Sanubari Teduh – 196 – Delapan Kekeliruan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, dengan adanya perubahan iklim, pola hidup manusia juga banyak berubah. Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita untuk tanggap terhadap perubahan dan memberi ajaran sesuai kondisi yang ada. Inilah pendidikan bijaksana dari Buddha. Sayangnya, makhluk awam diliputi kekeliruan. Dalam mempelajari ajaran Buddha, adakalanya mereka melekat pada poin tertentu sehingga tidak mampu melihat lebih luas tentang inti ajaran yang Buddha berikan. Akibatnya, mereka mudah menyimpang. Karena itu, kita membahas kekeliruan. Kekeliruan yang dimaksud adalah kekeliruan makhluk awam dan praktisi Hinayana. Makhluk awam tidak memahami kebenaran, maka tentu bisa memiliki kekeliruan, sedangkan praktisi Hinayana melekat pada pelatihan diri pribadi
Jadi, mereka tidak bisa melihat lebih luas, mudah terjerumus dalam keekstreman, juga mudah jatuh dalam kekeliruan. Jadi, Delapan Kekeliruan merujuk pada kekeliruan makhluk awam dan praktisi Hinayana. Inilah kekeliruan. Makhluk awam melekat pada keberadaan, menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai kekal. Mungkinkah ada yang kekal di dunia? Jika ada, mengapa ada istilah “kemarin” dan “hari ini”? Mengapa ada “tahun lalu” dan “tahun ini”? Hari-hari terus berganti. Jika tidak, mana mungkin ada masa lalu, kini, dan masa depan? Semua ini terus berubah. Jadi, tiada sesuatu pun yang kekal. Kini kita menyebut hari masih subuh. Sebentar lagi, setelah matahari terbit, kita menyebutnya pagi hari
Selanjutnya adalah siang hari. Adanya pagi, siang, dan sore hari menunjukkan ketidakkekalan. Akan tetapi, di tengah ketidakkekalan waktu ini, segala sesuatu juga ikut berubah. Contohnya, jika kita mencabuti rumput di taman, meski jelas-jelas rumput sudah kita cabuti dengan sangat bersih, tetapi saat kita menengok kembali pada sore hari, mungkin rumput segar sudah tumbuh kembali. Segala sesuatu di alam juga senantiasa berproses dan tak hentinya berubah. Begitulah segala sesuatu di alam, apalagi tubuh kita yang terus bermetabolisme. Sejak kita kecil, tubuh kita terus bermetabolisme dan bertumbuh
Begitu pula saat kita menginjak masa muda. Tubuh terus berubah mengikuti hukum alam dan lambat laun semakin menua. Bagian mana yang kekal pada manusia? Namun, makhluk awam menganggap semua itu kekal. Akibatnya, mereka pun diliputi kemelekatan, maka mudah untuk jatuh dalam kekeliruan. Jelas-jelas dunia dipenuhi penderitaan, makhluk awam malah menganggapnya kebahagiaan. Di manakah kebahagiaan itu berada? Berhubung semuanya terus berubah dan tiada sesuatu pun yang abadi, maka tiada kebahagiaan duniawi yang nyata. Akan tetapi, makhluk awam malah menganggap sumber penderitaan sebagai kebahagiaan. Coba renungkan dengan tenang, siapa yang tidak pernah menganggap penderitaan sebagai kebahagiaan? Jelas-jelas segala sesuatu adalah “tanpa aku”, kita malah melekat pada “keakuan”. Kapankah sesungguhnya “aku” itu ada? Apa yang dapat disebut “aku”? Manusia malah melekat pada keakuan sehingga bersikap perhitungan
Karena ada “aku”, maka ada “Anda” dan “dia”. Manusia jadi membeda-bedakan. Dia menyebut diri sendiri “aku”, Anda juga menyebut diri sendiri “aku”. Jadi, sesungguhnya “aku” mana yang benar? Keakuan inilah yang dilekati makhluk awam. Karena itu, manusia sangat perhitungan dan gemar bertikai. Berikutnya, menganggap yang tidak suci sebagai suci. Saat kita menderita flu, kita harus mulai mengenakan masker karena terdapat banyak virus dan bakteri pada tubuh kita. Saat flu, bakteri sangat banyak
Begitu Anda batuk sekali saja, banyak bakteri keluar dari mulut Anda sehingga penyakit mudah menular pada orang lain. Jadi, orang yang mengasihi diri sendiri, baru dapat mengasihi orang lain. Lihatlah, jika insan Tzu Chi mengenakan masker, saya akan bertanya, “Apakah kamu sedang flu?” “Benar, saya sedang flu.” “Saya segera memakai masker agar jika saya batuk, orang lain tidak tertular.” Bayangkan, di mana sucinya tubuh kita ini? Jadi, manusia menganggap yang tidak suci sebagai suci. Begitulah makhluk awam. Sebaliknya, praktisi Hinayana selalu menganggap semuanya kosong, semuanya tidak ada
Sesungguhnya, terhadap kekosongan ini, mereka juga melekat. Jadi, mereka juga mudah menyimpang dan melekat pada kekosongan. Sesuatu yang kekal juga dianggap tidak kekal. Sesungguhnya, mengenai kekosongan, praktisi Hinayana dan makhluk awam sama-sama tidak mengerti bahwa ada eksistensi ajaib di balik kekosongan. Ada kekekalan di tengah ketidakkekalan. Berikutnya, menganggap kebahagiaan sebagai bukan kebahagiaan. Ada Dharma yang membawa kebahagiaan abadi, tetapi mereka tak dapat memahaminya. Jadi, mereka menganggap kebahagiaan sebagai bukan kebahagiaan dan “Aku” sebagai “bukan aku”. Jelas-jelas ada “Aku”, yakni “Aku” yang besar demi kepentingan semua makhluk, mereka malah melekat pada “aku” yang individualistis dan penuh kegelapan batin
Ini juga sebuah kekeliruan. Mereka juga menganggap yang suci sebagai tidak suci. Ada Dharma yang suci, tetapi mereka menganggap semua hal adalah tidak suci. Inilah Delapan Kekeliruan makhluk awam dan praktisi Hinayana. Kita tahu, praktisi Hinayana mencakup Pratyeka, Sravaka, dan lain-lain. Merekalah praktisi Hinayana. Kini kita akan menganalisis, siapa yang disebut makhluk awam? Mereka yang menganggap yang tidak kekal sebagai kekal. Mengenai hal ini, kita semua tahu, segala sesuatu di dunia adalah fenomena berkondisi
Fenomena berkondisi bersifat tidak kekal, maya, dan tidak nyata. Tiada suatu benda pun yang abadi, tetapi makhluk awam malah melekat pada kekekalan. “Ini punyaku.” Apa yang disebut fenomena berkondisi? Sesuatu yang melibatkan aktivitas. Misalnya, ada benda yang terlalu pendek, lalu ingin kita buat lebih panjang. Bisa dibuat pendek, bisa dibuat panjang, itulah ketidakkekalan. “Saya rasa benda ini terlalu kecil, saya ingin memperlebarnya
” Ini juga ketidakkekalan. Segala sesuatu di dunia yang dapat dikondisikan pasti bisa berubah. Benda yang dapat dikondisikan lewat aktivitas kita ini adalah fenomena yang tidak kekal. Begitu pula pada benda-benda yang alami. Meski rumput di tanah sudah dibersihkan, ia dapat tumbuh kembali. Saat kita menanam bunga atau pohon, kita berharap ia dapat tumbuh dan berbuah
Setelah berbuah, ia akan layu dan akan tumbuh kembali sesuai kondisi yang ada. Akan tetapi, jika kondisi tidak memungkinkan, ia tidak akan tumbuh. Jadi, tidak selamanya ia berada dalam kondisi tetap. Intinya, ia juga tidak kekal. Terlebih lagi, segala sesuatu di alam terus berubah secara alami. Lihatlah, pada tahun 2005, betapa banyak perubahan alam yang terjadi. Ada gunung yang berubah menjadi lembah
Ada sungai yang meninggi sampai melebihi daratan. Ini adalah perubahan alam. adakah yang kekal di alam ini? Berbagai masalah di masyarakat, sesungguhnya tiada yang kekal, apalagi kita sebagai manusia. Apakah “aku” ada saat bayi, saat remaja, ataukah saat tua? Tubuh kita sendiri pun terus berubah karena kita juga merupakan fenomena berkondisi yang terus berproses tanpa henti, sama seperti dunia ini. Bulan, matahari, dan bumi terus berputar. Manakah yang tetap dan kekal? Jadi, semuanya adalah tidak kekal dan bersifat maya. Akan tetapi, makhluk awam tak memahami ini
Karena itu, perselisihan terus timbul. Noda dan kegelapan batin sungguh membawa penderitaan. Ini akibat kekeliruan makhluk awam mengenai kekekalan. Kekeliruan ini membuat kita risau. Kekeliruan berikutnya adalah menganggap yang bukan kebahagiaan sebagai kebahagiaan. apakah kebahagiaan sejati di dunia? Sebagian besar kebahagiaan di dunia hanyalah ilusi dari lima nafsu keinginan. Mengenai nafsu, dikatakan bahwa ketamakan bagaikan api, nafsu keinginan bagai samudra. Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Saat sungai keinginan bergejolak, ombak lautan penderitaan akan bergelora
” Nafsu keinginan ini tak terbatas. Ada lima jenis nafsu keinginan, yakni nafsu terhadap rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, yang paling dapat menjerumuskan kita pada kekeliruan adalah lima faktor ini. Jadi, segala sesuatu di dunia ini pada dasarnya adalah maya dan tidak kekal, tetapi kita malah melekat terhadapnya. Akibatnya, kita menderita. Ini karena menganggap yang bukan kebahagiaan sebagai kebahagiaan. Kesenangan dari lima nafsu keinginan mengundang berbagai sebab penderitaan. Dalam siaran berita atau surat kabar, banyak berita utama yang mengulas tentang anak muda zaman sekarang yang telah menjadi budak kartu karena penggunaan kartu kredit kini sangat marak
Orang bisa menggunakannya di mana pun. Saat melihat barang yang disuka, mereka langsung menggesek kartu kredit agar dapat segera memiliki barang itu. Demi memuaskan nafsu keinginan sesaat, mereka menggunakan banyak kartu kredit. Mereka memiliki kartu kredit dari berbagai bank. Saat kartu kredit yang satu mencapai limit, mereka menggunakan kartu dari bank lainnya. Mereka membawa banyak kartu kredit demi memenuhi segala nafsu keinginan. Namun, utang pada akhirnya tetap harus dibayar. Bagaimana mereka membayar utang? Mereka menghalalkan segala cara. Mereka bisa merampok, mencuri, dan menipu sehingga menciptakan masalah bagi masyarakat
Semua ini akibat lima nafsu keinginan. Nafsu ini membawa benih penderitaan. Makhluk awam tak dapat memahami ini. Di tengah kekeliruan, mereka mengejar kesenangan sesaat yang cepat berlalu. Setelah itu, apa yang tersisa? Banyak orang suka bertamasya dan berwisata ke luar negeri. Ketika ditanya untuk apa, mereka berkata bahwa pemandangan di sana sangat indah. “Seperti apa?” “Pokoknya indah.” “Di mana indahnya?” “Gunungnya tinggi, airnya jernih, indah sekali.” “Di mana istimewanya?” “Saya ada mengambil foto, tetapi lupa saya bawa.” Apakah kondisinya selalu sama dengan di foto? Tidak tahu
Empat musim terus berganti. Hari ini bunga berwarna merah dan indah, mungkin saja beberapa hari kemudian, bunga yang kita sebut indah itu sudah layu. Lalu di mana letak keindahannya? Semua ini bersifat maya atau ilusif. Akan tetapi, kita sangat tamak terhadap kondisi indah yamg hanya sementara ini. Contohnya, banyak orang tamak akan makanan. Mereka makan semua makanan yang disuka. Saat makanan itu dimakan, bagaimana rasanya saat baru kita telan? “Harum sekali.” “Harum bagaimana?” “Harum seperti apa?” “Pokoknya harum
” Setelah dimakan, akan jadi apa makanan itu? Saudara sekalian, keesokan harinya, kotoran yang keluar dari tubuh kita adalah makanan yang kita makan itu. Sesungguhnya, untuk apa mengumbar nafsu makan sesaat? Kenikmatan pun hanya berlangsung sesaat. Jadi, inilah yang disebut maya, bersifat sementara dan tidak nyata. Kita menganggap semua ini kebahagiaan. Kehidupan seperti ini sungguh patut dikasihani. Ini karena kita menganggap yang tidak kekal sebagai kekal dan yang “bukan aku” sebagai “aku”. Saudara sekalian, mengenai “aku”, sesungguhnya di mana “aku” ini berada? Kita menyebut diri sendiri sebagai “aku”
Ini tak lain hanya sebuah kata ganti. Kata ganti ini pun tak selamanya sama. Anda menyebut diri Anda sebagai “aku”, begitu pula dengan saya. Jadi, sesungguhnya, yang “aku” adalah diri Anda ataukah diri saya ataukah diri orang lain? Orang lain juga menyebut dirinya “aku”. Jadi, dia yang “aku” ataukah saya yang “aku”? Ini sesungguhnya hanya kata ganti. Akan tetapi, manusia selalu memperhitungkan “aku” ini. Manusia menganggap yang “bukan aku” sebagai aku. Kita memiliki tubuh. Tubuh hanyalah perpaduan semu empat unsur
Kita malah menyebut tubuh ini sebagai “aku”. Sesungguhnya, tubuh kita hanyalah perpaduan semu empat unsur, tetapi tiada orang yang memahaminya. Meski kita sudah mempelajari ajaran Buddha dan saya sudah sering membahas tentang ini, tetapi banyak orang hanya berkata tahu. “Apa itu empat unsur?” “Saya tahu, yaitu tanah, air, api, angin.” Akan tetapi, kita hanya tahu istilahnya saja, belum dapat memahami kebenaran di dalamnya. Karena belum memahami dengan sepenuh hati, maka kita menganggap yang “bukan aku” sebagai “aku”. Kita tidak ingat akan perpaduan empat unsur dan bahwa sesungguhnya tiada “aku” yang sejati. Makhluk awam tak memiliki “aku” yang sejati
Masing-masing dari empat unsur juga memiliki nama sendiri. Jadi, kita harus lebih memahami bahwa dalam hidup ini tiada “aku” yang sejati. Jadi, “aku” tak bisa digenggam. Kapan pun, diri kita selalu berubah dan berproses. Tidak satu saat pun diri ini tetap tak berubah. Berikutnya adalah menganggap yang tidak suci sebagai suci. Seberapa sucikah diri kita? Sedikit pun tidak suci. Tadi kita sudah membahas bahwa sembilan lubang pada tubuh selalu mengeluarkan kotoran
Saat batuk, kita mengeluarkan dahak. Bayangkan, yang keluar dari mulut kita saja juga tidak bersih. Begitu kita batuk, banyak bakteri keluar bersama batuk itu. Apanya yang bersih? Benar-benar tidak bersih. Belum lagi hal-hal kotor lainnya. Lihatlah para relawan Tzu Chi. Saat melakukan kunjungan kasih, yang kita lihat adalah lansia, orang sakit, dan orang yang hidup sebatang kara
Selain tubuh mereka kotor, tempat tinggal mereka juga penuh kotoran manusia. Semua kotoran itu berasal dari tubuh manusia. Jadi, semua itu sungguh tidak bersih. Inilah yang disebut menganggap suci yang tidak suci. Kita mengira tubuh kita dan tubuh orang lain sangat bersih. Karena itu, ada hubungan asmara antara pria dan wanita. Sesungguhnya, apa yang dikejar? Nafsu keinginan akan kecantikan bagaikan api yang membakar diri. Di dunia ini, betapa banyak orang yang karena suka terhadap lawan jenis, lalu menghalalkan segala cara
Ini juga membawa penderitaan. Mereka tidak sadar bahwa lawan jenis Contohnya, kisah Matangi yang mengejar Ananda. Ananda pun hampir jatuh ke dalam pelukan Matangi. Beruntung, Sariputra dan Bodhisattva Manjusri segera muncul dan membawanya kembali menghadap Buddha. Buddha meminta Ananda untuk segera mandi dan membersihkan tubuh. Matangi kemudian datang untuk meminta Buddha memberikan Ananda. “Bukankah Buddha sangat penuh welas asih?” “Aku mencintai murid-Mu, Ananda.” “Berikan dia padaku
” Buddha berkata, “Benarkah engkau mencintai Ananda?” Buddha membawa air bekas mandi Ananda ke hadapan Matangi, lalu berkata, “Jika engkau mencintai Ananda, maka minumlah dulu air ini.” Matangi berkata, “Yang Dijunjung, air ini begitu kotor, mengapa aku disuruh meminumnya?” Buddha menjawab, “Bukankah engkau mencintai Ananda?” “Air bekas mandinya saja engkau anggap kotor, bagaimana dengan kotoran yang keluar dari sembilan lubang tubuhnya?” “Apa yang sesungguhnya engkau cintai?” Matangi pun sadar. Jadi, makhluk awam berkebijaksanaan tumpul. Kita tidak kunjung sadar. Begitu jatuh cinta, orang langsung terus mengejar. Ini bagai api yang membakar tubuh. Jika kita berkebijaksanaan tajam sedikit, maka kita akan seperti Matangi yang dapat segera sadar setelah dibimbing Buddha hanya dengan diminta meminum air bekas mandi
Dia langsung sadar, meninggalkan keduniawian, dan melatih diri. Inilah menganggap yang tidak suci sebagai suci. Saudara sekalian, kita harus merenungkan tubuh kita ini. Kita harus merenungkan seperti apa tubuh kita sesungguhnya. Apanya yang perlu kita lekati? Jadi, Saudara sekalian, berhubung kita telah bertekad melatih diri di dalam ajaran Buddha, maka kita harus selalu bersungguh hati.