Sanubari Teduh – 203 – Delapan Penderitaan Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan manusia sungguh tidak kekal dan penuh dengan penderitaan. Segala sesuatu pada akhirnya akan kembali pada kekosongan. Dimulai dari lahir, tua, sakit, akhirnya kita akan mati
Derita kematian sangat berat. Penderitaan ini bukan hanya pada saat empat unsur tubuh kita akan terurai, tetapi juga pada saat batin kita merasakan ketakutan dan tidak rela. Batin kita penuh pergumulan karena tidak rela melepas. Ini sungguh membawa derita. Dalam keseharian, kita harus mengetahui dan memahami hukum alam bahwa ada kelahiran, pasti ada kematian. Ini yang berlaku pada tubuh manusia. Segala sesuatu yang timbul di alam semesta, pasti akan lenyap. Segala sesuatu yang terbentuk, pasti akan rusak
Semua ini adalah hukum alam dan prinsip kebenaran yang sudah pasti. Setelah memahami semua ini dengan jelas, maka kita jangan perhitungan saat menghadapi kematian, kerusakan, kehancuran, ataupun kelenyapan. Kita harus melapangkan hati dan bersungguh hati dalam menjalani hidup ini. Saat suatu benda terbentuk, kita harus memanfaatkannya dan menghargainya dengan baik agar benda tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Contohnya sebilah pisau. Di tangan dokter, pisau bedah sangat berguna untuk menyelamatkan nyawa pasien. Di tangan juru masak, pisau sangat berguna untuk memasak makanan yang lezat
Sebilah pisau yang sama, jika berada di tangan orang yang berpikiran menyimpang, maka ia dapat melukai orang. Pada saat baru terbentuk, Pada saat baru terbentuk, pisau itu sangat tajam. Setelah terbentuk, seiring waktu berlalu, pisau itu menjadi tumpul, juga akan rusak suatu hari nanti. Namun, selama masa di antara pembentukan dan kerusakan, bagaimanakah cara kita menggunakannya? Semua benda materi mengalami fase pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran. Tubuh manusia juga mengalami proses lahir, tumbuh besar, tua, sakit, dan mati. Yang terpenting dari semua proses itu adalah semasa hidup di antara kelahiran dan kematian. Tak peduli berapa lama masa hidup ini, kita harus bersungguh hati untuk memanfaatkan tubuh kita pada kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Ada ungkapan berbunyi, “Tubuh adalah sarana untuk melatih diri
” Dengan adanya tubuh ini, barulah kita memiliki ladang pelatihan. Ladang pelatihan yang dimaksud adalah ladang pelatihan batin yang bisa membuat kita memahami segala kondisi di dunia ini. Melalui ajaran yang Buddha babarkan, kita bisa merefleksikan prinsip kebenaran dengan segala kondisi luar. Kita harus memiliki kebenaran di dalam hati dan mempraktikkannya dalam keseharian. Jadi, kita harus menggunakan tubuh kita untuk melihat kondisi luar, lalu menyesuaikannya dengan ajaran Buddha agar kita memiliki kesempatan untuk melatih diri. Berhubung telah memiliki tubuh ini, kita harus memanfaatkannya dengan baik. Jika kita bisa memanfaatkan tubuh ini dengan baik dan hidup sesuai dengan hukum alam, maka kematian tidaklah menakutkan karena tiada yang membuat kita terbelenggu. Kita pasti bisa merasa tenang dan damai
Di Rumah Sakit Tzu Chi, kita sering melihat orang yang tidak kita kenal, ada pula orang yang kita kenal. Terkadang, kita juga melihat bhiksuni dari Griya Jing Si. Terkadang, kita juga melihat bhiksuni dari Griya Jing Si. Contohnya Bhiksuni De En. Lihatlah, meski usia beliau belum lanjut dan kita memiliki rumah sakit sendiri, tetapi apa yang bisa kita lakukan? Saat hukum alam bekerja, beliau tetap tenang dan damai. Saat harus dirawat di RS, dia menurut. Beliau sepertinya bisa merelakan dan melepas semuanya hingga ajal menjemput. Lihat, inilah hidup yang sesuai hukum alam
Begitu pula dengan anggota komite kita. Betapa banyak anggota komite kita yang meninggal dunia. Daripada berkata kehilangan, lebih baik kita berkata berapa banyak dari mereka yang sudah kembali. Mereka memiliki tekad pelatihan diri yang sangat kokoh. Mereka bisa menghadapi penyakit dengan hati yang damai. Contohnya Jing Rong yang pada saat itu dalam kondisi koma
Saat saya menjenguknya, dia tidak sadarkan diri. Dokter berkata bahwa mungkin Jing Rong tidak bisa siuman lagi. Saya berdiri di sisi ranjang untuk memanggilnya, tetapi dia tetap tidur dengan tenang. Beberapa hari kemudian, saya kembali menjenguknya di rumah sakit. Dia sudah siuman. Dia duduk di sana sambil menunggu kedatangan saya. Saat melihat saya, dia tersenyum dan berkata dengan pelan kepada saya, “Master begitu sibuk, tetapi masih datang menjenguk saya.” Saya juga menjawabnya dengan ringan seraya menepuknya, “Bukan baru hari ini saya datang menjengukmu
” “Saya sudah datang beberapa hari lalu, tetapi kamu tidak memedulikan saya.” “Kamu hanya terus tidur.” Dia menjawab, “Master begitu sibuk hingga tak punya waktu untuk tidur.” “Saya wakili Master untuk tidur.” Dia masih bercanda dengan saya. Saya berkata padanya, “Kamu sudah tahu, bukan?” “Saya sudah tahu.” “Jika saya pergi, saya akan cepat kembali
” Saya berkata, “Ya, saya menunggumu.” Kami tidak merasa pembicaraan ini menakutkan. Sehari atau dua hari kemudian, semua relawan Tzu Chi di Hualien pergi menjenguknya di rumah sakit. Dia melihat mereka satu per satu, lalu berkata, “Terima kasih sudah datang menjenguk saya.” Beberapa saat kemudian, dia melambaikan tangan dan berkata, “Sampai jumpa.” Dia lalu meninggal dengan damai. Jadi, apakah mati begitu menderita? Asalkan bisa merelakan, melepas, dan tidak terjerat belenggu, maka kita akan merasa tenang dan damai. Meski selama menderita penyakit, dia merasakan penderitaan fisik, tetapi dia bisa menyelaraskan pikirannya. Setiap kali dijenguk, dia selalu membuat orang merasa tenang
Saat menjenguknya, kita bagai mendengar pembabaran Dharma. Dia menampilkan wujud penyakit agar orang-orang tahu bahwa tubuh bisa didera penyakit. Jadi, meski menampilkan wujud penyakit, dia tidak menampilkan wujud penderitaan. Dia menampilkan wujud penyakit untuk membabarkan Dharma karena dia merasa sangat tenang dan damai. Saat jalinan jodohnya berakhir, dia melambaikan tangan sambil mengucapkan sampai jumpa. Inilah akhir dari jalinan jodohnya. Jodohnya di sini berakhir, sedangkan jodohnya untuk kehidupan mendatang matang
Jadi, dia meninggalkan kehidupan sekarang dan menuju kehidupan berikutnya. Dia pasti akan kembali lagi ke sini. Jika kita bisa memahami kebenaran ini, maka tidak akan ada derita kematian. Namun, Buddha tetap mengajarkan kepada kita tentang derita kematian karena kita semua adalah makhluk awam. Orang zaman dahulu berkata, “Segala sesuatu harus kita pelajari, kecuali kematian.” Namun, saya selalu berkata, “Kita harus mempelajari semuanya, termasuk kematian.” “Kita boleh tidak mempelajari yang lain, tetapi kematian harus dipelajari.” Kita harus belajar memanfaatkan masa hidup di antara kelahiran dan kematian serta belajar bagaimana menghadapi akhir hidup kita. Ini adalah hal penting dalam hidup kita. Karena itu, kita harus bersungguh hati. Bagi makhluk awam pada umumnya, derita kematian terbagi berapa jenis? Terbagi dua jenis
Yang pertama adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit. Karena menderita penyakit fisik dan sudah lanjut usia, maka seseorang meninggal dunia. Usia adalah jangka waktu. Orang zaman dahulu berkata, “Sebelum dilahirkan, hari kematian kita sudah ditentukan.” Jadi, berapa panjang waktu kita dalam hidup ini? Begitu waktu kita habis, saat itulah usia kita berakhir. Jadi, saat menutup usia, batin kita harus damai. Begitu ajal tiba, kita harus menerimanya dengan hati yang damai. Kita tidak mengetahui seberapa panjang usia kehidupan kita. Saya pernah menerima sebuah amplop dari seorang relawan rumah sakit kita. dari seorang relawan rumah sakit kita. Dia berkata kepada saya, “Master, seorang lansia berusia 105 tahun akan mengikuti pelatihan
” “Ini data-datanya.” Lansia yang berusia 105 tahun ini menyatakan berguru kepada saya. Dia tahu bahwa untuk menjadi murid saya, seseorang harus menjadi anggota komite dan berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi untuk memberi manfaat bagi umat manusia. Lansia itu sudah berusia 105 tahun. Suatu kali, karena tidak hati-hati, dia terjatuh dan mengalami patah tulang kaki. Dia pun dilarikan ke rumah sakit kita. Dokter di rumah sakit kita yang memiliki keterampilan tinggi segera menjalankan operasi penyambungan tulang untuknya. Beberapa hari kemudian, dia sudah bisa kembali berjalan. Saat disarankan untuk keluar rumah sakit, dia berkata, “Tidak, saya harus menunggu Master datang melihat saya, baru saya mau ke luar rumah sakit.” Saat itu, saya sedang melakukan perjalanan. Dia selalu berniat untuk datang bertemu saya, tetapi selalu tak menemukan kesempatan
Akibat patah tulang kali itu, dia dirawat di RS Tzu Chi Hualien yang dekat dengan tempat saya, hanya saja saat itu, saya sedang melakukan perjalanan. Mengetahui bahwa saya akan segera kembali, dia pun bermanja-manja. Dia berkata, “Saya harus menunggu hingga Master kembali.” “Setelah melihat Master, baru saya mau keluar rumah sakit.” Karena itu, saat kembali, saya pun pergi menemuinya. Dia berkata, “Master, apakah Master akan tidak menyukai saya?” “Saya ingin menjadi murid Master.” Saya berkata, “Bagus sekali.” Hari itu, saat berada di kamar pasien, saya berkata padanya, “Baik, kamu lengkapi data-datamu.” “Saya akan menerimamu dan memberimu sebuah nama Dharma
” “Dengan begitu, kamu sudah menjadi murid saya.” Orang yang berada di sebelah berkata, “Jika ingin menjadi murid Master, kamu harus menjadi anggota komite.” Dia bertanya, “Bolehkah?” “Baiklah.” Demikianlah kami membuat janji. Menantunya berkata, “Jika ibu mertua saya menjadi anggota komite, saya akan mendampinginya.” Jadi, anggota komite kita bertambah dua orang. Hari itu, relawan rumah sakit kita berkata, “Relawan lansia itu sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan.” Lihatlah, dia yang sudah berusia 105 tahun tetap mengikuti pelatihan. Jadi, usia bukanlah masalah. Selama ajal belum tiba, asalkan bersedia membangun tekad, dia masih berkesempatan menapaki Jalan Bodhisattva dan melatih diri. Jadi, tubuh adalah sarana untuk melatih diri
Usia kehidupannya masih panjang dan belum berakhir. Dia masih sangat pandai dan tidak linglung. Dia masih bisa memanfaatkan tubuhnya dan usia kehidupannya. Dia masih memanfaatkan waktunya untuk berkontribusi. Inilah usia kehidupan. Saat usia berakhir, baru kita akan mati. Selama usia belum berakhir, maka kita tidak akan mati. Selama usia belum berakhir, maka kita tidak akan mati
Inilah jenis kematian yang pertama, yakni disebabkan oleh faktor alami. Tak peduli berapa lama usia kehidupan kita, saat baru terlahir ke dunia ini, kematian kita sudah ditentukan. kematian kita sudah ditentukan. Berikutnya adalah faktor luar. Yang pertama adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit, berikutnyaadalah kematian yang disebabkan faktor luar. Kondisi luar meliputi bencana air, api, jatuh ke jurang, pertikaian antarmanusia, dan lain-lain. pertikaian antarmanusia, dan lain-lain. Kematian ini bukan karena penyakit atau usia lanjut, tetapi akibat bencana yang terjadi tiba-tiba. Karena itu, saya sering berkata bahwa entah ketidakkekalan atau hari esok yang datang dahulu. Ketidakkekalan yang datang tiba-tiba Ketidakkekalan yang datang tiba-tiba dapat mengancam nyawa kita
Tubuh dan nyawa kita bisa terancam bahaya. Kalian mungkin masih ingat pada tanggal 26 Desember 2004, bencana tsunami yang berpusat di Aceh berdampak pada 12 negara. Di negara yang berbeda-beda, terjadi satu bencana yang sama. Di dalam satu hari itu berapa banyak nyawa orang yang melayang. Di tempat yang berbeda-beda, banyak orang yang meninggal pada hari yang sama akibat bencana itu. Pascabencana itu, kita menggerakkan insan Tzu Chi untuk menggalang hati di seluruh dunia. Kita berharap semua orang dapat lebih waspada dan dapat melihat lebih luas. Di negara mana pun mereka tinggal, kita berharap mereka dapat melihat bencana yang terjadi. Negara yang berbeda-beda mengalami bencana yang begitu besar. Kita berharap semua orang dapat membangkitkan kesadaran lewat bencana ini membangkitkan kesadaran lewat bencana ini serta mengembangkan cinta kasih yang murni
Pada saat itu, kita telah melihat kebajikan hakiki manusia. Begitu ada orang yang mengingatkan dan menggerakkan, insan Tzu Chi di seluruh dunia langsung bergerak menggalang dana. Seterik apa pun matahari atau sedingin apa pun salju yang turun, mereka tetap membawa kotak dana untuk menggalang dana di negara masing-masing. Kegiatan penggalangan dana ini juga merupakan ladang pelatihan diri. Kita selalu mengucapkan terima kasih dan mengingatkan tentang ketidakkekalan. Ketidakkekalan ini harus kita dengungkan kepada orang banyak. Saat orang lain tergerak, maka berapa pun dana yang mereka berikan, kita selalu membungkuk dan berterima kasih. Jadi, ini adalah ladang pelatihan bersyukur, juga merupakan ladang pelatihan yang hidup, tempat semua orang dapat membabarkan Dharma dan menggugah orang lain. Jadi, inilah kondisinya saat bencana atau musibah terjadi di dunia. Jika kita dapat menggenggam momen ini, maka ia akan menjadi sarana pelatihan diri dan metode untuk membimbing orang
Jadi, kehidupan tidaklah kekal. Mengenai tubuh ini saja, banyak prinsip kebenaran yang tak habis dibahas. Jadi, dalam kehidupan ini, kita harus berusaha melihat kondisi dengan jelas baik kondisi luar maupun kondisi batin kita. Setelah mengenal ajaran Buddha dengan jelas, kita harus sungguh-sungguh menerimanya. Lewat kondisi luar yang dihadapi, kita dapat membuktikan kebenaran ajaran ini. Jadi, kita harus sangat menghargai ajaran Buddha. Kita harus mempraktikkannya dalam keseharian kita
Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.