Perayaan Waisak yang Menguatkan Kebersamaan dan Nilai Kebajikan
Pada hari Minggu yang cerah, 17 Mei 2025, He Qi Tangerang bersama He Qi Jakarta Barat 2 memperingati Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia yang juga bertepatan dengan 60 tahun berdirinya Tzu Chi Taiwan. Perayaan ini diselenggarakan di The Spring Club, Summarecon Serpong, Tangerang, Banten.
Kegiatan Waisak ini menjadi momen untuk mempererat hubungan antarrelawan dari kedua He Qi. Lily Santoso selaku Ketua He Qi Tangerang menyampaikan bahwa kerja sama yang selama ini terjalin dengan baik membuat seluruh persiapan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Hal serupa juga disampaikan oleh Johnny Chandrina, Ketua He Qi Jakarta Barat 2. Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para relawan untuk belajar membangun kekompakan dan kebersamaan, sebagaimana yang pernah dilakukan kedua He Qi pada masa sebelumnya.
“Suka duka ataupun tantangan nyaris tidak ada karena sudah sering melakukannya, dan semua dibuat sederhana serta mudah dipahami. Semoga bisa mengajak lebih banyak orang lagi untuk terlibat dalam kegiatan Waisak seperti ini,” ujar Johnny.
Kegiatan Waisak ini menjadi momen untuk mempererat hubungan antarrelawan dari kedua He Qi. Lily Santoso selaku Ketua He Qi Tangerang menyampaikan bahwa kerja sama yang selama ini terjalin dengan baik membuat seluruh persiapan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Hal serupa juga disampaikan oleh Johnny Chandrina, Ketua He Qi Jakarta Barat 2. Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para relawan untuk belajar membangun kekompakan dan kebersamaan, sebagaimana yang pernah dilakukan kedua He Qi pada masa sebelumnya.
“Suka duka ataupun tantangan nyaris tidak ada karena sudah sering melakukannya, dan semua dibuat sederhana serta mudah dipahami. Semoga bisa mengajak lebih banyak orang lagi untuk terlibat dalam kegiatan Waisak seperti ini,” ujar Johnny.
Melalui kebersamaan yang terjalin dalam perayaan tersebut, para peserta tidak hanya berkumpul untuk merayakan sebuah acara tahunan, tetapi juga diajak kembali memahami makna Hari Waisak sebagai momen refleksi dan penghormatan terhadap Buddha.
Peringatan Hari Waisak sendiri merupakan momen yang sangat bermakna bagi umat Buddha sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha, Guru Agung yang menjadi tuntunan kehidupan. Setiap tahunnya, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci, yakni kelahiran, pencapaian Pencerahan Sempurna, dan Parinibbana Buddha.
Dalam pemaparannya, Bhikkhu Kosalo yang hadir pada perayaan Waisak Tzu Chi ini memberikan pesan Dhamma bahwa selain mengenal Buddha, umat juga perlu memahami inti ajaran beliau yang hingga kini menjadi pedoman kehidupan. Ajaran tersebut meliputi Empat Kebenaran Mulia, yaitu Dukkha (kebenaran tentang penderitaan), Samudaya (asal mula penderitaan), Nirodha (lenyapnya penderitaan), dan Magga (jalan menuju berakhirnya penderitaan).
Beliau juga menjelaskan tentang hukum karma sebagai akibat dari setiap perbuatan yang dilandasi niat atau kehendak (cetana), ajaran Paticcasamuppada mengenai sebab-akibat yang saling bergantung, serta Tilakkhana atau tiga corak kehidupan, yaitu anicca (ketidakkekalan), dukkha, dan anatta. Melalui pemahaman dan penerapan ajaran tersebut, umat Buddha diharapkan dapat menumbuhkan kebajikan, cinta kasih, serta kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Waisak sendiri merupakan momen yang sangat bermakna bagi umat Buddha sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha, Guru Agung yang menjadi tuntunan kehidupan. Setiap tahunnya, umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Suci, yakni kelahiran, pencapaian Pencerahan Sempurna, dan Parinibbana Buddha.
Dalam pemaparannya, Bhikkhu Kosalo yang hadir pada perayaan Waisak Tzu Chi ini memberikan pesan Dhamma bahwa selain mengenal Buddha, umat juga perlu memahami inti ajaran beliau yang hingga kini menjadi pedoman kehidupan. Ajaran tersebut meliputi Empat Kebenaran Mulia, yaitu Dukkha (kebenaran tentang penderitaan), Samudaya (asal mula penderitaan), Nirodha (lenyapnya penderitaan), dan Magga (jalan menuju berakhirnya penderitaan).
Beliau juga menjelaskan tentang hukum karma sebagai akibat dari setiap perbuatan yang dilandasi niat atau kehendak (cetana), ajaran Paticcasamuppada mengenai sebab-akibat yang saling bergantung, serta Tilakkhana atau tiga corak kehidupan, yaitu anicca (ketidakkekalan), dukkha, dan anatta. Melalui pemahaman dan penerapan ajaran tersebut, umat Buddha diharapkan dapat menumbuhkan kebajikan, cinta kasih, serta kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai kebajikan dan rasa syukur yang menjadi inti ajaran Buddha tersebut juga kembali ditekankan dalam ceramah Master Cheng Yen pada peringatan Waisak tahun ini. Dalam pesannya, beliau mengingatkan bahwa lebih dari 2.000 tahun lalu Sang Buddha hadir di dunia membawa ajaran kebenaran dan kebajikan demi membimbing manusia hidup harmonis dan saling memberi manfaat. Melalui peringatan Waisak dan ritual Pemandian Buddha, umat diajak untuk mengenang budi luhur Buddha sekaligus menyadari bahwa setiap orang memiliki hakikat ke-Buddha-an dan kemampuan untuk menjadi Bodhisattva yang menolong sesama.
Master Cheng Yen juga menekankan pentingnya rasa syukur kepada orang tua, guru, serta seluruh makhluk yang telah berkontribusi dalam kehidupan manusia dan terciptanya kedamaian di dunia. Menurut beliau, rasa syukur hendaknya diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjalankan kebajikan dan menggunakan kemampuan yang dimiliki demi kebaikan keluarga, masyarakat, hingga dunia. Beliau juga mengapresiasi insan Tzu Chi di berbagai negara yang mengikuti peringatan Waisak secara serentak melalui teknologi telekonferensi sebagai bentuk persatuan hati dan semangat kebajikan.
Selain mengajak umat untuk memahami makna Waisak melalui ajaran dan rasa syukur, nilai-nilai tersebut juga terlihat nyata dalam berbagai rangkaian acara yang berlangsung hari itu. Salah satunya melalui sesi basuh kaki orang tua yang menjadi momen penuh haru dan refleksi bagi para peserta.
Suasana hangat dan emosional pun terasa ketika para anak bersujud di hadapan orang tua mereka sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas kasih sayang yang telah diberikan sejak kecil.
Suasana hangat dan emosional pun terasa ketika para anak bersujud di hadapan orang tua mereka sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas kasih sayang yang telah diberikan sejak kecil.
Salah satu peserta adalah Ella bersama putranya, Khemacaro, yang kini telah dewasa dan bekerja. Mereka mengikuti acara Waisak dan basuh kaki setelah mendapatkan informasi melalui broadcast dari Vihara Ekayana, Gading Serpong, Tangerang.
Sejak kecil, Ella sudah menanamkan kepada anaknya tentang besarnya perjuangan seorang ibu, mulai dari mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak. Karena itu, tradisi bersujud dan membasuh kaki orang tua sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga mereka, baik saat Imlek, Hari Ibu, maupun setiap pagi sebelum berangkat bekerja.
“Saya sudah tidak kaget atau merasa awkward dengan tradisi ini. Di rumah juga sebelum berangkat kerja selalu sujud dulu kepada mama,” ungkap Khemacaro.
Ia berharap generasi muda dapat lebih menghargai keberadaan orang tua selagi masih ada. “Mumpung orang tua masih hidup dan masih ada, kita menghormati mereka dan mengucapkan terima kasih selagi masih ada,” imbuhnya sambil tersenyum.
Acara berlangsung dengan lancar dan penuh kehangatan. Sebanyak 561 peserta dan 136 panitia hadir dalam perayaan Waisak tersebut, termasuk menikmati Pameran Jing Si dan stan DAAI TV.
“Saya sudah tidak kaget atau merasa awkward dengan tradisi ini. Di rumah juga sebelum berangkat kerja selalu sujud dulu kepada mama,” ungkap Khemacaro.
Ia berharap generasi muda dapat lebih menghargai keberadaan orang tua selagi masih ada. “Mumpung orang tua masih hidup dan masih ada, kita menghormati mereka dan mengucapkan terima kasih selagi masih ada,” imbuhnya sambil tersenyum.
Acara berlangsung dengan lancar dan penuh kehangatan. Sebanyak 561 peserta dan 136 panitia hadir dalam perayaan Waisak tersebut, termasuk menikmati Pameran Jing Si dan stan DAAI TV.
Jurnalis : Kenji Ariya Kennard, Yuliawati Yohanda (He Qi Tangerang),
Fotografer : Vivi Angel, Rafael, Ryanto B., Wanda P., Yuliawati Y. (He Qi Tangerang) James Yip, Merry Hasan (He Qi Jakarta Barat 2), Merry Lie (He Qi Jakarta Barat 1),
Editor : Metta Wulandari.
Fotografer : Vivi Angel, Rafael, Ryanto B., Wanda P., Yuliawati Y. (He Qi Tangerang) James Yip, Merry Hasan (He Qi Jakarta Barat 2), Merry Lie (He Qi Jakarta Barat 1),
Editor : Metta Wulandari.