Sanubari Teduh-263-Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, yang saya bahas bersama kalian setiap hari tidak pernah lepas dari pikiran. Apa pun istilah-istilah Dharma yang kita bahas, sesungguhnya semua sangat sederhana, yakni berpulang pada pikiran. Sebelumnya kita telah menyinggung delapan puluh delapan kecenderungan. Sebelumnya lagi kita membahas enam puluh dua pandangan. Apakah semua masih ingat? Di dalam teks pertobatan ada disebut mengenai sembilan puluh delapan kecenderungan. Ada pula seratus delapan noda batin dan sebagainya. Jadi, kita harus terlebih dahulu membahas delapan puluh delapan kecenderungan. Jadi, saya akan mulai membahas delapan puluh delapan kecenderungan. Ini diawali dengan sepuluh kecenderungan. Sepuluh kecenderungan mencakup lima pandangan dan lima akar noda batin. Kita masih ingat mengenai pandangan tentang diri, pandangan ekstrem, kemelekatan pada pandangan pribadi, kemelekatan pada sila, dan pandangan sesat. Ini disebut lima pandangan. Ini berkaitan dengan pandangan kita. Namun, yang lebih merepotkan adalah ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Setiap orang memiliki hal ini. Bayangkan, sebuah ketamakan saja bisa membuat kehidupan dan reputasi seseorang hancur. Sesungguhnya, di dunia ini, atas benda apakah kita patut untuk tamak? Apa untungnya bagi kita saat kita tamak akan sesuatu? Kita mungkin hanya akan mendapat kenikmatan sesaat. Berapa lama kenikmatan akan bertahan? Berapa banyak kenikmatan yang bisa dirasakan? Orang yang tidak berpikiran terbuka melekat pada kenikmatan sesaat. Jadi, mereka tak menyadari ketidakkekalan dunia. Mereka hanya terus mengejar ketamakan terhadap reputasi, keuntungan, dan kedudukan.
Setelah terpenuhi, semuanya hanya bersifat sementara. Jika tidak terpenuhi, noda batin malah semakin banyak sehingga menciptakan banyak karma buruk. Dalam kehidupan ini, karma ini dapat berakibat hancurnya kehidupan dan reputasi. Jadi, ketamakan ini sungguh sulit dihindari bagi makhluk awam di tiga alam, terutama bagi makhluk di alam nafsu. Selain ketamakan, ada pula kebencian. Dengan adanya kebencian dan sikap yang emosional, kita akan membawa banyak kerisauan bagi orang lain dan membuat batin kita sendiri terasa kering dan panas. dan membuat batin kita sendiri terasa kering dan panas. Jadi, kebencian bagai api, sungguh membawa penderitaan yang tak terkira. Yang lebih merepotkan adalah ketamakan yang menjadi kebodohan dan kebencian yang menjadi kebodohan, karena kebodohan sama dengan kegelapan batin. Kegelapan batin ini membuat manusia tak memahami kebenaran dengan jelas. Karena itu, manusia bersikap tamak. Karena tidak dapat melihat kebenaran pula, maka manusia menjadi mudah marah. Jadi, kebodohan adalah yang paling membuat kita menderita.
Ketamakan dan kebencian bermula dari kebodohan. Ini membuat semua makhluk tak dapat terbebas dari tiga alam. Yang memiliki kebodohan bukan hanya manusia. Selama masih ada kemelekatan dan kebodohan, kita tak akan bisa terbebas dari tiga alam rendah. Di Amerika Serikat ada sebuah cerita yang menarik. Ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah kisah nyata. Di sebuah lapangan golf, saat orang-orang memukul bola ke lubang kesembilan, bola akan hilang. Bagaimana pun dicari, tetap tidak bisa ditemukan. Ini sungguh menyusahkan. Sebagian pemain mulai mempertanyakan masalah ini kepada pengelola lapangan. “Mengapa bola selalu hilang di sana?” Akhirnya, semua orang mencari cara untuk mengamati apa yang sesungguhnya terjadi pada lubang kesembilan. Ternyata, ada seekor rubah di sana. Berhubung lapangan itu sangat besar, di sana juga terdapat kolam dan rerumputan. Ada sebagian rumput yang agak panjang. Karena itu, di tepi lubang kesembilan tinggallah seekor rubah. Jika ada bola yang menggelinding ke sana, rubah ini akan muncul dan mengambilnya. Rubah ini hanya memilih bola-bola yang bagus. Ia tidak mau bola yang rusak. Ia bisa memilih bola berkualitas baik dan tidak mau bola yang berkualitas buruk. Ia sudah menggigit banyak bola berkualitas baik.
Melihat berita ini, saya merasa mungkin rubah ini pada kehidupan lampau adalah penggemar permainan golf. Ia tamak akan olahraga golf dan menjadi bodoh, sehingga terlahir sebagai rubah dan masih tetap bodoh serta tamak terhadap bola golf. Jika tidak, bagaimana mungkin ia lebih ahli dari manusia Ia pasti sangat ahli meski berwujud rubah. sungguh membawa penderitaan tak terkira, bisa membuat siapa pun jatuh ke tiga alam rendah. Meski terlahir sebagai binatang, ia masih penuh kemelekatan dan masih bisa memilih bola. Sungguh kasihan. Ini berkaitan dengan sepuluh kecenderungan. Kecenderungan ini menjerumuskan kita hingga tak mampu mengendalikan diri. Kecenderungan ini mencakup ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Tentu, manusia juga sering memiliki keraguan. Yang utama adalah keraguan terhadap ajaran benar. Selain penuh keraguan dan kecurigaan dalam hal-hal duniawi, Selain penuh keraguan dan kecurigaan dalam hal-hal duniawi, mereka juga ragu terhadap ajaran benar. mereka juga ragu terhadap ajaran benar. Ini sudah menjadi penyakit batin. Jadi, saat sepuluh kecenderungan yang lengkap dikalikan dengan empat kebenaran mulia, dikalikan dengan empat kebenaran mulia, dikalikan dengan empat kebenaran mulia, maka akan menjadi delapan puluh delapan. maka akan menjadi delapan puluh delapan.
Mengapa? Bukankah seharusnya empat puluh? Mengapa bisa jadi delapan puluh delapan? Semua harus menyimak karena ada penambahan dan pengurangan. Kita juga harus memperhatikan tiga alam. Tiga alam dikalikan empat kebenaran mulia, Dari empat kebenaran mulia, masing-masing mengandung sepuluh kecenderungan. Kebenaran tentang penderitaan, sebab penderitaan, akhir penderitaan, jalan mengakhiri penderitaan, masing-masing dikali sepuluh menjadi empat puluh. Jika dikalikan dengan tiga alam, tiga dikali empat sama dengan dua belas, kembali dikalikan sepuluh menjadi seratus dua puluh? Lalu, mengapa tadi disebut delapan puluh delapan? Kita harus memperhatikan hitungan ini baik-baik. Misalnya, di dalam alam rupa ada kebenaran tentang penderitaan yang di dalamnya tercakup sepuluh kecenderungan. Di dalam kebenaran tentang penderitaan tercakup pandangan tentang diri, pandangan ekstrem, dll. hingga ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Kita seharusnya sudah tahu bahwa semua ini disebut sepuluh kecenderungan. Akibat sepuluh kecenderungan ini, manusia jadi menderita. Jadi, penderitaan terletak pada sepuluh kecenderungan. Inilah kebenaran tentang penderitaan. Semua makhluk di alam nafsu memiliki sepuluh macam kecenderungan ini. Namun, berkenaan dengan kebenaran tentang sebab penderitaan dan akhir penderitaan, tidak ada pandangan tentang diri, pandangan ekstrem, dan kemelekatan pada sila.
Berikutnya, berkenaan dengan kebenaran tentang jalan mengakhiri penderitaan hanya ada delapan kecenderungan, tidak mencakup pandangan tentang diri dan pandangan ekstrem. Jadi, sepuluh kecenderungan dalam empat kebenaran mulia, jika dijumlahkan hanya berjumlah tiga puluh dua. Berikutnya, berkenaan dengan alam rupa dan alam tanpa rupa, dari masing-masing faktor dalam empat kebenaran mulia, kita harus membuang lagi faktor kebencian. Jadi, berkenaan dengan alam rupa dan tanpa rupa, masing-masing hanya tersisa dua puluh delapan faktor. Jika dijumlahkan, hasilnya adalah lima puluh enam. Lima puluh enam ditambah tiga puluh dua, hasilnya adalah delapan puluh delapan. Mengenai bilangan-bilangan ini, kita memang tidak mengerti, ditambah lagi istilah-istilah sungguh rumit dan membelenggu. Namun, tidak apa-apa. Di tengah belenggu juga ada Tathagata. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha sesungguhnya sangat sederhana. Pengelompokan saja yang membuat rumit. Jika kita dapat kembali pada kesederhanaan, saya percaya kita akan dapat mempelajari kemurnian. Dengan batin yang murni, barulah kehidupan kita dapat menjadi sederhana. Dengan kehidupan yang sederhana, barulah dapat mencapai kemurnian.
Delapan puluh delapan kecenderungan memang rumit. Jadi, delapan puluh delapan kecenderungan ada di dalam kehidupan sehari-hari kita. Sesungguhnya, yang paling dekat dengan kita adalah alam nafsu. Kita hidup di alam nafsu. Kita yang hidup di alam nafsu memiliki sepuluh kecenderungan yang lengkap yang senantiasa membelenggu kita. Kita harus memperhatikan hal ini. Dua alam lainya adalah alam rupa dan alam tanpa rupa. Kita semua yang mempelajari ajaran Buddha tidak ingin terus terbelenggu di tiga alam. Jika batin kita terus terbelenggu di tiga alam, maka kita tak dapat bebas dari penderitaan. Di dalam alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa, berkenaan dengan empat kebenaran mulia, kita sudah melihat bahwa noda batin tetap ada. Semua makhluk tiga alam tetap terbelenggu. Karena itu, kita berharap dapat melampaui tiga alam ini. Inilah tujuan mempelajari ajaran Buddha. Untuk melampaui tiga alam, kita harus melenyapkan kegelapan batin. Di manakah kegelapan batin berada? Dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, kegelapan batin sangat luas. Ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, jika dijabarkan lebih lanjut bisa lebih luas. Semua penjabaran luas ini, sesungguhnya berpulang pada pikiran. Jadi, adanya begitu banyak noda batin membuat kita terus diliputi ketamakan sehingga kita selamanya sehingga kita selamanya terombang-ambing dalam lautan nafsu. terombang-ambing dalam lautan nafsu. Beginilah kehidupan manusia.
Nafsu keinginan ini dengan banyak gelombang. Sedikit saja gejolak atau ombak di lautan ini timbul akibat tiupan angin ribut, akan menambah belenggu di dalam batin kita. Para Buddha dan Bodhisattva sangat prihatin terhadap makhluk awam. Mereka merasa mengapa makhluk awam begitu bodoh. Begitu banyak Dharma yang dibabarkan, semua makhluk tidak dapat menerimanya. Semua makhluk diliputi keraguan, kesombongan, kebodohan, kebencian, dan ketamakan yang tidak kunjung bisa dilenyapkan. Bagi para Buddha dan Bodhisattva, ini sungguh hal yang memprihatinkan. Atas dasar cinta kasih, Buddha iba terhadap kita. Akibat kebodohan, semua makhluk terus terombang-ambing dalam kesesatan dan bagai terbuai mimpi. Ini sungguh menyedihkan. Lalu harus bagaimana? Buddha mengajarkan kepada semua orang untuk selalu rendah hati, damai, tak terikat kondisi dan nafsu. untuk selalu rendah hati, damai, tak terikat kondisi dan nafsu. Bagaimana agar kita dapat membuka dan melapangkan hati hingga seluas jagat raya dan bebas dari ketamakan? Dunia penuh dengan kerumitan. Ini akibat batin kita yang sempit. Alangkah baiknya jika batin kita seluas angkasa.
Saya sering mengatakan, “Lapangkan hati hingga seluas jagat raya.” Jagat raya sangat luas. Jika hati kita dapat dilapangkan hingga seluas angkasa dan dapat merangkul seluruh alam semesta, maka inilah kerendahan hati yang sesungguhnya. Jika sepuluh kecenderungan bisa dihilangkan dari batin kita, maka kita akan mencapai kualitas batin tanpa pamrih. Alangkah baiknya kita dapat mencapai kondisi batin tanpa pamrih. Bagaimana cara mencapai kondisi batin tanpa pamrih, tanpa ketamakan, dan tanpa nafsu keinginan? Tanpa ketamakan dan nafsu, manusia tidak akan memiliki pamrih. Tanpa adanya pamrih, dia tidak akan punya kebencian. Tanpa kebencian, tidak akan ada kebodohan. Tanpa kebodohan, tidak akan ada kesombongan. Tanpa kesombongan, batin akan sangat jernih. Adakah keraguan dalam batin yang jernih? Jadi, batin atau pikiran adalah kuncinya. Kita harus berusaha melenyapkan noda batin yang menjerumuskan kita. Kita harus mempertahakan ketenangan dan sukacita. Batin kita harus senantiasa tenang. Dengan batin yang hening dan jernih, barulah kita bisa memiliki tekad yang luas dan luhur. Jika pikiran sangat tenang dan damai, hati kita akan menjadi sangat lapang. Kita harus bertekad untuk mempelajari ajaran Buddha. Tujuan mempelajari ajaran Buddha adalah mencapai kebuddhaan. Sebelum mencapai kebuddhaan, kita tidak boleh meninggalkan tekad kita untuk melatih diri. Jadi, tekad harus besar. Untuk memiliki tekad yang luas dan luhur, kita tak boleh terikat kondisi dan nafsu. Tak terikat kondisi berarti kita tidak mengejar atau melekat pada apa pun.
Segala reputasi, keuntungan, dan kedudukan duniawi tiada artinya bagi kita. Dengan demikian, reputasi, keuntungan, dan segala harta benda tidak akan dapat mencemari batin kita. Dengan sendirinya, kita akan terbebas dari kondisi dan nafsu. Ini karena kita tak memiliki nafsu keinginan. “Mengambil dari diri sendiri untuk berdana; dengan tulus menjaga sila.” Yang terpenting adalah prosesnya. Kita harus bisa memberi dengan sukacita. Yang memiliki tenaga bisa berdana tenaga, yang memiliki uang bisa berdana uang. jika kita bisa membantu, menghibur, dan mendampingi orang yang membutuhkan dengan cinta kasih, inilah yang disebut “mengambil dari diri sendiri untuk berdana”. Mengambil dari diri sendiri untuk membantu orang bukan berarti kita rugi. Bukan. Kita harus merelakan. Memberi di sini berarti merelakan. Kita harus bisa merelakan dan mengulurkan kekuatan kita; memberikan yang kita miliki untuk membantu orang yang dalam kesulitan. Jadi, seharusnya disebut “merelakan milik sendiri untuk berdana.” Segala yang kita miliki, baik yang berwujud maupun tidak, asalkan dapat membantu orang lain, hendaknya dapat kita relakan. Jadi, di dalam ajaran Buddha, kita harus mempelajari semangat kita harus mempelajari semangat cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin agung. Untuk itu, kita harus menjaga sila dengan tulus.
Kita harus merelakan, bersumbangsih, dan membantu orang lain. Namun, bukan hanya itu, kita juga harus menjaga sila. Kita memang murah hati dan mampu berdana, tetapi jika diri sendiri selalu gemar bersenang-senang, ini juga tidak benar. Berbuat sesuka hati juga tidak benar. Kita mampu mengembangkan cinta kasih kepada sesama, tetapi masih suka mengejar kenikmatan bagi diri sendiri. Kita juga penuh sukacita dalam membantu orang lain, tetapi kita masih gemar bertindak sesuka hati. Ini juga tidak benar. Jadi, kita harus menjalankan sila dengan tulus. Mempelajari ajaran Buddha harus diawali dengan ketulusan dari dalam hati untuk mendekat pada ajaran Buddha. Jadi, kita harus mempertahankan ketulusan dan sila serta hidup sejalan dengan sila. Jika kita dapat berdana dengan kualitas batin seperti ini, maka pahala yang diciptakan akan tidak terhingga. Selain itu, kita juga harus memiliki kerendahan hati, kesabaran, keberanian, dan semangat.
Kita harus rendah hati. Jangan menganggap kita telah berbuat banyak dan telah menjalankan sila dengan baik. Jangan begitu. Kita harus selalu rendah hati. Janganlah lupa bahwa kita hidup di tengah-tengah makhluk awam dan masih berada di alam nafsu. Orang-orang di sekitar kita juga masih diliputi penderitaan. Di tengah penderitaan, mereka masih memupuk banyak noda batin. Saat noda batin mereka muncul, kita hendaknya lebih bersikap rendah hati. kita hendaknya lebih bersikap rendah hati. Dengan begitu, barulah kita bisa menjalin jodoh baik di tengah masyarakat. Tentu, orang lain adalah makhluk awam, kita sendiri juga masih makhluk awam. Jadi, kita harus menggunakan satu cara, yaitu kesabaran. Karena itu, saya sering mengatakan kepada semua orang bahwa kita harus mengecilkan ego atau diri kita hingga sehalus pasir. Dengan begitu, barulah kita dapat mengembangkan potensi nano dalam diri kita. Istilah “nano” adalah istilah teknologi masa kini. Istilah “nano” adalah istilah teknologi masa kini. Jadi, dengan mengecilkan ego atau diri sendiri, barulah kita dapat melangkah maju dengan berani dan bersemangat untuk melatih perenungan dan meneladani kebijaksanaan para suci. untuk melatih perenungan dan meneladani kebijaksanaan para suci.
Saudara sekalian, kita harus belajar dengan saksama. Ajaran Buddha sangat dalam bagai lautan, juga luas bagai angkasa. Namun, meski demikian luas, Namun, meski demikian luas, kita harus tahu bahwa Dharma sangat halus. Karena itu, saya selalu berkata pada semua orang bahwa berhubung Dharma sangatlah halus, maka kita tidak boleh menganggap enteng hal kecil. Kita harus waspada dalam menjaga pikiran kita. Dengan begitu, barulah kita dapat mempertahankan tekad untuk melatih diri. Jika tidak, sedikit saja pikiran menyimpang, kita akan kehilangan banyak kebijaksanaan. Jadi, kita harus melatih perenungan dengan sepenuh hati dan meneladani kebijaksanaan para suci. Tekad ini harus selalu ada di dalam hati kita. Delapan puluh delapan kecenderungan ditambah dengan sepuluh kecenderungan di awal ditambah dengan sepuluh kecenderungan di awal menjadi sembilan puluh delapan kecenderungan. menjadi sembilan puluh delapan kecenderungan. Jika ditambah lagi dengan sepuluh ikatan, semuanya berjumlah seratus delapan. Istilah-istilah ini begitu banyak, tetapi sesungguhnya semua berpulang pada pikiran yang halus. Harap semua selalu bersungguh hati.