Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Melangkah Bersama di Dunia dan Menjalin Jodoh Baik

Saya sangat senang mendengarkan kalian berbicara karena saya sendiri sudah berbicara selama puluhan tahun. Sekarang, tenaga saya benar-benar sudah berkurang. Saya merasa bahwa ketika orang-orang bergabung di Tzu Chi, apa pun latar belakang agamanya, semuanya bisa disebut insan Tzu Chi. Seperti saudari penganut I-Kuan Tao ini. Beliau juga bergabung ke dalam Tzu Chi. Jadi, kita memang tidak membeda-bedakan agama.

“Master tahu bahwa dahulu saya adalah penganut I-Kuan Tao. Saat pembangunan rumah sakit berlangsung, saya terus berhemat sedikit demi sedikit. Waktu itu, saya memakai sebuah gelang giok. Saya berkata, ‘Kalau gelang ini bisa dilepas, saya akan menyumbangkannya.’ Lalu, ada seorang relawan berkata kepada saya, ‘Mari saya bantu.’ Saya meletakkan tangan ke belakang dan gelang itu langsung bisa dilepas. Saya benar-benar sangat tersentuh dan berkata, ‘Akhirnya saya bisa bersumbangsih sedikit’,” kata Lin Zhi-hui, relawan Tzu Chi.

“Setiap kali ada orang yang berdonasi, Master selalu mengucapkan terima kasih. Setelah lama mendengarnya, saya berpikir, ‘Apa kemampuan dan jasa saya sampai Master berterima kasih kepada saya?’ Padahal Master sedang menolong kita dan ini memang sudah seharusnya saya lakukan. Sebagai murid, selama saya bisa menyumbangkan tenaga dan hati, pasti akan saya lakukan,” pungkas Lin Zhi-hui.

Agama apa pun sebenarnya bisa hidup harmonis bersama dengan Tzu Chi. Jika kita mengasihi mereka, mereka pun secara alami akan mengasihi kita. Semua agama itu sama. Jadi, selain menjalankan misi Tzu Chi, insan Tzu Chi juga harus mampu merangkul seluruh dunia. Saya sering berkata bahwa kita harus memperluas hati. Di dalam hati kita harus menyimpan satu ungkapan, yaitu bersyukur dan terima kasih.
Bersyukur atas segala hal dan kepada siapa pun membuat kita mampu menyesuaikan diri dan terus bersumbangsih. Terhadap orang lain, kita juga harus selalu berterima kasih. Apa pun yang mereka berikan kepada kita, baik itu hal yang menyenangkan maupun tidak, semuanya tetap harus disyukuri. Bahkan, hal buruk yang datang kepada kita pun, jika kita mengubah cara pandang terhadapnya, ia bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi kita dan membuat kita waspada.
Sesungguhnya, ajaran Buddha adalah kebenaran hidup dan hukum alam. Di dalamnya ada prinsip tentang jasmani, alam semesta, dan batin manusia. Selama mengandung kebenaran, semuanya adalah Dharma. Jadi, kita menerima berbagai Dharma, bukan hanya ajaran Buddha saja. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini, selama mengandung kebenaran, patut dipercaya. Kristen Protestan memiliki prinsip kebenarannya sendiri, begitu pula dengan I-Kuan Tao.
Apa pun bentuk ajarannya, jika ditelusuri sampai lapisan terdalam, semuanya berlandaskan pada cinta kasih dan welas asih. Dalam agama Buddha, ini disebut sebagai welas asih, sementara dalam Kristen Protestan ataupun Islam, disebut kasih. Hakikat sejati tetaplah cinta kasih dan hakikat sejati itu adalah prinsip kebenaran. Dalam ajaran Buddha, ini disebut dengan Dharma. Dharma berarti kebenaran sejati yang merangkul segalanya. Selama kita berjalan sesuai aturan dan prinsip Dharma, tubuh dan batin kita akan selalu berada di dalam Dharma. Jika Dharma sudah memenuhi tubuh dan batin, apa lagi yang masih kurang?
Saya sering berkata bahwa saya sangat bersyukur dalam hidup ini. Sejak pertama kali memasuki pintu Buddha, saya benar-benar mendengarkan dengan baik. Jika aturan mengatakan harus bagaimana, saya lakukan seperti itu. Jika kebenaran mengajarkan harus bagaimana, saya pun berjalan sesuai kebenaran itu. Jadi, dalam kehidupan ini, saya terus menyampaikan kebenaran kepada semuanya. Begitulah prinsip kebenaran.
Semua orang bisa mengucapkannya karena mereka bisa menjalankannya. Namun, ada orang yang berjalan, lalu ketika bertemu situasi yang rumit dan banyak orang, mulai muncul pikiran, “Saya mau lewat jalan ini, Anda harus ikut saya,” memaksa orang lain untuk mengikuti kita. Mungkin jalan yang kita pilih itu memang benar, tetapi jika memaksa orang lain, itu justru membuat mereka jadi membangkitkan noda batin. Itu tidaklah benar.
Kita harus membimbing mereka secara perlahan. Dengan begitu, orang lain bisa menerima kita. Setelah itu, baru kita bertanya, “Apakah Anda mau berjalan bersama saya? Saya sudah merasakan bahwa jalan ini sangat lancar dan semuanya terbuka. Apakah Anda mau mencobanya?” Jika merasa senang, mereka akan ikut; jika belum, kita tetap harus menghormati mereka. Kita harus menghormati mereka sampai pada suatu hari mereka berkata, “Saya mau mencoba berjalan bersama kalian.” Dengan begitu, mereka mungkin akan menjadi mitra bajik kita selamanya.
Apa yang kalian lakukan hari ini, semuanya bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kita bisa memilih apa yang ingin kita lakukan bersama dengan relawan lainnya dan dengan siapa kita ingin pergi. Jika kita ingin pergi bersama orang lain, akan ada yang mengajak kita. Jika kita ingin membimbing orang lain, akan ada orang-orang yang mendengarkan kita. Sahabat-sahabat seperti ini adalah teman seperjalanan yang abadi.
Dalam kehidupan ini, kita telah menanam benih untuk bersama-sama menggarap ladang berkah. Sejak dahulu hingga sekarang, kita telah menggarap ladang berkah yang sama. Jadi, ladang berkah ini adalah sesuatu yang harus terus kita garap dari kehidupan ke kehidupan. Dunia masih akan berlangsung sangat lama. Waktu yang sangat panjang disebut sebagai “kalpa”. Saat ini, kita telah memasuki era kemunduran Dharma. Hubungan antarmanusia, nilai moral, dan etika makin memudar. Kehidupan manusia pun menjadi makin kacau.
Ketika setiap orang terus menciptakan karma, terbentuklah karma kolektif. Karma yang terhimpun itu adalah karma buruk. Dalam melatih diri, kita harus tahu bagaimana menjaga niat pikiran dengan baik. Berikrar untuk kembali ke dunia ini adalah bentuk niat yang baik. Hendaknya kita berikrar untuk terus melatih diri dan membimbing orang lain dari kehidupan ke kehidupan. Jika kita bisa seperti ini, setiap kali kembali, hidup kita akan sangat berharga. Inilah yang disebut berlatih di Jalan Bodhisattva. Inilah hakikat sejati Tathagata.
Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan ini. Hanya saja, dari kehidupan ke kehidupan, kita menambahkan titik hitam, titik merah, dan beraneka warna yang merupakan tabiat kita. Jadi, kita harus memanfaatkan kesempatan untuk terus melangkah di Jalan Bodhisattva. Setiap orang yang kita temui bisa menjadi pembimbing yang membawa kita menuju kebaikan. Ada juga orang-orang yang mengingatkan kita pada hal-hal yang baik. Inilah yang disebut berhimpun dalam ajaran yang baik. Dengan begitu, secara alami hati yang dipenuhi noda dan kegelapan batin akan berkurang secara perlahan.
Dalam banyak kehidupan mendatang, kita harus terus menjalin jodoh baik dan bersama-sama menjalankan hal yang baik. Begitulah kita menapaki Jalan Bodhisattva. Dengan menapaki Jalan Bodhisattva di dunia, hakikat kebuddhaan kita akan makin tampak. Itulah yang disebut mencapai kebuddhaan. Hendaknya semua orang saling menyemangati.

Melampaui perbedaan agama dalam persatuan dan cinta kasih
Senantiasa bersyukur dan memupuk welas asih
Merangkul segala ajaran untuk membimbing dalam kebajikan
Melangkah bersama di dunia dan menjalin jodoh baik

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 17 Mei 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 19 Mei 2026

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

MPO88ASIA

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888