Sanubari Teduh-410-Melenyapkan Kejahatan dan Mengembangkan Kebajikan
Saudara se-Dharma sekalian, terhadap orang, masalah, dan segala sesuatu, kita harus selalu membangkitkan niat baik. Kita harus tahu bahwa dalam keseharian, kita tak terhindar dari orang, masalah, dan hal. Dalam mengerjakan suatu hal, memperlakukan suatu benda, atau menghadapi manusia, kita harus selalu membangkitkan niat baik, seperti yang tertulis dalam Sutra Makna Tanpa Batas bagian pahala pertama, “Membangkitkan niat berdana bagi yang tamak dan penuh kemelekatan.” Terhadap benda, saat melihat sesuatu timbul ketamakan dalam pikiran kita. Kita ingin memilikinya. Terhadap berbagai materi di dunia, kita bersikap tamak tiada batas. Jika demikian, kita akan sangat menderita. Jadi, jika timbul ketamakan terhadap materi, kita harus segera mengembangkan niat untuk berdana. Saat memiliki, kita harus mengerti untuk merelakan.
Terhadap orang lain, jika timbul kesombongan, kita harus segera membangkitkan pikiran untuk menjaga sila. Kita harus tahu bahwa dalam melatih diri dan menjadi manusia, mudah untuk mengerjakan sesuatu, tetapi sulit untuk menjadi manusia. Dalam kehidupan ini, manusia adalah yang paling rumit, terutama diri sendiri. Jika kita memiliki sedikit kemampuan, kita cenderung bersikap sombong. Ini juga merupakan salah satu racun batin kita. Sebelumnya kita juga pernah membahas bahwa akibat kesombongan, kita bisa membangkitkan niat membunuh. Baik kebodohan maupun kebencian, semua membuat pikiran kita tersesat. Jadi, kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Terhadap orang lain, jika kita memiliki kesombongan, maka kita harus segera membangkitkan niat untuk menjaga sila. Ini adalah cara untuk mengatasinya.
Untuk mengatasi penyakit kesombongan, kita harus memiliki niat menjaga sila. Orang yang penuh kebencian harus membangkitkan kesabaran. Dalam melakukan segala sesuatu, saat ada hal yang tak sesuai harapan, kebencian kerap bangkit. Bangkitnya kebencian membuat kita mudah marah. Bukan hanya marah terhadap orang lain, tetapi juga marah terhadap kondisi. Apakah kalian tidak pernah bertemu orang yang saat tidak bisa menangani masalah, lalu membanting barang? Kebencian juga dilampiaskan pada benda. Jadi, terhadap manusia, hal, dan benda, jika kita gemar marah, maka kita harus membangkitkan kesabaran. Kita harus segera membangkitkan kesabaran. Dengan bersabar sedikit, masalah akan berlalu. Segala sesuatu akan selesai dengan harmonis. Ada orang yang tidak harmonis dengan orang lain, tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik, dan juga tidak baik terhadap segala sesuatu. Ini karena adanya ketamakan, kesombongan, dan kebencian. Begitu pikiran seperti ini muncul, maka kita sulit untuk harmonis dalam menghadapi orang, hal, dan benda. Terlebih lagi, kita adalah makhluk awam. Jika ketamakan bangkit, ia akan sulit terbendung. ia akan sulit terbendung.
Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita cara untuk mengatasi noda batin ini, yaitu berdana, menjaga sila, dan bersabar. Dalam praktik dana, sila, dan kesabaran, jika kita ada sedikit kemalasan, maka akan mudah kehilangan niat untuk tekun dan bersemangat. Jadi, jika ada kemalasan, kita harus segera membangkitkan pikiran untuk tekun dan bersemangat. Waktu terus berlalu. Jika terus menunda hal yang harus dilakukan, maka seiring berlalunya waktu, kemalasan kita pun akan semakin tebal. Tidak berbuat apa-apa dalam hidup ini sama dengan menyia-nyiakan kehidupan. Jadi, baik ketamakan, kebencian, kebodohan, maupun kemalasan, semuanya harus segera kita atasi. Segala penyakit ini akan dapat dilenyapkan. Jadi, kita harus segera mengatasi penyakit batin dengan obat batin. Ketamakan juga termasuk penyakit batin. Kesombongan juga termasuk penyakit batin. Kebencian juga termasuk penyakit batin. Kemalasan juga termasuk penyakit batin. Jadi, jika kita memiliki penyakit batin ini, maka obat untuk menanganinya adalah praktik dana, sila, kesabaran, dan semangat. Penyakit harus diatasi dengan obat. Sebelumnya kita sudah membahas pertobatan. Akibat ketamakan, kebencian, kebodohan, dan sebagainya, kita membuat kesalahan besar ataupun kecil. Kita mungkin melakukan karma membunuh.
Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus bertobat. Kini dikatakan, Bukankah ini yang setiap orang inginkan? Bukankah ini yang setiap orang inginkan? Manusia mengharapkan pahala, mengharapkan tubuh sehat dan umur panjang. Inilah yang diharapkan setiap orang. Sesungguhnya, apa pahala dari pertobatan? Setelah bertobat, kita akan berhenti membunuh. Jika kita dapat menghindari pembunuhan dan membimbing orang untuk melindungi kehidupan, maka inilah pahala. Sebaliknya, jika kita terus melakukan pembunuhan, kita tentu juga mengajak orang lain membunuh. Ini adalah tindakan yang tak didasari oleh pertobatan. Asalkan kita memahami kebenaran ini, kita akan tahu bahwa hukum sebab akibat sangat menakutkan. Kita sendiri telah bertobat dan berhenti membunuh. Kita tahu membunuh adalah karma buruk.
Kekuatan karma bagai bayangan mengikuti benda. Apa pun bentuk bendanya, bayangan akan menyerupainya. Bayangan manusia berbentuk manusia. Bayangan anjing berbentuk anjing. Bentuk yang berbeda memiliki bayangan yang berbeda pula. Perbuatan yang berbeda menghasilkan buah karma yang berbeda pula. Ini bagaikan bayangan mengikuti bentuk. Karma yang kita ciptakan, apa pun jenisnya, pasti ada buahnya. Di masa lalu kita tak memahami hal ini. Kita melakukan berbagai karma buruk. Jadi, kita kini harus memahaminya. Kita telah bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Selain diri sendiri berhenti melakukan karma buruk, kita juga membimbing orang lain melakukan hal yang sama. Jadi, kita membimbing orang untuk bertobat.
Bukan hanya diri sendiri yang bertobat, kita juga membimbing orang lain agar juga bisa bertobat. Dengan begitu, ada pahala dari melenyapkan kejahatan dan mengembangkan kebajikan. Jika kejahatan dilenyapkan, maka kebajikan akan tumbuh. Kebajikan dan kejahatan bagaikan timbangan. Jika kejahatan bertambah, maka kebajikan akan berkurang. Jika kejahatan berkurang, maka kebajikan akan bertambah. Ini adalah prinsip yang pasti. Jika kita memiliki hati yang bertobat, maka kejahatan akan lenyap. Tubuh dan pikiran kita akan dipenuhi kebajikan. Tindakan kita akan selalu baik. Bukan hanya tidak membunuh, kita akan melindungi kehidupan. Ini yang disebut pahala. Seperti awan yang menutupi sinar matahari, jika kita bertobat, maka ibarat awan gelap yang merebak, matahari akan terlihat. Kita tahu bahwa saat matahari muncul, dunia akan menjadi terang. Saat matahari tertutup awan gelap, langit dan bumi akan diliputi kegelapan. Begitu pula dengan batin kita. Jika kebijaksanaan tertutup oleh kegelapan batin, maka cahayanya tidak akan memancar. Jadi, kita harus bertobat.
Bertobat bagaikan mengusir awan gelap. Bagaikan sebuah cermin, saat cermin ditutupi debu dan kotor, saat cermin ditutupi debu dan kotor, saat cermin ditutupi debu dan kotor, maka ia tidak bisa merefleksikan kondisi sekitar. Jika cermin terutup kotoran atau diwarnai oleh warna gelap, maka tidak ada kondisi yang bisa terefleksi di dalamnya. Lihatlah, perempuan setiap hari menggunakan cermin. Cermin itu harus dibersihkan setiap hari. Jika tidak, maka bayangan wajah tidak akan terlihat di sana. Contoh lain adalah cermin di kamar mandi. Saat cermin itu tertutup uap air, maka tidak akan tampak bayangan di sana. Prinsipnya sama. Cermin harus tetap bersih, baru bisa merefleksikan bayangan benda. Jika cermin menjadi buram, maka keindahan tidak akan bisa terefleksi. Prinsip ini sangat mudah dimengerti, tetapi di dalamnya mengandung Dharma yang dalam. Batin kita bagaikan sebuah cermin. Karena itu, ada istilah “kebijaksanaan cermin”. Kebijaksanaan bagaikan sebuah cermin yang besar dan bundar. Ia dapat membedakan warna hijau, merah, hitam, dan putih dengan sangat jelas. Warna putih akan terlihat putih, warna merah terlihat merah, hijau terlihat hijau, biru terlihat biru. Warna apa pun objek yang ada di hadapannya, Warna apa pun objek yang ada di hadapannya, cermin ini akan merefleksikannya dengan jelas. Jadi, setiap orang juga memiliki kebijaksanaan bagai cermin. Kebijaksanaan ini bagai sebuah cermin besar yang dapat merefleksikan kondisi luar.
Jika kalian ditanya, “Benda apa yang ada di hadapan kita,” kalian dapat segera menjawabnya. Benar? Daun berwarna hijau. Anggrek berwarna merah atau putih. Ada pula bunga Daylily yang berwarna kuning. Semua ini dianalisis dan ditampilkan oleh kebijaksanaan yang bagai cermin ini. Ia disebut kebijaksanaan pembedaan. Tentu, di balik kebijaksanaan pembedaan ada kebijaksanaan setara. Kita membedakan, “Ini benda apa, ini manusia, itu ikan.” Jadi, saat ada orang memakan ikan, apakah ini benar? Kita bisa membedakan mana manusia, mana ikan, mana manusia, mana ikan, tetapi kurang memiliki kebijaksanaan setara. Jika memiliki kebijaksanaan setara, maka kita akan paham bahwa ikan juga memiliki nyawa. Semua kehidupan adalah setara, mengapa manusia harus makan ikan? Mengapa manusia harus makan hewan lain? Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Semua makhluk ingin hidup dan takut mati. Jadi, penderitaan mereka sama dengan manusia. Inilah kebijaksanaan setara.
Kebijaksanaan pembedaan atau pengetahuan membedakan wujud dan rupa, tetapi kebijaksanaan setara memahami kesetaraan semua makhluk. Jadi, dua jenis kebijaksanaan ini harus sejalan. Jika hanya memiliki pengetahuan, maka kita hanya akan menjadi orang pintar. Namun, ini saja tidaklah berguna. Kita juga harus memiliki kebijaksanaan setara. Inilah yang sering disebut jiwa kebijaksanaan, bukan semata-mata pengetahuan. Bukan. Kita harus memperhatikan jiwa kebijaksanaan. Tentu, pengetahuan dapat menganalisis banyak hal. Namun, tanpa kebijaksanaan setara, pengetahuan yang kita miliki mungkin akan membawa kita pada lebih banyak kejahatan. Jadi, kita harus memiliki pengetahuan murni, juga harus memiliki kebijaksanaan setara. Jadi, pengetahuan juga harus murni. Pengetahuan murni inilah yang bagaikan cermin. Segala yang direfleksikan cermin ini adalah hal yang baik karena di baliknya ada kebijaksanaan setara. Jadi, inilah kebijaksanaan Buddha yang murni. Untuk memiliki kebijaksanaan murni, batin kita harus senantiasa jernih. Dengan begitu, saat menghadapi masalah, pengendalian diri akan timbul dalam hati kita. Contohnya, saat ketamakan muncul. Saat melihat suatu benda, kita menilai, “Barang ini saya sukai.” Karena kita suka, maka ketamakan akan semakin tebal.
Jika memiliki kebijaksanaan yang murni, kita dapat segera menjalankan praktik dana. Batin kita harus murni, jangan tercemar oleh ketamakan. Inilah kebijaksanaan murni. Saat melihat orang lain, kita merasa tidak suka. Kita merasa lebih hebat darinya. Saat kesombongan ini timbul, Saat kesombongan ini timbul, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan menjaga sila. Kita harus ingat untuk menjaga sila. Dalam hubungan antarmanusia, kita tidak boleh sombong. Kita harus saling menghormati dan mengasihi. Inilah pikiran yang waspada. Inilah kebijaksanaan murni. Saat melihat sesuatu yang tidak kita sukai atau senangi, mungkin timbul kebencian dalam diri kita. Kita harus segera meningkatkan kewaspadaan dan bersabar. dan bersabar.
Ini juga termasuk kebijaksanaan murni. Jika timbul rasa malas dalam diri, segeralah meningkatkan kewaspadaan. Ingatlah bahwa waktu terus berlalu. Kita harus meningkatkan semangat. Dengan demikian, ini jugalah yang disebut kebijaksanaan murni. Dengan kebijaksanaan murni, kita dapat menganalisis berbagai hal, juga dapat mengingatkan diri kita untuk menggunakan berbagai cara untuk meredam niat buruk kita. Kita dapat memiliki berbagai cara. Dengan begitu, kejahatan akan lenyap dan kebajikan akan tumbuh. Inilah kebijaksanaan murni. Kebijaksanaan murni diperoleh setelah kita bertobat secara menyeluruh. Pertobatan adalah pemurnian. Setelah bertobat, selain menghentikan pembunuhan dan berbagai kebiasaan buruk, kita dapat membimbing orang lain untuk dapat turut bertobat; membimbing orang agar tidak melakukan kesalahan; membimbing orang untuk berjalan ke arah kebajikan. Tentu, orang itu juga memperoleh pahala. Jadi, kita berharap pahala ini berlanjut dari kehidupan ke kehidupan dan memperoleh tubuh Vajra. Tubuh kita saat ini tidaklah bersih. Di dunia ini tiada satu pun yang bersih, termasuk tubuh kita ini. Setelah meninggal beberapa hari, tubuh akan membengkak, kemudian ditumbuhi belatung.
Apakah tubuh ini bersih? Namun, yang kita harapkan adalah memperoleh tubuh Vajra. Apa yang dimaksud tubuh Vajra? Jiwa kebijaksanaan. Jiwa kebijaksanaan ini tak dapat dilukai oleh apa pun. Selama kita memiliki kebijaksanaan, tiada apa pun yang dapat melukai kita, juga tiada apa pun yang dapat merintangi kita. Jiwa kebijaksanaan ini abadi. Jadi, di sini dikatakan tentang usia tanpa batas. Tentu, inilah yang ingin kita capai. Sebagai manusia, ada juga orang yang berumur panjang, sehat, dan baik. Orang itu sangat baik dan telah melakukan banyak kebajikan. Kalian seharusnya masih ingat seorang nenek di Jiaoxi. Semua yang dia ucapkan adalah kata-kata baik. Kebijaksanaannya sangat kaya. Saat melihat sesuatu, dia selalu berkata-kata yang baik. Setiap perkataannya berisi bimbingan bagi orang-orang. Dia melakukan daur ulang dan tubuhnya sangat sehat hingga usianya mencapai 100 tahun lebih. Dia meninggal pada usia 104 tahun. Sebelum meninggal, dia masih mengucapkan hal-hal baik dengan sangat jelas, sedikit pun tidak ngawur. Saat menjelang ajal, dia masih mengucapkan kata-kata baik kepada orang-orang.
Seumur hidupnya, dia selalu berbuat baik. Bayangkan, mencapai usia seratus adalah hal langka. Tetap sehat pada usia seratus tahun lebih sungguh tidak mudah. Jadi, kita harus memiliki hati yang bertobat, barulah bisa berumur panjang, memiliki tubuh sehat dan tidak kunjung lapuk. Yang tidak lapuk adalah jiwa kebijaksanaan. Jadi, di awal kita membahas usia tanpa batas. Inilah yang diharapkan semua orang. Hanya jiwa kebijaksanaanlah yang abadi. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini juga sangat sederhana. Berhubung kita ingin memperoleh tubuh yang sehat dan panjang umur, maka kita harus menjauhi kebencian. Dalam hubungan antarmanusia, kita tak boleh mengikat dendam begitu pula antara manusia dan hewan. Kita tidak melakukan tindakan membunuh, bahkan tidak memiliki niat untuk membunuh.
Kita harus selalu mengembangkan niat baik. Jadi, saat melihat segala jenis hewan, janganlah menjalin rasa dendam. janganlah menjalin rasa dendam. Rasa dendam tidak boleh ada. Rasa dendam tidak boleh ada. Jika tidak memiliki kebencian, maka kita tak akan memiliki rasa dendam. Dengan begitu, tak ada niat untuk membunuh. Kita menganggap semua makhluk sebagai anak yang tunggal. Kita bahkan menganggap hewan-hewan bagaikan anak sendiri. Inilah pikiran yang harus kita kembangkan. Yang paling dikasihi setiap orang adalah anak. Jadi, kita bukan hanya menganggap semua makhluk sebagai anak sendiri, tetapi juga menganggap semua orang tua sebagai orang tua sendiri. Terhadap anak kita harus mengasihi, terhadap orang tua kita harus berbakti. Dengan demikian, berarti kita telah mengembangkan cinta kasih dan tak akan membangkitkan niat membunuh. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Kita memiliki kebijaksanaan bagai cermin. Cermin ini harus dijaga kejernihannya. Jadi, pengetahuan dan kebijaksanaan haruslah sejalan. Dengan begitu, barulah kita dapat memperoleh jiwa kebijaksanaan. Pertobatan adalah pemurnian. Dengan batin yang murni, barulah kita dapat memperoleh tubuh Vajra dan memperpanjang usia jiwa kebijaksanaan hingga tanpa batas. Untuk itu, kita harus selalu bersungguh hati.