Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 097 – Empat Kediaman Mental Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, ketika duduk bermeditasi, kita berharap mencapai ketenangan batin, namun di luarter dengar kicauan burung yang sangat nyaring. Di saat-saat seperti ini, kita ingin bermeditasi dengan tenang. Akan tetapi, bagi burung-burung di luar, ini merupakan awal hari yang menyenangkan untuk berkicau. Bagi dunia yang berbeda, pemanfaatan waktunya pun menjadi berbeda. Karena itu, kita harus belajar bagaimana dalam waktu-waktu seperti ini kita dapat menyelaraskan kondisi pikiran terhadap kondisi luar yang berbeda-beda. Ini juga sangat penting. Segala sesuatu di dunia memiliki kondisi kehidupan yang berbeda. Kita hanya dapat mengendalikan batin sendiri. Bukankah semua makhluk di dunia seperti ini? Bukan hanya manusia dan makhluk lain saja yang memiliki kondisi batin berbeda dalam waktu yang sama. Sesungguhnya, kondisi batin manusia juga berbeda satu sama lain. Pada saat ini,di setiap ladang pelatihan diri sama-sama diadakan kebaktian pagi. Kebaktian pagi adalah praktik pelatihan diri. Saya percaya pada saat ini, semua praktisi melakukan praktik yang sama. Pola hidup seperti ini adalah sama di antara para praktisi. Akan tetapi, orang awam di masyarakat menjalani kehidupan yang berbeda. Ada orang yang masih tertidur pulas saat ini. Mungkin mereka tidur lebih larut malam dan tentu akan bangun lebih siang. Bahkan ada yang belum tidur hingga sekarang. Mereka belum juga tidur ketika saatnya tidur. Apa yang sedang mereka kerjakan? Sebagian orang bergadang untuk mencari nafkah. Ada yang bergadang demi menyelamatkan nyawa orang lain. Mungkin mereka melakukan pembedahan di rumah sakit pada malam hari atau melakukannya satu hari penuh. Mereka bergadang demi keselamatan orang. Akan tetapi, ada saja orang yang menyia-nyiakan hidup mereka dengan bergadang tanpa memiliki tujuan. Sesungguhnya, dalam waktu yang sama,manusia hidup dalam kondisi berbeda-beda dengan pola hidup yang berbeda-beda pula. Karena itu, kita harus menentukan kondisi kehidupan bagaimana yang seharusnya normal dan ideal bagi manusia. Jadi, sebagai praktisi Buddhis,kita tentu harus memilih cara hidup yang benar.Untuk itu, kita harus mengendalikan pikiran dengan baik. Saat pikiran, waktu, dan pola hidup  dapat berjalan dengan selaras, itulah keadaan yang paling ideal. Jika waktu, tempat, dan kondisi batin Jika waktu, tempat, dan kondisi batin Jika waktu, tempat, dan kondisi batin dapat berada dalam keselarasan,maka itulah kondisi yang paling normal.

Pertama-tama, kita harus menyadari dan memerhatikan kondisi batin kita dalam setiap waktu. Kita sering berbicara tentang hukum sebab dan akibat. Kita harus senantiasa mengingat hukum ini. Jika kita memahami hukum ini,maka kita harus selalu menjaga benih pikiran kita dengan baik dan menanam benih yang baik setiap saat. Inilah jalan yang benar. Terlebih dahulu, saya akan menceritakan kisah hubungan waktu dan benih karma. kisah hubungan waktu dan benih karma. Saat Buddha masih melatih diri, Beliau pernah hidup sebagai seorang petapa. Sebagai seorang petapa, Beliau selalu ingin bermeditasi dengan tenang. Karena itu, Beliau mencari satu lokasi untuk mempraktikkan meditasi demi menyadari kebenaran sejati alam semesta. Beliau berlatih dengan sungguh-sungguh. Di kedalaman hutan dan gunung, Beliau hidup menyatu dengan alam. Selama bertahun-tahun, Beliau tekun berlatih dan hidup dengan sangat sederhana, bahkan tidak peduli dengan kondisi tubuh demi mengembangkan jiwa kebijaksanaan. Beliau tidak membersihkan tubuh-Nya dan tidak pernah berganti pakaian. Semakin hari tubuh-Nya semakin kotor. Di musim dingin, Beliau berpakaian lebih tebal, tetapi tidak pernah membersihkan tubuh. Suatu hari, ketika sedang bermeditasi, Beliau merasa sangat terganggu karena ada kutu menempel di atas tubuh-Nya. Kutu ini terus merayap dan melompat hingga menyebabkan gatal di seluruh tubuh-Nya.hingga menyebabkan gatal di seluruh tubuh-Nya.

Beliau ingin bermeditasi dengan tenang, namun kutu tersebut terus mengganggu hingga menghalangi meditasi-Nya. Jadi, Beliau merogoh ke dalam pakaian dan menangkap kutu tersebut. Lalu, apa yang harus Dia lakukan mengingat diri-Nya tidak boleh membunuh? Jika kutu itu dibiarkan saja di tubuh-Nya, ia akan terus menggigit dan merayap hingga membuat Beliau kegatalan. Dia sungguh tidak kuat menahan rasa itu.  Apa yang harus Dia lakukan? Di kedalaman gunung dan hutan, tulang binatang dapat ditemukan di mana-mana. Dia mengambil beberapa tulang binatang dan meletakkan kutu itu di atasnya. Tujuh hari kemudian,kutu tersebut mati. Kemudian petapa ini melanjutkan meditasinya dengan tenang. Kejadian ini pun berlalu. Selanjutnya, pada suatu ketika, Buddha sedang berkelana dengan para siswa untuk mengumpulkan dana makanan sekaligus membabarkan Dharma. Saat tiba di sebuah kota kecil, ada seorang pemuka masyarakat. Saat melihat para anggota Sangha, terlebih lagi saat melihat Buddha, dia merasa sangat bersukacita. Dia pun memohon agar Buddha bersedia menerima persembahan makanan darinya. Asalkan Buddha membabarkan Dharma di wilayah tersebut, dia pasti memberikan persembahan. Buddha menerima permohonannya dengan tersenyum. Sang pemuka masyarakat merasa sangat senang  dan mulai menyiapkan banyak makanan guna dipersembahkan kepada Buddha dan Sangha. Setelah tujuh hari, Setelah tujuh hari, tiba-tiba turun salju yang sangat lebat hingga tumpukan salju menutupi jalan. hingga tumpukan salju menutupi jalan. Buddha berkata,”Hari ini kita tidak perlu keluar.”Ananda lalu berkata, “Yang Mulia Buddha, sekarang adalah saatnya makan siang, jika kita tidak keluar hari ini, kita akan kelaparan sepanjang hari. “kita akan kelaparan sepanjang hari. “Buddha menjawab, “Meski pergi keluar,engkau juga tidak akan mendapatkan makanan. “Ananda berkata, “Pasti dapat,sang pemuka masyarakat berkata selama kita di sini, dia akan memberikan persembahan. “Buddha kemudian berkata, “Waktu persembahan itu sudah habis. “Ananda merasa sangat heran. Sebenarnya, apa penyebabnya Ada seorang anggota Sangha Ada seorang anggota Sangha yang telah berangkat sejak pagi, namun saat menjelang tengah hari,dia kembali dan melapor kepada Buddha,”Yang Mulia Buddha, sungguh aneh, hari ini sang pemuka masyarakat berkata bahwa dia tidak memberikan persembahan lagi. “Dia berkata bahwa sudah lewat tujuh hari.”Jadi, persembahan dihentikan mulai hari ini. “Ananda menjadi terheran-heran karena Buddha baru saja mengatakan hal itu

Ternyata benar, sang pemuka masyarakat telah menghentikan persembahannya hari itu. Hal ini pasti ada penyebabnya. Maka, Ananda segera bertanya kepada Buddha tentang penyebab di balik semua ini. Buddha kemudian berkata,”Berkalpa-kalpa yang lalu,ketika Aku hidup sebagai petapa,ada kutu merayap di atas tubuh-Ku. “Aku menangkapnya,kemudian meletakkannya di atas tulang binatang dan meninggalkannya di sana. “Kutu itu mendapatkan banyak makanan,namun tujuh hari kemudian dia mati.” Untuk membalas budi atas makananyang dia dapatkan selama tujuh hari,maka sekarang dia memberikan persembahan selama tujuh hari. “memberikan persembahan selama tujuh hari.” “Tujuh hari telah berlalu,maka kini kita harus melanjutkan perjalanan dengan perut kosong.”Ini adalah sebuah kisah saat Buddha masih melatih diripada berkalpa-kalpa yang lalu. Di sana diceritakan tentang waktu, tempat Buddha melatih diri, kondisi batin-Nya sebagai petapa, serta pola hidup-Nya pada saat itu. Begitu juga dengan kita,di kehidupan mana pun,di kehidupan mana pun,baik tindakan, kondisi batin,maupun pola hidup kita saat itu memiliki kaitan yang erat dengan kehidupan kita di masa sekarang. Siklus kehidupan kita adalah tanpa awal, demikian pula ia adalah tanpa akhir. Jadi, tiada awal dan akhir. Kita harus meneruskan kebaikan masa lampau, mawas diri pada masa sekarang, dan mewaspadai masa akan datang. Berikut dikatakan, “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Empat Kediaman.”Ini juga disebut Empat Kediaman Mental. Empat Kediaman adalah kegelapan batin yang muncul dari pandangan dan pemikiran. Dalam Tiga Alam, kita diliputi  belenggu pandangan dan belenggu pemikiran. Sebagaimana kita ketahui,dalam kehidupan ini terdapat berbagai pandangan dan pemikiran. Hal ini memiliki kaitan yang erat dengan lahan batin kita. Baik masa lampau, sekarang, maupun akan datang, pandangan dan pemikiran kita tidak terlepas dari kondisi batin kita pada tiga masa itu. Maka, kita harus benar-benar memerhatikannya. Dari Empat Kediaman Mental,pertama adalah “Kediaman Segala Pandangan”.Pertama adalah “kediaman segala pandangan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi batin kita terpengaruh oleh 6 objek luar akibat kontak dari enam indra. Begitulah kita melihat dan bersentuhan dengan semua objek tersebut sehingga terbawa ke dalam pikiran kita. Apakah objek-objek tersebut memiliki dampak pada pikiran kita ? Ya. Ia memberi dampak yang sangat kompleks terhadap kita sebagai makhluk awam. Ketika kita bersentuhan dengan objek luar, maka muncullah berbagai pandangandalam pikiran kita yang dipengaruhi oleh ketamakan,  kebencian, dan kebodohan. Akibat dari noda dan kegelapan batin ini, kita mulai melakukan hal-hal yang menyimpang. Inilah yang terjadi pada makhluk awam. Jika kita tidak memerhatikan kondisi batin kita dengan baik,maka tindakan kita sewaktu-waktu akan dipengaruhi oleh pandangan subjektif kita. Orang yang noda batinnya sangat tebal, tabiatnya buruk, dan sangat melekat pada pandangannya, sikapnya akan cenderung ekstrem. Kita sering mendengar berita tentang konflik antara kelompok etnis yang berbeda, antara sekte agama yang berbeda, bahkan antara negara yang berbeda. Masalahnya bukan terletak perbedaan suku, bukan terletak pada isu kenegaraan,juga bukan terletak pada perbedaan agama. Masalah utamanya terletak pada pandangan yang ada dalam batin manusia. Ketika negara-negara saling berperang, lihatlah betapa banyak kehancuran dan penderitaan yang diakibatkan. Sebagaimana sering saya katakan, pandangan menyimpang dari beberapa penguasa pandangan menyimpang dari beberapa penguasa dapat menciptakan bencana internasional. Semua ini berkaitan dengan pandangan manusia. Mengenai etnis,kita tak dapat memilih sebagai etnis apa kita dilahirkan. Kita tidak tahu apakah akan terlahir sebagai ras Kaukasian, Asia,Indian, atau Afrika.Kita tidak tahu. Semua ini bergantung pada karma Semua ini bergantung pada karma yang kita tanam di kehidupan lampau yang menentukan di mana kita terlahir. Buah karma penopang ini bergantung pada benih yang kita ciptakan pada masa lampau sehingga kita terkondisi lahir di suatu tempat. Jadi, sebagai etnis apa kita dilahirkan,kita tak dapat menentukannya. Akan tetapi, manusia malah membeda-bedakan ras Akan tetapi, manusia malah membeda-bedakan ras dan saling mendiskriminasi. Masalahnya juga terletak pada manusia. Selanjutnya, mengenai agama. Sesungguhnya, agama berperan sebagai pemberi manfaat dan pembimbing umat manusia.

Agama yang benar pasti memiliki nilai pendidikan bagi manusia, dapat mengarahkan tujuan hidup manusia dan mengandung pendidikan cara hidup. Agama pasti memiliki nilai pendidikan bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, sebagian orang malah membeda-bedakan dan menciptakan pertikaian antar agama dan menciptakan pertikaian antar agama. Indonesia adalah sebuah negara yang indah dengan sumber daya alam  berlimpah. dengan sumber daya alam  berlimpah. Baik dalam sektor perikanan, pertanian, maupun pertambangan, sumber dayanya sangatlah melimpah. Dalam bercocok tanam, mereka tak perlu mencari metode khusus seperti di Taiwan. Asalkan mereka menabur benih, benih tanaman itu akan berbuah. Kekurangan mereka hanyalah cara pengelolaan, baik dalam sektor pertanian maupun industri. Sumber daya alam di sana sangat berlimpah, namun mengapa tak dapat dikelola dengan baik? Salah satu sebabnya adalah stabilitas negara. Salah satu sebabnya adalah stabilitas negara. Ketika negara tidak stabil, hati manusia pun tak dapat tenang. Ditambah lagi dengan  kesenjangan sosial, masalah ini juga bersumber pada pola pikir. Dalam pelaksanaan roda pemerintahan, kepentingan rakyat kecil kurang diperhatikan, kepentingan rakyat kecil kurang diperhatikan, sementara orang kaya memiliki kedekatan dengan pejabat pemerintah. Maka, pemerintah sering membuat kebijakan yang melindungi kepentingan orang kaya. Karena itu, tingkat kesenjangan sosial menjadi sangat tinggi.

Rakyat kecil tidak memiliki modal untuk usaha. Mereka tidak memiliki tanah untuk bertani. Kebanyakan tanah dimiliki para tuan tanah atau dikuasai negara. Rakyat kecil tidak memiliki tanah dan tidak memiliki modal usaha. Jurang antara kaya dan miskin sangat besar. Semua ini disebabkan oleh ketidakstabilan politik di negara itu. Akibatnya, rakyat tidak dapat membangun aspirasi mereka. Orang kaya hanya mementingkan usaha mereka. Ketika usaha mereka semakin berkembang, mereka akan melarikan aset ke luar negari. Inilah penyebab Indonesia kehilangan stabilitas. Inilah penyebab Indonesia kehilangan stabilitas. Inilah penyebab Indonesia kehilangan stabilitas. Untunglah, insan Tzu Chi mulai menyebarkan benih cinta kasih di Jakarta. Sekelompok pengusaha di sana turut menghimpun kekuatan bersama untuk memerhatikan warga kurang mampu. Mereka mulai membangkitkan cinta kasih dan bekerja untuk menggarap ladang berkah dan bekerja untuk menggarap ladang berkah demi membangun kestabilan hidup masyarakat. Usaha ini baru dimulai. Kondisi mereka itu telah memiliki sejarah panjang. Kini kita mulai menggarap lahan berkah. Ini bagaikan berusaha mengolah kembali lahan tak terawat. Ini bagaikan berusaha mengolah kembali lahan tak terawat. Meski demikian, harapan masih ada. Semuanya bergantung pada pandangan yang ada di dalam batin kita. pandangan yang ada di dalam batin kita. Intinya,tak peduli bagaimana pun perbedaan kondisi kehidupan di dunia, jika batin dapat dikelola dengan baik, maka hidup kita dapat dibawa ke arah kebajikan. Hindarilah segala kejahatan dan praktikkanlah semua kebajikan. Selama memiliki hati yang baik dan cinta kasih, Selama memiliki hati yang baik dan cinta kasih, apa pun suku bangsanya, apa pun rasnya, apa pun agamanya, apa pun kewarganegaraannya, setiap orang akan memiliki cinta kasih yang sama. Dunia seperti ini disebut Tanah Suci. Kondisi dunia kini begitu keruh dan tercemar. Penyebabnya tidak lain adalah pandangan dalam batin manusia. 

Jadi, batin kita adalah tempat kediaman segala jenis pandangan. Konsep dan pandangan dalam batin kita ada akibat kontak dengan kondisi luar yang menumbuhkan noda dan kegelapan batin. yang menumbuhkan noda dan kegelapan batin. Karena itu, sebagai praktisi Buddhis,kita sungguh harus sadar dan waspada baik terhadap masa lalu, sekarang, maupun akan datang. Kapan pun dan di mana pun kita berada,kita harus menjaga pikiran kita dengan baik. Benih pikiran ini sungguh harus dijaga dengan baik. Jadi, kita harus selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888