri sudah dijaga?” ujarnya.
Melalui kegiatan Pradaksina, para peserta tidak hanya melatih berjalan dengan penuh kesadaran, tetapi juga diajak merenungkan makna kehidupan secara lebih mendalam. Setiap langkah menjadi pengingat untuk kembali pada diri sendiri, menjaga hati, menumbuhkan kebijaksanaan, serta menapaki jalan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Fotografer : Abdul Rahim, Mie Li (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Editor : Anand Yahya.
Ia menekankan pentingnya menyelamatkan diri sendiri sebelum menolong orang lain. “Untuk menolong orang yang tenggelam, kita harus bisa berenang dulu. Kalau tidak, kita sendiri yang akan tenggelam,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Bhante Fu Yuan Shi mengajak peserta mempraktikkan ajaran dalam kehidupan nyata, dimulai dari hal-hal terdekat. “Belajar Buddhisme itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat pulang ke rumah, apakah orang tua sudah dirawat dengan baik? Apakah anak-anak sudah diperhatikan? Yang paling penting, apakah hati kita sendiri sudah dijaga?” ujarnya.
Melalui kegiatan Pradaksina, para peserta tidak hanya melatih berjalan dengan penuh kesadaran, tetapi juga diajak merenungkan makna kehidupan secara lebih mendalam. Setiap langkah menjadi pengingat untuk kembali pada diri sendiri, menjaga hati, menumbuhkan kebijaksanaan, serta menapaki jalan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Fotografer : Abdul Rahim, Mie Li (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Editor : Anand Yahya.