Kamp Budaya Humanis Zhen Shan Mei Sumut 2025: Merekam Keindahan dan Kebajikan Dengan Nilai Budaya Humanis
Pemateri pertama adalah Muhammad Rinaldi Pulungan, yang akrab dipanggil Aldi. Ia memulai karir di DAAI TV sejak tahun 2022 hingga sekarang sebagai kameramen dan editor program dokumenter Citra Loka. Pada kesempatan ini, Aldi mengisi materi mengenai dasar-dasar kamera video, shot time dan camera angle. “Asalkan ada kemauan dan peralatan tidak susah untuk mempelajarinya,” ujar Aldi.
Ia juga menekankan tentang tiga poin penting yakni segitiga exposure meliputi aperture, shutter speed, dan ISO. Lalu komposisi, white balance, teknik zoom in dan zoom out, serta teknik pengambilan gambar lainnya.
Setelah mendapatkan materi, peserta melakukan praktik lapangan dengan melakukan peliputan sederhana di rumah penerima bantuan Tzu Chi. Dengan harapan para peserta dapat melakukan pengeditan cepat untuk menghasilkan foto serta video berdurasi pendek yang mampu menyampaikan cerita kemanusiaan.
Rahma Mandasari membahas tentang menghasilkan liputan yang tidak hanya fokus pada target berita saja, tapi juga bagaimana kita berempati terhadap sesama dan bisa menjadi inspirasi. “Kita bekerja keras untuk menghasilkan liputan/karya jurnalistik yang mampu untuk menggugah pemirsa untuk berbuat kebajikan. DAAI TV telah menempa diri saya untuk menjadi jurnalis yang berbudaya humanis, tidak hanya memburu berita saja tapi juga mengasah batin untuk menjadi pribadi yang berempati terhadap sesama,” jelas Rahma Mandasari.
Pembicara lainnya, Gunawan Halim bergabung di Tzu Chi sejak tahun 2009. Awalnya, ia di ajak sudaranya menjadi relawan Abu Putih lalu menjadi pengurus tim 3in1 yang kini berubah nama menjadi Zhen Shan Mei. “Sejak saat itu, saya pun resmi bergabung di tim ZSM. Awalnya saya hanya terlibat di bagian foto, namun sejak tiga tahun lalu setelah kembali aktif di Tzu Chi pascapandemi saya mulai mengambil tanggung jawab di bagian video dan artikel juga. Saya merasa sangat bersyukur bisa belajar banyak jawab di tim ZSM,” ungkap kordinator bidang ZSM di komunitas Huai Perintis ini.
Ronaldo, relawan ZSM dari Banda Aceh juga ikut membagikan pengalamannya dalam kesempatan ini. Ia bergabung dengan Zhen Shan Mei di tahun 2022. “Dunia ZSM memang sangat seru dan masuk pada semua misi. Kita sering dibilang sebagai mata dan telinga Master Cheng Yen. Pertama kali saya menjadi ZSM, karya foto dan artikel saya gak karuan. Tetapi saya banyak belajar dari tim DAAI TV Medan saat berkunjung ke Banda Aceh. Saya memiliki banyak waktu untuk belajar dari mereka tentang Fotografi,” kata Ronaldo.
Begitu juga dengan Jenny Herliana Saragih (55), peserta dari Pematang Siantar yang bergabung di Tzu Chi sejak tahun 2022. Ia merasa belajar tidak mengenal usia, apalagi hal yang dipelajari bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. “Saya me-refresh kembali hobi lama saya, tentu dapat ilmu dan teman teman baru. Saya ikut kamp karena suka, menyenangkan, tentu ingin berkembang utamanya. Saya akan terus belajar dan memberi manfaat bagi orang banyak,” ungkap Jenny Herliana Saragih.
Di penghujung acara, para peserta melakukan doa bersama dan mendengar pesan cinta kasih yang disampaikan oleh Sylvia Chuwardi selaku Wakil Ketua Pelaksana Tzu Chi Medan. “Misi budaya humanis ada di setiap misi. Menjadi teladan panutan bagi kita semua. Menjadi orang yang benar, bajik, dan indah. Tzu Chi adalah kampus kehidupan. Hidup sampai tua, belajar sampai tua. Semua adalah teladan. Terus menulis, mengukir sejarah Tzu Chi,” ucap Sylvia Chuwardi menyemangati relawan.
Fotografer : Liani, Lily Hermanto, Elisa Intan (Tzu Chi Medan),|
Editor : Arimami Suryo A..