Pembongkaran Rumah Program Bedah Kampung Tahap ke-2 di Kamal Muara
Program bebenah kampung Tzu Chi tahap ke-2 di Kamal Muara akhirnya terlaksana kembali. Setelah diadakan penandatangan surat kesepakatan bersama dan persetujuan gambar denah rumah pada 21 November 2021 lalu, maka pada hari Minggu, 5 Desember 2021 dilanjutkan dengan tahap pembongkaran rumah. Tahap ini menjadi awal dimulainya dari proses renovasi rumah warga Kamal Muara.
Sampai di rumah Sakti (79) salah satu warga yang rumahnya akan direnovasi, relawan langsung bergegas bahu membahu membantu proses pembongkaran. Sakti yang menyaksikan proses tersebut mengaku sangat senang bahkan Sakti dan anaknya pun ikut turun membantu proses pembongkaran rumahnya. “Saat tahu rumah saya akan direnovasi, saya sangat semangat, dan senang sekali,” ungkap Sakti bahagia.
Kondisi rumahnya yang lebih rendah dari jalanan membuat kesulitan saat masuk rumah karena harus menunduk, dan rumahnya sering kali banjir ketika hujan turun. Rumah yang dibangun Sakti pada tahun 1983 ini sebelumnya tidak pernah direnovasi dan tidak pernah menyangka akan direnovasi. “Tidak pernah menyangka-nyangka saya rumahnya mau direnovasi, ternyata ada rezeki yang tidak terduga tanpa saya minta-minta ada yang bantu, sekarang rumah saya bisa direnovasi,” ucap Sakti.
“Saya menyaksikan langsung tadi pada saat hujan langsung banjir, saat masuk ke dalam rumah kuda-kuda (kayu) rumah sudah sejajar dengan kening. Saya merasa untung ya kita ada jodoh dengan Pak Sakti jadi kita bisa membantu mereka,” ungkap Anie Wijaya, relawan Tzu Chi yang ikut membongkar rumah Sakti.
Selama proses renovasi, Sakti dan istrinya serta 7 orang lainnya yang tinggal bersamanya sementara ini tinggal di rumah anak Sakti yang letaknya di depan rumah Sakti. Harapannya setelah rumahnya selesai direnovasi, Sakti dan keluarga bisa tinggal dengan nyaman dan tidak lagi khawatir dengan banjir.
Sakti juga punya rencana mulia, saat nanti rumahnya sudah selesai ia ingin bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan di luar sana. Sebagai bentuk rasa syukurnya karena mendapat bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi, ia pun ingin melanjutkan lagi kebaikan ini ke orang lain. ”Pasti, saat memasuki rumah nanti saya ingin bersedekah,” kata Sakti.
“Saya berterima kasih sekali, bersyukur ada yang mau bantu, kalau rezeki pasti tidak ke mana-mana, saat ada yang mau bantu saya terima dengan senang hati,” ungkap Sakti saat menyaksikan proses pembongkaran.
Rasa bahagia dan syukur juga dirasakan Muhimah (87) yang sudah menempati rumahnya sejak ia kecil. Kondisi rumahnya yang tidak lagi layak tinggal membuat Tim Program Bebenah Kampung Tzu Chi mewujudkan impian Muhimah dengan merenovasi rumahnya. “Kalau banjir bisa sampai sebetis, tidak pernah nyaman kalau hujan, jarang tidur, tidak bisa tidur,” ungkap Muhimah sambil menangis mengingat kondisi rumahnya.
Saat mendengar rumahnya akan direnovasi Tzu Chi ia sangat bersyukur, hingga mengeluarkan air mata bahagia karena tidak menyangka rumahnya akan direnovasi. Hal ini tidak pernah terpikirkan oleh Muhimah karena biaya renovasi ini baginya sangatlah besar, tetapi ia selalu membawanya dalam doa supaya ada yang bisa membantunya. “Waktu itu saya sempat berpikir ada nggak ya yang kasian sama rumah saya, bantu betulin rumah saya,” kata Muhimah.
“Seneng banget, terharu akhirnya doa saya terkabul, ada yang bantu, rumahnya bisa di renovasi, tidak banjir lagi, tidak bocor lagi, bisa tidur dengan nyaman,” kata Muhimah saat menyaksikan rumahnya yang sedang dibongkar. “Terima kasih banyak Tzu Chi sudah mau renovasi rumah saya, semoga berkah, semakin banyak bisa membantu orang-orang yang seperti saya,” lanjut Muhimah sambil menangis haru.
Proses renovasi ini akan berlangsung sekitar 4 bulan. Selama rumahnya direnovasi, Muhimah dan keluarganya sementara tinggal di sebuah rumah kontrakan belakang rumahnya.
“Mudah-mudahan sebelum lebaran mereka sudah pindah ke rumah baru, jadi double happy, happy karena lebaran dan happy karena memasuki rumah baru,” kata Teksan Luis, relawan Tzu Chi yang menjadi koordinator Program Bebenah Kampung Tzu Chi di Kamal Muara. “Semoga setelah kita memberikan satu ketenangan hati untuk mereka, kehidupan mereka bisa lebih terangkat,” tambahnya.
Fotografer : Clarissa Ruth,
Editor : Erli Tan.