Pengundian 183 Huntap di Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang
Senyum haru dan sujud syukur mewarnai proses verifikasi dan pengundian Huntap bagi warga penyintas bencana banjir dan tanah longsor Sumatera di Kabupaten Aceh Tamiang pada hari Minggu, 3 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Bupati Aceh Tamiang ini menjadi titik balik penting bagi ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Tamiang, Drs. Armia Fahmi, M.H., bersama jajaran Forkopimda, termasuk perwakilan Dandim dan Kapolres, serta perwakilan BNPB. Kehadiran Mujianto, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, beserta puluhan relawan Tzu Chi dari Medan, Jakarta, dan Kuala Simpang, menegaskan kuatnya sinergi antara jajaran pemerintah dan organisasi sosial dan kemanusiaan dalam membantu korban bencana.
Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Tamiang, Drs. Armia Fahmi, M.H., bersama jajaran Forkopimda, termasuk perwakilan Dandim dan Kapolres, serta perwakilan BNPB. Kehadiran Mujianto, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, beserta puluhan relawan Tzu Chi dari Medan, Jakarta, dan Kuala Simpang, menegaskan kuatnya sinergi antara jajaran pemerintah dan organisasi sosial dan kemanusiaan dalam membantu korban bencana.
Bupati Aceh Tamiang, Drs. Armia Fahmi, M.H., mengungkapkan apresiasi mendalam atas komitmen Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam membantu warga Aceh Tamiang yang kehilangan rumah akibat bencana banjir. “Awalnya Aceh Tamiang hanya dijatah 250 unit, namun melihat dampak banjir lumpur yang luar biasa, kami memohon tambahan dan alhamdulillah kini menjadi 500 unit. Ini adalah bukti kehadiran negara dan donatur di tengah kesulitan rakyat. Hari ini warga kita melakukan verifikasi dan pengundian huntap, kita sangat berterima kasih” tegasnya.
Drs. Armia Fahmi, M.H., juga menitipkan pesan kepada warga calon penerima Huntap agar rumah yang nanti di dapat harus dihuni sendiri dan dilarang disewakan atau digadaikan. “Jadikan kompleks ini proyek percontohan hunian yang asri dan ideal. Jaga kerukunan sebagai kompleks multietnis (Jawa, Batak, Aceh, Tamiang, Padang) dan tetap menjaga toleransi,” tambahnya.
Drs. Armia Fahmi, M.H., juga menitipkan pesan kepada warga calon penerima Huntap agar rumah yang nanti di dapat harus dihuni sendiri dan dilarang disewakan atau digadaikan. “Jadikan kompleks ini proyek percontohan hunian yang asri dan ideal. Jaga kerukunan sebagai kompleks multietnis (Jawa, Batak, Aceh, Tamiang, Padang) dan tetap menjaga toleransi,” tambahnya.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto membawa kabar bahagia bagi para calon penghuni. Tidak hanya rumah fisik, Tzu Chi juga memberikan bantuan perabot berupa isi rumah lengkap yang terdiri dari kasur, meja makan, sofa, dan meja ruang tamu.
”Kami memahami beban para penyintas. Karena itu, 183 unit rumah tahap pertama di Tanjung Semento ini sudah kami lengkapi dengan sofa, meja makan, kasur, hingga meja ruang tamu. Kami tidak ingin menunda satu hari pun karena ini menyangkut nasib ribuan orang,” ujar Mujianto.
”Kami memahami beban para penyintas. Karena itu, 183 unit rumah tahap pertama di Tanjung Semento ini sudah kami lengkapi dengan sofa, meja makan, kasur, hingga meja ruang tamu. Kami tidak ingin menunda satu hari pun karena ini menyangkut nasib ribuan orang,” ujar Mujianto.
Menentramkan Kehidupan Lewat Hunian
Di balik angka-angka statistik saat proses verifikasi dan pengundian Huntap, terdapat kisah yang menyentuh dari para penyintas bencana banjir dan tanah longsor Sumatera khususnya di Aceh Tamiang. Reko Amri Wijaya dan istrinya, Takdir Yani adalah pasangan difabel yang kehilangan rumah dan tempat usahanya di Pasar Elak. Mereka berdua tak mampu membendung air mata saat mencabut undian nomer rumah yang bertuliskan “blok A-6”. “Kami sangat trauma, semua barang habis. Sekarang dapat rumah dan perabotan, terima kasih banyak Yayasan Tzu Chi yang sudah membantu kami,” ungkap Takdir Yani.
Kisah serupa datang dari Nenek Waginem (91). Pada saat terjadi bencana, rumahnya hanyut diterjang arus banjir yang kencang. Baginya, Huntap ini bukan sekadar bangunan, melainkan akhir dari masa-masa mengungsi yang melelahkan. “Alhamdulillah, sekarang ada rumah, tidak diusir-usir orang lagi. Yang penting bisa sholat dan makan dengan tenang,” tuturnya lirih.
Bantuan-bantuan yang diberikan kepada para korban banjir dan tanah longsor di Sumatera ini mengikuti Filosofi Tzu Chi yaitu menenteramkan raga, menenteramkan jiwa, dan memulihkan kehidupan. Shu Tjeng, koordinator kegiatan dan relawan pembina di Aceh berharap kompleks Huntap yang dibangun Tzu Chi untuk warga penyintas bencana dapat menjadi harapan baru bagi warga.
“Saya berharap kompleks Huntap Tanjung Seumantoh di Kabupaten Aceh Tamiang ini nantinya dapat melahirkan komunitas relawan baru dari kalangan warga sendiri, dan mereka juga bisa saling membantu satu sama lainnya,” ungkap Shu Tjeng.
Bantuan-bantuan yang diberikan kepada para korban banjir dan tanah longsor di Sumatera ini mengikuti Filosofi Tzu Chi yaitu menenteramkan raga, menenteramkan jiwa, dan memulihkan kehidupan. Shu Tjeng, koordinator kegiatan dan relawan pembina di Aceh berharap kompleks Huntap yang dibangun Tzu Chi untuk warga penyintas bencana dapat menjadi harapan baru bagi warga.
“Saya berharap kompleks Huntap Tanjung Seumantoh di Kabupaten Aceh Tamiang ini nantinya dapat melahirkan komunitas relawan baru dari kalangan warga sendiri, dan mereka juga bisa saling membantu satu sama lainnya,” ungkap Shu Tjeng.
Kegiatan verifikasi dan pengundian Huntap merupakan gelombang cinta kasih yang menghapus duka banjir lumpur. Dengan dukungan infrastruktur jalan, listrik, dan air warga kini bersiap memulai lembaran baru di hunian baru yang lebih aman, layak, dan penuh berkah.
Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Liani, Soit, Wirata (Tzu Chi Medan),
Editor : Arimami Suryo A.
Fotografer : Liani, Soit, Wirata (Tzu Chi Medan),
Editor : Arimami Suryo A.