Cerita Ketulusan di Gan En Lou
Para relawan yang dikoordinasi oleh Evi Julianti bersama-sama menanam kebajikan dengan mempersiapkan penginapan untuk relawan Tzu Chi yang akan menginap dalam rangka pelatihan relawan pada bulan April 2026. Para relawan yang akan hadir datang dari Jabodetabek dan luar kota. Kegiatan ini bukan sekadar membersihkan kamar atau merapikan tempat tidur, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang makna hidup, kebersamaan, dan ketulusan.
Ada tujuh kamar yang dibersihkan dengan penuh perhatian. Sebanyak 44 kasur segera dibersihkan dan dipasangi seprai, lengkap dengan sarung selimut dan sarung bantal. Setiap sudut dibersihkan dan dirapikan dengan penuh kepedulian, mulai dari kaca jendela, kamar mandi, lantai, hingga keset yang divakum. Semua dilakukan bersama, tanpa sekat dan tanpa pamrih untuk para peserta yang akan mengikuti training relawan agar dapat menginap dengan rasa nyaman.
Tzu Chi menjadi ladang pelatihan diri. Setiap gerakan kecil mengajarkan untuk menghargai berkah dan menyayangi benda. Dari situlah tumbuh karakter, kesabaran, ketelitian, serta rasa syukur.
Meski keringat bercucuran dan tubuh terasa lelah, suasana tetap hangat. Tawa dan canda mengalir di sela-sela aktivitas. Gotong royong terasa nyata, bukan sekadar konsep, melainkan pengalaman langsung yang menyatukan. Kebersamaan ini membuktikan bahwa ketika hati terlibat, pekerjaan seberat apa pun terasa ringan.
Di sela-sela kegiatan bersih-bersih kamar, relawan menyediakan hidangan sederhana seperti roti, kue, lontong sayur, es kelapa, dan air putih. Bukan hanya untuk mengisi tenaga, tetapi juga menjadi simbol perhatian dan kasih dalam kebersamaan.
Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Seperti yang diungkapkan oleh Dadin, seorang mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara. “Kegiatan Tzu Chi ini dapat membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak hanya keterampilan, tetapi juga sikap hidup yang bisa diterapkan sehari-hari dan dibagikan kepada orang lain,” ujar Dadin, mahasiswa jurusan bisnis manajemen.
Pengalaman berbeda dirasakan pula oleh Dellia, yang awalnya hanya ingin memenuhi tugas, tetapi justru menemukan pengalaman berharga. “Saya terkejut dengan keseriusan dan ketulusan relawan Tzu Chi dalam setiap proses, dari briefing hingga praktik. Saya menyadari bahwa pelayanan yang baik dimulai dari perhatian terhadap hal-hal kecil,” tuturnya.
Mahasiswi lainnya, Daniella, yang sedang menyelesaikan skripsi pada tahun 2026, merasa terinspirasi melihat semangat para relawan senior. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap para relawan yang tetap bersemangat dan aktif meski telah berusia lebih matang. Baginya, kegiatan ini membuka mata bahwa menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah hal yang luar biasa.
Satria, yang menyempatkan diri di sela kepulangannya dari Papua, melihat pentingnya kontribusi nyata di masyarakat. Ia menyadari bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal kecil, seperti menjaga lingkungan dan menjalin kebersamaan. Dari yang awalnya saling tidak mengenal, akhirnya terbangun keharmonisan dan kekompakan.
Lianna, dosen Universitas Bina Nusantara, awalnya mengira kegiatan bersih-bersih ini akan melelahkan dan kotor. Namun, ia justru merasakan kebahagiaan ketika semua dikerjakan secara gotong royong. Ia menilai kegiatan ini menjadi pembelajaran sepanjang hayat bagi mahasiswa untuk terus berkembang dan belajar dari siapa saja.
Di Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, hal-hal sederhana seperti melipat kasur atau merapikan bantal bukan lagi sekadar rutinitas. Ketika dilakukan dengan ketulusan, semuanya berubah menjadi indah dan menciptakan harmoni, baik di ruang maupun di dalam hati. Dari hal kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati, perubahan besar pun perlahan dimulai.
Jurnalis : Christine Desyliana (He Qi Jakarta Barat 1),
Fotografer : Bryan, Lianna, Christine Desyliana (He Qi Jakarta Barat 1),
Editor : Anand Yahya.