Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 150 – Enam Praktek 10 Kediaman Bagian 6

 Saudara se-Dharma sekalian, kondisi hening sangat baik. Sungguh, kondisi yang hening terasa sangat baik untuk melatih diri. Selain menjaga keheningan batin di pagi hari sebelum mulai beraktivitas, saat berada di tengah orang banyak dan sangat sibuk, hati kita juga harus tetap tenang dan hening. Inilah kondisi batin untuk melatih diri. Ini juga merupakan bagian tersulit bagi para praktisi Buddhis. Jadi, di dalam melatih diri, sesungguhnya tak lain kita tengah melatih hati

 Dalam enam praktik, kita telah membahas tentang sepuluh tubuh Buddha dan sepuluh kediaman. Dalam “kediaman kemurnian anak kecil”, kita membahas tentang aspek sepuluh tubuh Buddha. Kita terus membahas tentang praktik dan kediaman. Di dalam enam praktik terdapat 10 kediaman. Berdiam Berarti tinggal di dunia dengan wujud tertentu. Tujuannya tak lain adalah membangkitkan kesadaran setiap orang

 Segala kondisi yang kita temui bisa membangkitkan kesadaran kita. Kita sudah membahas tentang Pratyekabuddha. Prayetkabuddha muncul pada masa kekosongan Dharma. Di masa kekosongan Dharma, bagaimana mereka melatih diri? Dengan mengamati kondisi luar. Kondisi luar yang dimaksud adalah pergantian waktu dan pergantian empat musim

 Mereka memanfaatkan fenomena ini untuk merenungkan ketidakkekalan hidup manusia. Ini juga merupakan bentuk pelatihan diri. Ini juga bertujuan untuk menginspirasi kita agar tahu perasaan seperti apa yang harus kita gunakan saat menghadapi kondisi luar. Jadi, kita sudah membahas tubuh makhluk hidup, tubuh tanah, tubuh buah karma, tubuh Sravaka, tubuh Pratyekabuddha, tubuh Bodhisattva, tubuh Tathagata, tubuh kebijaksanaan, tubuh Dharma, dan tubuh kekosongan. Dalam aspek kediaman kemurnian anak kecil, diuraikan lagi tentang sepuluh tubuh Buddha

 Bagian demi bagian sudah kita ulas, tetapi apakah sudah selesai? Masih belum. Karena dari sepuluh kediaman, kita baru membahas hingga yang ke-8, yaitu kediaman kemurnian anak kecil. Jadi, sekarang kita akan membahas tentang kediaman ke-9, yaitu kediaman Pangeran Dharma. Sebelumnya kita membahas tentang anak kecil. Sebelum anak kecil lahir, dia tumbuh sebagai janin dalam rahim. Jika mengandung embrio suci, maka anak yang akan lahir juga suci. Kemudian, anak ini perlahan-lahan akan tumbuh

 Dia akan disebut pangeran Dharma. Jadi, dikatakan, “Menumbuhkan embrio suci, mewariskan dan mengembangkan benih Buddha, layak menjadi anak Raja Dharma.” Kita sering berkata bahwa pelatihan diri bukan dimulai dari sejak kita lahir, namun sudah dimulai dari kehidupan-kehidupan sebelumnya. Kita telah menciptakan karma baik dan buruk. Di masa lampau, salah satu karma baik kita mungkin adalah menjalin jodoh dengan Buddha. Jadi, asalkan kita memiliki benih ini, maka kita akan berjodoh dengan Buddha

 Dalam kehidupan ini kita dapat melatih diri karena tanpa disadari kita telah memiliki benih jodoh itu. Benih ini bagaikan embrio suci. Jika tak memiliki jalinan jodoh, artinya kita tak memiliki benih ini. Jika tidak memiliki benih ini, kita tidak akan memiliki kondisi pendukung Jadi, kita harus merasa beruntung. Entah di kehidupan lampau yang mana kita pernah menjalin jodoh dengan Buddha. Dalam Sutra Bunga Teratai dikatakan bahwa semua makhluk yang menghadiri persamuhan Dharma mungkin pada berkalpa-kalpa yang lampau telah saling menjalin jodoh. Benih jodoh itu mungkin tertanam saat kita pertama kali mendengar ajaran Buddha

 Buddha juga berkata bahwa nanti di masa depan juga akan terus ada persamuhan Dharma yang dihadiri oleh orang-orang yang telah menjalin jodoh pada masa lalu dan masa kini. Mereka tetap mendengarkan ajaran Buddha, mempraktikkannya, serta membimbing semua makhluk di dunia. Semua ini berawal dari satu benih. Baik dari masa lalu, di masa kini, maupun hingga masa depan. mungkin saja benih jalinan jodoh ini terus ada. Benih ini harus sungguh-sungguh kita hargai. Jika ingin dijelaskan lebih jauh, berarti setiap orang telah memiliki benih ini

 Kita harus benar-benar menghargai benih ini. Dalam setiap kehidupan, jangan sampai benih ini hilang, juga jangan sampai benih ini rusak. Jika ingin dirusak, benih ini akan cepat rusak. Contohnya, beras. Beras yang kita panen bermula dari gabah. Gabah ini tadinya masih menyatu dengan tangkainya, disebut padi. Padi yang sudah dipotong dari tangkainya disebut gabah

 Gabah dapat dikupas menjadi beras. Akan tetapi, petani juga harus menyisakan benih untuk disemai kembali hingga bertunas dan dapat ditanam. Setelah ditanam, padi akan kembali tumbuh. Setelah dipanen, kita kembali mendapat gabah. Sesungguhnya, ia adalah benda yang sama dengan berbagai wujud

 Akan tetapi, untuk dapat tumbuh, benih padi ini harus diairi dan dirawat. Jika kita tidak segera mengairinya dan hanya terus menunggu, maka benih ini akan rusak, mungkin karena waktu tanam tidak tepat atau karena dibiarkan terlalu lama. Karena itu, sering dikatakan bahwa kita harus memanfaatkan waktu yang ada. Waktu sangatlah penting. Berhubung telah memiliki benih, maka saat jalinan jodoh itu tiba, kita harus segera menggenggamnya. Kita memiliki embrio suci

 Kita telah memiliki benih tersebut, maka harus segera menumbuhkannya. Dengan begitu, benih ini akan bertumbuh. Bagaimana cara kita menumbuhkan benih ini? Kita harus melatih diri. Kita harus tekun dan bersemangat melatih diri, tidak boleh bermalas-malasan. Yang dimaksud tekun dan bersemangat tidak semata-mata bersembahyang kepada Buddha atau melafalkan nama Buddha sebanyak-banyaknya

 Bukan itu. Dengan melakukan itu, dari luar kita mungkin terlihat tekun, namun sesungguhnya yang terpenting adalah hati. Apakah hati kita juga tekun dan bersemangat? Apa maksudnya? Artinya, apakah kita memiliki hati Buddha. Hati Buddha adalah cinta dan welas asih agung. Jika ada, sudahkah mewujudkan cinta kasih ini keluar? Begitu banyak makhluk yang menderita di dunia. Apakah kita bersedia bersumbangsih bagi mereka? Jika bersedia, berarti kita tengah menapaki Jalan Bodhisattva. Akhir dari Jalan Bodhisattva adalah kebuddhaan

 Ini seperti beras yang berawal dari benih, tunas, padi, lalu menjadi gabah. Artinya, tanpa melalui Jalan Bodhisattva, kita tidak akan mencapai hasil. Jadi, menapaki Jalan Bodhisattva sangat penting. Jadi, dalam enam praktik, salah satunya dibahas mengenai praktik sepuluh kediaman. Dalam praktik sepuluh kediaman, dibabarkan mengenai kemurnian anak kecil yang di dalamnya mencakup sepuluh tubuh Buddha

 Ini bertujuan memudahkan kita untuk memahami bahwa di alam semesta ini, dari berbagai kondisi yang ada, kita dapat memahami kebenaran dan menyelami berbagai Dharma agar kita memiliki banyak cara untuk menapaki Jalan Bodhisattva. Inilah ajaran Buddha. Jadi, kita harus mewariskan benih Buddha, dimulai dari sungguh-sungguh merawat benih kebuddhaan dalam diri kita agar dapat tumbuh dengan baik. Dengan begitu, kita baru memiliki jalinan jodoh untuk membimbing orang lain dan bersama-sama berkembang dengan mereka

 Jadi, inilah perbedaan Kendaraan Besar (Mahayana) dan Kendaraan Kecil. Jika kita mengendarai sepeda, selain diri sendiri, kita paling banyak membonceng satu orang lagi. Ini yang disebut “Yana” atau kendaraan. Sepeda adalah contoh kendaraan. Jika mengendarai mobil, kita bisa membawa penumpang

 Pengemudi dan penumpang bisa sama-sama tiba di tujuan. Begitu pula dengan bus atau kereta api. Sang pengemudi akan tiba pada tujuan, begitu juga para penumpangnya. Inilah yang disebut sama-sama berkembang. Begitu pula dengan pesawat terbang

 Pilot dan penumpangnya akan sama-sama tiba. Ingin membawa satu orang atau membawa ratusan hingga ribuan orang, kita bisa. Karena itu, kita harus mempraktikkan semangat Mahayana. Kita harus sama-sama berkembang dengan banyak orang. Apalagi saya sering membahas bahwa saat ini adalah era Kalpa Kerusakan. Di dunia ini, udara sudah tercemar dan iklim sudah tidak selaras

 Tanah juga sudah tercemar dan rusak. Jadi, dalam Kalpa Kerusakan ini, saat karma kolektif semua makhluk berbuah, kita harus melatih diri dan segera mewariskan benih Buddha, artinya menggalang lebih banyak Bodhisattva. Sesungguhnya, penggalangan Bodhisattva dunia adalah cara mewariskan benih Buddha. Bagaimana kita membina sumber daya manusia? Menciptakan jalinan jodoh. Kita harus menciptakan kesempatan agar semua orang dapat masuk ke ladang pelatihan Bodhisattva ini untuk menyucikan hati. Jika hati manusia tersucikan, barulah alam tak akan tercemar

 Terlebih lagi, hubungan antarmanusia akan harmonis. Jadi, mengembangkan embrio suci dan mewariskan benih Buddha sangatlah penting. Semoga kita semua dapat menjadi pangeran Dharma. Kita harus bertekad untuk memikul misi Buddha. Inilah pangeran Dharma. Berikutnya adalah kediaman penyucian atau inisiasi

 Inisiasi seperti kebiasaan di India. Saat anak raja sudah beranjak dewasa, takhta akan diwariskan kepada sang anak. Untuk itu, sang raja harus menggunakan air murni dari empat samudra untuk menginisiasi putranya itu. Dalam ajaran Buddha, ini mirip dengan pernyataan berlindung yang menandakan seseorang resmi memasuki pintu ajaran. Untuk menjadi murid Tiga Permata, Anda harus menyatakan perlindungan dan bertekad menjalankan lima sila. Ini adalah yang minimal

 Umat Buddha harus mempraktikkan ini. Dengan menjalankan lima sila, kita baru bisa menyucikan pikiran. Ini adalah tahap pertama. Akan tetapi, inisiasi yang kita bahas di sini bagai pewarisan takhta dari raja ke putranya. Buddha berharap setiap orang dapat menjadi putra-Nya yang dapat meneruskan misi

 Kita harus terjun bersumbangsih. Inilah kediaman penyucian atau inisiasi. “Bodhisattva adalah putra Buddha yang diinisiasi oleh air kebijaksanaan.” Saya berharap, berhubung kita semua adalah murid Buddha, kita harus menerima Dharma

 Dharma bagaikan air. Selama selang waktu ini, saya setiap pagi berceramah untuk kalian tanpa bosan-bosannya; menjelaskan dengan terperinci, menggali ajaran yang mendalam agar kalian pahami dengan mudah dan bisa diterapkan dalam keseharian serta dapat kalian bagikan kepada orang lain agar mereka juga dapat menerimanya. Ini bagai meneteskan sedikit demi sedikit air. Semoga air Dharma dapat meresap ke dalam hati kalian. Semoga air ini menyucikan kalian. Semoga jiwa kebijaksanaan kita terus bertumbuh

 “Buddha menginisiasi mereka dengan tetesan air kebijaksanaan, memastikan mereka sudah dewasa.” Air kebijaksanaan dapat membuat kita bertumbuh menjadi dewasa. Semoga dengan menyerap air Dharma ini, jiwa kebijaksanaan kita juga dapat bertumbuh dan kita dapat menjadi pangeran Dharma. Ini adalah harapan kita semua

 Semoga semua orang selalu berada dalam ajaran Buddha. Kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk menerima ajaran Buddha. Janganlah menyia-nyiakan kehidupan kita. Masyarakat adalah tempat yang baik untuk melatih diri. Jika manusia tidak berada di tengah masyarakat dan hanya hidup menyepi, dia memang bisa memahami kebenaran alam semesta, namun hanya  sebagai Pratyekabuddha. Dia hanya mencerahkan diri sendiri dan belum dapat mencapai penerangan sempurna. Jadi, dalam Sutra Bunga Teratai dikatakan, hidup menyepi bagaikan memutus benih Buddha, karena hanya berlatih untuk diri sendiri dan tidak berbagi dengan orang lain. Metode seperti ini juga tidak benar

 Jadi, kita harus menggenggam waktu saat ini bukan hanya berlatih bagi diri sendiri, melainkan memberi manfaat bagi dunia. Benih Buddha Mungkin kita pernah bersama dengan Buddha berada di persamuhan Sutra Bunga Teratai. Buddha membabarkan Dharma, dan kita mendengarkan. Mungkin dalam persamuhan Dharma itu, saat Buddha meramalkan kebuddhaan para murid-Nya, kita juga ikut diramalkan. Ini mungkin saja. Mungkin karena kita telah bertekad, maka kita banyak bertemu orang yang menderita

 Ini juga mungkin. Jadi, kita hendaknya memiliki sikap menghargai untuk terjun ke tengah masyarakat dan bersumbangsih dengan sungguh-sungguh. Meski kehidupan penuh penderitaan dan kerisauan, kita tetap harus sadar. Kita berada pada tingkatan makhluk awam. Berhubung masih merupakan makhluk awam, maka yang kita hadapi setiap hari adalah penderitaan dan kerisauan

 Kerisauan ini timbul dari pikiran sendiri. Meski telah mendengar banyak Dharma, banyak orang masih memiliki ego sangat kuat, masih merasa lebih hebat dari orang lain. Mereka tak mampu menaklukkan sifat-sifat ini. Ini yang disebut makhluk hidup berwatak keras. Watak keras ini harus kita taklukkan. Untuk itu, dibutuhkan usaha keras

 Jika tidak berhasil, kita pun akan merasa khawatir. Khawatir berbeda dengan risau. Kerisauan bersumber dari ego, kemelekatan, dan nafsu keinginan kita. Semua ini membawa kerisauan. Kerisauan adalah kegelapan batin, sedangkan kekhawatiran bukan seperti itu. Kekhawatiran ini berawal dari rasa tidak tega

 Misalnya, saat seseorang giat bersumbangsih, namun temperamennya masih demikian buruk. Kita menyayangkan dirinya belum juga berubah dan mengkhawatirkannya. Inilah kekhawatiran. Saudara sekalian, ini tak bisa dihindari, karena Bodhisattva adalah makhluk yang sadar, namun masih memiliki perasaan. Dengan begitu, dia baru bisa terjun ke tengah masyarakat. Akan tetapi, dia harus tetap sadar, yakni sadar saat bersumbangsih di dunia yang penuh noda batin. Inilah kesadaran. Akan tetapi, Bodhisattva masih memiliki ikatan perasaan terhadap semua makhluk

 Karena itu, kekhawatiran ini tak terhindari. Kita selalu berusaha untuk membimbing orang lain agar tidak berjalan menyimpang. Ini adalah bentuk kekhawatiran kita. Akan tetapi, kekhawatiran ini ada karena kita telah berikrar. Ini juga proses menuju kebuddhaan. Proses ini disebut Jalan Bodhisattva

 Tadi kita telah membahas perumpamaan padi. Gabah padi yang dipanen harus disisakan untuk kembali disemai. Setelah disemai, benih akan bertunas. Tunas ini kemudian ditanam dan diairi. Ia akan tumbuh menjadi padi kembali

 Kemudian padi ini dipanen dan menghasilkan gabah lagi. Begitulah, padi memiliki sebutan berbeda-beda, begitu juga Sravaka, Pratyekabuddha, Bodhisattva, dan Buddha. Buah-buah pencapaian ini diperoleh seiring waktu, tetapi benih awalnya harus tetap ada. Saudara sekalian, penjelasan saya mengenai sepuluh kediaman selesai sampai di sini

 Kebetulan dalam sepuluh kediaman ini terdapat aspek kemurnian anak kecil yang kemudian kita perinci lagi hingga pada pembahasan sepuluh tubuh Buddha. Sepuluh kediaman termasuk dalam enam praktik. Dalam praktik pelatihan menuju kebuddhaan, terdapat aspek sepuluh kediaman yang harus dilalui setahap demi setahap. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888