Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh: You Are What You Eat, Bukanlah Istilah Belaka
Pernah dengar istilah you are what you eat? Gampangnya, apa yang Anda makan, itu yang mencerminkan diri Anda. Kata-kata itu bukan sekadar istilah loh, tapi memang makanan lah yang menentukan apa yang terjadi dalam tubuh Anda selanjutnya. Kandungan nutrisi dan gizi baik atau malah lemak jahat, darah tinggi, dan gula berlebih yang ada pada tubuh Anda?
Nah… untuk mengubah pola makan dengan tujuan mencapai kondisi kesehatan yang lebih baik, Tzu Chi telah mengadakan program Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh, yang dimulai 6 November lalu. Kegiatan Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh seluruhnya diikuti oleh 114 peserta dari relawan Tzu Chi Jakarta (He Qi Barat 1, He Qi Pusat, He Qi Timur, He Qi Utara 1 dan 2), relawan Tzu Chi komunitas He Qi Tangerang, serta masyarakat umum. Pada Sabtu, 27 November 2021, para peserta yang sudah lulus 21 hari (tepatnya pada Jumat 26/11/21), kembali serta melakukan Medical Check-up (MCU) untuk melihat perkembangan kondisi tubuh mereka.
“Kalau dari fisik, berat saya turun 9 kg. Senang sekali rasanya,” kata Charlie, relawan Tzu Chi yang begitu bersemangat sejak awal ikut serta kegiatan. “Kalau untuk hasil darah, baru akan keluar dua hari kemungkinan. Doanya semoga memang hasilnya semua baik,” lanjutnya.
Usai mengikuti MCU, Charlie sedikit lega karena secara kasat mata, hasilnya sudah memuaskan. Namun dirinya masih menunggu dua hingga tiga hari lagi untuk melihat keseluruhan hasil dari tes kesehatannya. Begitu hasilnya keluar, ia memberikan kabar gembira, kolesterolnya turun. “Wah… lega juga. Tinggal lanjut belajar mengolah makanan sehat yang enak nih,” tuturnya.
Usai ikut Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh, Charlie masih terus melakukan kebiasaan makan makanan yang serupa dengan 21 hari sebelumnya. “Di hari 25, pas sekali turun 10 kg. Hahahhaaaa…,” ucapnya senang.
Sebelum ikut rangkaian Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh, Charlie sudah lebih dulu mencoba aneka macam diet untuk menurunkan berat badannya. Ada diet dengan menggunakan obat-obatan dan ekstrem, ada diet dengan produk susu maupun kue, juga pernah ikut diet yang dibuat oleh seorang aktris. Dengan berbagai diet itu, berat badannya memang turun, tapi kondisi tubuh Charlie tidak baik.
“Yang diet pakai obat itu saya merasa badan limbung karena dia membuat kita menahan lapar. Efeknya saya sering keringat dingin dan jantung berdebar-debar. Itu ekstrem sekali dan saya cuma tahan 3 bulan,” cerita Charlie. “Lalu yang produk susu, saya bisa turun 5 kg tapi ketika saya stop produknya malah naik lagi dua kali lipat. Itu malah kayak dapat bonus yang saya nggak mau,” lanjutnya tergelak. Terakhir, Charlie bisa menurunkan berat sebanyak 16 kg dalam waktu 3 bulan karena ikut program diet seorang aktris. “Tapi setelah itu asam lambung saya bermasalah. Akhirnya saya stop lah dan kembali ke gaya hidup yang nggak sehat,” akunya.
Sementara itu, mengikuti Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh, Charlie merasakan hal yang baru. Baginya, diet vegan ini bagus karena mendidiknya menahan napsu dan mengontrol makanan yang masuk dalam tubuhnya. Diet ini pun diakui Charlie secara langsung memperbaiki pola makan dan pola hidupnya. Pasalnya, pria yang dulu bekerja di ranah kuliner ini juga mempunyai hobi kulineran. Charlie biasa menghabiskan weekdays dengan menu masakan rumahan, namun menghabiskan Sabtu dan Minggu dengan berburu kuliner. Itu yang membuat metabolisme badannya seperti sulit dikendalikan.
“Tiga hari sebelum MCU pertama, saya sarapan bubur ayam dengan 4 tusuk telur puyuh, yang artinya 16 butir sekali makan. Lalu hari berikutnya saya sarapan itu makan tahu sumedang 30 buah. Hasil MCU nya ya nggak kaget kalau banyak merahnya,” ungkap Charlie. “Kalau sekarang, sudah lepas gorengan,” lanjutnya.
“Shigu (tante –red) Shelly bilang: Shigu mau kamu sehat biar bisa jaga Fera,” ungkap Charlie, “Saya merinding. Kok orang lain mau perhatiin diri saya. Kenapa diri saya nggak mau perhatiin diri sendiri. Bukankah seharusnya kita harus lebih menyayangi diri sendiri.” Melihat Shelly begitu perhatian dan menyayanginya, Charlie berpikir apa salahnya mencoba hal baik. “Ya itulah hebatnya cinta kasih relawan, saya merasakan kasih sayang keluarga,” aku suami dari Feranika Ho ini.
Untuk menyukseskan programnya itu, Charlie membeli panci kukusan untuk membuat sarapan pagi. Ia juga menyiapkan bahan makanan umbi-umbian: singkong dan ubi, juga sayur-sayuran dan buah sebagai menunya. Menu sarapannya biasa memang ubi rebus atau singkong rebus. Kalau bosan, ia memilih membuat shabu-shabu yang vegan berisi sayur-sayuran. Ada pula sereal dari Jingsi Books & Café. Sementara untuk makan siang dan makan malam, menu sehat sudah tersedia dari Kantin Tzu Chi.
Walaupun telah berhasil memangkas rapor kolesterol yang merah ditambah dengan bonus penurunan berat badan dan lingkar perut, Charlie hingga kini masih terus fokus dalam kelanjutan menjaga asupan makanannya. Ia sadar bahwa tidak ada yang lebih baik daripada menyayangi diri sendiri dan membekali diri dengan kesehatan karena dengan berbekal kesehatan yang baik, barulah seseorang bisa bermanfaat bagi orang lain.
“Sekali lagi, ini adalah program yang bagus sekali untuk kita semua apalagi di masa pandemi dimana kita harus menjaga kondisi tubuh dengan lebih baik. Kalau kita sehat, kita baru bisa leluasa melakukan berbagi hal, termasuk membantu sesama,” tegasnya.
Sedikit berbeda dengan Charlie, Eva Wiyogo, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat malah sedikit terkejut karena ia bisa menurunkan 4 kg berat badannya. “Saya nggak nyangka lho bisa turun banyak. Wah jadi makin semangat buat lanjutin,” akunya.
Eva Wiyogo, bersama dengan seluruh keluarganya: Hendro Wiyogo (suami), Dedy Hendro (anak pertama), Linda T (menantu), dan Yunny Yunita (anak kedua), ikut dalam Tantangan 21 Hari Diet Nabati Utuh ini. Mereka selama 21 hari itu saling dukung dan memberikan semangat untuk bisa menyelesaikan misi bersama-sama.
“Kendala ada, ada yang pusing, ada juga yang sampai keluar keringat dingin di awal-awal ikut program. Tapi setelah itu semua lancar,” ungkap Eva.
Selama ikut program ini, Eva bercerita bahwa keluarganya menjadi lebih kompak dan saling perhatian. Pagi-pagi mereka dimulai dengan sarapan bersama dengan menu vegan yang diracik oleh Linda. Linda sendiri suka sekali membuat aneka sarapan untuk seluruh keluarga. “Jadi menantu saya malam-malam sudah mulai cari menu dan siapkan bahan. Dia cari-cari resep makanan vegan modern, lalu divariasikan dengan buah-buahan warna-warni. Kami jadi nggak bosen sarapannya,” cerita Eva.
Tak sampai di sana, Eva juga merasa keluarga mereka lebih harmonis juga hangat. Bagaimana tidak? Apabila masing-masing dari mereka biasanya memesan makanan di tempat kerja atau di luar rumah, saat ikut program ini keluarga mereka menghabiskan waktu makan dengan menu yang sama dan di waktu bersamaan pula.
“Yang spesial adalah bahwa dalam satu meja, di piring makan kami, semua makanan itu penuh kebahagiaan (terdiri dari bahan nabati). Tidak ada makanan dengan penderitaan atau tangisan (dari bahan hewani) lagi di meja kami,” tuturnya, “Kesehatan itu bonusnya, yang pasti kami bahagia.”
Fotografer : Metta Wulandari, Linda T (He Qi Pusat), Suyanti (He Qi Timur),
Editor : Arimami Suryo A.