Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-412-Damai di Tengah Lautan Dharma

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus memiliki Buddha di dalam hati. Cinta kasih pada hakikatnya sudah dimiliki. Dharma harus ada di dalam perbuatan. Kebijaksanaan sedalam lautan. Adakah kita merasakan demikian? Saya setiap hari berkata kepada kalian bahwa hati kita pada hakikatnya sama dengan hati Buddha. Hati Buddha harus meresap ke dalam hati kita. Hati Buddha adalah hati penuh welas asih agung. Jadi, cinta kasih pada hakikatnya kita miliki. Setiap orang pada dasarnya memiliki cinta kasih dan welas asih agung. Hanya saja, entah sudah berapa kehidupan kita telah tercemar oleh tabiat buruk sehingga cinta kasih ini tertutupi. Pada dasarnya cinta kasih ini sudah kita miliki. Inilah maksud dari manusia pada mulanya berwatak bajik. Dharma harus ada di dalam perbuatan. Kebijaksanaan sedalam lautan. Kita telah menemukan bahwa pada hakikatnya hati kita sama dengan Buddha. Kita menemukan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki cinta kasih. Bersumbangsih adalah hal yang membahagiakan. Setelah membantu orang, hati kita akan penuh kegembiraan. Tentu, ini ada dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, di dalam keseharian ada Dharma. Kita memiliki hati yang gemar membantu. Setelah membantu orang, rasanya begitu bahagia dan damai. Antara bersumbangsih dan menuntut, manakah yang kita pilih? Ini bergantung pada kebijaksanaan kita.

Jika kita banyak menuntut dan mengumbar ketamakan, maka ketamakan ini akan tak terkendali. Dengan adanya ketamakan ini, akan timbul niat merampok atau mencuri. Niat untuk mendapat harta dengan tidak halal akan menjadi sangat banyak. Ini akan membawa belenggu batin yang membuat batin tidak bebas atau membuat kita berurusan dengan hukum sehingga harus dirantai dan sebagainya. Inilah akibat tiadanya kebijaksanaan. Asalkan kita dapat membangkitkan cinta kasih dan memiliki Dharma di dalam perbuatan, maka segala yang kita lakukan akan menjadi kontribusi tanpa pamrih. Kita akan menyadari bahwa kita memiliki banyak kekuatan untuk terus membantu orang. Potensi kebijaksanaan ini tidak terbatas. Jadi, kebijaksanaan bagaikan lautan. Kita harus selalu mengingatkan diri kita bahwa setiap orang memiliki Tiga Permata yang hakiki. Asalkan kita bersedia untuk bersumbangsih, maka kita sesungguhnya memiliki potensi yang tak terhingga bagai mata air dan benih yang terus tumbuh dan dapat menghasilkan buah tak terhingga. Ini adalah hakikat sejati kita. Kita memiliki sebidang ladang berkah yang murni. asalkan perbuatan kita sesuai dengan jalan benar, yaitu Jalan Bodhisattva yang lurus dan selama kita dapat selalu selaras dengan jalan benar ini.

Mengenai jalan benar, biasa kita membahas tentang Jalan Mulia Beruas Delapan yang kita hafal. Jika kita dapat menjalankan jalan mulia ini sebagai pedoman di Jalan Bodhisattva, sebagai pedoman di Jalan Bodhisattva, maka di mana pun kita berada, kita tidak akan menyesal. Di mana pun berada, kita dapat percaya diri dan memiliki batin yang damai tanpa beban. dan memiliki batin yang damai tanpa beban. Lautan Dharma tak bertepi, terus dipegang teguh tanpa henti. Jadi, ajaran Buddha ada dalam keseharian kita. Contohnya banyak sekali, bahkan tidak terbatas. Segala yang kita temui adalah Dharma yang dapat digunakan dalam hubungan antarmanusia. Semua ini membuat batin kita damai. Ini sungguh bermanfaat. Asalkan kita bersungguh hati, maka Dharma ada di sekeliling kita. Dharma ini sangat kaya. Kita tidak akan kekurangan Dharma. Buddha mengajari kita untuk memiliki Dharma yang kaya di dalam hati agar batin kita bebas dari rintangan.

Penggalan berikutnya berkaitan dengan pertobatan pada penggalan sebelumnya. Setelah bertobat dan memurnikan diri, tubuh dan batin memperoleh kedamaian. Dengan begitu, semua makhluk akan merasa damai dan bahagia di dekat kita. Baik mendengar suara kita maupun melihat sosok kita, batin mereka dipenuhi sukacita. Untuk itu, kita harus sangat giat dan tekun dalam bertobat serta menyelami Dharma. Dharma harus digunakan dalam keseharian. Setelah kita membangun keteladanan, maka saat semua makhluk melihat kita atau mendengar suara kita, semuanya merasa gembira dan damai.

Ini karena di masa lalu, kita terus-menerus bertobat. Kita menyerap Dharma ke dalam hati dan menerapkannya sehingga orang lain percaya kepada kita. Ini karena ajaran Buddha sudah meresap ke dalam diri kita. Dengan begitu, berarti kita mendapat sumsum Dharma. Karena itu, kita harus bersyukur. Rasa syukur harus diungkapkan dengan tulus. Jadi, kita menghormat kepada Buddha dengan tulus. Mengenai penghormatan pada Buddha, apakah bersujud kepada Tiga Permata saja sudah cukup? Batin makhluk awam tidak teguh dan dapat mengulangi kesalahan. Karena itu, di sini dikatakan, “Sekali lagi menyatakan pertobatan.” Di awal kita sudah menyatakan pertobatan atas karma buruk tidak menghargai makhluk hidup. Di sini kita kembali diajak untuk bertobat sekali lagi. Kita kembali bertobat atas karma buruk mencuri. Kini kita ingin kembali bertobat atas kesalahan masa lalu. Mungkin kita pernah berbuat karma mencuri. “Di dalam Sutra dikatakan bahwa kepunyaan orang lain yang dijaga dan menjadi haknya…” Jika suatu benda adalah milik orang lain, maka orang itu berhak atasnya dan akan menjaganya. Jika orang itu tak memberikannya kepada kita, tetapi kita mengambilnya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, baik di depan umum maupun secara tertutup tanpa izin dari si pemilik, tanpa izin dari si pemilik, itu disebut mencuri. Di dalam Sutra dikatakan, “Benda kepunyaan orang lain “Benda kepunyaan orang lain berhak dijaga oleh orang itu.” Si pemilik memiliki hak atasnya.

Di masyarakat masa kini kita sering melihat perampokan dan pencurian kerap terjadi. Contohnya, dalam siaran berita, diberitakan pada sebuah toko yang hanya dijaga oleh satu orang pada malam hari, seseorang masuk begitu saja dan mengambil sebotol minuman beralkohol, lalu memecahkannya. Dengan pecahan kaca itu, dia menakuti si penjaga toko. Si penjaga toko hanya seorang perempuan. Begitu masuk ke dalam toko, pria itu langsung mengancam si penjaga toko dan memintanya membuka brankas uang. Di dalamnya ada sepuluh ribu dolar lebih. Dia mengambil semuanya. Si perampok takut si penjaga toko meminta tolong karena dia akan sulit melarikan diri. Jadi, dia menyandera si penjaga toko. Dia berpikir bahwa jika mereka kabur dengan sepeda motor, maka meski si penjaga toko berteriak, dia juga tak akan tertangkap. Begitulah pemikirannya. Namun, dengan kemajuan teknologi, di toko itu sudah dipasangi kamera pengawas. Begitu pula di luar toko. Sosok si perampok dapat terekam seluruhnya. Momen saat dia memasuki toko, mengambil botol kaca, memecahkannya, mulai merampok, lalu menyekap si penjaga, sampai dia keluar dapat dilihat oleh semua orang. Jadi, polisi di sekitar lokasi segera mengepungnya. Si perampok pun ditangkap dengan cepat.

Seperti inilah contohnya. Barang yang dirampasnya adalah milik orang lain. Si penjaga toko adalah karyawan. Tanggung jawabnya adalah menjaga toko itu dan menjalankan penjualan. Dia memiliki tanggung jawab. Saat sedang menjalankan tanggung jawab, dia malah dirampok. Si perampok datang dengan berani. Dia datang dengan sewenang-wenang. Dia melakukan perampokan. Merampas barang dengan tidak halal disebut merampok atau mencuri. Sepertinya hal ini terjadi setiap hari. Kamera pengawas sudah dipasang, tetapi tetap ada orang yang pikirannya keruh dan tetap melakukan perampokan. Ketamakan dan kebodohan menyebabkan timbulnya niat mencuri. Jadi, penggalan ini kembali mengatakan, Setiap orang seharusnya menunaikan kewajiban dengan baik. Inilah norma hidup sebagai manusiaSegala materi di dunia yang bukan milik kita, bahkan sebatang rumput dan sehelai daun, seperti tanaman di kebun orang lain yang bukan menjadi hak kita, juga tidak dapat sembarang kita ambil.

Baik bunga, rumput, maupun daun, semuanya tidak boleh. Inilah norma. Tanpa persetujuan si pemilik, kita tidak boleh mengambilnya. Ada orang saat berjalan kaki, melihat pohon yang berbuah ranum. Berhubung dia merasa haus dan buah itu terlihat lezat, maka dia memetiknya. Jika ketahuan, dia tetap dianggap pencuri. Singkat kata, orang yang normal dapat memahami norma. Barang milik orang lain, meski hanya sebatang rumput atau sehelai daun, kita tidak mengambilnya jika tidak diberikan, apalagi merampasnya. Segala sesuatu di bumi ini, meski tidak ada yang menjaga, kita mengambilnya sambil lalu saja juga tidak boleh, terlebih jika ada yang menjaga. Di tempat yang dijaga, dia mengambil yang bukan miliknya; di tempat yang tidak dijaga, dia mengambil yang bukan miliknya, ini disebut mencuri. Ada juga yang merampok secara terang-terangan. Ada orang yang mencuri, ada pula yang merampas dan merampok, bahkan sampai membunuh orang agar perbuatan jahatnya tidak diketahui. Saat batin manusia diliputi kegelapan, demi merampas barang yang diinginkan, mendatangkan  penyesalan seumur hidup. Penyesalan ini dirasakan seumur hidup. Saya sering berkata bahwa penderitaan manusia yang terbesar adalah penyesalan. Penyesalan selalu datang terlambat. Perbuatan sudah dilakukan. Tubuh dan batin tidak dapat merasa damai. Jadi, barang kepunyaan orang lain, jangan katakan banyak atau sedikit, jika tidak diberikan, janganlah kita ambil. Ini mengingatkan kepada kita bahwa tanpa izin si pemilik, kita tidak boleh mengambil milik orang lain.

Orang dewasa harus mengajarkan ini kepada anak kecil. Jangan tunggu sampai anak itu besar, lalu mencuri barang orang lain. Jika sudah demikian, maka akan sulit untuk diajar. Demikian pula dari segi hukum, pencuri akan ditangkap atau dipenjara. Setelah dipenjara beberapa tahun, apakah pelaku akan sadar? Tentu ada yang menyadari bahwa kehilangan kebebasan sangat menderita. Setelah bebas, dia akan lebih waspada dan tidak lagi melakukan kesalahan. Namun, ada juga orang yang tetap terpengaruh hal-hal yang salah di mata hukum. Setelah bebas, dia kembali melanggar hukum, bahkan menanam karma buruk yang lebih berat. Ini semua hanya bergantung pada pikiran. Jika sikap ini tidak diubah, maka cara apa pun yang digunakan untuk antisipasi, juga tidak berguna. Intinya, kita harus membimbing orang agar tidak mencuri atau mengambil sesuatu sekecil apa pun yang bukan miliknya. Jika si pemilik tidak mau memberikannya, kita tidak boleh merampasnya. Memetik bunga, rumput, buah, atau apa pun di bumi ini, juga jangan dilakukan tanpa izin pemilik. Terlebih lagi, terhadap barang yang dijaga, Terlebih lagi, terhadap barang yang dijaga, kita tidak boleh merampasnya. Jika kita merampasnya, itu sama dengan merampok, sebanyak atau sesedikit apa pun barangnya. Jadi, penggalan berikutnya berbunyi, Banyak orang yang hanya berpikir, “Barang ini saya butuhkan, saya suka barang ini, saya akan mengambilnya.” Orang seperti ini juga banyak. Inilah makhluk hidup yang gelap batin. Mereka hanya memikirkan jangka pendeknya, tidak memikirkan masa depan.

Jadi, mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai norma. “Meski bukan milik saya, meski melanggar norma, saya tetap akan mengambilnya.” “Masa bodoh dengan norma.” Sesuatu yang bukan milik kita, malah ingin kita ambil. Ini tidak sesuai norma. Ini tidak sesuai norma. Ini yang disebut tidak benar atau melanggar norma. Jika barang itu dijual, kita boleh membelinya. Seperti itulah seharusnya. Jika barang jualan orang lain kita curi atau barang berharga milik orang lain yang sedang dipamerkan kita rampok, maka itu tidak sesuai kebenaran. Perbuatan tidak sesuai kebenaran ini akan berdampak pada masa depan. Jika kita merampas milik orang lain, maka suatu hari di masa depan, terhitung dari saat kita melakukannya, entah cepat atau lambat, kita akan menemui bencana. Seperti kisah pencuri di toko tadi, setelah membuka brankas uang dan membawa kabur isinya, dia juga menyandera si penjaga toko. Bayangkan, tak lama kemudian dia pun tertangkap. Hanya dalam waktu beberapa puluh menit, dia sudah tertangkap. Dia menemui bencana dalam waktu cepat. Setelah dia melakukan aksinya, Setelah dia melakukan aksinya, tidak berselang lama, dia langsung menemui bencana. dia langsung menemui bencana. Siapa yang memberinya bencana? Dia sendiri yang menciptakannya. Dia merampas milik orang lain dengan tidak halal, maka dirinya mengundang bencana. Berapa lama dia akan dihukum? Tidak tahu. Namun, hukuman tentu ada batasnya. Namun, pelaku perampokan, di mata orang pada umumnya, seumur hidup dianggap tidak bermoral. seumur hidup dianggap tidak bermoral. Inilah akibat dari kegelapan batin.

Jadi, ada orang yang tahu perbuatan itu tidak benar, juga tidak hidup kekurangan, tetapi karena tabiat buruk, dia tetap mencuri. Ada orang yang bukan mencuri uang. Karena gangguan mental, dia mencuri barang yang bukan-bukan. Kasus seperti ini juga ada. Ini disebut penyakit mental. Tabiat ini bukan disebabkan karena kondisi hidup yang sulit. Bukan. Perbuatan itu sudah menjadi kebiasaan. Lama-kelamaan, orang itu tidak merasa telah berbuat salah. Dia tidak tahu bahwa dirinya salah. Setiap kali tertangkap oleh orang lain, bagaimanapun dinasihati, dia tetap tidak bisa berubah. Ini sungguh membuat orang lain merasa tidak berdaya untuk mengatasi kebiasaan mencurinya itu. untuk mengatasi kebiasaan mencurinya itu. Ini sangat sulit. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha harus dimulai dari menyucikan pikiran, bukan hanya memperlakukan semua makhluk dengan cinta kasih yang setara dan menjaga dunia semua makhluk. Ini sudah kita bahas sebelumnya. Kita juga harus menghargai kepunyaan orang. Segala sesuatu milik orang lain, yang menjadi hak orang lain, janganlah kita rusak ataupun kita rampas.

 

Perbuatan ini dimulai dari pikiran. Semua ini adalah tabiat buruk. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus selalu belajar mengasihi orang lain dan segala sesuatu yang menjadi kepunyaan masing-masing. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita.                                     

Leave A Comment