Uncategorized

Sanubari Teduh – 242 – Dua Belas Pintu Masuk Bagian 01

Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan sehari-hari kita tidak luput dari Dharma. Ajaran yang Buddha babarkan kepada kita juga tidak bisa terlepas dari keseharian kita. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang Sebelas Kecenderungan Umum. Jika bersungguh hati, kita akan menyadari bahwa saat berinteraksi dengan orang atau menangani suatu masalah, sering kali timbul pikiran yang membeda-bedakan. Karena ada pikiran yang membeda-bedakan, maka timbullah rasa senang dan tidak senang. Saat noda batin bergejolak, ia akan memengaruhi kehidupan kita. Setiap tindakan kita dan lain-lain hendaknya selalu sesuai dengan Dharma. Asalkan bersungguh hati, maka setiap tindakan dan ucapan kita akan mengandung Dharma. Apa Dharma yang akan kita gunakan dalam beinteraksi dengan orang lain dan menangani masalah? Semua itu bergantung pada pikiran kita. Sekarang kita akan membahas tentang Dua Belas Pintu Masuk

 Sebelumnya kita membahas tentang Sebelas Kecenderungan Umum yang tidak terlepas dari kehidupan kita. Dua Belas Pintu Masuk ini jauh lebih dekat dengan kehidupan kita. Jadi, harap setiap orang lebih bersungguh hati. Apa yang dimaksud dengan Dua Belas Pintu Masuk? Masuk di sini berarti bersinggungan, bersentuhan, atau mengalami kontak. Jadi, bersinggungan berarti sudah masuk. Masuk ke mana? Apa yang bersentuhan dan masuk? Apa yang bersentuhan dan masuk? Enam indra dan enam objeklah yang saling bersentuhan dan bersinggungan. Kita tahu bahwa enam indra meliputi indra mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Enam indra ini ada di dalam diri setiap orang. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap kali membuka mata, kita menggunakan indra mata. Sejak bangun tidur di pagi hari, indra mata kita mulai bersentuhan dengan segala kondisi sekitar. Setiap kali terbuka, mata kita melihat berbagai macam rupa. Kondisi luar yang terlihat disebut “rupa”

 Saat berada di kamar, apakah di dalam kamar hanya ada kita seorang? Jika ada teman sekamar, kita bisa melihat apakah dia sudah bangun dan mulai bergerak. Inilah indra mata. Segala yang bersentuhan dengan indra mata disebut rupa. Segala yang terlihat oleh mata disebut rupa. Selain itu, juga ada indra pendengar. Saat mendengar suara seseorang sedang mencuci tangan, Saat mendengar suara seseorang sedang mencuci tangan, berarti indra telinga kita berfungsi. Karena indra telinga bersentuhan dengan objek dan suara masuk ke dalam telinga, maka kita bisa mendengar suara. Inilah yang disebut masuk atau bersinggungan. Indra mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita, ditambah objek rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek pikiran, semuanya berjumlah dua belas. Karena itu, disebut Dua Belas Pintu Masuk. Setiap hari, bahkan setiap saat, Setiap hari, bahkan setiap saat, enam indra setiap orang, yakni mata, telinga, hidung, telinga, tubuh, dan pikiran, tak henti-hentinya membangkitkan fungsi enam kesadaran. tak henti-hentinya membangkitkan fungsi enam kesadaran

 tak henti-hentinya membangkitkan fungsi enam kesadaran. Harap kita semua senantiasa bersungguh hati karena ini berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari kita. Pada saat indra bersentuhan dengan objek, bangkitlah enam kesadaran, yaitu kesadaran penglihatan, kesadaran pendengaran, kesadaran penciuman, kesadaran pengecapan, kesadaran perabaan, dan kesadaran pikiran. kesadaran pengecapan, kesadaran perabaan, dan kesadaran pikiran. Dalam hal suara, saat mendengar pujian orang lain, kita merasa gembira dan bangga. Sebaliknya, saat mendengar sedikit kritikan dari orang lain, sedikit kritikan dari orang lain, di dalam hati kita mulai timbul diskriminasi. Karena itu, kita mulai membangkitkan kebencian. Ini karena indra pikiran kita mulai membeda-bedakan. Sungguh, kondisi luar memang sudah ada sejak awal. Masalahnya ada pada diri kita sendiri. Orang lain mengatakan apa yang diinginkannya, mengapa kita harus marah karena perkataannya? Saat seseorang memberi pujian, mengapa kita merasa gembira saat mendengarnya? mengapa kita merasa gembira saat mendengarnya? Awalnya semua itu tak berhubungan dengan kita, tetapi kita yang mengaitkannya dan membeda-bedakannya. Kita membuat diri bersinggungan dengan hal itu

 Inilah yang membuat dalam hati kita timbul rasa benci dan cinta. Contohnya, saat melihat sekuntum bunga, seseorang berkata, “Saya sangat menyukai bunga yang berwarna merah.” Anda berkata, “Tidak.” “Saya menyukai yang warna ungu.” Anda yang menyukai warna ungu dan dia yang menyukai warna merah, sesungguhnya apa hubungannya dengan bunga tersebut? Sama sekali tidak ada. Sejak awal, bunga itu memang berwarna merah. Anda suka atau tidak, apakah pengaruhnya bagi bunga tersebut? Sama sekali tidak ada. Kebencian di dalam hati kita terbangkitkan karena kita tidak menyukainya. Terhadap sesuatu yang kita sukai, kita akan senang ketika melihatnya. Sejak awal bunga itu memang berwarna merah, Sejak awal bunga itu memang berwarna merah, hanya saja kita sendiri yang mendiskriminasi

 Jadi, kesadaran pikiran membuat kita berpikir, “Saya menyukai ini, saya tidak menyukai itu.” Ini yang membuat kita terus membeda-bedakan. Terhadap orang yang kita sukai, kita terus mengejarnya. kita terus mengejarnya. Tak peduli orang itu benar atau tidak, baik atau jahat, pikiran kita terus terbuai sehingga terus mengejarnya. Inilah makhluk awam yang tersesat. Kondisi luar itu sudah ada sejak awal, kita saja yang terbuai. Karena itu, timbullah banyak noda batin yang mendorong kita menciptakan segala keburukan. Banyak hal di dalam keseharian Banyak hal di dalam keseharian yang jika kita analisis dengan cermat, semuanya tak terlepas dari enam indra dan enam objek. Di dalam kesadaran kita, semua itu menciptakan banyak noda batin. Itu semua terjadi karena adanya kontak. Kontak terjadi antara indra dan objek

 Saat memejamkan mata, kita tidak bisa melihat warna bunga apakah hijau atau merah. Ini karena indra mata kita tak bersentuhan dengan objek itu. Tak peduli barang itu berbentuk bulat atau segi empat, ia tak berhubungan dengan kita. Namun, saat membuka mata, kita bisa melihat objek tersebut. Indra penglihatan kita dan objek rupa bagai terhubung oleh sesuatu. Karena penghubung ini, maka saat membuka mata, kita bisa melihat kondisi luar. kita bisa melihat kondisi luar. Ini karena adanya penghubung tadi. Kini presentasi laporan yang kalian buat terlihat sangat jelas dan mudah dipahami. Saat ingin mempresentasikan hubungan antara dua hal, kalian menggunakan gambar lingkaran dan menggunakan garis penghubung

 Dengan begitu, kita tahu kaitan keduanya. Inilah yang dimaksud penghubung. Ia membuat kita memahami lebih jelas bahwa dua hal itu berkaitan. Inilah fungsi kesadaran pikiran kita. Pikiran kita bagai garis penghubung tadi. Ia menghubungkan indra dan kondisi luar Ia menghubungkan indra dan kondisi luar sehingga timbullah perasaan suka, perasaaan tidak suka, rasa marah, atau rasa gembira. Ini semua karena adanya penghubung atau kontak. Ini semua karena adanya penghubung atau kontak. Jadi, semua ini disebut Dua Belas Pintu Masuk. Tanpa kontak, indra mata dan objek rupa tidaklah saling berhubungan. Namun, karena adanya kontak ini, indra mata dan objek rupa menjadi bersatu

 Saat indra mata dan objek rupa bersatu, akan timbul pikiran untuk membedakan. Karena itu, ada Dua Belas Pintu Masuk. Masuk di sini berarti bersinggungan atau menjadi terhubung dan bersentuhan. Buddha berkata bahwa semua makhluk hidup dalam ketersesatan. Mengapa bisa tersesat? Karena terbuai oleh rupa dan segala kondisi luar. Banyak orang yang terbuai oleh kondisi luar dan rupa. Apa yang dimaksud dengan “rupa”? Saya sering berkata bahwa segala sesuatu yang terlihat oleh mata disebut rupa. Sekarang, saat mendengar suara di luar, kita tahu bahwa itu adalah suara burung. Apakah kalian tahu burungnya berada di mana? Indra pikiran kita sudah tahu bahwa burung ada di atas pohon. Bagaimana rupa burung? Di dalam pikiran kita langsung timbul bayangan burung gereja yang kini hinggap di atas pohon. Apakah hanya seekor? Seharusnya tidak. Ada beberapa ekor burung di sana

 Mungkin pada sebatang ranting pohon, bertengger beberapa ekor burung. Karena itu, terdengar kicauan sekelompok burung. Ada sekelompok burung yang bertengger di sebelah sana dan di sebelah sini. Inilah objek rupa dan objek suara. Batin manusia selalu terbuai oleh kondisi luar. Kondisi luar sangatlah banyak. Suara burung dan rupa burung hanyalah sebuah perumpamaan. Sering kali kita terbuai suara dan rupa. Karena itulah, Buddha menggunakan berbagai perumpamaan untuk membantu kita menganalisis agar kita memahami bagaimana pikiran kita terbuai oleh kondisi luar dan bagaimana kita menciptakan karma buruk. Segala tindakan kita akan menciptakan karma yang akan terus membelenggu kita. Jadi, bagaimana kita membuka hati di tengah kondisi ini? Buddha memberi tahu kita bahwa saat mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh bersentuhan dengan rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek pikiran, maka akan timbul perasaan, persepsi, dorongan pikiran, kesadaran. Empat faktor penyusun batin ini adalah bagian dari pikiran. Kita sering menyebut indra mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran

 Sesungguhnya, pikiran meliputi perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Semuanya berjumlah empat. Sekarang kita mendengar suaru burung. Apakah sangat merdu? Lumayan. Di tengah kondisi yang begitu hening ini, matahari di luar terbit perlahan-lahan. Kita bisa melihat pohon di luar, kondisi cuaca yang bersahabat, dan suara kicauan burung. Semua itu adalah kondisi luar yang menggerakkan perasaan kita. Karena perasaan ini, kita akan mulai membuat persepsi dan menyimpan kondisi luar ini di dalam batin kita. Kita akan membayangkan burung-burung di atas pohon yang begitu damai. burung-burung di atas pohon yang begitu damai. Karena adanya persepsi ini, kita mulai membeda-bedakan berbagai kondisi. Kini, saat saya berbicara di sini, mata kalian melihat ke arah saya. mata kalian melihat ke arah saya

 mata kalian melihat ke arah saya. Di belakang saya ada rupang Buddha. Namun, saya bisa bergerak Namun, saya bisa bergerak dan mengeluarkan suara. dan mengeluarkan suara. Jadi, kalian bisa melihat rupa dan gerakan saya. Kalian juga bisa mendengar suara saya. Saya mengatakan begitu banyak hal, Saya mengatakan begitu banyak hal, bagaimana perasaan kalian setelah mendengarnya? Bagaimana kesan dan perasaan kalian? Adakah kalian merasa, “Mengapa waktu berjalan begitu lambat?” “Saya sangat ingin keluar.” Karena sudah duduk terlalu lama, kalian merasa lelah dan ingin keluar menggerakkan badan. Sebenarnya, tindakan ini bukan hanya bersifat kasatmata, tetapi disebabkan oleh dorongan pikiran yang sangat halus. Selain pikiran kita yang bekerja, waktu dan ruang juga terus berubah. Dari sejak saya keluar tadi, Dari sejak saya keluar tadi, waktu sudah berlalu setengah jam

 Detik demi detik terus berlalu tanpa kita sadari. Begitu pula dengan pemandangan di sekitar. Tadi, saat baru keluar, di langit masih terlihat bintang. Kini, saat kita melihat keluar, langit sudah mulai terang. Mungkin bintang-bintang sudah mulai tak terlihat. Pemandangan di sekitar sudah berbeda. Waktu dan ruang juga mengalami perubahan secara halus dan terus berproses tanpa henti. Siang dan malam terus berlalu tanpa henti. Tubuh kita juga mengalami metabolisme tanpa henti. Dimulai dari kecil, tua, hingga mati, tubuh kita terus berproses tanpa disadari

 tubuh kita terus berproses tanpa disadari. Jadi, perasaan, persepsi, dan dorongan pikiran bisa mendorong kita untuk menciptakan karma. Saat timbul pikiran menyimpang, kondisi luar yang datang setiap saat bisa mendorong kita melakukan perbuatan buruk. Inilah yang disebut karma. Setiap pikiran yang timbul, baik gembira maupun tidak gembira, senang, marah, sedih, bahagia, cinta, dendam, dan lain-lain, setiap pikiran yang kita tanam akan tersimpan di dalam kesadaran. Jadi, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran, semuanya adalah faktor penyusun batin. semuanya adalah faktor penyusun batin. Inilah yang kita sebut pikiran. Inilah yang kita sebut pikiran. Jadi, empat faktor tadi termasuk dalam pikiran. Di dalam kehidupan sehari-hari, saat kita bersentuhan dengan kondisi luar, maka rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran akan bergabung menjadi satu dan saling bersinggungan. dan saling bersinggungan. Ini semua tak terlepas dari kehidupan sehari-hari kita

 Inilah yang disebut Dharma. Inilah yang disebut Dharma. Dengan penuh cinta kasih dan welas asih, Buddha menjelaskan kepada kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kondisi luar, masa lalu, masa kini, masa depan dan apa pun karma yang telah kita pupuk, demuanya terletak di sini. Pada masa Buddha hidup, ada seorang bhiksu yang setiap hari mendengar ajaran Buddha. Dia tahu bahwa dia harus melatih diri. Namun, setelah melewati jangka waktu yang panjang, dia masih tidak paham meski Buddha berada dekat dengannya dan terus membabarkan Dharma setiap hari. Hingga suatu hari, Hingga HH dia merasa sangat bingung. Dia berkata kepada Buddha, “Yang Dijunjung, hingga kini, aku terus mendengar ajaran-Mu.” “Sebenarnya orang seperti apakah aku?” “Di manakah sekarang aku berada?” “Apa yang sedang aku latih?” “Aku masih tidak paham.” “Aku tidak memahami apa yang dimaksud pelatihan diri.” “Siapakah aku?” “Sekarang aku berada di mana?” “Aku tidak tahu.” “Ini karena aku mendengar banyak ajaran Buddha.” “Adakalanya Buddha berkata bahwa kita jangan melekat pada keakuan, jangan melekat pada pandangan eternalisme, jangan melekat pada pandangan nihilisme, dan jangan punya kemelekatan lain.” Setelah mendengarnya, dia berpikir, “Segala sesuatu pada dasarnya adalah kosong

” “Segala sesuatu pada dasarnya bersifat semu.” “Jadi, sesungguhnya, di manakah aku berada?” “Siapakah aku?” “Aku tidak tahu apa yang disebut pelatihan diri.” Dengan penuh ketulusan dia bertanya kepada Buddha. Dengan penuh cinta kasih dan welas asih, Buddha berkata padanya, “Engkau sudah mendengar banyak Dharma, tetapi banyak juga yang terlewat.” “Tidak ada satu pun Dharma yang menyatu dengan dirimu.” “Engkau harus menyatukan Dharma dengan hatimu.” “Meski sudah mendengar banyak Dharma, engkau tidak menyatukannya dengan hatimu.” “Karena itu, engkau tidak tahu apa pun dan malah menjadi tidak fokus.” “Aku katakan, ini sangat sederhana.” “Segala sesuatu tak terlepas dari dua hal.” Apakah dua hal yang dimaksud? Indra mata bersentuhan dengan rupa. Ini adalah dua hal. Contoh lain adalah indra telinga bersentuhan dengan suara. Ini juga adalah dua hal

 Jadi, apakah mata dan rupa termasuk Dharma? Di antara keduanya terdapat pikiran yang menjadi penghubung. Karena itu, saat melihat sesuatu, pikiran kita akan menganalisisnya. Contohnya saat melihat sekuntum bunga yang mulanya sangat sederhana. Pikiran kita akan menganalisis jenis bunga tersebut dan apa warnanya. Contohnya, saat ini di hadapan saya ada sekuntum bunga berwarna hijau. Mengapa ia berwarna hijau? Apa nama bunganya? Bunga mawar. Sebelum bunga mawar mekar, bagaimana bentuknya? Ia berupa kuncup. Ia berupa kuncup. Bagaimanakah bentuknya sebelum berkuncup? Bagaimanakah bentuknya sebelum berkuncup? Kita mencari tahu hingga akarnya. Saat indra mata dan objek rupa bersentuhan, pikiran kita akan mulai menganalisis

 Suatu hari, seorang profesor mengeluarkan pare untuk dicicipi oleh setiap orang. Kita semua tahu bahwa pare sudah ada sejak dahulu. Orang-orang di dapur juga tahu bahwa itu adalah pare. Mereka tahu cara memotongnya dan memasaknya untuk dihidangkan. Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Pare ada manfaatnya. Setelah dianalisis lebih lanjut, ternyata kandungan di dalam pare bisa mengobati kanker. Kini kita terus meneliti bagaimana cara terbaik untuk mengonsumsi makanan tertentu, bagaimana kondisi kesehatan manusia dan sel kanker di dalam tubuh, dan jenis makanan apa yang bisa membunuh sel jahat dan menumbuhkan sel baik agar kita bisa selalu hidup sehat. Inilah kaitan indra mata dan kesadaran. Indra mata bisa membedakan pare dan oyong, sedangkan pikiran kita dapat melakukan analisis secara mendalam. Demikianlah Dharma. Segala sesuatu di dunia berkaitan dengan perpaduan dua hal ini. Saat telinga mendengar suara, kita akan menyelidiki suara tersebut

 Mengapa organ pipa mengeluarkan suara organ pipa? Intinya, setiap jenis alat musik mengeluarkan suara yang berbeda-beda. Singkat kata, Dharma sangatlah sederhana. Ia adalah satu berbanding satu. Saat satu indra bersentuhan dengan satu objek, pikiran kita akan mulai menganalisis. Inilah yang disebut Dharma. Dharma sungguh dalam dan luar biasa, tetapi tidak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari

 Saudara sekalian, waktu terus berlalu tanpa henti. Kondisi luar juga sangat banyak. Namun, jika kita sungguh-sungguh mendalaminya, maka kebijaksanaan kita akan berkembang. Sebaliknya, jika tidak berhati-hati, maka karma buruk kita akan bertambah. Saudara sekalian, ini hanya bergantung pada pikiran. Karena itu, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. Saya berharap kita lebih bersungguh hati.

Leave A Comment