Sanubari Teduh – 054 – Lima Akar Lima Kekuatan
Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi kita rajin mengikuti kebaktian pagi dan mendaraskan Sutra. Apakah pikiran kita terlatih kuat dan didasari keyakinan yang kokoh? Apakah pendirian kita teguh tak tergoyahkan? Buddha mengajarkan kita dengan harapan kita bisa maju tahap demi tahap. Tentu saja, kita terlebih dulu harus menumbuhkan keyakinan. Sebelumnya kita telah membahas Bodhicitta. Kita pun sudah tahu bahwa Bodhicitta dimulai dari praktik Enam Paramita dan Empat Pikiran Tanpa Batas. Baik Empat Landasan Perenungan, Empat Usaha Benar, maupun Empat Landasan Keberhasilan, merupakan metode untuk membantu kita berjalan di jalan pencerahan atau jalan Bodhi. Kita harus menumbuhkan keyakinan yang teguh untuk dapat melanjutkan perjalanan ini dengan damai tanpa beban. Sebelumnya, kita membahas tentang Empat Usaha Benar dan Empat Landasan Keberhasilan. Berikutnya kita harus memahami Berikutnya, kita harus memahami adalah Lima Akar dan Lima Kekuatan.
Ketika kita melihat sesuatu atau mendengar suara dan memiliki perasaan terhadap semua itu, kita akan membedakan sebagai menyenangkan dan tidak menyenangkan. Karena adanya tubuh jasmani ini, kita membeda-bedakan segala hal hingga mempertebal kegelapan batin. Kini kita ingin berpaling ke jalan yang benar, yakni dari kegelapan batin masa lampau ke jalan Bodhi yang lapang. Untuk dapat berjalan di Jalan Bodhisattva yang lapang ini, kita harus membangkitkan keyakinan. Ketika telinga mendengar ajaran Buddha, kita harus belajar untuk menumbuhkan keyakinan, seperti yang sering dikatakan, “Keyakinan adalah ibu dari segala pahala kebajikan yang menumbuhkan semua akar kebaikan.” Dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus memiliki keyakinan. Mengenai keyakinan ini, tentu haruslah keyakinan yang benar, bukan yang sesat ataupun takhayul. Bagaimana kita memperbaiki ketersesatan? Untuk itu diperlukan kekuatan. Jadi, kita memerlukan “kekuatan keyakinan”. Kita harus memiliki keyakinan dan kekuatan untuk mempertahankannya. Tentunya, jika hanya memiliki keyakinan, apakah cukup? Tidak cukup. Selama berada di jalan yang benar, selain yakin, kita pun harus bersemangat.
Tetapi, ketika kita bersemangat menjalaninya, apakah tekad kita dapat tetap teguh? Ya, tekad kita harus teguh. Jadi, semangat adalah salah satu kekuatan. Keteguhan pikiran juga salah satu kekuatan. Jadi, diperlukan kekuatan keteguhan pikiran. Setelah tahu bahwa suatu hal adalah benar, jangan biarkan pikiran kita goyah mengikuti ketidakkekalan. Sebelumnya sudah dibahas bahwa kita harus selalu mengamati dan menjaga kondisi pikiran kita dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, dengan sifatnya yang tidak kekal, pikiran kita akan mudah berubah. Pada suatu saat, timbul keyakinan, namun beberapa saat kemudian, ia mulai goyah. Keyakinan benar pun berubah menjadi sesat. Manusia sering merasa takut dan panik. Jadi, kita harus memiliki kekuatan keyakinan. kita tidak boleh bimbang dalam keyakinan kita. Kita harus berpegang pada arah yang benar. dan teguh dalam pendirian kita untuk berjalan.
Jadi, tetap fokus dan teguh sangatlah penting. Selain kekuatan keteguhan pikiran, diperlukan adanya kebijaksanaan. Setelah kita memiliki keyakinan benar, semangat yang benar, pikiran yang benar, dan keteguhan pikiran yang benar, dengan sendirinya kebijaksanaan akan muncul. Demikianlah, lima faktor ini juga mendukung kita untuk merealisasi Jalan Mulia. Inilah Lima Akar dan Lima Kekuatan. Selain memiliki akar keyakinan, juga diperlukan adanya kekuatan keyakinan. Akar dan kekuatan keyakinan sesungguhnya saling terkait. Ini berlaku bagi kelima-limanya. Jadi, apabila Lima Akar sudah kuat, maka Lima Kekuatan akan bertumbuh. Begitulah Lima Akar dan Lima Kekuatan. Kekuatan keyakinan memungkinkan akar keyakinan untuk tumbuh. Apabila kekuatan keyakinan sudah kokoh, dengan sendirinya akar keyakinan akan tumbuh. Dan setelah akar keyakinan tumbuh, keyakinan sesat akan terpatahkan. Ketika kekuatan keyakinan bertambah, dengan sendirinya pandangan sesat tak akan timbul lagi. Yang paling mengkhawatirkan adalah setelah memilih keyakinan yang benar, kita dengan cepat terpengaruh pandangan salah.
Karena itu, kita memerlukan kekuatan keyakinan agar akar keyakinan kita dapat tumbuh, saat itulah pandangan keliru bisa dilenyapkan. Selanjutnya adalah kekuatan semangat, apabila kekuatan semangat dijaga, akar semangat pun akan berkembang. Dengan itu,//seseorang dapat melenyapkan kemalasan. Jadi, akar dan kekuatan semangat dapat mencegah kita dari kemalasan. Kekuatan perhatian adalah semangat untuk menjaga pikiran kita agar senantiasa terpusat pada kebenaran. Ini dapat melenyapkan pikiran salah. Mengenai kekuatan keteguhan pikiran, jika kita giat mengasah akar keteguhan, maka kita akan bebas dari pikiran kacau. Mengenai kekuatan kebijaksanaan, jika kita giat menumbuhkan akar kebijaksanaan, kita akan terbebas dari kegelapan batin. Lima Akar ini dan Lima Kekuatan ini saling terkait satu sama lain.
Sementara kita mengembangkan Lima Akar ini, kita harus terus mengembangkan kekuatan-kekuatan yang terkait. Kita patut memanfaatkan teori-teori ini untuk dipraktikkan secara nyata, karena sepanjang hari, kita harus menghadapi berbagai kondisi luar. Melihat berbagai kondisi, kita harus menumbuhkan keyakinan dan bersemangat. Ketika menghadapi manusia, hal, dan materi, kita harus memiliki pikiran benar. Dalam hubungan dengan sesama, juga diperlukan kekuatan keteguhan pikiran untuk mempertahankan//cinta kasih yang penuh kesadaran. Agar tidak tersesat, kita harus mengandalkan kekuatan keteguhan pikiran. Dengan demikian, dari beragam persoalan yang timbul, kita dapat mengembangkan kebijaksanaan murni. Kebijaksanaan murni tidak hanya membuat kita memahami masalah duniawi, namun juga hal-hal yang melampaui keduniawian, bahkan kebenaran dari Tiga Alam.
Ketika masih berada di Tiga Alam ini, semua makhluk diliputi kegelapan batin dan kebijaksanaan kita belum sepenuhnya murni. Kita harus memanfaatkan tubuh manusia ini untuk belajar dari segala yang dihadapi dan membangkitkan kebijaksanaan murni kita. Karena itu, saya sering mengatakan, “Melatih batin lewat masalah yang dihadapi.” Benar, banyak kondisi di luar yang memungkinkan kita untuk melihat ke dalam dan mengembangkan kebijaksanaan. Asalkan kita dapat melihat dengan jelas masalah dengan apa adanya dan melenyapkan noda batin kita, maka yang tersisa adalah kebijaksanaan murni. Kebijaksanaan murni dapat menumbuhkan banyak kekuatan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, banyak insan Tzu Chi yang tersebar di seluruh penjuru dunia, mereka menghadapi bermacam-macam kondisi, namun mereka tetap melatih diri untuk berjalan di Jalan Bodhisattva dan memandang setara semua makhluk.
Namun, banyak orang hidup dalam penderitaan, di tengah kondisi yang lebih sulit//dari orang pada umumnya. Contohnya, anak-anak. Anak-anak dari keluarga berada mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang baik. Namun, di beberapa daerah ada pula anak-anak yang terlahir dalam kondisi serba sulit, sarana transportasi tidak memadai, dan kondisi kehidupan yang minim. Anak-anak ini sungguh patut dikasihani. Memandang semua makhluk adalah setara, insan Tzu Chi merasa tak sampai hati melihat anak-anak seusia putra-putri mereka yang seharusnya menikmati masa kanak-kanak harus hidup di tengah penderitaan. namun harus hidup di tengah penderitaan. Saat mengetahui kondisi ini, insan Tzu Chi pun merasa iba. Suatu hari, insan Tzu Chi di Kuala Lumpur harus berkendara selama lebih dari tiga jam melewati medan yang sulit ditempuh untuk tiba di sebuah desa terpencil. Setibanya di sana, mereka melihat betapa sulitnya kehidupan warga di sana. Dari apa yang mereka lihat saja, dapat diketahui betapa minimnya kondisi mereka. Para relawan mencari tahu bagaimana para warga bertahan hidup.
Tiada pekerjaan, tiada sawah yang dapat digarap, terlebih lagi desa tersebut amat terpencil. Ketika anak-anak ditanya, mereka mengaku bahwa mereka bersekolah. Ketika berkunjung ke sekolah, insan Tzu Chi melihat banyak anak yang lincah dan polos. Mereka semua sangat menggemaskan. Namun, mereka menderita kurang gizi. Ketika kepala sekolah ditanya tentang apa yang dapat insan Tzu Chi bantu, ia merasa aneh, karena belum pernah ada sebelumnya orang yang tidak memiliki hubungan dengannya bertanya tentang apa yang ia butuhkan. Ia lalu mendaftar semua yang dibutuhkan. Yang terpenting adalah sarapan bagi anak-anak. Untuk datang ke sekolah, anak-anak ini harus berjalan naik turun gunung pagi-pagi tanpa sarapan sebelum berangkat. Tiap anak harus berjuang sekuat tenaga hanya untuk berangkat ke sekolah.
Dengan perut kosong, anak-anak ini biasanya kekurangan tenaga. Kepala sekolah merasa tak sampai hati sehingga menuliskan kebutuhan anak-anak di secarik kertas dan mengirimkannya kepada insan Tzu Chi. Ketika insan Tzu Chi menerima daftar itu, mereka membeli semua barang yang dibutuhkan dan mengantarkannya dengan tiga mobil gardan ganda ke desa terpencil di pegunungan itu. Barang-barang yang dibawa amat banyak, cukup untuk menyiapkan sarapan anak-anak selama setengah bulan. Selain sarapan untuk setengah bulan, juga ada suplemen gizi dan barang kebutuhan lainnya. Melihatnya, kepala sekolah sangat tersentuh hingga hampir menangis. Beliau berkata kepada anak-anak, “Mereka tidak punya hubungan dengan kita, datang dari Kuala Lumpur.” “Organisasi mereka bernama Tzu Chi.” “Lihatlah semua barang yang dibawa untuk kita.” “Kita harus berterima kasih.” “Kelak setelah kalian tamat sekolah nanti, harus selalu ingat untuk membantu orang.” “Inilah wujud terima kasih yang terbaik.” Dari cerita ini, kita dapat melihat bahwa sekelompok relawan ini tidak punya hubungan dengan warga kurang mampu di desa kecil itu.
Namun, mengapa mereka begitu berniat membeli semua yang anak-anak butuhkan dan mengantarkannya, serta menyerahkannya langsung dengan bahasa tubuh penuh cinta kasih, dan bahkan memberi tahu para warga bahwa mereka akan terus datang berkunjung? Sekelompok orang praktisi Jalan Bodhisattva ini tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata. Untuk melakukan semua ini, pada awalnya mereka harus menumbuhkan akar keyakinan. Insan Tzu Chi Kuala Lumpur juga pernah datang ke Hualien. Mereka mempelajari cara hidup kita di Griya. Mereka belajar bagaimana insan Tzu Chi di Taiwan menjalankan misi dengan teguh. Ini menumbuhkan keyakinan mereka. Dengan keyakinan ini, mereka menjadi bersemangat. Tekad yang teguh ini menjadi bekal mereka untuk menolong sesama tanpa membeda-bedakan serta mengembangkan cinta dan welas asih.
Jadi, mereka rela bersumbangsih. Inilah akar keyakinan, kekuatan keyakinan; akar semangat, kekuatan semangat; akar perhatian, kekuatan perhatian; akar keteguhan pikiran,//kekuatan keteguhan pikiran; akar kebijaksanaan, kekuatan kebijaksanaan. Lima Akar dan Lima Kekuatan ini berawal dari keyakinan di dalam hati yang kemudian dipraktikkan secara nyata. Jadi, juga dibutuhkan adanya kontak antara tubuh fisik dengan dunia luar untuk memperteguh tekad melatih diri serta mewujudkannya dalam praktik nyata. Jadi, Lima Akar dan Lima Kekuatan amat penting dalam usaha kita berjalan di Jalan Mulia. Berikutnya adalah “Tujuh Faktor Pencerahan”. Tujuh Faktor Pencerahan ini disebut juga Sapta-bodhyanga. Saudara sekalian, kita tahu pencerahan berarti kesadaran. Semua makhluk diliputi kegelapan batin. Dengan demikian, pikiran mereka amat sempit dan menjadi sangat egois, hanya mementingkan diri sendiri. Inilah sumber kegelapan batin semua makhluk. Selama diliputi ego, semua tindakan yang diambil akan salah sehingga mempertebal kegelapan batin, jalan hidup mereka pun semakin sempit dan kelam.
Inilah maksud dari diliputi kegelapan batin. Namun, kini kita berlatih di jalan Buddha, maka harus terus melapangkan jalan kita. Seperti yang sering saya katakan, jangan hanya berharap memiliki umur panjang, namun menjalani hidup dengan tanpa makna. Hidup seperti itu adalah sia-sia. Jika seseorang menjalani hidup yang sempit, maka usia panjang pun tak ada gunanya. Janganlah hanya mementingkan diri sendiri. Ada sebuah cerita, entah apakah sudah pernah kalian dengar. Ada dua ekor anjing berada di dua tepi sungai, dan hanya ada satu jembatan untuk menyeberang. Keduanya pun bertemu di tengah jembatan kayu sambil menggigit sesuatu di mulut mereka. Akan tetapi, lebar jembatan kayu tersebut hanya cukup untuk sepasang kaki, mana mungkin bisa dilewati dua ekor anjing secara bersamaan? Tidak mungkin. Tetapi, keduanya sudah sampai di tengah, masing-masing membawa sesuatu di mulut, dan hanya berdiri diam menunggu sampai ada yang mengalah. Mereka saling berhadap-hadapan.
Setelah lama berdiri dan tidak ada yang rela mengalah, salah seekor dari mereka tidak tahan dan mulai menggonggong sehingga benda di mulutnya jatuh ke dalam sungai. Ia ingin berkelahi, tetapi anjing yang lainnya hanya ingin lewat. Akhirnya, keduanya terjatuh ke sungai. Coba pikir, bukankah manusia juga seperti ini? Ketika berjalan di jalan yang sempit, kita harus saling mengalah, barulah semua dapat menyeberang dengan selamat. Tetapi, kita makhluk awam cenderung tidak mau mengalah. Inilah ego. Berapa banyak orang bersikap egois seperti ini, dan tahukah berapa banyak kerugian yang telah mereka bawa bagi masyarakat, keluarga, maupun diri sendiri? Mengapa kita tidak melapangkan//jalan kita di dunia ini agar semua orang dapat berjalan di atasnya? Jalan yang lapang ini ada di dalam hati kita.
Kita harus membuka hati dan pikiran agar diri kita dan orang lain dapat bersama-sama hidup di dunia ini dengan bersatu hati, harmonis, dan saling mengasihi. Kekuatan ini dapat menciptakan sebuah dunia dengan keindahan tanpa batas. Jadi, memiliki cinta kasih yang penuh kesadaran berarti sadar akan kebenaran hidup. Orang yang sadar akan mampu melepaskan ego dan membuang sikap individualistis serta berjalan di Jalan Agung yang lapang. Jadi, bagaimana cara berjalan di jalan ini? Kita harus sungguh-sungguh membuka hati dan pikiran kita. Dengan demikian, barulah kita dapat mengembangkan cinta kasih universal yang abadi. Inilah cinta kasih yang penuh kesadaran, tidak hanya bertahan dalam satu kehidupan, melainkan dari kehidupan ke kehidupan. Jadi, kita seharusnya berjalan di jalan yang luas dan lapang ini. Jadi, Tujuh Faktor Pencerahan atau Sapta-bodhyanga adalah tentang Jalan Bodhi yang harus dikembangkan di samping Lima Akar dan Lima Kekuatan. Dalam keseharian, ketika indra kita bersentuhan dengan dunia luar, kita harus waspada terhadap pikiran kita, serta mengembangkan akar kebajikan serta kekuatan kita. Jadi, keyakinan, semangat, perhatian, keteguhan pikiran, dan kebijaksanaan berkaitan erat dengan indra kita. Jika kita dapat mengendalikan indra kita, maka kita akan memperoleh Dharma dan pelajaran berharga. Kesadaran kita haruslah kuat. Jadi, saya berharap semua orang sepenuh hati mengembangkan//Lima Akar sekaligus Lima Kekuatan. Untuk itu, bersungguh-sungguhlah selalu.