Sanubari Teduh – 210 – Sembilan Gangguan Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari, sejak pagi hingga malam, dalam segala aktivitas kita, manakah yang tidak menanam benih karma? Dengan adanya benih, kondisi pun akan terbentuk. Dengan begitu, buah dan akibat pun akan muncul
Adanya tembok dan pembatas Disebabkan karena kita butuh ruang untuk berteduh dari angin dan hujan. Disebabkan karena kebutuhan ruang yang lebih, kini kita memiliki Aula Avalokitesvara untuk semua orang berkumpul. Disebabkan banyaknya orang yang berkumpul, kita harus memperluas ruangan. Disebabkan adanya ruang yang begitu besar, kini semua orang dapat duduk berkumpul. Bukankah semuanya ini memiliki “sebab”? Sebentar lagi kalian akan mendengar ceramah saya. Setelah itu, kebaktian pagi pun berakhir. Setelah kebaktian usai, kita semua akan bersiap untuk sarapan. Mengapa kita harus sarapan? Karena setiap hari tubuh kita membutuhkan nutrisi. Jadi, untuk menjaga kesehatan tubuh, maka kita harus sarapan. Jadi, ada “karena” dan “maka”, ada sebab, ada akibat. Bukankah aktivitas kita seharian seperti ini? Benar, setiap hari seperti ini, Setiap tahun seperti ini, seumur hidup ini seperti ini, seumur hidup ini seperti ini, bahkan kehidupan lampau juga seperti ini
Semuanya tak lepas dari “karena” dan “maka”. Inilah yang disebut sebab akibat. Kehidupan kita sekarang pasti berhubungan Dengan kehidupan masa lalu kita. Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita tentang hukum sebab akibat. Inilah kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Baik pikiran, tindakan, maupun ucapan kita, semuanya pasti berhubungan dengan kondisi luar, entah itu orang, hal, atau benda materi. Karena seseorang, suatu masalah, atau suatu benda, maka pikiran kita pun bergejolak. “Karena” dan “maka” ini terus membentuk siklus yang tak berujung. Karena itu, kita harus memahami hukum sebab akibat. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang bertanya bukankah hukum karma adalah takhayul. Sama sekali bukan takhayul
Ia sangat ilmiah. Alangkah baiknya jika setiap orang dapat menggunakan ajaran Buddha dalam keseharian dan merenungkannya dengan sungguh-sungguh. Kita harus tahu bahwa ajaran Buddha tak lepas dari hukum sebab akibat. Ilmu pengetahuan juga tak lepas dari hukum sebab akibat. Filosofi juga tak bisa lepas dari hukum sebab akibat. Ilmu psikologi juga demikian, matematika juga demikian. Bidang ilmu apa pun tidak dapat menyangkal hukum sebab akibat. tidak dapat menyangkal hukum sebab akibat. Segala penelitian dan percobaan bertujuan untuk mencari penyebab mengapa suatu penelitian tidak berhasil atau mengapa ia bisa berhasil. Faktor apakah yang menyebabkan penelitian itu membuahkan penemuan? Jadi, inilah yang disebut sebab akibat. Pada masa awal Tzu Chi didirikan, kita ingin membimbing yang kaya untuk membantu yang kurang mampu
== Namun, pada masa itu, bagaimana kita melakukannya? Sebagian besar warga Taiwan hidup kekurangan. Jika kita meminta mereka bersumbangsih, mereka mungkin berpikir kehidupan mereka akan terpengaruh. Karena itu, kita menggunakan sebuah metode terampil dengan berkata, “Tanpa memengaruhi kehidupan, kita tetap bisa membantu orang.” “Mengapa kita harus membantu orang?” “Karena perbuatan baik membuahkan berkah.” “Tanpa memengaruhi kehidupan kita, “Tanpa memengaruhi kehidupan kita, kita masih bisa menciptakan berkah.” Bisa berbuat baik setiap hari adalah keberuntungan setiap keluarga. Ini yang disebut benih baik dan buah baik. Ini disebut menanam benih baik. Orang-orang bisa memahami penjelasan kita ini dengan mudah. Mereka juga ingin menanam benih baik tanpa memengaruhi kehidupan mereka
Karena itu, 30 ibu rumah tangga menjadi langkah awal berdirinya Tzu Chi. Lalu, ada orang berpikir mereka seharusnya mengajak lebih banyak orang untuk berbuat baik. Saat ada orang yang mengajak orang dan mengumpulkan donasi, saya akan berkata kepada mereka, “Kalian bisa menjadi anggota komite.” Saat itu, kita membutuhkan lebih banyak orang untuk menghimpun kekuatan agar kita memiliki kekuatan untuk membantu orang. Asalkan mereka bisa mengajak orang untuk berbuat baik, maka itu disebut menanam benih baik. Jika mereka punya niat seperti itu, saya berkata kepada mereka, “Mari, jadilah anggota komite.” Perlahan-lahan, karena orangnya semakin lama semakin banyak, kita mulai membuat peraturan. Di dalam Buddhisme, peraturan disebut sebagai sila. Ada orang yang bertanya kepada saya bagaimana saya mengurus Tzu Chi dengan begitu banyak relawan di seluruh dunia. Saya menjawab, “Cinta kasih sebagai pola manajemen
” “Apa sistem yang Anda terapkan untuk mereka?” “Sila sebagai sistem.” Kita menerapkan sila sebagai sistem. Namun, pada masa awal, belum ada sistem seperti ini. Pada masa-masa awal, jika ada orang yang ingin bergabung, jika ada orang yang ingin bergabung, mereka sudah langsung disebut insan Tzu Chi. Jadi, anggota komite pada masa itu Jadi, anggota komite pada masa itu tidak perlu mengikuti pelatihan. Mereka hanya berkata, “Saya umat Buddha dan tahu hukum karma.” Mereka mengajak orang lain untuk bersama-sama menciptakan berkah. Karena itu, saat melihat orang bertemu masalah, mereka akan berkata, “Ini hukum karma.” Adakalanya, keluarga mereka juga berniat untuk membimbing orang melakukan kebaikan, tetapi mereka tak tahu caranya. Meski anggota keluarga mereka juga bersedia melakukan kebaikan, tetapi pola hidup mereka belum tentu teratur. Saat melihat keluarga orang lain Saat melihat keluarga orang lain bertemu masalah, mereka akan pergi menasihatinya
Jika orang yang dinasihati tidak mendengar, mereka akan memarahi keluarga mereka setelah pulang. Mereka akan berkata, “Semua gara-gara kalian.” “Kalian meminta saya menasihati orang, akhirnya mereka tidak mau dengar.” “Mereka tidak mau dengar nasihat saya.” Sesungguhnya, mereka sendiri juga tidak memahami prinsip. Setelah pulang ke rumah, mereka sendiri masih bertengkar dengan keluarga, tetapi malah mengatakan orang lain hidup tidak sesuai peraturan. Inilah keluarga anggota komite di masa awal. Pada masa itu, saya masih tidak bisa membuat mereka memahami hukum sebab akibat. Inilah yang terjadi di masa awal
Secara perlahan-lahan, kita terus membangun dan membimbing para relawan dalam organisasi. Beberapa tahun kemudian, kita mulai membangun sistem kita. Perlahan-lahan, mulai ada sekelompok umat Buddha yang bisa disebut penggemar teori Buddhis melihat sistem Tzu Chi dan sumbangsih Tzu Chi terhadap masyarakat. Mereka sangat gembira melihatnya dan berharap bisa bergabung dengan Tzu Chi. dan berharap bisa bergabung dengan Tzu Chi. Para umat Buddha ini juga selalu berbuat baik. Adakalanya, saat berkumpul, mereka akan membahas tentang Dharma
Setelah membahas tentang Dharma, mereka akan pergi menggalang dana. Setelah menyetorkan dana amal, mereka akan pergi melepaskan makhluk hidup. mereka akan pergi melepaskan makhluk hidup. Setelah itu, mereka akan pergi ke restoran yang menjual hasil laut. Salah satu anggota komite kita berkata, “Master bilang kita harus melindungi makhluk hidup.” “Kita jangan membunuh makhluk hidup.” Mereka berkata, “Ya.” “Karena itu, tadi kita melepaskan makhluk hidup.” “Melepaskan makhluk hidup memang benar, tetapi kita juga harus melindungi makhluk hidup
” tetapi kita juga harus melindungi makhluk hidup.” Mereka berkata, “Bukan.” “Setelah melepaskan makhluk hidup, kita harus mengadakan upacara penyeberangan untuk mereka.” “Kita mengadakan upacara penyeberangan di restoran penjual hasil laut agar hewan-hewan ini bisa terlahir kembali.” Inilah prinsip yang mereka pegang. Lalu, mereka mulai memesan minuman keras. Anggota komite kita kembali berkata, “Ini tidak benar.” “Master bilang tidak boleh minum minuman keras.” Mereka berkata, “Kata siapa?” “Arak ini adalah Sup Prajna
” “Kami meminum Sup Prajna untuk membuka kebijaksanaan.” Lalu mereka mulai merokok. Anggota komite kita kembali berkata kepada mereka, Anggota komite kita kembali berkata kepada mereka, “Kita tak boleh begitu.” “Master berkata bahwa kita tak boleh merokok.” Mereka berkata, “Mengapa kalian tak paham apa pun?” “Kalian hanya tahu hukum sebab akibat.” “Saya bilang padamu, pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu.” “Asap rokok bagaikan awam dupa harum.” “Semuanya bergantung pada pikiran
” “Minum minuman keras sama dengan minum Sup Prajna.” “Jika di dalam hatimu berpikir ia adalah Sup Prajna, maka ia adalah Sup Prajna.” “Setelah meminumnya, kebijaksanaan kita akan terbangkitkan.” “Saat memakan hasil laut, kita harus berpikir sedang mengadakan upacara penyeberangan untuk mereka agar mereka cepat terlahir kembali.” “Itu berarti kita tengah menyeberangkan semua makhluk.” Inilah ajaran Buddha yang mereka maksud. Inilah ajaran Buddha yang mereka maksud. Ini terjadi puluhan tahun lalu. Sebagian anggota komite kita yang baru mengenal ajaran Buddha pada masa itu sangat menghormati orang yang bisa membabarkan Dharma
Mereka sangat menghormati orang-orang itu. Di satu sisi, mereka ingin memahami hukum sebab akibat, tetapi tidak begitu paham ajaran Buddha. Mereka sering bertemu rintangan. Sesungguhnya, kita harus tahu bahwa ini disebut dengan rintangan pengetahuan. Orang-orang itu tahu banyak tentang ajaran Buddha, tetapi tidak benar-benar memahami hukum sebab akibat. Selain merintangi diri sendiri, mereka juga merintangi orang lain. Inilah makhluk hidup. Mungkin dari kehidupan ke kehidupan, kita punya keinginan untuk mempelajari ajaran Buddha, tetapi kita tak begitu paham. Kita ingin menaati hukum sebab akibat, tetapi kita hanya tahu membicarakan orang lain. Kita tidak paham bahwa setiap benih yang kita tanam dan jalinan jodoh yang kita jalin akan membuahkan hasil
Kita tidak memahaminya. Mata kita hanya bisa melihat orang lain dan tangan kita hanya bisa menunjuk orang lain. Ini tidaklah benar. Ini akan menciptakan banyak sekali noda batin. Sesungguhnya, Buddha sering mengajarkan kepada kita bahkan hukum sebab akibat tak terhindarkan. Hukum sebab akibat sangat menakutkan. Sebagaimana benih yang ditanam, sebagaimana jalinan jodoh yang dijalin, demikianlah buah yang akan diterima. Meski sudah mencapai kebuddhaan, Buddha tetap mengalami Sembilan Gangguan Buddha tetap mengalami Sembilan Gangguan atau yang disebut Sembilan Kesulitan, Sembilan Bencana, atau Sembilan Buah Karma Buruk. Buddha selalu bersikap terbuka. Saat bertemu suatu masalah, Beliau akan berkata pada orang-orang, “Pada kehidupan lalu, Aku melakukan hal seperti ini, maka pada kehidupan ini, Aku menerima buah karma ini
” “Aku tetap sukacita, tenang, dan damai.” Sebelumnya kita sudah membahas bagaimana Sundari memfitnah Buddha. Itu adalah sisa karma buruk yang harus Beliau terima. Itu adalah sisa karma buruk yang harus Beliau terima. Berikutnya kita akan mengulas kisah tentang kaki Buddha yang pernah tertusuk ranting. kaki Buddha yang pernah tertusuk ranting. kaki Buddha yang pernah tertusuk ranting. Meski hanya tertusuk ranting kecil, tetapi luka itu membuat Buddha kesakitan. Tubuh Buddha merasa tidak sehat untuk jangka waktu yang cukup panjang
Banyak orang yang menjenguk dan bertanya kepada Buddha. Buddha pun menggunakan kondisi fisik-Nya untuk mengajari orang-orang tentang hukum sebab akibat. Buddha menceritakan tentang kisah-Nya saat berada di Venuvana, Rajagrha, Beliau pergi ke kota untuk melakukan pindapatra dan harus melewati sebuah hutan. Tiba-tiba, ranting pohon beterbangan dari empat sisi. Saat melihat begitu banyak ranting terbang ke arah-Nya, tiba-tiba muncul sebuah pikiran dalam diri Buddha, “Ini adalah buah karma dari kehidupan lampau.” “Aku harus menerimanya.” Karena itu, Beliau tidak menghindar dan tetap berjalan maju. Pada saat itu, para bhiksu yang mengikuti di belakang Buddha melihat banyak ranting berterbangan ke arah Buddha, tetapi Beliau sama sekali tidak menghindar. Para bhiksu merasa sangat ketakutan. Salah satu ranting menusuk kulit di jari kaki Buddha hingga tembus
Saat melihat Buddha terluka, Sariputra dan bhiksu lainnya segera membantu Buddha mengobati luka. Meski tusukan itu hanya mengenai Meski tusukan itu hanya mengenai kulit bagian jari kaki dan segera diberi obat, dan segera diberi obat, tetapi luka itu terus meradang. tetapi luka itu terus meradang. Lalu, Buddha mengalami demam. Di masa sekarang mungkin disebut tetanus. Buddha tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Pada masa itu, para murid-Nya merasa sangat khawatir. Banyak orang yang datang menjenguk-Nya. Akhirnya, setelah siuman, Buddha menceritakan mengapa hal seperti ini bisa terjadi. “Ranting-ranting itu bisa terbang dari segala penjuru pasti ada sebabnya.” “Itu adalah buah karma-Ku.” “Pada kehidupan berkalpa-kalpa yang lalu, “Pada kehidupan berkalpa-kalpa yang lalu, “Pada kehidupan berkalpa-kalpa yang lalu, ada dua kelompok saudagar
” ada dua kelompok saudagar.” Dua kelompok saudagar ini ingin masuk ke dasar laut untuk mencari permata. Orang pada zaman dahulu mengandalkan tanah dan laut untuk mencari nafkah. Banyak pedagang yang harus mengarungi sungai atau laut. Saat itu, dua kelompok saudagar ini bersama-sama mengarungi laut untuk pergi berdagang. Pada saat itu, air laut mulai pasang. Pada saat itu, air laut mulai pasang. Semua orang berebut untuk menyeberang lebih dahulu. Dua kelompok saudagar itu mulai bertengkar Dua kelompok saudagar itu mulai bertengkar demi mendapatkan perahu. Saat pertengkaran itu terjadi, pemimpin dari kelompok kedua tiba-tiba mengeluarkan sebatang tombak yang sangat panjang untuk menusuk kaki pemimpin kelompok pertama. Setelah tertusuk, kaki pemimpin kelompok pertama terus mengeluarkan darah hingga akhirnya dia meninggal dunia. Setelah itu, Setelah itu, benih karma itu terus mengikuti pemimpin kelompok kedua. Buddha berkata, “Sariputra, tahukah engkau, pemimpin kelompok kedua menusuk pemimpin kelompok pertama dengan tombak hingga kehabisan darah dan meninggal dunia
” “Benih karma itu terus mengikuti-Ku dari kehidupan ke kehidupan.” Buddha kembali berkata, “Pemimpin kelompok kedua itu adalah Aku, pemimpin kelompok pertama adalah Devadatta.” Devadatta selalu berusaha untuk melukai Buddha dan memikirkan segala cara untuk membunuh Buddha. Karena itu, saat Buddha melakukan perjalanan, saat melihat Buddha tengah melintasi hutan, saat melihat Buddha tengah melintasi hutan, dia meminta orang untuk melepaskan ranting. dia meminta orang untuk melepaskan ranting. Devadatta terus mencari masalah dengan Buddha sepanjang hidupnya. terus mencari masalah dengan Buddha sepanjang hidupnya. “Ranting-ranting itu juga dilepaskan oleh Devadatta.” “Inilah akibat jodoh yang Aku jalin dengannya pada kehidupan lampau.” “Karena jalinan jodoh ini, Aku harus menderita sekian lama.” Meski sudah mencapai kebuddhaan, Beliau tetap harus menanggung buah dari jalinan jodoh buruk-Nya
Seperti yang sering saya katakan kepada kalian, jika punya utang terhadap orang lain, kita harus segera membayarnya. Kita harus cepat membayarnya, jangan membayarnya secara pelan-pelan. Ada orang yang membayar utang dengan mencicil sehingga harus dikenai bunga. sehingga harus dikenai bunga. Kita harus segera membayar utang. Jika tidak, sisa utang yang belum lunas tetap akan dihitung hingga kehidupan mendatang. Singkat kata, kita harus merenungkan hukum sebab akibat dengan baik. kita harus merenungkan hukum sebab akibat dengan baik. Kita harus merenungkannya dengan kebijaksanaan. Janganlah kita memandang ajaran Buddha dengan menggunakan kepintaran. Kita harus menggunakan hati yang tulus dan murni untuk memahami hukum sebab akibat yang diajarkan Buddha
Jadi, di dalam keseharian kita, terdapat banyak “karena” dan “maka”. Inilah yang disebut hukum sebab akibat. Dalam menghadapi orang dan menangani masalah, kita harus ingat bahwa sepatah kata baik bisa membuat orang merasa gembira. Itu berarti kita menjalin jodoh baik dengan orang lain. Itu berarti kita menjalin jodoh baik dengan orang lain. Jika demikian, maka pada kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang, kita akan bebas rintangan. Saya tetap ingin mengatakan satu kata yang sama, yakni senantiasalah bersungguh hati.