Melestarikan Tradisi Pembuatan Bacang Bersama Tzu Chi Tanjung Balai Karimun
Tahun ini, perayaan Dragon Boat Festival atau Duan Wu Jie yang identik dengan berbagai tradisi budaya masyarakat Tionghoa. Salah satunya, perayaan ini diisi dengan budaya pembuatan bacang (zongzi), makanan khas yang menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, dan pelestarian nilai-nilai budaya.
Festival ini, merupakan acara tradisional dan telah diwariskan turun-temurun selama ribuan tahun ketika Lunar New Year, pada tahun ini jatuh di hari Rabu, 17 Juni 2026 yang langsung dimeriahkan oleh para relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun dengan mengadakan Bazar Nyonya Bacang Vegetarian yang sistem pembeliannya dilakukan secara pre-order (PO).
Hadirnya bacang varian rasa baru juga menjadi istimewa bagi masyarakat sekitar dan diharapkan bacang vegetarian ini dapat menggugah selera serta menghadirkan kenikmatan bagi setiap penikmat Nyonya Bacang Ebi Vegetarian.
Festival ini, merupakan acara tradisional dan telah diwariskan turun-temurun selama ribuan tahun ketika Lunar New Year, pada tahun ini jatuh di hari Rabu, 17 Juni 2026 yang langsung dimeriahkan oleh para relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun dengan mengadakan Bazar Nyonya Bacang Vegetarian yang sistem pembeliannya dilakukan secara pre-order (PO).
Hadirnya bacang varian rasa baru juga menjadi istimewa bagi masyarakat sekitar dan diharapkan bacang vegetarian ini dapat menggugah selera serta menghadirkan kenikmatan bagi setiap penikmat Nyonya Bacang Ebi Vegetarian.
Tingginya minat masyarakat dalam pembilian bacang pada perayaan ini, menjadi penyemangat bagi relawan Tzu Chi untuk terus menghadirkan bacang berkualitas terbaik, mengingat proses pembuatannya yang membutuhkan waktu dan ketelitian, para relawan memulai persiapan festival sejak satu minggu sebelum hari pengambilan.
Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, relawan Tzu Chi mulai berkumpul sejak pagi hari untuk melakukan berbagai persiapan membuat bacang. mulai dari menyiapkan bahan-bahan, memasak beras ketan, hingga membungkus bacang satu per satu.
Tak hanya proses pembuatannya yang memerlukan waktu, tahap pembungkusan bacang juga memerlukan ketelitian, daun pembungkus bacang harus dilipat agar membentuk kantong yang kokoh, kemudian diisi dengan beras ketan dan bahan pelengkap dalam takaran yang tepat. Setelah itu, daun dibungkus rapat dan diikat dengan teknik khusus hingga membentuk segitiga yang rapi dan padat.
Keterampilan membuat bacang, biasanya diperoleh melalui latihan berulang, kesalahan dalam melipat atau mengikat dapat membuat bentuk bacang tidak sempurna yang akan membuat isinya bocor saat direbus.
Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, relawan Tzu Chi mulai berkumpul sejak pagi hari untuk melakukan berbagai persiapan membuat bacang. mulai dari menyiapkan bahan-bahan, memasak beras ketan, hingga membungkus bacang satu per satu.
Tak hanya proses pembuatannya yang memerlukan waktu, tahap pembungkusan bacang juga memerlukan ketelitian, daun pembungkus bacang harus dilipat agar membentuk kantong yang kokoh, kemudian diisi dengan beras ketan dan bahan pelengkap dalam takaran yang tepat. Setelah itu, daun dibungkus rapat dan diikat dengan teknik khusus hingga membentuk segitiga yang rapi dan padat.
Keterampilan membuat bacang, biasanya diperoleh melalui latihan berulang, kesalahan dalam melipat atau mengikat dapat membuat bentuk bacang tidak sempurna yang akan membuat isinya bocor saat direbus.
Mui Git (64), salah satu relawan Tzu Chi yang kondisi fisiknya tidak lagi sekuat dahulu, juga masih mengikuti perayaan ini dengan semangatnya yang tinggi, ia tetap berkontribusi dalam pembuatan bacang. Keahlian yang dimilikinya tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui pengalaman dan ketekunan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
“Setahun sekali saja saya ikut perayaan ini, terkadang memang penyakit suka kambuh saat mengikat bacang, namun itu bukan menjadi alasan untuk dapat terus terlibat dalam pelestarian tradisi ini, yang merupakan kebahagiaan dan rasa syukur bagi saya,” ungkapnya.
Melalui kerja sama yang dilakukan relawan dengan baik, setiap tahapan pembuatan bacang dapat dilaksanakan secara efektif sehingga hasilnya tidak hanya lezat, tetapi juga dibuat dengan penuh ketulusan dan perhatian.
“Setahun sekali saja saya ikut perayaan ini, terkadang memang penyakit suka kambuh saat mengikat bacang, namun itu bukan menjadi alasan untuk dapat terus terlibat dalam pelestarian tradisi ini, yang merupakan kebahagiaan dan rasa syukur bagi saya,” ungkapnya.
Melalui kerja sama yang dilakukan relawan dengan baik, setiap tahapan pembuatan bacang dapat dilaksanakan secara efektif sehingga hasilnya tidak hanya lezat, tetapi juga dibuat dengan penuh ketulusan dan perhatian.
Salah satu sosok yang menunjukkan semangat tersebut adalah relawan Tzu Chi, Kho Ania (78). Meski usianya tidak lagi muda, ia selalu hadir dan menjalankan tugasnya dengan penuh semangat dalam setiap kegiatan.
“Setiap tahun saya selalu datang untuk ikut memeriahkan perayaan ini, terutama dengan membantu proses mengikat bacang bersama relawan Tzu Chi Tzu Chi, kami bersatu hati dalam menjalankan kegiatan dan melaksanakannya bersama-sama agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” ucapnya.
Di balik setiap bacang yang dibuat relawan Tzu Chi, terdapat dedikasi para relawan yang dengan tulus menyumbangkan waktu, tenaga, dan perhatian mereka. Bagi relawan, kesempatan untuk tetap dibutuhkan, berkarya, dan membawa manfaat bagi sesama merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Fotografer : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Editor : Nur Al Fajar Rumsari.
“Setiap tahun saya selalu datang untuk ikut memeriahkan perayaan ini, terutama dengan membantu proses mengikat bacang bersama relawan Tzu Chi Tzu Chi, kami bersatu hati dalam menjalankan kegiatan dan melaksanakannya bersama-sama agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” ucapnya.
Di balik setiap bacang yang dibuat relawan Tzu Chi, terdapat dedikasi para relawan yang dengan tulus menyumbangkan waktu, tenaga, dan perhatian mereka. Bagi relawan, kesempatan untuk tetap dibutuhkan, berkarya, dan membawa manfaat bagi sesama merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Fotografer : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Editor : Nur Al Fajar Rumsari.