Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 241 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 09

Saudara se-Dharma sekalian, kita terus mengulas segala hal dan masalah yang ada di dunia dan kondisi pikiran manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari sebelas jenis kegalapan batin yang disebut Sebelas Kecenderungan Umum. Sebelas jenis noda dan kegelapan batin ini menutupi batin kita. Semua ini tidak lepas dari batin dan kehidupan sehari-hari kita. Karena itu, jika sebersit kegelapan batin timbul, maka Sebelas Kecenderungan tadi akan terus mengikuti kehidupan kita. Dalam beraktivitas ataupun berdiam, saat menghadapi orang dan masalah, kegelapan batin akan tampak. Sedikit kecerobohan dapat membuat kita menciptakan karma. Jadi, kita harus mengingat hal ini. Sebelas Kecenderungan Umum mencakup Tujuh Pandangan. Mari kita mengulangnya sejenak. Yang pertama adalah pandangan salah. Apakah kalian masih ingat? Salah berarti tidak benar. Jika pemahaman kita ada sedikit menyimpang, maka kita mungkin akan jauh tersesat, mengikuti ajaran luar, atau terjebak dalam takhayul. Ini sangat menakutkan. Yang kedua adalah pandangan keakuan, yaitu selalu membatasi diri pada pandangan pribadi, menganggap diri sendiri selalu paling benar dan tidak pernah berpikir dari sudut pandang orang lain. Kemelekatan pada pandangan pribadi seperti ini Kemelekatan pada pandangan pribadi seperti ini akan membuat manusia sangat menderita. Berhubung tidak bisa lepas dari masyarakat, kita akan hidup bersama dengan banyak orang. Setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Jika setiap orang berpegang pada pandangan pribadi, maka manusia tidak akan bisa berkompromi sehingga tidak bisa bersatu. Ini akan membawa penderitaan. Jadi, jangan kita melekat pada pandangan keakuan dan hanya mementingkan diri sendiri. Jika demikian, kita akan menderita.

Sebelumnya, kita pernah mengulas tentang kehidupan orang kaya dan orang miskin. Kadang kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika tidak bisa mendapatkan, untuk apa kita melekat? Jadi, kita tidak boleh ada pandangan keakuan. Juga jangan ada pandangan eternalisme. Kehidupan pada dasarya tidak kekal. Meski hidup di alam yang sama, tetapi setiap orang menghadapi kondisi yang berbeda. Contohnya, dari segi tempat tinggal. Jika memiliki berkah, Anda akan bahagia. Tempat yang tidak memiliki berkah akan banyak bencana alam atau bencana akibat ulah manusia. Karena itu, kita jangan mengira bahwa jika orang lain seperti itu, maka saya seharusnya juga demikian. Belum tentu. Ini tergantung pada karma yang kita bawa. Jadi, kondisi tidak selamanya tetap. Kita pun tidak tahu usia kita panjang atau tidak dan apa yang akan kita temui dalam hidup. Kita tidak tahu. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. Kita bisa berlatih melapangkan hati. Dalam kondisi apa pun, kita harus dapat menyesuaikan diri, tetapi tidak keluar dari pedoman dan tetap menggenggam prinsip kita. Namun, kita tidak boleh melekat pada kekekalan. Jika kita melekat pada kekekalan, berarti menyalahi kebenaran tentang ketidakkekalan. Meski hari ini baik-baik saja, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Jadi, pada satu menit yang lalu dan satu menit yang akan datang, kondisi bisa saja berubah dengan cepat. Bagaimana jalinan jodoh kita beberapa saat ke depan, dengan siapa kita akan bertemu dan masalah apa yang akan kita hadapi, kita juga tidak tahu. Jadi, ini yang disebut ketidakkekalan. Setelah memahami ketidakkekalan, kita harus mengendalikan pikiran kita. Dalam menghadapi perubahan di saat yang akan datang ataupun ketidakkekalan pada manusia dan hal, kita harus selalu mengendalikan pikiran.

Yang keempat dari Tujuh Pandangan adalah nihilisme. Berhubung tidak boleh melekat pada eternalisme, kita juga jangan melekat pada nihilisme. Kita harus tahu bahwa setelah kehidupan ini, akan ada kehidupan berikutnya. Orang yang melekat pada nihilisme akan bertindak sesuka hati dalam hidup ini. Mereka hanya terus berfoya-foya dan terus mengejar kenikmatan. “Jika bisa perhitungan, saya akan perhitungan.” “Jika menang, saya akan sangat senang.” Mereka bisa menghalalkan segala cara. Ini berarti mereka mengabaikan hukum karma. Mereka tidak mengerti bahwa benih yang ditanam pasti akan menghasilkan buah. Mereka tidak paham bahwa segala perbuatan mendatangkan akibat bagi masa yang akan datang. Dia telah mengabaikan masa lalu dan masa depan dan melekat pada saat ini. Ini yang disebut nihilisme. Ini juga sangat menakutkan. Kehidupan seperti ini bisa penuh kejahatan. Jadi, jangan melekat pada nihilisme. Berikutnya, yang kelima adalah saat ingin mengambil sila, janganlah kita kita mengambil sila sesat dari ajaran luar. Beberapa hari lalu, kita telah membahas tentang keyakinan menyimpang yang kini memicu konflik agama dan mengakibatkan bencana akibat ulah manusia. Ini termasuk kemelekatan pada sila. Sila yang harus kita sungguh-sungguh taati adalah sila yang Buddha ajarkan kepada kita, yaitu “Hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan.” Kita tidak boleh berbuat seluruh kejahatan. Dengan menaati lima atau sepuluh sila, kita dapat menjaga hidup kita agar sesuai norma sehingga kita tidak akan merugikan orang lain. Buddha juga berharap kita melakukan segala kebajikan. Sila berguna untuk mencegah segala keburukan. Kita juga harus melakukan perbuatan baik. Buddha berharap kita bisa menjalankan sila dan mengembangkan sepuluh kebajikan. Inilah kehidupan yang benar. Jika kita dapat menjalankan sepuluh kebajikan, maka masyarakat kita akan damai sejahtera. Inilah sila yang benar.

Namun, ada orang yang mempelajari ajaran Buddha, tetapi tidak mempraktikkannya. Ada pula praktisi non-Buddhis yang memiliki pemahaman menyimpang. Akibatnya, timbul kemelekatan terhadap agama. Ini akan membawa kerugian bagi orang lain. Jika mengaku sebagai murid Buddha, maka kita harus menjalankan sila yang diajarkan Buddha, jangan malah melanggarnya dan mengadopsi sila ajaran luar. Ini yang disebut mencuri sila. Ini berarti keluar jalur dengan mengambil sila ajaran lain dengan harapan ingin mendapat buah yang baik. Itu sesungguhnya tidak mungkin. Yang keenam adalah pandangan salah tentang sebab dan buah. Ini disebabkan oleh tiadanya pemahaman atas sebab yang benar. Jika memahami sebab yang benar, secara alami kita akan berjalan di jalan benar dan mendapatkan buah yang benar pula. Mengenai buah yang benar, sudah pernah kita bahas sebelumnya. Keraguan juga tidak benar. Buah adalah hasil dari pelatihan atau hasil dari interaksi dalam hubungan antarmanusia. Jadi, jika kita tidak memperlakukan orang dengan baik, tidak mungkin orang lain berlaku baik terhadap kita. Kita harus memperlakukan orang dengan baik. Dengan begitu, orang lain juga akan berlaku baik terhadap kita. Inilah yang disebut buah. Jika kita enggan memperlakukan orang dengan baik, hanya selalu menuntut orang lain, maka saat orang lain memperlakukan kita dengan buruk, tidak menyenangkan kita, tidak sesuai harapan kita, kita akan merasa risau. Inilah pandangan salah tentang sebab dan buah. Jadi, buah berasal dari benih atau sebab. Benih yang dimaksud adalah sumbangsih.

Segala hal yang kita alami dan terima disebut buah. Jadi, baik pandangan salah tentang sila maupun tentang sebab dan buah, semua berkaitan dengan menanam dan menerima. Jika kita menanam dengan benar, maka akan menerima buah yang benar. Yang ketujuh adalah pandangan keraguan. Memiliki keraguan sangatlah menderita. Ada seorang nenek. Dokter mendiagnosisnya menderita diabetes dan ingin membuka resep obat. Namun, dia mendengar ucapan orang lain bahwa obat tidak boleh sembarang diminum, sembarang minum obat akan merusak tubuh dan menghabiskan uang. Jadi, nenek itu tidak mau minum obat dan tidak mengontrol gula darah. Jika orang lain menganjurkan agar tidak makan ini dan itu, dia malah berkata, “Bisa makan adalah berkah,” lalu dia terus makan makanan yang dia mau. Lihatlah, dia tidak percaya pada ucapan dokter dan tidak mau minum obat. Selain itu, dia berkata bahwa bisa makan adalah berkah. Dia tidak memikirkan akibatnya. Dia hanya percaya pada dirinya dan tidak percaya orang lain. Dia ragu terhadap orang lain. Akhirnya, suatu hari, saat tengah menggunting kuku, dagingnya tergunting secara tidak sengaja dan lukanya tidak kunjung pulih. Dagingnya yang terkoyak mulai membusuk. Meski lukanya terus diobati, tetapi infeksinya tidak kunjung membaik sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, tidak sampai beberapa jam, dia sudah tidak tertolong lagi. Bakteri telah masuk ke dalam paru-parunya dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Inilah akibat dari keraguan.

Jika sakit, kita harus percaya pada dokter. Kita harus minum obat sesuai anjuran dokter. Namun, dia ragu dan tidak percaya. Dia hanya percaya pada dirinya sendiri, melekat pada pandangan diri sendiri. melekat pada pandangan keakuan. Dia menganggap bahwa bisa makan merupakan berkah. Sampai kakinya telah membusuk, sudah terlambat baginya untuk dapat tertolong. Jadi, Tujuh Pandangan ini merupakan penyakit yang akibatnya sulit untuk dibendung. Inilah Tujuh Pandangan. Selain Tujuh Pandangan, juga ada keraguan dan kegelapan batin. Keraguan juga ada dua jenis, yaitu keraguan pada hal dan keraguan pada prinsip. Keraguan pada hal adalah seperti nenek itu. Keraguan pada prinsip adalah seperti praktisi ajaran luar. Jadi, jika kita ragu terhadap hal dan prinsip, perasaan kita akan sangat menderita. Jika ada keraguan terhadap prinsip, kita tak akan dapat memahami masa depan. Kebenaran masa lalu, masa kini, dan masa depan, semuanya tidak bisa kita pahami. Batin kita bagai ditutupi oleh kegelapan batin. Batin kita menjadi gelap. Inilah dua jenis keraguan, yaitu keraguan pada hal dan keraguan pada prinsip. Selanjutnya adalah kegelapan batin yang  terdiri atas kegelapan batin akar dan kegelapan batin turunan. Kegelapan batin akar bagaikan batang pohon. Pada dasarnya ia mengandung benih. Dengan adanya benih dan berbagai kondisi yang berpadu, pohon pun tumbuh dan membesar. Saya sering berkata bahwa setiap orang memiliki hakikat sejati yang murni. Hakikat yang murni ini pada dasarnya mengandung kebijaksanaan cemerlang. Namun, ia tertutup oleh kegelapan batin. Tujuan kita melatih diri adalah membangkitkan hakikat yang murni dan melenyapkan noda batin. Akan tetapi, makhluk awam bukan hanya tidak melenyapkan noda batin masa kini, tetapi juga memupuk tabiat buruk dalam batin mereka. Tabiat buruk seperti ini selalu dibawa dari kehidupan ke kehidupan, bahkan noda batin dan tabiat buruk ini selalu bertambah pada setiap kehidupan. Jadi, dari kehidupan ke kehidupan kita selalu membawa noda batin dan tabiat buruk. Di mana pun kita lahir, noda batin dan tabiat ini selalu mengikuti kita. Karena itu, sebagai makhluk awam, meski telah mendengar banyak prinsip dan mengklaim telah memahami semuanya, tetapi saat tabiat buruk bangkit, noda batin tetap belum lenyap. Setiap hari makhluk awam berkutat dalam noda batin. Ini yang disebut kegelapan batin akar. Noda batin ini tidak terlihat oleh mata.

Namun, saat tabiat buruk muncul di dalam kehidupan sehari-hari, ia bagaikan sebatang pohon yang cabangnya memanjang dan daunnya bertambah lebat sehingga bentuknya dapat terlihat dengan jelas. Wujud dari pohon ini merupakan gambaran dari tabiat buruk. Orang lain bisa berkata, “Kamu dan orang itu memiliki tabiat yang tidak baik.” “Temperamen kalian tidak baik.” Inilah yang terjadi dalam hubungan antarmanusia. Inilah yang terjadi dalam hubungan antarmanusia. Manusia sering menunjukkan tabiat buruk di depan orang lain. Segala nasihat pun seakan tidak berguna. Segala nasihat pun seakan tidak berguna. Saat dinasihati, dia berkata bahwa dirinya sudah paham, tetapi tabiat itu tetap terulang di lain waktu. Inilah tabiat buruk. Tabiat buruk sesungguhnya dapat diubah. Jadi, dalam melatih diri, kita harus mulai dari melenyapkan noda batin turunan, yaitu tabiat buruk kita. Lalu, kita berusaha melenyapkan noda batin akar. Lalu, kita berusaha melenyapkan noda batin akar. Setelah noda batin akar dilenyapkan, maka hakikat yang murni baru akan tampak. Jadi, inilah Sebelas Kecenderungan Umum yang terdiri atas 7 pandangan, 2 keraguan, dan 2 noda batin. Seluruhnya berjumlah sebelas. Jadi, Sebelas Kecenderungan Umum ini mengikuti kita dalam kehidupan sehari-hari. mengikuti kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita lengah, maka berbagai kecenderungan ini bisa muncul dan tabiat buruk akan muncul. Dengan demikian, hubungan antarmanusia akan penuh penderitaan. Kita pun akan banyak menciptakan karma buruk. Jadi, setelah membahas semua ini selama beberapa hari, hari ini saya membuat kesimpulan agar semua orang dapat lebih memahaminya. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment