Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 440 – Terbuai dan Berpaling dari Kesadaran

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan kita, kita pasti bertindak dan berucap. Jadi, dalam berbicara, kita harus berhati-hati. Konfusius berkata, “Bermulut manis dan berpura-pura ramah menandakan kurangnya kebajikan.” Saat berbicara, dia hanya mengeluarkan kata-kata yang enak didengar untuk memuji orang setinggi-tingginya meski sesungguhnya tak sesuai kenyataan. Jelas-jelas orang itu tidak benar, tetapi tidak dikoreksi. Yang dia katakan hanyalah ucapan yang ingin didengar oleh orang itu. yang ingin didengar oleh orang itu. Jika demikian, Dia hanya mengikuti kesenangan orang itu. Jika kita seperti ini, berarti kita juga kurang kebajikan. 

Dalam melakukan sesuatu, janganlah mencari pujian dari orang. Jika melakukan kebajikan hanya untuk dipuji, ini bukan benar-benar kebajikan. Saat orang melakukan sedikit kebajikan, lalu membanggakan diri dan kita turut menyanjung dirinya, ini disebut mengumbar arogansi. Kita menyanjung dirinya. Ini tidak benar. Kita seharusnya menasihatinya bahwa berbuat baik adalah kewajiban manusia. Melakukan kebajikan sudah benar, tidak perlu dibesar-besarkan. Jika terus dibesar-besarkan, lama-kelamaan orang lain yang mendengar juga merasa biasa saja. Mungkin saja jika kita berbuat baik tanpa memberi tahu orang lain sehingga orang lain tahu dengan sendirinya, malah akan terasa lebih luar biasa dan mendapat pujian dari orang lain. Inilah teman yang bermanfaat, tidak mengikuti keinginan orang untuk mencari nama dan keuntungan, sebaliknya dapat memberi bimbingan. Inilah yang benar. Ini baru bermanfaat. Jika teman berbuat salah, kita harus segera menasihati bahwa dia sudah melakukan kesalahan.

Sebagai manusia, kita harus menaati norma yang ada. Kita harus memberi penjelasan kepadanya, bukan hanya bermulut manis dan mengiyakan semua perbuatannya. dan mengiyakan semua perbuatannya. Orang seperti ini dikatakan oleh Konfusius sebagai orang kurang kebajikan. sebagai orang kurang kebajikan. Melihat orang lain ingin mendapat sesuatu, kita mengikutinya dengan sangat antusias. Apakah orang seperti ini sangat bajik dan bijaksana? Tidak. Karena itu, dikatakan “kurang kebajikan”. Karena itu, dikatakan “kurang kebajikan”. Orang ini kurang moralitas. Dalam berbicara, kita harus penuh perhatian. Kita harus
memperhatikan kata-kata lawan bicara. Kita harus mengamati apakah yang dilakukannya benar atau salah. 

Terlebih lagi, di dalam Sutra Bunga Teratai Buddha juga berkata untuk tidak berlebihan memuji kebaikan orang atau menyebarkan
kesalahannya. Kita hendaknya bersikap netral. Jika tahu ada kesalahan, kita harus segera memperingatkan. Inilah orang yang bijak dan punya cinta kasih. Jadi, bermulut manis di dalam ajaran Buddha disebut berkata-kata kosong. Kita hanya merangkai kata tanpa ketulusan supaya enak didengar. Jelas-jelas orang itu salah, setelah kita mendengarnya, setelah kita mendengarnya, kita masih mendukungnya dan mengatakan bahwa dia benar. Inilah kata-kata kosong. Kita hanya berpikir yang penting orang itu senang. Ini adalah omong kosong yang tidak jujur.

Jelas-jelas orang itu salah, kita masih memujinya dan mengatakan dirinya benar. Di dalam batin kita, kita terus merasa orang itu tidak benar, tetapi mulut kita berkata, “Kamu tidak salah.” Ini adalah kata-kata palsu. Orang seperti ini tidak tulus. Orang yang tidak tulus berarti kurang kebajikan. Inilah yang Konfusius katakan. Ini juga sesuai dengan ajaran Buddha. Buddha berkata bahwa lewat ucapan bisa tercipta empat karma buruk. Kita sudah membahasnya kata-kata kasar dan dusta. Sekarang kita membahas kata-kata kosong. Kata-kata kosong adalah kata-kata yang dibuat agar enak didengar. Sesungguhnya, di dalamnya terdapat maksud yang bisa menyesatkan. Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan ini bajik, suci, dan murni, tetapi malah dicemari oleh ucapan kosong, baik melalui mulut, tulisan, maupun bentuk lainnya. 

Seperti sekarang ini, kini di internet banyak dimuat pornografi yang membuat kaum muda tersesat. Ada yang berbentuk cerita. Banyak orang terbuai oleh cerita itu, Terlebih lagi cerita itu ditulis dengan sengaja untuk memikat sehingga gairah orang-orang terbangkitkan. Kata-kata kosong yang dibuat-buat ini, selain dikeluarkan lewat mulut, juga bisa dibuat dalam bentuk tulisan atau bentuk lainnya. Ini bisa membuat orang terbuai dan tersesat sehingga berpaling dari hakikat sejati dan menuju pada belenggu nafsu keinginan. dan menuju pada belenggu nafsu keinginan. Orang-orang jadi terbuai objek luar. 

Dahulu kita juga pernah mendengar penyanyi yang memiliki penggemar atau fans. penyanyi yang memiliki penggemar atau fans. Fans ini ada yang mengikuti sang bintang berkeliling dunia. Ada juga yang meninggalkan kewajiban dalam rumah tangga atau kewajiban di sekolah untuk terus mengikuti sang penyanyi. Si penyanyi tidak mengenal mereka, tetapi mereka terus mengikutinya, terus berteriak, dan sebagainya. Mereka juga sudah terbuai. Mereka juga sudah terbuai. Begitu pula kata-kata manis membuaipikiran manusia. Jadi, kita harus selalu mengingatkan diri adakah kita juga demikian. Jika ada, kita harus segera memperbaiki diri ke arah kebajikan. Kita harus bertobat setiap hari. Sebelumnya kita telah bertobat atas perbuatan dusta. Sejak masa tanpa awal, entah berapa banyak dusta yang kita perbuat. Disini dikatakan tak terbatas dan tak terukur. Kita banyak menciptakan karma buruk lewat ucapan. Jadi, kini kita telah bertobat. “Kini dengan tulus kami bertobat atas semuanya.” Kita harus bertobat setiap hari. Kita harus mengingatkan diri kita dan meningkatkan kewaspadaan, barulah dapat selalu berintrospeksi. Kesalahan harus segera kita perbaiki.

Setelah itu, jangan kita mengulanginya lagi. Meski kita sering mendengar nasihat ini, tetapi kita juga sering lupa. Jadi, saya sering mengingatkan kalian karena di dalam Sutra kita selalu diingatkan untuk senantiasa bertobat. Berikutnya dikatakan, Kata-kata indah adalah kata-kata yang terlalu berlebihan dan tidak jujur serta penuh kepalsuan. Ini disebut kata-kata kosong dan palsu. Ada juga yang ditulis dengan tinta. Tadi kita sudah membahas bahwa ada orang yang menulis cerita, puisi, atau lagu untuk membuai manusia dan membangkitkan nafsu. Semua ini termasuk menciptakan karma buruk. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini sudah terjabarkan dengan jelas. Maksud dari tulisan berlebihan di sini ialah ada orang yang sangat pandai menulis tulisan yang sangat indah. Orang yang membacanya bisa terbuai. Kondisinya sapa seperti saat ini. Banyak orang tersesat di warung internet. Bukan hanya cara meditasi keliru saja yang bisa membuat sesat, bahkan internet juga demikian. Sekarang banyak orang menulis blog. Di dalamnya bisa dimuat berbagai hal. Kabarnya banyak anak penasaran sehingga saat berselancar di internet, mereka tidak melihat hal-hal positif atau kondisi bencana yang terjadi di dunia.

Mereka tidak melihat berita-berita ini, melainkan mencari hal yang bukan-bukan dan akhirnya terbuai oleh semua itu. Kewajiban sendiri untuk belajar tidak dijalankan dengan sepenuh hati. Mereka tenggelam dalam permainan komputer atau internet. Mereka mengikuti pengaruh kondisi luar seiring dengan emosi mereka. seiring dengan emosi mereka. Waktu tentu terbatas. Jika anak-anak sudah terbuai, maka kesadaran untuk belajar juga akan tercemar. Mereka menjauh dari kesadaran dan menyatu dengan pengaruh luar. Ini akan membawa gangguan. Jadi, tulisan berlebihan Jadi, tulisan berlebihan sudah jauh dari kenyataan sehingga membuat manusia tak bisa membedakan benar salah. Manusia masa kini kurang memiliki rasa malu karena tulisan-tulisan berlebihan ini. 

Demikian pula dengan lagu. Ada orang yang gemar pergi ke tempat karaoke. pergi ke tempat karaoke. Saya sendiri belum pernah melihat tempat itu, tetapi sering mendengar orang tua yang mengeluh tentang ini. orang tua yang mengeluh tentang ini. Dalam siaran berita kita juga sering melihat sekelompok anak muda yang telah terbuai oleh tempat-tempat karaoke dan melupakan kewajiban. Mereka hanya terus bernyanyi. Kini bahkan ada bidang usaha yang memutarkan film-film pornografi. Tayangan-tayangan ini tak layak ditonton. Orang yang nafsunya terbangkitkan mudah untuk melakukan kesalahan.

Bidang usaha ini sengaja membuat konten-konten pornografi dengan teknologi masa kini, ditambah dengan  suara dan gambar yang membuai sehingga pikiran manusia terus dikuasai nafsu keinginan dan kehilangan sifat hakiki. Mereka menggambarkan sesuatu yang cabul Mereka menggambarkan sesuatu yang cabul sehingga rasa malu menjadi rusak. Ini sungguh mengkhawatirkan. Penggambaran cabul ini ternyata juga sudah ada sejak zaman Mahabhiksu Wu Da dan lebih terlihat di masa kini. dan lebih terlihat di masa kini. Ini membuat orang yang bermoral rendah kehilangan kendali pikiran dan sifat hakiki. Mereka yang bermoral rendah akan terus tenggelam di dalamnya. Si penulis tulisan cabul ini mungkin malah mendapat pujian atas tulisannya yang membuat orang tergila-gila. Dia bahkan dipuja bagai pahlawan atau dewa. Akankah kita khawatir terhadap hal ini? Di sini dikatakan, “Membuat manusia bermoral rendah…” Saat ini di mana manusia bermoral tinggi? Berapakah sisanya? Perbuatan ini kini menjadi budaya di masyarakat. Budaya masa kini sudah tercemar. Bayangkan, bagaimana kita tak khawatir? Kita tentu khawatir. 

Jadi, semoga semua orang dapat membangkitkan hati nurani dan menjadi manusia yang tahu rasa malu. Perbedaan manusia dan hewan ada pada rasa malu. Sesungguhnya, orang masa kini sudah kehilangan nilai moral. Mereka mengejar hal-hal yang memudarkan sifat hakiki. Ini sungguh mengkhawatirkan. Berikutnya dikatakan, Ini juga sama. Kata-kata manis yang dibuat-buat bisa membangkitkan ketamakan orang terhadap seks dan alkohol sehingga kehilangan sifat hakikinya.

Lihatlah, manusia sulit sembuh dari kecanduan alkohol. Di rumah sakit kadang ada pecandu alkohol yang diam-diam membawa minuman keras di dalam botol plastik. Saat ditanya, “Apa itu?” mereka menjawab itu adalah air mineral. Sesungguhnya, itu adalah minuman keras. Dokter memintanya berhenti minum alkohol, tetapi dia malah menggunakan cara ini. Pecandu alkohol amat sulit untuk berubah. Mereka sulit untuk memperbaiki diri. Sebagian orang terbuai oleh seks atau kencantikan. Kadang perempuan menjadi tidak berharga dan hanya menjadi mainan laki-laki. Mereka yang terjerumus dalam alkohol atau seks sulit untuk berpaling dan memperbaiki diri. Ada pula orang yang menyimpan dendam dengan orang tertentu sehingga terus mengungkapkan segala yang tidak benar tentang orang itu, baik lewat suara maupun tulisan. Tujuannya ialah membalas dendam. Ada pula orang yang menggunakan milik umum untuk masalah pribadi. Orang seperti ini juga sangat banyak.

Singkat kata, sebagai praktisi Buddhis, kita berpegang pada hati nurani. Jika tidak, saat pengetahuan nurani ini tertutup, kita akan melakukan kesalahan besar. Jadi, kita hendaknya selalu menjaga ucapan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga lidah kita. Jadi, kita harus memperhatikan ucapan kita, tidak boleh berpura-pura bermulut manis. Ini adalah tanda oran yang kurang kebajikan. Didalam Sutra sering diingatkan bahwa kata-kata kosong, gosip, dusta, dan ucapan kasar haruslah kita waspadai. Bayangkan, banyak masalah dipicu ucapan manusia. Manusia sering berpaling dari kesadaran dan terpengaruh kesenangan atau objek luar. Jadi, kita harus selalu mengingatkan diri untuk lebih bersungguh hati.

Leave A Comment