Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-424-Batin Damai Mencapai Bodhi

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Kita semua haruslah memenuhi pikiran kita dengan kebahagiaan dan kemurnian serta kelapangan hati dan ketulusan. Jika pikiran ini senantiasa ada, maka kehidupan sehari-hari kita akan bebas dari kerisauan. Kehidupan kita juga akan kaya dan tidak kekurangan. Lihatlah, kita harus mengembangkan kelapangan dada dan niat berdana. Pikiran kita harus senantiasa murni dan mengembangkan niat berdana. Berdana haruslah tanpa ketamakan. Batin yang bebas dari ketamakan membuat dunia terasa lebih luas. Ada orang yang memiliki rumah besar dengan dekorasi yang baik, tetapi tidak merasa puas. Apakah batin seperti ini bisa bahagia? Rumahnya sangat besar, lapang, dan mewah, tetapi dia tidak kunjung puas. Lebih baik memiliki hati yang lapang. Jika hati lapang, kita akan dapat mengalihkan sumber daya untuk bergaya hidup mewah untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Begitu pikiran berubah, kita akan memiliki kemampuan untuk membantu orang lain. Kita akan dapat senantiasa menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Asalkan kita mengembangkan  niat berdana dan kelapangan hati, kita akan memiliki batin yang kaya. Tentu, kita harus mengenal rasa puas. Dengan demikian, kita akan dapat bertoleransi.

Bayangkan, masalah apa di dunia ini yang dapat diceritakan yang tidak membuat kita gembira? Kita sering mendengar tentang perubahan iklim. Di banyak negara, meski jauh dari kita, terjadi bencana alam. Penderitaan manusia semakin banyak. Ini sungguh mengkhawatirkan. Kita tak sampai hati melihatnya. Orang yang terkena bencana begitu banyak. Orang yang ingin membantu juga kesulitan. Mengingat banyaknya orang yang menderita, orang-orang yang berhati lapang dan penuh cinta kasih yang ingin membantu juga tak boleh takut bahaya serta memiliki kegigihan dan keberanian. Dengan begitu, barulah bisa menolong orang lain. Inilah hati lapang dan penuh toleransi. Kita turut merasakan penderitaan semua orang. Inilah sikap lapang dada. Berada di dunia ini, jika kita bisa mengenal rasa puas dan mengendalikan nafsu serta memiliki hati yang lapang, serta memiliki hati yang lapang, bukankah kita akan senantiasa bahagia? Kebahagiaan ini selalu ingin kita bagikan kepada orang banyak. Dengan begitu, kita akan suka memberi, baik dalam bentuk Dharma atau pengalaman kita. Saat mendengar satu ucapan, ucapan itu bisa mengandung Dharma. Baik ucapan orang tua maupun anak kecil, asalkan sesuai kebenaran, itu termasuk Dharma.

Setelah mendengarnya, kita merasa gembira dan membagikannya kepada orang lain. Misalnya, saat mendengar suara kicauan burung, hati saya merasa gembira. Saya juga membagikannya dengan semua orang. Kalian mungkin bertanya-tanya apa istimewanya kicauan burung. apa istimewanya kicauan burung. Kalian mungkin tidak dapat memahaminya. Saya sendiri mungkin juga tidak memahami arti kicauan burung, tetapi saya merasa gembira. Kondisi itu membuat saya bahagia. Jadi, kebahagiaan saya ini saya bagikan kepada semua orang. Saat ada sesuatu yang menyenangkan, kita  harus membagikannya kepada orang banyak. Ini juga termasuk menjalin jodoh baik. Jangan hanya selalu menceritakan kesulitan, kerisauan, atau kemarahan kita kepada orang lain. Yang harus kita bagikan bukanlah kondisi batin seperti itu. Kita harus senantiasa bersukacita.

Tentu, kadang kita juga menceritakan kegundahan kita kepada orang lain agar hati kita tidak terus gundah, tetapi bagaimana cara membuat hati ini tidak gundah dan mengembangkan rasa sukacita dan mengembangkan rasa sukacita saat menghadapi berbagai kondisi? Kita harus memupuk pikiran ini dalam jangka panjang. Bukankah kita selalu diminta untuk membina batin dan watak? Benar, kita harus membina batin kita lewat kondisi yang dihadapi selangkah demi selangkah. Saat baru mulai melatih diri, kita mudah terpengaruh kondisi luar. Saat bertemu kondisi yang baik, pikiran kita membangkitkan ketamakan. Saat bertemu kondisi yang buruk, pikiran kita membangkitkan kerisauan.

Kita harus berusaha untuk bersikap pengertian terhadap segala kondisi ini agar kita tidak tamak saat bertemu kondisi baik meski tetap bersukacita. Di dunia ini berbagai masalah bisa dijadikan pelajaran. Masalah kita jadikan pelajaran. Pelajaran ini dapat menjadi cinta kasih yang meresap ke dalam hati. Ini yang disebut membina watak. Saya sering bertanya kepada kalian, “Apa lagi yang harus dilatih?” Hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Apa lagi yang harus dilatih. Hakikat sejati ini sudah kita miliki. Yang harus diperbaiki adalah tabiat. Jadi, kita harus menjadikan kondisi luar sebagai ladang pelatihan diri kita. Kita harus sungguh-sungguh membina pikiran kita; mengubah ketamakan menjadi niat berdana; mengubah noda batin menjadi kondisi batin yang tenang dan damai. Semua ini perlu pelatihan jangka panjang. Kita harus melatih batin dan membina watak. Kita harus selalu berusaha melapangkan hati. Orang yang penuh pengertian tentu dapat berlapang dada. Orang yang mampu berlapang dada akan senantiasa bersukacita dan gemar memberi. Memberi atau berdana bisa dilakukan dalam bentuk materi, Dharma, dan ketenteraman. Kita selalu berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Inilah dana Dharma. Saat orang lain merasa risau, setelah mendengar ucapan kita, mereka tak lagi takut. Pikiran mereka bisa terbuka. Untuk itu, kita harus selalu suka memberi. Dengan begitu, kita akan selalu Bahagia.

Melihat orang lain terbebas dari kerisauan dan merasa sukacita, kita juga merasakan rasa sukacita yang luar biasa. Dengan begitu, batin kita akan damai dan dapat mencapai Bodhi. Ini amat sederhana. Jadi, kita harus senantiasa mengembangkan kelapangan hati dan niat berdana. Dengan begitu kita akan bisa memperoleh batin yang damai dan mencapai Bodhi. Inilah pelatihan diri. Setiap hari dan setiap saat, kapankah hati kita tak diliputi rasa sukacita? Sebelumnya kita sudah membahas cara membangkitkan rasa sukacita dalam bati. Jika tidak memiliki ketamakan, kita tentu akan diliputi rasa sukacita. Dahulu kita memiliki banyak kerisauan akibat adanya ketamakan. Batin yang tidak damai menimbulkan banyak kerisauan. Setiap hari kita membahas tentang pertobatan. Setiap hari kita menyatakan pertobatan tak lain untuk mengikis noda batin ini. Kita harus bertobat atas kesalahan masa lalu.

Setelah bertobat, batin bagai termurnikan. Batin yang murni tentu akan menumbuhkan pahala. Dengan batin yang murni, noda atau cemar tidak akan lagi merasuk. noda atau cemar tidak akan lagi merasuk. Lahan batin yang murni ini bebas dari rumput pengganggu atau noda batin. Ini sangat baik bagi benih yang kita sebar. Apakah mudah mendapat yang diharapkan dalam kehidupan ini? Jika kita telah bertobat dan senantiasa menjalin jodoh baik dengan orang lain, tentu interaksi dengan sesama juga akan penuh sukacita. Jika hubungan antarmanusia harmonis; segala hal berjalan lancar, berarti kita sudah selaras dengan kebenaran. Untuk itu, kita harus terlebih dahulu menyempurnakan diri sebagai manusia. Kita harus menjalin jodoh dengan orang lain dan berbuat baik. Dengan begitu, segala masalah yang datang akan dapat kita jadikan  permata yang membawa sukacita. Manakah yang bukan permata di dunia? Dalam kehidupan kita, segala hal yang kita temui adalah permata.

Intinya, jika kita dapat berhati lapang dalam segala hal, tidak tamak, dan tetap bersukacita, maka setiap hal adalah permata. Harapan kita pun seakan terpenuhi semuanya. Alangkah baiknya jika kita tidak tamak terhadap segala hal dan menghargai semua barang. Contohnya, saya melihat sekelompok orang. Saya percaya mereka adalah relawan daur ulang. Di antara mereka, ada yang membawa kantong plastik. Di dalamnya ada botol-botol plastik, ada pula gelas kertas, dan bahan plastik lain. Melihat mereka membawa barang-barang itu, saya langsung berpikir bahwa mereka pastilah relawan daur ulang. Mereka mungkin melihat banyak barang di jalan, entah itu botol plastik, kaleng aluminium, dan sebagainya. Mereka menganggap semua itu sebagai permata sehingga memungutnya. sehingga memungutnya. Sekelompok orang ini adalah relawan pelestarian lingkungan. Hati mereka sangat lapang.

Setiap hari mereka bersumbangsih untuk menghargai berkah. untuk menghargai berkah. Di mata saya, mereka sedang memungut permata. Mereka sungguh merupakan Bodhisattva. Semuanya mereka anggap permata pengabul harapan. Berikutnya dikatakan, Alangkah baiknya. “Senantiasa turun hujan tujuh permata.” Tujuh permata adalah berbagai benda berharga. Kita sering mendengar kisah bahwa saat Buddha akan membabarkan Dharma, para dewo dari berbagai penjuru akan menebarkan bunga dan memberi persembahan. Begitu pula para manusia. Semua persembahan itu adalah permata. Ini menggambarkan ladang pelatihan batin. Kita semua menganggapnya sebuah ladang pelatihan batin. Jika batin kita murni dan hakikat kebuddhaan kita terpancar, maka seperti yang dikatakan tadi, kita akan penuh sukacita dan suka berdana. Dengan demikian, segala yang kita katakan, manakah yang bukan permata? Bagi orang yang berjodoh, semuanya adalah permata.

Saat batin mengalami kekeringan dan tersiksa oleh noda batin, kita harus segera memberi mereka permata ini. Saat kita sendiri mengalami masalah, saat mendengar ucapan seseorang, kita mungkin bagai merasakan aliran embun. Ini juga merupakan permata. Jika kita dapat senantiasa menjaga rasa sukacita dalam batin, maka manakah yang bukan permata? Jadi, di sini dikatakan tentang hujan tujuh permata. “hujan tujuh permata.” “Pakaian yang unggul, makanan dengan ratusan cita rasa.” Selama batin kita penuh rasa sukacita, pakaian dan makanan sederhana pun dapat kita anggap sebagai permata. Bagaimanapun bentuknya, asalkan bersih dan rapi saat dikenakan, maka pakaian ini tetap dapat melindungi tubuh kita. Ini juga merupakan permata. Namun, di sini dikatakan bahwa dari kehidupan ke kehidupan, kelak lingkungan yang kita dapati, baik kondisi yang kita temui, pakaian yang kita kenakan, maupun makanan yang kita makan, semuanya sangat berharga. Saya menganggap bahwa kita  tak perlu menunggu kehidupan mendatang, Sekaranglah saatnya. Jika saat ini hati kita sangat lapang, maka pakaian mana yang tak kita anggap sebagai permata? Tanpa pakaian ini, kita tak bisa bertemu dengan orang lain karena kita memperhatikan tata krama. Intinya, jika bisa mengenal rasa puas, manusia akan dipenuhi rasa sukacita. Selama kita bisa menaati norma dan sila, maka segala sesuatu yang kita gunakan merupakan permata. Begitu pula dalam hal makan.

Dalam program acara Da Ai TV, ada kisah seorang nenek. Dia hidup seorang diri. Sesungguhnya, dia memiliki empat atau lima orang anak. Semuanya sangat berhasil dalam karier. Semuanya sangat berhasil dalam karier. Ada yang menjadi dokter, pengacara, dan guru. Mereka semua sangat berbakti dan  memintanya untuk tinggal bersama mereka. Namun, dia sendiri tidak mau. Dia berkata, “Jika saya tinggal di rumahmu, setiap hari saya bagai dikurung di rumah, sangat tidak bebas.” “Di sini adalah ruma saya sendiri, saya bisa lebih bebas.” “Lihatlah, saya bisa melakukan daur ulang.” “Di rumah saya ada titik pemilahan.” Titik pemilahan di rumahnya sangat rapi dan bersih. Begitu pula dalam hal makan. Saat meliputnya, reporter kita melihat makanan yang biasa dimakannya. melihat makanan yang biasa dimakannya. Dia berkata, “Saya tidak perlu repot memasak.” “Saya hanya memasak pada pagi hari.” “Makanan ini cukup sampai siang.” “Pada pagi hari, saya tak bisa menghabiskan semuanya.” “Ada dua jenis sayuran dan semangkuk nasi.” Dia berkata, “Saya makan dengan gembira.” “Setiap hari seperti ini.” “Saya tidak bisa menghabiskan ini semua.” “Ini bisa cukup sampai malam.” “Master berkata kita harus menghargai berkah.” “Saat makan, makanan hanya lewat di kerongkongan.” “Yang penting perut bisa kenyang.” “Tak peduli asin atau hambar.” “Cita rasanya tidaklah penting.” Lihatlah, dia bagai makan makanan dengan ratusan cita rasa. Dia hanya makan dua jenis sayuran. Sayuran itu dimasak pada pagi hari. Dia memakannya meski sudah dingin. Dia makan dengan gembira. Anak-anaknya juga sangat berbakti, tetapi dia memilih tetap tinggal di rumahnya dan melakukan daur ulang. Dia berkata, “Teman-teman saya akan datang membantu saya merapikannya.”

“Saya punya teman untuk mengobrol.” “Saya sangat gembira.” “Mengobrol bagai melafalkan nama Buddha, tidak ada kerisauan.” Lihatlah, dengan sikap batin seperti ini benda apakah yang bukan permata? Di rumahnya banyak barang daur ulang. Dia memilahnya di rumah. Semuanya dia anggap sebagai permata. “Segala yang dibutuhkan terpenuhi sesuai pikiran.” Apa lagi yang dia butuhkan? Dia sudah merasa cukup dan sangat puas.

 

Dia berkata, “Kita mulai memilah saja.” “Mengapa orang-orang belum datang?” Orang-orang mulai berdatangan membawa barang daur ulang. Lihatlah, kehidupannya begitu kaya. Jadi, semua makhluk harus senantiasa mengenal rasa puas untuk bahagia. Kita harus membina pikiran kita untuk dapat senantiasa berdana dan bersumbangsih tanpa pamrih. Hati kita harus lapang, tahu berpuas diri, dan dapat bertoleransi. Dengan begitu, kita akan memperoleh Dharma. Segala sesuatu mengandung Dharma. Dengan hati yang damai, kita dapat mencapai Bodhi. Saudara sekalian, jika kita dapat menyerap Dharma ini ke dalam hati dan menjadikan hati kita sebagai ladang pelatihan, maka segala permata pengabul harapan akan tersedia untuk kita. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus membina watak kita untuk kembali pada hakikat kebuddhaan. Harap semua lebih bersungguh hati.                         

Leave A Comment