Sanubari Teduh – 110 – Empat Ketamakan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, kita selalu membicarakan tentang noda dan kegelapan batin. Batin kita terbelenggu oleh ketamakan, kebencian, dll. Kita sendirilah yang membelenggu diri kita. Apa yang telah membelenggu kita? Kita akan membahas Empat Ketamakan. Ketamakan masih dibagi menjadi empat jenis. Ketamakan sungguh banyak. Sepertinya pembahasan kita selama ini tidak pernah lepas dari topik ketamakan. Dari sini terlihat bahwa ketamakan membuat kegelapan dan noda batin kita semakin berkembang hingga menciptakan banyak karma buruk yang tak terhingga
Semua ini juga disebabkan oleh ketamakan. Ketamakan sungguh sangat banyak. Dari 84.000 noda batin, tiada yang tak berhubungan dengan ketamakan. Karena itu, Buddha berkata bahwa untuk mengatasi 84.000 noda batin, ada 84.000 pintu Dharma, dan dari semuanya tiada yang tidak berhubungan dengan ketamakan. Jadi, Dharma berguna untuk mengatasi ketamakan. Ketamakan ada banyak jenis, namun di sini kita membahas empat jenis
Empat Ketamakan ada dalam keseharian kita. Setiap orang menganggapnya sebagai hal yang wajar. Semua orang tidak menyadari bahwa dalam kesehariannya ternyata juga memiliki ketamakan. Ketamakan pertama adalah ketamakan terhadap 4 jenis persembahan. Orang yang sedang melatih diri harus mewaspadai Kaum monastik tentu hidup di vihara dan menjalani hidup yang sederhana dengan pakaian, makanan, dan tempat tinggal yang sederhana. Ini merupakan kewajiban seorang praktisi. Akan tetapi, jika melanggar kewajiban, dia menjadi tamak akan 4 jenis persembahan, yaitu pakaian, makanan, tempat tidur, dan obat-obatan. Inilah 4 jenis kebutuhan Sangha. Seorang praktisi juga membutuhkan makanan dan minuman, namun mereka mengonsumsi makanan dan minuman yang sederhana. Asalkan dapat menopang kondisi tubuh, itu sudah sangat cukup
Akan tetapi, ada orang suka memilih-milih jenis makanan yang baik dan cita rasa yang disukai. Kaum monastik tidak pantas melakukan hal itu. Lalu, pantaskah perumah tangga melakukannya? Juga tidak pantas. Kita harus menyadari bahwa saat akan menyantap semangkuk nasi, baik perumah tangga maupun kaum monastik harus merenungkan asal makanan tersebut. Saat mengambil nasi, kita harus berpikir bahwa setiap butir beras atau semangkuk nasi tidak dihasilkan dengan mudah. Banyak petani harus mengolah tanah, menabur benih, merawat dan mengairi sawah. Mereka juga harus mencabuti rumput dan memotong padi, bahkan pada musim dingin sekalipun. Pada cuaca panas, mereka harus bercucuran keringat untuk memanen padi yang telah matang
Dalam proses tersebut, apakah semua dilakukan dengan mudah? Apakah hanya dengan menanam padi dan mencabuti rumput akan membuat tanamannya tumbuh subur? Tidak. Semua harus juga bergantung pada alam. Iklim harus stabil, cuaca harus dalam kondisi normal, hujan harus turun pada waktunya, kondisi udara harus bersih, dan kualitas tanah juga harus baik
Dengan demikian, padi baru dapat tumbuh subur. Dengan iklim yang stabil, padi yang sudah matang barulah dapat dipanen pada waktunya. Semua ini harus dipikirkan. Dunia tidaklah kekal. Apakah cuaca dapat selalu menguntungkan? Apalagi kini banyak tanah yang tercemar. Pencemaran tersebut berasal dari air yang lebih dahulu terkontaminasi oleh zat kimia limbah pabrik. Bahkan sejenis detergen dari bahan kimia juga dapat menyebabkan pencemaran
Jika bahan kimia itu bercampur dengan air, maka air pun akan tercemar. Beberapa waktu lalu, kita pernah melihat di Taiwan bagian tengah, ketika padi di beberapa sawah seluas puluhan hektare mulai dipanen, ditemukan adanya kandungan unsur Kadmium yang beracun. Akibatnya, meski dipanen, padi-padi itu tidak dapat dikonsumsi. Ini terjadi di Taiwan bagian tengah. Di wilayah Taoyuan juga pernah terjadi kasus pencemaran tanah serupa. Jadi, banyak tanah di sana telah tercemar oleh limbah. Padi yang sebenarnya sudah dapat dipanen harus dibuang
Bahkan ladang tersebut tidak bisa digarap dalam beberapa tahun ke depan. Bukan hanya itu, jenis tanaman lain pun tidak bisa ditanam. Coba bayangkan, segala jenis tanaman pangan tumbuh dari tanah, tetapi tanah kini tercemar oleh limbah dan tidak bisa ditanami lagi. Bayangkanlahkondisi persediaan pangan kita. Bayangkanlah kondisi persediaan pangan kita. Dengan jumlah penduduk yang makin bertambah, air yang terus terkontaminasi, kadar keasaman tanah yang terus meningkat,
dan berkurangnya persediaan pangan, apa yang harus kita lakukan di masa mendatang? Ini merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. Bukankah ini akibat ulah manusia? Air yang keluar dari alam sendiri tidaklah mengandung zat kimia berbahaya. Ini adalah hasil perbuatan manusia
Pada dasarnya tanah tidak mengandung Kadmium. Sawah tersebut biasanya dapat menghasilkan tanaman untuk memenuhi kebutuhan pangan, namun tiba-tiba penelitian menunjukkan kini tanah itu mengandung Kadmium sehingga hasil panennya tidak boleh dikonsumsi. Bayangkan, bukankah ini akibat perbuatan manusia? Manusia jugalah yang demi memenuhi kesenangannya terus membangun pabrik-pabrik. Dengan adanya pabrik, tentu dibutuhkan bahan-bahan kimia. Ini adalah hal yang pasti. Intinya, semua adalah akibat manusia yang mencari kesenangan
Jika kita dapat menyelaraskan diri dengan hukum serta kondisi alam dengan berpegang teguh pada kewajiban, maka hamparan tanah yang kita miliki sebagai penyedia pangan tidak akan bermasalah. Zaman sekarang, kita terlalu mengandalkan mesin dan teknologi. Karena itu, timbullah berbagai efek samping sehingga makanan yang sederhana pun kadang membuat kita khawatir. Karena itu, kita sungguh harus waspada. Manusia awam memiliki ketamakan terhadap cita rasa makanan. Mereka selalu ingin menyantap daging hewan
Makhluk manakah yang tidak memiliki nurani? Dahulu, ada cerita tentang seorang kakek. Setiap kali berjalan-jalan keluar, dia selalu didampingi seekor bebek. Bebek ini dapat mengerti isi hati sang kakek. Saat kakek sedang berjalan, ia akan mengikuti dengan berlari di depannya. Sebelum kakek tiba di tempat, ia sudah menunggunya di depan. Jika kakek sedang berbincang dengan orang, ia kembali dan duduk di dekat kakinya. Ada wartawan bertanya, “Apakah bebek ini dapat mengerti kata-kata Anda?” Kakek menjawab, “Ya, ia mengerti
” “Jika saya sedang sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, ia akan duduk di bawah ranjang.” “Setiap beberapa saat, ia akan menjulurkan kepalanya untuk menarik pakaian saya.” “Terkadang, saat saya sedang bosan, ia akan bernyanyi untuk saya dari bawah ranjang.” Setelah mendengar kisah ini, terasa bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang begitu dekat. Saat ditanya, “Apakah Anda yang memelihara bebek ini,” sang kakek menjawab, “Saya memungutnya.” Bagaimana dia memungutnya? “Entah mengapa, saat ia terbawa oleh banjir di tepi sungai dan sayapnya mengepak-ngepak tak berdaya, saya menolongnya karena merasa kasihan.” “Kemudian saya membersihkan tubuhnya.” “Ia tampak sangat lucu
” “Saya selalu menyisakan makanan untuknya.” “Ia juga tidak pergi dan tetap tinggal di sini.” Bukankah ini menunjukkan bahwa bebek juga memiliki nurani? Setelah ditolong oleh sang kakek, ia pun tetap mengikuti beliau, bahkan ia tahu sang kakek hidup sendirian. Ketika sang kakek sakit, ia juga dapat menjaganya. Tegakah kita membunuh hewan seperti itu? Tegakah kita menyantap dagingnya? Sebenarnya, semua hewan memiliki nurani, bukan hanya bebek ini saja. Lihatlah, sekarang betapa banyak anjing yang menjadi pemandu kaum tunanetra. Para tunanetra juga mengandalkan anjing sebagai pemandu jalan. Mereka mengerti semua ucapan kita. Dalam siaran berita, saya melihat seekor anjing dapat membelikan arak untuk seorang kakek
Jika kakek memberikan uang kepadanya, ia akan pergi ke toko. Pemilik toko tahu anjing itu milik sang kakek, juga tahu arak apa yang ingin ia beli dengan melihat jumlah uang yang dibawanya. Suatu ketika, ia ingin membeli arak merah, namun pemilik toko memberinya arak beras. Sang anjing tetap diam tak bergerak. Pemilik toko berkata, “Arak sudah saya berikan, mengapa kamu tidak juga pulang?” Ia hanya diam saja di sana. Kemudian, setelah diperhatikan, ternyata jumlah uang yang dibawa memang untuk membeli arak merah. Jadi, pemilik toko menukarkannya sambil berkata, “Maaf, maaf, telah membuat kamu lama menunggu.” Sungguh lucu. Lihatlah, hewan pun memiliki nurani
Mereka juga makhluk bernyawa dan memiliki kesadaran. Manusia menyantap segala makhluk bernyawa. Coba bayangkan, bukankah mereka telah menanam karma buruk? Sungguh karma yang sangat buruk. Begitulah, karena tamak akan makanan, bahkan tamak akan cita rasanya, manusia membunuh banyak makhluk bernyawa. Manusia sungguh sangat kejam. Sesungguhnya, banyak bencana timbul akibat ulah manusia. Jika segala sesuatu di alam semesta dapat hidup berdampingan secara harmonis, maka kehidupan ini akan menjadi sangat indah. Jika orang dapat saling berinteraksi dengan penuh cinta kasih, maka setiap keluarga akan sangat bahagia. Selain manusia, kita juga melihat hewan yang sangat menggemaskan. Lihatlah burung-burung. Iklan layanan masyarakat Da Ai TV memperlihatkan banyak induk dan anak burung
Betapa menggemaskannya gambar dalam tayangan tersebut. Jika kita memerhatikan kehidupan manusia dan hewan-hewan lainnya serta mengasihi mereka, bukankah ini sangat baik? Saat kita melihat anjing memiliki nurani, kita juga sangat menyukainya. Suatu hari, saat berjalan-jalan di luar, saya melihat seekor anjing yang tak berbulu. Saya berdiri di sana sambil berkata, “Apakah kamu Dabao?” Entah siapa yang telah mencukur habis bulunya. Saat mendengar pertanyaan saya, ia tampak merasa malu. Ia seakan merasa pakaian di tubuhnya terlihat tidak rapi, lalu segera menghindar dengan kepala menunduk ke bawah. Mungkin ada orang bermaksud baik. Merasa cuaca sangat panas dan khawatir ada kutu yang mengganggunya, maka orang itu mencukur semua bulu Dabao sampai habis agar lebih rapi
Ini juga demi kebersihannya. Akan tetapi, anjing ini terlihat sangat cerdas. Semua orang di sini sangat mencintai Dabao. Dabao juga mencintai semua orang dan sangat penurut. Suatu ketika, saat saya akan keluar, Dabao terus berlari di depan saya dan menunggu di samping mobil. Setelah saya tiba di depan mobil, ia langsung melompat ke dalamnya. Ia mengira akan dibawa serta. Ia tidak tahu siapa yang seharusnya ia ikuti, maka ia ikut keluar begitu saja
Kita kembali turun dari mobil dan berkata, “Turunlah, kamu tidak boleh ikut, ayo pulang, jaga rumah.” Ia pun turun dengan jinak. Lihatlah, ia juga dapat hidup harmonis dengan orang-orang di sini. Ia juga ingin hidup harmonis dengan orang, sungguh hewan yang sangat menggemaskan. Jadi, jika kita menyayangi hewan, maka janganlah membunuh makhluk bernyawa. Sesungguhnya, ada orang berkata bahwa hewan dilahirkan untuk dimakan oleh manusia. Siapa yang mengatakan demikian? Tidak ada hal seperti itu, namun manusia selalu saja beralasan, “Jika saya tak membunuh dan menyantap mereka, bukankah ayam dan bebek nantinya akan memenuhi semua jalanan?” Tidak mungkin. Manusia juga tak ada yang dijual untuk dimakan, namun populasinya tetap tidak sebanyak itu
Manusia masih dapat bekerja di berbagai bidang, bahkan masih ingin memiliki lebih banyak anak. Jadi, pandangan tadi sangatlah keliru. Populasi manusia saja tidak akan sampai terlalu banyak, apalagi pertumbuhan populasi hewan. Mana mungkin jika kita tidak menyantap mereka, mereka akan menjadi terlalu banyak. Kita dapat hidup harmonis dengan hewan, tetapi tidak perlu sengaja mengembangbiakkannya. Banyaknya jumlah ayam dan bebek merupakan hasil dari pengembangbiakan para peternak. Lihatlah, mereka merangsang hewan-hewan agar bertelur dengan cepat. Kini orang dapat menggunakan alat penetas, tidak perlu mengandalkan induk ayam
Dengan menggunakan alat penetas, akan meningkatkan jumlah produksi. seandainya manusia tak ingin menyantap mereka, apakah mereka akan tumbuh begitu banyak? Manusialah yang selalu beternak hewan sehingga jumlah hewan semakin banyak. ===== Tanaman pangan juga harus banyak dialokasikan untuk hewan-hewan yang diternak, baik kambing, sapi, kuda, maupun yang lainnya, yang dagingnya akan dimakan manusia. Coba bayangkan, berapa jumlah makanan yang harus dimakan oleh ternak-ternak tersebut? Sapi, kambing, dan kuda harus makan rumput. Untuk menanam tanaman rumput, banyak hutan harus ditebang. Kemudian ayam dan bebek membutuhkan pakan. Pakan tersebut juga berasal dari tanaman pangan yang kita makan. Jadi, juga harus disisihkan untuk mereka. Jika kita dapat berhenti mengembangbiakkan hewan-hewan tersebut dan membiarkan mereka tumbuh secara alami, mereka dapat mencari makan sendiri, dan kita tidak perlu menyisihkan makanan manusia untuk mereka
Kemudian, kotoran yang mereka buang juga sangat banyak. Kotoran hewan-hewan tersebut dapat mencemari tanah dan air, sehingga mengganggu kebersihan air kita. Berhubung tanah dan air telah tercemar oleh kotoran hewan ternak, maka terciptalah lingkaran keburukan. Demi menyantap daging hewan, kita harus beternak. Karena itu, banyak jatah pangan manusia teralokasi untuk keperluan hewan ternak. Selain itu, kotoran mereka juga mencemari tanah sehingga tanah menjadi tidak subur. Dengan begitu, tanaman pangan tak dapat tumbuh, bahkan sumber air minum manusia juga tercemar. Jadi, hanya demi makanan, terdapat konsekuensi yang sangat besar. Saudara sekalian, janganlah mengeluh bahwa setiap hari saya hanya membahas ketamakan
Sesungguhnya, sejak dilahirkan ke dunia, kita tidak pernah menyadari bahwa ketamakan telah ada dalam keseharian kita dan membuat kita melakukan karma buruk. Karma buruk ini tercipta dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita harus berusaha untuk mawas diri. Penyakit seseorang berasal dari makanan. Ketika terjadi wabah penyakit SARS, setiap orang merasa takut dan khawatir. Tidak ada gunanya merasa takut. Saya mengatakan kita harus mawas diri. Setiap orang harus bervegetarian dan menghindari makan daging. Orang Jepang memandang vegetarianisme sebagai pola makan sehat
Mereka menyebutnya “shojin-ryori”, yaitu makanan orang yang melatih diri yang membuat pikiran menjadi jernih dan tubuh menjadi sehat. Karena itu, mereka menyebutnya “shojin-ryori” atau makanan sehat. Jika lebih banyak orang menjadi vegetarian, maka pejagalan akan berkurang. Jadi, demi konsumsi daging, hewan dibiakkan dalam jumlah besar dan dijagal hingga tercipta lingkaran keburukan. Kaum monastik tentu bervegetarian, namun jika umat awam menyayangi diri sendiri, mereka seharusnya juga menyayangi makhluk lain. Bervegetarian dapat memupuk welas asih dan mengembangkan cinta kasih
Orang yang tidak tega menyantap daging berarti tengah memupuk cinta kasih agar hati mereka menjadi lebih lembut. Orang yang mengonsumsi daging akan memiliki emosi yang mudah meledak. Jadi, jika kita bervegetarian, sifat kita akan menjadi lebih lembut. Lihatlah sapi, mereka semua bervegetarian. Coba perhatikan, sifat sapi sangat lembut. Harimau adalah hewan pemakan daging. Lihatlah betapa ganasnya mereka
Meski sapi bervegetarian, mereka memiliki tenaga yang sangat besar. bervegetarian jelas bermanfaat bagi kesehatan dan tidak ada kerugiannya. Selain itu, juga dapat membantu meredam pemanasan global, mengurangi pencemaran tanah, mencegah pencemaran air, serta membuat iklim kembali normal, karena kondisi iklim berhubungan dengan pencemaran udara dan pemanasan global. pencemaran bumi dan pemanasan global
Jadi, semua ini merupakan akibat ulah manusia. Harap semua senantiasa bersungguh-sungguh.