Ibu Tumi Kembali Mampu Melihat Dunia, Sekaligus Mampu Melihat Cinta Kasih yang Nyata
Padahal, cerita-cerita ini lahir dari kepedulian yang tumbuh dari kepekaan juga simpati, lalu tangan mereka terulur tanpa diminta, dan hati yang langsung tergerak, merasa terpanggil. Namanya berempati. Kisah-kisah ini rasanya sederhana, namun justru di sanalah kehangatannya amat terasa.
Seperti hangatnya melihat Ibu Tumi yang wajahnya sumringah, badannya tegap, jalannya pun lancar tanpa dituntun lagi. Senyumnya juga nampak berbeda dari masa terakhir kali ia datang ke Tzu Chi Hospital. “Suenengggg poll……!” katanya sambil mengacungkan dua jempolnya karena mata kanannya kini bisa melihat lagi.
Ibu Tumi bahkan kini sudah bisa melihat wajah dua cucunya dengan jelas. Dimana sebelumnya tak nampak sama sekali. “Jangankan lihat depan, buat ngelirik kanan kiri tuh enteng. Tadinya kan berat, apalagi pas belum pakai lensa. Berat mata, kepala pusing. Pundak juga rasanya ikut enggak enak bawaannya.”
Ceritanya pun membuat semua yang mendengar ikut merasakan sukacita dan turut bahagia.
“Ibu tenang aja ya… Ibu kedinginan? Lapar ya? Saya bukakan roti ya Bu… Ibu makan dulu,” cerita Bu Tumi mengingat perlakuan dokter padanya. “Mana ada sih, Bu, saya operasi ini gratis tapi kok semuanya pada baik. Itu saya nggak bisa makan pedas, dokter carikan saya roti, ambilkan minum. Baik semuanya. Saya terharu sekali,” katanya full senyum.
Ibu Tumi adalah lansia berusia 70 tahun, yang merupakan pasien baksos operasi Katarak Tzu Chi ke-153 di Tzu Chi Hospital, akhir tahun 2025 lalu. Di usianya yang sudah lanjut, kondisi dua mata Ibu Tumi sudah mengalami katarak. Katanya sudah lebih dari 10 tahun, sejak anak pertamanya, Weni Asih Saparyani menikah di tahun 2013 lalu.
Lalu singkat cerita, Ibu Tumi berjodoh dengan baksos katarak Tzu Chi. Dia sudah menjalani operasi, tapi kondisi “pengait” lensa matanya sudah lemah. Dokter akhirnya hanya mengoperasi kataraknya dan belum bisa memasang lensa baru pada matanya. “Saat itu lensanya ini tidak bisa pakai lensa yang kami sediakan di baksos. Untuk kasus Bu Tumi harus lensa khusus diukur sesuai dengan mata ibu,” kata Suster Weni Yunita, tim Tzu Chi International Medical Assosiation (TIMA).
Dokter Gladys, dokter spesialis mata di Tzu Chi Hospital yang mengoperasi Bu Tumi, bertanya pada Weni kala itu. “Ini Ibu Tumi nggak dipasang lensa, gimana ya Mbak Weni? Hasil operasinya bagus.”
“Seandainya saya mau bantu operasi, mau tolong bantu pasangkan lensa, nggak usah hitung fee. Boleh ta Mbak Wen?” kata Dokter Gladys ke Suster Weni.
Wah… mata Suster Weni langsung berbinar. Ia menjawab dengan lantang. “Tentu saja boleh Dok, tapi saya tanyakan dulu ke Yayasan. Apakah lensanya ini ditanggung nggak sama yayasan atau TIMA.”
Tak berhenti, Dokter Gladys menambah daftar pertanyaannya: “Mbak Weni seandainya yayasan atau TIMA tidak tanggung. Boleh nggak saya beliin lensanya?”
Suster Weni makin kaget, ternyata dr. Gladys dan tim dokter lain hadir dan tulus ingin membantu seluruhnya. “Aduh Dok, dengan dokter mau operasi saja. Kami sudah gan en banget. Nanti saya tanyakan dulu.”
Anak Bu Tumi, yang namanya mirip dengan suster Weni, yakni Weni Asih Saparyani menjawab dengan risau. “Ibu saya ini orangnya khawatirnya tinggi. Ke rumah sakit tuh pokoknya tinggi banget kekhawatirannya. Nah selama dia ke sini, dia tuh tenang, nyaman, merasa enak. Boleh nggak di sini saja jangan pindahin ke RSCM?”
Rasanya berat di ongkos. Tapi Weni dan suaminya berusaha mengusahakan untuk bisa memenuhinya. “Suami saya bilang, nggak usah pikirin ongkos. Pokoknya kamu bawa saja Ibu ke rumah sakit Tzu Chi, nanti saya yang nyari (uang).”
Rumah yang saat ini mereka tinggali adalah ruko yang dipinjamkan oleh bos Weni (mantan bos) yang juga menjadi informan terkait adanya Baksos Tzu Chi. Ruko tersebut sudah terjual dan pada bulan Februari dan mereka harus mencari tempat tinggal lain nantinya. Keluarga ini sempat berharap bisa mendapatkan kontrakan sekitar tujuh ratus ribu rupiah untuk berlima. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Ruang tidur pun tak cukup. Pindah lebih jauh pun bukan perkara mudah, karena anak-anak sudah sekolah di lingkungan tersebut
Di pikiran Suster Weni, mereka pasti kekurangan biaya untuk pesan mobil online. Simalakama, kalau uangnya dipakai berobat, mereka tidak punya uang untuk transport. Dan begitu sebaliknya.
“Saya kemudian galang dana ke karyawan-karyawan TCH. Di momen Ceramah Master Cheng Yen yang setiap pagi kami ikuti, saya umumin. Tapi saya batasin 25 ribu per orang. Karena saya berpikir hanya untuk bantu transport dan saya pun belum tahu bagaimana ekonomi keluarga ini, karena belum melakukan survei. Cuma, kondisi awal mereka memang kesulitan transport. Dana itu akhirnya terkumpul 2,6 juta. Hasil sumbangsih dari teman-teman staf dan relawan,” cerita Suster Weni.
Di hari itu juga, Suster Weni dan Tami, meminjam mobil relawan. Berbekal share lokasi yang diberikan Weni, mereka datang bermaksud memberikan dana.
Sesampainya di lokasi, Suster Weni dan Tami sempat mengira tempat tinggal keluarga Ibu Tumi adalah ruko. Namun begitu masuk, barulah terlihat bahwa bangunan itu lebih menyerupai gudang. Mereka duduk bersama, berbincang pelan. Suster Weni memeriksa tensi Ibu Tumi, sementara Tami berusaha mengambil gambar. Kondisi rumah itu sederhana, bahkan cenderung minim penerangan. Gelap. Tidak ada lampu yang cukup. Penerangan seadanya. Atapnya juga bocor di beberapa bagian. Bukan tidak layak huni sama sekali, tapi jelas jauh dari kata nyaman. Terlihat pula betapa repotnya Weni Asih harus mengurus ibunya yang sakit sambil tetap memperhatikan dua anaknya.
Dalam obrolan itu, Ibu Tumi perlahan menyampaikan keluh kesahnya. Setelah suasana sedikit tenang, Suster Weni menyerahkan amplop bantuan yang telah dikumpulkan.
“Ini untuk bantu berobat, Bu,” ucapnya lembut sambil menyerahkan amplop kepada Ibu Tumi.
Seketika, suasana berubah. Weni, yang duduk berhadapan dengan Suster Weni, menangis terisak. Tangisnya keras, penuh emosi yang selama ini tertahan.
Suster Weni refleks menenangkannya. “Jangan nangis kenceng-kenceng, Ibunya kaget,” ujarnya, khawatir melihat Ibu Tumi yang juga hendak bangkit dari tempat duduknya.
“Boleh dong. Kenapa nggak boleh?” jawabnya pelan. Lalu keluarlah kalimat yang begitu menyesakkan dada. “Saya ini sudah sebulan, kalau mau nangis harus masuk kamar mandi. Tapi saya nggak boleh bersuara.”
Di sanalah semua bendungan emosi itu runtuh. Weni memeluk Suster Weni dan menangis sejadi-jadinya. “Saya lihat ibu saya berbaring. Nggak bisa bawa ke dokter. Mau pakai uang ini, Uang ini sudah ada peruntukannya. Sampai saya bingung. Saya lihat mama saya cuma dikasih obat warung. Tiap malam panasnya tinggi, menggigil. Saya cuman berdoa. Sementara suami saya juga bingung mau cari pinjaman, udah nggak ada lagi,” isak Weni di pelukan Suster Weni.
Selain dana, banyak relawan lainnya yang juga memberikan perhatian dan hal-hal yang dibutuhkan oleh keluarga kecil ini. Seperti boneka untuk kedua anak Weni yang kemudian diberi nama: Markonah dan Blekedet. Ada juga kasur busa baru untuk Ibu Tumi. Semua turut berbahagia.
Kini, Ibu Tumi kembali menjalani hari-harinya dengan senyum yang lepas. Matanya yang kembali terang membuatnya bisa melihat wajah anak dan cucunya dengan jelas, berjalan lebih percaya diri, dan menikmati hal-hal kecil yang dulu terlewatkan. Keluarganya pun perlahan bisa bernapas lebih lega, melangkah dengan hati yang lebih tenang. Dari kisah ini, kebahagiaan hadir bukan karena segalanya tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena mereka tahu ada banyak tangan yang tulus membantu, dan banyak hati yang peduli.
“Terima kasih semuanya, Dokter Gladys, Dokter Mathilda, tim dokter, para perawat, ibu-ibu relawan, Suster Weni, dan Tzu Chi Hospital yang sudah membuat masa tua ibu saya jadi berharga dan beliau bisa kembali berdaya,” tutup Weni bahagia.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Metta Wulandari, Yekti Utami (TIMA),
Editor : Arimami Suryo A.