Kegiatan Internasional

Peresmian Auditorium Jing Si di Johannesburg, Afrika Selatan

Tzu Chi telah melakukan perbuatan baik dan menyebarkan cinta kasih ke 11 negara di benua Afrika. Pada tanggal 19 Juni 2022, relawan-relawan Tzu Chi dari lima negara menghadiri peresmian Auditorium Jing Si di Johannesburg, Afrika Selatan. Tetua agama Buddha setempat juga datang untuk memberikan berkah mereka kepada tanah dan bangunan yang khusyuk ini.
Ini adalah auditorum Jing Si pertama di benua Afrika dan juga merupakan tahun ke-30 kehadiran Tzu Chi di Afrika Selatan.
Master Hui Xing dari Vihara Nan Hua di Fo Guang Shan berkata: “Melihat Aula Jing Si yang begitu khusyuk ini, saya ingin mengungkapkan perasaan hati saya yang tulus ini: Kami mendedikasikannya untuk kemuliaan Buddha, dan kami mendedikasikan keberhasilannya untuk umum.” 

Aula Jing Si di Afrika Selatan.

Tania Campbell, walikota Ekurhuleni, Johannesburg berkata: “Aula Jing Si ini dibangun di kota Ekurhuleni, dan Ekurhuleni artinya tempat yang damai.” Ini adalah kebetulan yang menarik, karena, dalam bahasa Mandarin, Jing Si artinya meditasi.
Relawan Tzu Chi dari seluruh Afrika Selatan, Zimbabwe, Lesotho, Eswatini, dan Mozambik berkumpul untuk memberikan berkah mereka dan berbagi kebahagiaan.
Mumsy Simelane, seorang relawan Tzu Chi dari Eswatini yang datang untuk berpartisipasi, terinspirasi: “Bagi saya, Saya akan terus memotivasi diri saya sendiri dan bekerja keras untuk membantu Afrika.”

Master Hui Xing memberikan berkat untuk Aula Jing Si yang baru.
Tania Campbell, walikota Ekurhuleni, Johannesburg berkata: "Aula Jing Si ini dibangun di kota Ekurhuleni, dan Ekurhuleni artinya tempat yang damai."
Mumsy Simelane terinspirasi: "Bagi saya, Saya akan terus memotivasi diri saya sendiri dan bekerja keras untuk membantu Afrika."

Hubungan baik Tzu Chi dan Afrika Selatan
Tiga dekade yang lalu, banyak orang Taiwan yang pergi ke Afrika Selatan untuk berbisnis. Setelah stabil, mereka ingin memberi kembali untuk masyarakat setempat, jadi mereka mulai melakukan misi Tzu Chi di negara tersebut.
Para pebisnis tersebut adalah: Shi Hong-qi, Huang Ding-lin, Michael Pan, Zhang Min-hui, Wu Guo-rong, dan ada beberapa lain. Sebelum mereka bergabung ke Tzu Chi, mereka tidak kenal satu sama lain.
Master Cheng Yen, pendiri Tzu Chi, sering mengingatkan bahwa, ketika mereka menggunakan sumber daya lokal, mereka harus memberi kembali dan menolong penduduk setempat yang miskin. Grup relawan tersebut menuruti perkataan Master Cheng Yen dan bertindak.
Mereka memiliki aspirasi, dan dengan itu datanglah kekuatan. Memang tidak mudah bagi relawan Tzu Chi untuk mengundang penduduk lokal untuk menjadi relawan di Afrika Selatan. Tetapi, dengan memberi secara ikhlas, mereka menanam benih Tzu Chi di negara tersebut. Mereka telah mengubah kehidupan masyarakat miskin di sana dan membuat mereka kaya secara spiritual. Mereka telah mewariskan kebijaksanaan Tzu Chi kepada masyarakat di sana.

Menjadi seseorang yang bisa menolong orang lain
Adalah mungkin untuk mengilhami cinta, tetapi tidak mudah mengubah kemiskinan di Afrika. Seseorang bisa saja miskin secara materi, tetapi, melalui dorongan dan bimbingan yang terus menerus, mereka bisa menjadi seseorang yang mau menolong orang lain. Meskipun hidup dalam kesusahan, orang-orang bisa memberikan cinta kasih mereka, dan kemudian kekayaan spiritual mereka telah terbangun.
Relawan Tzu Chi di Afrika Selatan menjadi mandiri dan mengembangkan kebun sayuran Great Love. Sayuran yang dipanen digunakan untuk perawatan komunitas dan menyediakan makanan hangat bagi mereka yang miskin, sakit, yatim-piatu, baik tua maupun muda. Sayuran dari kebun sayur Great Love benar-benar telah melakukan perkerjaan baik menolong mereka yang membutuhkan, terutama selama masa pandemi Covid-19.
Baru-baru ini, pada tanggal 27 Mei 2022, Tzu Chi Afrika Selatan bekerja-sama dengan Kementerian Sosial Afrika Selatan menyediakan beras dan bahan-bahan yang diperlukan untun menghadapi musim dingin kepada 1.000 keluarga prasejahtera di Johannesburg.
Itulah kekuatan cinta kasih. Itu semua dibawakan oleh para pengusaha dari Taiwan yang beremigrasi ke Afrika Selatan dan melakukan yang terbaik untuk menolong dan mengubah mereka yang menderita.

Menyebarkan cinta kasih melintasi perbatasan
Lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika benih Tzu Chi matang, para relawan memutuskan untuk keluar dari Afrika Selatan dan memasuki negara-negara Afrika lainnnya untuk melakukan pekerjaan amal. Itu adalah sebuah perjalanan yang panjang, dan mereka telah bertekad kuat selama itu. Sekarang, mereka semakin tua, namun tetap belum mau pensiun.
Disekitar tahun 2022 – relawan senior Tzu Chi di Afrika Selatan memimpin relawan setempat untuk membentuk tim relawan intensional untuk merawat orang-orang di negara tetangga. Dari Eswatini hingga ke Mozambik untuk menemani dan merawat para relawan lokal.
Para relawan Tzu Chi selalu mengingat cita-cita awal mereka. Melalui kerja keras selama bertahun-tahun, mereka dengan rajin menyebar cinta kasih kepada orang-orang yang membutuhkan di sembilan negara lain di benua Afrika bagian selatan.  Kekuatan cinta kasih mereka sangat besar dan bergairah, dan mereka akan terus mengabdikan diri mereka di sana.
Kebijaksanaan Tzu Chi tentang kehidupan telah diwariskan ke Afrika Selatan. Harapannya, para generasi muda Tzu Chi yang telah sukses dalam usahanya dapat mewariskan nilai dan semangat Tzu Chi kepada generasi mendatang.

Sumber : www.tzuchi.org.tw,
Foto dari : dok. Tzu Chi,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.