Sanubari Teduh-419-Mengasihi Sesama Manusia dan Semua Makhluk
Saudara se-Dharma sekalian, hidup di dunia ini, kita harus berdampingan dengan alam. Terlebih lagi, terhadap para kerabat, tetangga, dan teman-teman yang kita kenal. Bahkan, terhadap orang yang kita kenal, kita tetap harus memiliki cinta kasih. Kita harus mengasihi alam dan isinya. Inilah yang harus kita lakukan sebagai manusia. Dengan demikian, kita seharusnya memiliki kehidupan yang tenteram dan bahagia. Untuk itu, semua orang harus saling mengasihi dan menyayangi. Dengan demikian, segala sesuatu di dunia akan hidup pada tempatnya dan merasakan kebahagiaan. Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi, terus dibahas bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam dan mengasihi sesama seperti keluarga sendiri atau diri sendiri. atau diri sendiri. Inilah yang terus kita bahas selama ini. Kita juga harus mengingat hukum karma. Tentu, orang yang mengasihi orang lain pasti dikasihi orang lain. Orang yang menyayangi orang lain pasti disayangi orang lain. Ini yang disebut hukum sebab akibat.
Jadi, kita harus banyak menjalin jodoh baik dengan orang lain. Bukan hanya dengan orang, bahkan terhadap semua makhluk, kita juga harus menyayangi. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini tidak terlalu dalam. Sebelumnya kita telah membahas tentang memanfaatkan milik umum untuk kepentingan pribadi, merampas tempat tinggal orang lain, menguasai toko orang lain, atau menyerang desa orang lain, dll. Semua ini telah kita bahas sebelumnya. Kita harus bertobat. Kita bertobat berulang kali karena sejak masa tanpa awal kita tidak tahu telah melakukan berapa banyak kesalahan dalam masa pertumbuhan kita. Selain merampas rumah dan ladang orang, mungkin kita juga pernah menyerang dan merusak kota. Bukan hanya menyerang desa orang atau menyerang rumah orang, kita mungkin pernah menyerang dan merusak kota. Skalanya lebih besar. Kota lebih besar dari dusun atau desa. Kita mungkin pernah menyerang kota. Kita mungkin pernah menyerang kota.
Di zaman India kuno, setiap kota merupakan satu kerajaan. setiap kota merupakan satu kerajaan. Inilah yang berlaku di India kuno. Ada orang yang merasa tidak cukup hanya menguasai satu kota. Akibat ketamakan yang timbul, Akibat ketamakan yang timbul, dia membawa bencana. Dia berencana menyerang kota orang lain dan menguasainya. Inilah yang disebut menyerang kota. Ada orang yang menyerang kabupaten atau kota orang lain. Ada pula yang membakar kota. Ada pula yang membakar kota. Kini kita juga sering mendengar hal ini.
Saya teringat saat relawan Tzu Chi pergi ke Kamboja, saat itu mereka merasakan suatu kondisi. Di satu negara yang sama, akibat perseteruan politik, peperangan kerap terjadi antara Khmer Merah antara Khmer Merah dan pasukan pemerintah. Pasukan pemerintah sering mengepung dan menyerang Khmer Merah. Khmer Merah berpaham komunis. Pemerintah ingin menaklukkan mereka. Mereka terus bersembunyi hingga ke pedalaman. Di sana mereka juga mendirikan partai dan sering merampok. Saat Tzu Chi menyalurkan bantuan ke sana, kondisi juga sangat berbahaya. Ranjau darat ada di mana-mana. Pasukan pemerintah, demi melindungi para pemberi bantuan, menggunakan tank dan kendaraan lapis baja untuk membuka jalan. Kondisinya sangat menegangkan dan menakutkan. Kita sering melihat peperangan terjadi dan rakyat tak dapat hidup tenang. Rakyat tak dapat berdagang dengan tenang atau bercocok tanam dengan tenang.
Karena itu, negara itu sangat miskin. Lahan mereka sangat subur, tetapi pengairan tidak baik karena sering dirusak. Jadi, mereka memiliki lahan, tetapi tidak memiliki sistem irigasi. Meski memiliki lahan yang luas, mereka tidak berani bercocok tanam. Mengapa? Mereka takut akan ranjau darat. Ranjau darat di sana berukuran kecil dan tersebar di mana-mana tanpa terlihat. Salah satunya disebut “ranjau kupu-kupu”. Ranjau ini sangat kecil dan berbentuk menyerupai kupu-kupu. Kadang pasukan pemberontak menyebar ranjau itu di lahan pertanian. Jika tidak terinjak akibat tidak hati-hati, ranjau itu akan meledak. Jadi, lahan yang subur di sana malah sering membuat orang terluka. Jumlah orang cacat di sana pun tak sedikit. Ada orang yang tetap bercocok tanam, tetapi tidak bisa memperoleh air karena sistem irigasi tidak baik. Di sana ada saluran air. Di dalamnya ada air, tetapi tidak dapat mengairi sawah. Air harus diambil. Untuk itu, dibutuhkan bahan bakar. Air harus disedot dengan motor. Namun, pemerintah setempat bahkan tak bisa menyediakan bahan bakar. Warga di sana sangat kekurangan. Ada buruh, tetapi tidak ada uang. Jadi, sistem irigasi tidak bisa dibangun dan bahan bakar tidak dapat dibeli. Air tidak bisa mengalir ke sawah.
Relawan Tzu Chi memberi tahu warga bahwa kita akan memberikan dua puluh motor untuk mereka. memberikan dua puluh motor untuk mereka. Namun, mereka berkata bahwa pemerintah tidak bisa menyediakan bahan bakar. Kita lalu menyediakan bahan bakar agar motor itu bisa bekerja. Kita membeli bahan bakar dalam jumlah besar untuk mereka, tetapi mereka tidak memiliki wadah untuk bahan bakar itu. Di sana ada seorang jenderal yang sangat mengasihi rakyat. Dia lalu memunguti botol-botol minuman di jalan, seperti botol air mineral. Dia lalu menuangkan bahan bakar ke dalam botol-botol itu, lalu mengantarkan motor ke setiap desa. Bahan bakar juga diantar sekaligus. Melihat pemerintah yang seperti itu, saya sungguh tak sampai hati. Mereka tidak dapat mengembangkan berbagai bidang di masyarakat. Masalahnya hanya satu, yaitu perseteruan politik.
Jika pemerintah tidak menekan pemberontak, maka pemberontaklah yang akan merampok atau membakar yang akan merampok atau membakar hasil panen warga. Kondisinya sangat kacau. Kita juga sudah pernah membagikan benih padi bahan bakar, dan motor. Para warga mulai bercocok tanam. Kita dapat melihat padi mulai berbuah. Mereka sudah akan memulai panen. Namun, saat itu pasukan Khmer muncul dan merampok padi yang sudah dipanen dan membakar sisa padi yang belum dipanen. Ini terjadi saat kita menyalurkan bantuan. Kondisinya sangat menegangkan, menyedihkan, dan penuh ketidakberdayaan. Kita telah berada di negara itu dan melihat kondisinya dengan mata kepala sendiri atau mendengar laporan dengan telinga sendiri. Mendengar laporan dari para relawan, saya merasa tak sampai hati. Coba bayangkan, semua ini adalah akibat perseteruan antarmanusia. Manusia membuat batas-batas antara kota atau kabupaten. Jika ada orang atau pemimpin politik yang tamak, dia akan memimpin orang lain untuk merusak batas-batas itu. untuk merusak batas-batas itu. Mereka mungkin merampok atau membakar dan menyerang wilayah orang lain.
Ada juga yang mungkin memperdagangkan manusia atau menculik pelayan orang lain. Semua ini pernah terjadi di masa lalu. Saat ini apakah masih terjadi? Di Tiongkok ada sebuah berita tentang daerah pertambangan yang berbahaya. Sering terjadi ledakan atau longsor di sana sehingga semakin sulit untuk mencari pekerja yang mau bekerja di sana. Lalu, ada orang yang pergi ke wilayah miskin untuk menculik buruh anak. Mereka membohongi anak-anak dan menjanjikan pekerjaan di luar. Sesungguhnya, mereka dibawa ke pertambangan itu. Ada pula yang menipu para orang tua untuk membawa anak mereka. Ada pula yang langsung menangkap. Kita pernah melihat berita ini. Setibanya di pertambangan, anak-anak itu tidak dianggap sebagai manusia. Mereka ditindas dan dipaksa untuk bekerja. Mereka juga tidak diberi makan seharian. Tempat tinggal mereka sangat kumuh. Mereka tidak memiliki makanan dan tempat tinggal yang layak. Mereka diminta untuk terus bekerja. Melihatnya, saya merasa tidak tega.
Foto kondisi ini terpampang di surat kabar. Ke manakah masa kecil anak-anak itu? Ke manakah masa kecil anak-anak itu? Semua ini terjadi akibat derta kemiskinan serta jahatnya pikiran manusia. Pikiran manusia yang jahat, selain merusak kota dan membuat warga tak bisa hidup tenang, manusia juga memperdagangkan manusia lain serta melakukan penculikan atau penangkapan.
Anak-anak itu dipaksa untuk bekerja. Di masa lalu, ini juga banyak terjadi. Demikian pula pada masa kini. Selain itu, Demikianlah, meski hidup kekurangan, sesungguhnya manusia tetap dapat hidup damai dan sederhana. tetap dapat hidup damai dan sederhana. Ini juga masih cukup baik. Namun, ada orang yang sangat jahat hatinya. Selain memanfaatkan orang lain dan menipu, mereka juga menindas orang yang tak bersalah. Orang itu tidak melakukan kesalahan, tetapi orang lain ingin memanfaatkannya sehingga dia dianggap bersalah dan ditangkap lalu diperjualbelikan. Kini banyak veteran yang berada di Taiwan. Saat mendengar kisah mereka, kita merasa sangat tak terbayangkan. Ada yang pernah ditangkap lalu diangkut dengan perahu ke Taiwan atau dibawa ke Vietnam atau Thailand Utara. Untuk apa? Untuk berperang. Mereka dijadikan prajurit oleh Jepang. Mereka dijadikan prajurit oleh Jepang. Mereka yang saat itu masih muda dipaksa untuk berperang di garis depan, seperti Pulau Hainan atau tempat lainnya. Mereka harus menyerang kota dan berperang. Ada yang dipaksa oleh pemerintah, ada pula yang dipaksa oleh penguasa daerah. ada pula yang dipaksa oleh penguasa daerah. Inilah menekan orang yang tak bersalah. Mereka tidak berbuat salah. Mereka dikumpulkan, lalu dikirim ke garis depan.
Mereka dibuat mati oleh pisau berdarah. Mereka dibuat mati oleh pisau berdarah. Mereka diminta untuk berperang bagaikan akan dipenggal hidup-hidup. Begitu pisau mengayun, langsung akan bersimbah darah. Mereka dikirim ke garis depan hidup-hidup untuk berperang di bawah terjangan peluru. Di zaman dahulu tidak ada meriam. Karena itu, digunakan pedang atau senapan. Jadi, di sini dikatakan, “Membuatnya mati bersimbah darah.” Orang-orang itu bagai dibawa menuju alat penggal. Kalian tahu alat penggal? Kalian tahu alat penggal? Mereka bagai dibawa ke tempat pemenggalan. Begitu pisau mengayun, “Tubuhnya terbelenggu, keluarganya berantakan.” Sangat menyedihkan jika hidup di zaman perang.
Begitu pemimpin memiliki pikiran menyimpang, banyak rakyat tak berdosa menjadi korban. Dengan bahasa yang lebih halus, mereka disebut berkorban demi negara. Namun, tidak tahukah kita bahwa peperangan membuat banyak orang kehilangan keluarga? membuat banyak orang kehilangan keluarga? Banyak keluarga yang tercerai-berai. Ada orang yang diikat atau diborgol dan ditangkap. Begitulah kondisi di masa tidak damai dan penuh kekacauan. Ini membuat keluarga tercerai-berai. Selain itu, mungkin pada kehidupan lampau kita pernah melakukan semua ini. Ini mungkin saja. Kita mungkin membuat orang tua dan anak terpisah pada tempat yang berbeda, mungkin berada di negara yang berbeda. mungkin berada di negara yang berbeda. Dahulu, orang Taiwan dikirim menjadi prajurit di Pulau Hainan. Ada pula orang Tiongkok Daratan yang dibawa ke Taiwan. Banyak orang yang keluarganya terpecah.
Kini, orang-orang yang dibawa ke Taiwan saat muda telah menjadi veteran. Mereka hidup sebatang kara. Istri dan anak mereka saat itu mungkin menjadi janda dan anak yatim piatu. Ini menghancurkan banyak keluarga. Perpisahan yang mereka alami ini, sesungguhnya siapa yang menyebabkan? “Berbagai kesalahan” ini entah siapa yang melakukannya. Kesalahan yang telah dibuat ini sungguh tidak terbatas dan tak habis disebutkan. Manusia membuat keluarga orang lain tercerai-berai akibat perpisahan ataupun kematian. Kita semua sungguh harus bertobat. Hidup di tengah dunia yang kacau ini, sejak dahulu kondisi ini selalu ada. Sejak ada di muka bumi, manusia terus saling menyerang, menipu, merampas, dll. Ini sudah ada sejak dahulu. Semua ini berawal dari pikiran manusia. Terlebih, kini populasi manusia semakin bertambah. Manusia saling berebut dengan alam. Manusia saling berebut wilayah. Perselisihan antarnegara pun terjadi.
Bayangkan, kini kita harus lebih berusaha untuk menyucikan hati manusia dan membuat manusia dapat berpikir untuk hidup berdampingan dengan alam. Beginilah seharusnya manusia sejak lahir. Seluruh dunia adalah satu keluarga, baik jauh maupun dekat. Mungkin leluhur kita berasal dari Tiongkok dan masih ada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita di sana. Kita hanya tersebar di berbagai tempat. Jadi, kerabat dekat ataupun jauh harus kita kasihi. Bukan hanya mengasihi manusia, kita juga harus mengasihi segala sesuatu. Kita harus mengasihi segala kehidupan. Inilah yang kini terus kita galakkan. Saudara sekalian, jika setiap orang dapat membangkitkan cinta kasih dan membawa manfaat bagi manusia dan semua makhluk, berarti kita semua telah menciptakan berkah. Jadi, setiap orang harus lebih bersungguh hati.