Pembangunan Huntap di Aceh: Langkah Awal Menuju Rumah yang Layak bagi Penyintas Banjir Bandang Bukit Linteung
Pagi itu, Senin, 13 Juli 2026, suasana di Desa Bukit Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, terasa berbeda. Bahkan sebelum matahari meninggi, puluhan warga telah berkumpul dengan wajah penuh harap. Mereka menanti kedatangan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang akan melaksanakan proses verifikasi dan pengundian 76 unit Perumahan Tzu Chi Bukit Linteung Tahap 1, sebuah tahapan penting yang menandai dimulainya babak baru kehidupan para penyintas banjir bandang.
Rombongan relawan dari Komunitas Tzu Chi Lhokseumawe berangkat sejak pagi menuju Bukit Linteung. Di lokasi kegiatan, mereka bergabung bersama relawan dari Jakarta, Medan, Bireuen, dan Kuala Simpang. Perjalanan yang ditempuh bukan sekadar menuju sebuah desa di pedalaman Aceh Utara, melainkan menuju tempat di mana harapan baru sedang dibangun kembali bagi masyarakat yang pernah kehilangan hampir segalanya.
Banjir bandang yang melanda Aceh Utara pada penghujung tahun 2025 menjadi salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Ribuan warga kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan seluruh harta benda yang mereka miliki. Di tengah situasi darurat itu, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan. Kini, pendampingan tersebut berlanjut melalui pembangunan kompleks perumahan agar masyarakat kembali memiliki tempat tinggal yang aman, nyaman, dan layak huni.
Koordinator kegiatan, Shu Tjeng, mengungkapkan rasa syukur karena proses pemulihan pascabencana di Sumatra, khususnya Aceh, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
“Hari ini kita bersyukur dapat mencapai progres yang sangat menggembirakan. Ada 76 unit rumah di Desa Bukit Linteung yang memasuki tahapan verifikasi dan pengundian nomor rumah,” ungkap Shu Tjeng.
Menurutnya, semangat masyarakat begitu terasa sejak pagi. Bahkan sebelum relawan tiba di lokasi, warga sudah lebih dahulu berkumpul dengan penuh antusiasme.
“Mereka sangat berharap rumah ini segera selesai sehingga kehidupan mereka dapat kembali pulih. Anak-anak bisa tidur dengan tenang, belajar dengan nyaman, sementara para kepala keluarga dapat kembali bekerja mencari nafkah tanpa lagi memikirkan tempat tinggal,” tutur Shu Tjeng.
Ia juga mengenang bagaimana relawan Tzu Chi bergerak sejak hari-hari pertama bencana melanda.
“Aceh Utara dan Aceh Tamiang merupakan dua wilayah yang mengalami dampak paling berat. Relawan Tzu Chi segera bergerak melalui jalur darat maupun laut agar bantuan dapat tiba secepat mungkin,” ujarnya.
Kini, ketika pembangunan Perumahan Tzu Chi Bukit Linteung hampir rampung, para relawan turut merasakan kebahagiaan yang sama dengan masyarakat.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pembangunan dapat selesai lebih cepat sehingga warga bisa segera menempati rumah mereka,” tambah Shu Tjeng.
Semangat gotong royong juga terlihat dari masyarakat penerima manfaat. Salah satunya adalah Muhammad Abu Bakar yang, meskipun menjadi korban banjir, memilih menyumbangkan tenaga dan keahliannya sebagai tukang bangunan untuk membantu proses pembangunan rumah-rumah tersebut tanpa menerima upah.
“Abu Bakar memberikan tenaga secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Semangat seperti inilah yang menunjukkan bahwa ketika cinta kasih hadir, setiap orang dapat menjadi penolong bagi sesamanya,” ujar Shu Tjeng.
“Mereka sangat berharap rumah ini segera selesai sehingga kehidupan mereka dapat kembali pulih. Anak-anak bisa tidur dengan tenang, belajar dengan nyaman, sementara para kepala keluarga dapat kembali bekerja mencari nafkah tanpa lagi memikirkan tempat tinggal,” tutur Shu Tjeng.
Ia juga mengenang bagaimana relawan Tzu Chi bergerak sejak hari-hari pertama bencana melanda.
“Aceh Utara dan Aceh Tamiang merupakan dua wilayah yang mengalami dampak paling berat. Relawan Tzu Chi segera bergerak melalui jalur darat maupun laut agar bantuan dapat tiba secepat mungkin,” ujarnya.
Kini, ketika pembangunan Perumahan Tzu Chi Bukit Linteung hampir rampung, para relawan turut merasakan kebahagiaan yang sama dengan masyarakat.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pembangunan dapat selesai lebih cepat sehingga warga bisa segera menempati rumah mereka,” tambah Shu Tjeng.
Semangat gotong royong juga terlihat dari masyarakat penerima manfaat. Salah satunya adalah Muhammad Abu Bakar yang, meskipun menjadi korban banjir, memilih menyumbangkan tenaga dan keahliannya sebagai tukang bangunan untuk membantu proses pembangunan rumah-rumah tersebut tanpa menerima upah.
“Abu Bakar memberikan tenaga secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Semangat seperti inilah yang menunjukkan bahwa ketika cinta kasih hadir, setiap orang dapat menjadi penolong bagi sesamanya,” ujar Shu Tjeng.
Trauma yang Masih Membekas, Harapan yang Mulai Tumbuh
Di balik proses pembangunan itu, tersimpan kisah-kisah pilu yang masih membekas di hati para penyintas.
Effendi (35), salah satu calon penghuni Perumahan Tzu Chi Bukit Linteung, masih mengingat jelas malam ketika banjir datang menghantam desanya.
Menjelang subuh, ia bersama keluarganya mengungsi ke musala saat air mulai masuk ke permukiman. Namun, debit air terus meningkat dengan sangat cepat. Karena jumlah perahu penyelamat terbatas, mereka akhirnya menggunakan sampan menuju bukit yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.
“Malam harinya kami mendengar suara seperti ledakan dari bawah. Rumah-rumah dihantam batang kayu dan hanyut. Dari atas bukit, kami melihat seluruh kampung sudah seperti lautan,” tutur Effendi.
Setelah beberapa waktu tinggal di tenda pengungsian, keluarganya kemudian menempati hunian sementara yang dibangun pemerintah. Meski bersyukur memiliki tempat berteduh, ruang sempit tersebut harus dihuni oleh lima anggota keluarga.
Sebagai petani jeruk nipis, Effendi kehilangan kebun sekaligus rumahnya. Kini, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia ikut bekerja membantu pembangunan rumah-rumah di Bukit Linteung—rumah yang kelak akan menjadi tempat tinggalnya sendiri bersama keluarga serta para penyintas lainnya.
Effendi (35), salah satu calon penghuni Perumahan Tzu Chi Bukit Linteung, masih mengingat jelas malam ketika banjir datang menghantam desanya.
Menjelang subuh, ia bersama keluarganya mengungsi ke musala saat air mulai masuk ke permukiman. Namun, debit air terus meningkat dengan sangat cepat. Karena jumlah perahu penyelamat terbatas, mereka akhirnya menggunakan sampan menuju bukit yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.
“Malam harinya kami mendengar suara seperti ledakan dari bawah. Rumah-rumah dihantam batang kayu dan hanyut. Dari atas bukit, kami melihat seluruh kampung sudah seperti lautan,” tutur Effendi.
Setelah beberapa waktu tinggal di tenda pengungsian, keluarganya kemudian menempati hunian sementara yang dibangun pemerintah. Meski bersyukur memiliki tempat berteduh, ruang sempit tersebut harus dihuni oleh lima anggota keluarga.
Sebagai petani jeruk nipis, Effendi kehilangan kebun sekaligus rumahnya. Kini, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia ikut bekerja membantu pembangunan rumah-rumah di Bukit Linteung—rumah yang kelak akan menjadi tempat tinggalnya sendiri bersama keluarga serta para penyintas lainnya.
Kisah haru lainnya datang dari Zahara Foenna (22). Bagi perempuan muda ini, keselamatan keluarganya merupakan anugerah terbesar yang tidak akan pernah ia lupakan.
Saat banjir datang, Zahara bersama suami dan anaknya yang masih berusia 11 bulan terseret derasnya arus. Mereka bertahan di atas sebatang pohon selama hampir empat jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan perahu.
“Alhamdulillah, setelah lebih dari setengah tahun tinggal di pengungsian, akhirnya kami akan memiliki rumah sendiri,” ucap Zahara dengan mata berkaca-kaca.
Rasa syukurnya semakin bertambah karena selain memperoleh rumah, keluarganya juga menerima perlengkapan rumah tangga berupa satu sofa, satu set meja makan, dua spring bed, dan satu bufet.
Seluruh perabotan yang mereka miliki sebelumnya telah hanyut terbawa banjir.
“Kami benar-benar memulai dari nol. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami. Semoga semua relawan Tzu Chi selalu diberikan kesehatan,” ungkap Zahara.
Saat banjir datang, Zahara bersama suami dan anaknya yang masih berusia 11 bulan terseret derasnya arus. Mereka bertahan di atas sebatang pohon selama hampir empat jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan perahu.
“Alhamdulillah, setelah lebih dari setengah tahun tinggal di pengungsian, akhirnya kami akan memiliki rumah sendiri,” ucap Zahara dengan mata berkaca-kaca.
Rasa syukurnya semakin bertambah karena selain memperoleh rumah, keluarganya juga menerima perlengkapan rumah tangga berupa satu sofa, satu set meja makan, dua spring bed, dan satu bufet.
Seluruh perabotan yang mereka miliki sebelumnya telah hanyut terbawa banjir.
“Kami benar-benar memulai dari nol. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami. Semoga semua relawan Tzu Chi selalu diberikan kesehatan,” ungkap Zahara.
Membangun Rumah, Memulihkan Kehidupan
Pengalaman memilukan juga dialami Muhammad Abu Bakar (41). Ia masih mengingat dengan jelas tiga puluh menit yang menjadi trauma seumur hidupnya.
Saat banjir datang, ia bersama istri dan keempat anaknya naik ke atap rumah sambil menunggu pertolongan.
Perahu penyelamat hanya mampu membawa istri dan anak-anaknya terlebih dahulu. Tak lama kemudian, rumah yang mereka tempati roboh diterjang arus deras.
Beruntung, Abu Bakar berhasil bertahan dengan memeluk batang pohon hingga akhirnya perahu kembali datang menjemputnya.
Saat banjir datang, ia bersama istri dan keempat anaknya naik ke atap rumah sambil menunggu pertolongan.
Perahu penyelamat hanya mampu membawa istri dan anak-anaknya terlebih dahulu. Tak lama kemudian, rumah yang mereka tempati roboh diterjang arus deras.
Beruntung, Abu Bakar berhasil bertahan dengan memeluk batang pohon hingga akhirnya perahu kembali datang menjemputnya.
Kini, di sela-sela upayanya memulihkan kebun yang rusak akibat banjir, Abu Bakar memilih menyumbangkan tenaga untuk membantu pembangunan kompleks Perumahan Tzu Chi Bukit Linteung.
Baginya, membantu membangun rumah bagi sesama penyintas merupakan bentuk rasa syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan.
“Saya sangat bersyukur menerima bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Kami tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan ini selain terus mendoakan agar semua relawan selalu diberikan kesehatan dan keberkahan,” ucap Abu Bakar.
Hari itu, setiap nomor rumah yang diundi bukan sekadar penanda alamat baru, melainkan simbol lahirnya kembali harapan bagi para penyintas.
Di balik dinding-dinding rumah yang sedang dibangun, tersimpan impian agar anak-anak dapat kembali tumbuh dengan aman, para orang tua bekerja dengan tenang, dan setiap keluarga memiliki kesempatan untuk menata kembali kehidupan serta memulihkan perekonomian mereka.
Bersama masyarakat Bukit Linteung, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia terus menemani perjalanan pemulihan ini. Bukan hanya membangun rumah, tetapi juga menghidupkan kembali harapan, hingga kelak setiap keluarga dapat mengucapkan dengan penuh syukur, “Kami akhirnya pulang ke rumah.”
Jurnalis : Soit (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Amir Tan, Soit, Wirata Adi Dharma (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.
Baginya, membantu membangun rumah bagi sesama penyintas merupakan bentuk rasa syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan.
“Saya sangat bersyukur menerima bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Kami tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan ini selain terus mendoakan agar semua relawan selalu diberikan kesehatan dan keberkahan,” ucap Abu Bakar.
Hari itu, setiap nomor rumah yang diundi bukan sekadar penanda alamat baru, melainkan simbol lahirnya kembali harapan bagi para penyintas.
Di balik dinding-dinding rumah yang sedang dibangun, tersimpan impian agar anak-anak dapat kembali tumbuh dengan aman, para orang tua bekerja dengan tenang, dan setiap keluarga memiliki kesempatan untuk menata kembali kehidupan serta memulihkan perekonomian mereka.
Bersama masyarakat Bukit Linteung, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia terus menemani perjalanan pemulihan ini. Bukan hanya membangun rumah, tetapi juga menghidupkan kembali harapan, hingga kelak setiap keluarga dapat mengucapkan dengan penuh syukur, “Kami akhirnya pulang ke rumah.”
Jurnalis : Soit (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Amir Tan, Soit, Wirata Adi Dharma (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.